Pengeran Es VS Putri Polos

Pengeran Es VS Putri Polos
Chapter53


__ADS_3

2 Hari Kemudian.


Pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin bersiap untuk pergi ke istana kerjaan Qiran.


"Sayangku, apakah kamu sudah siap?" Pangeram Chian bertanya pada istrinya.


"Sudah, Suamiku," Sahut putri Lylyan. Ia tersenyum manis.


"Eh, kayaknya ada yang senang banget nih," Pangeran Chian menyindir istrinya.


"Iya dong, heheh," Sahut putri Lylyan.


Pangeran Chian mendekati istrinya. Lalu, ia memeluk istrinya.


"Hmm, dasar istri kecilku," Celetuk pangeran Chian.


"Iiih, aku sudah besar loh," Sahut putri Lylyan dengan polosnya.


'Cup'


Pangeran Chian mengecup lembut dahi istrinya.


"Ayo sekarang kita berangkat," Pangeran Chian mengajak istrinya.


Putri Lylyan pun mengguk.


*****


"Ayahanda, Ibunda. Kami berangkat dulu," Pangeran Chian berpamitan pada kedua orng tuanya.


"Iya, Putraku," Sahut raja Sanji.


"Hati-hati dijalan ya, menantuku," Kata permaiauri Chylian.


"Iya, Ibunda," Sahut putri Lylyan.


Permaisuri Chylian Shin memeluk menantunya.


"Sampaikan salam kami pada kedua orang tua mu!"Tutur permaisuri Chylian.


"Baik, Ibunda," Sahut putri Lylyan.


Kemudian mereka melepaskan pelukannya.


"Istriku, ayo kita berangkat," Kata pangeran Chian. Putri Lylyan pun mengiyakannya.


Pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin menaiki kereta kuda.


"Daaaadaaaa, Ayahanda, Ibunda," Putri Lylyan melambaikan tangan.


"Jangan merindukan kami. Kami pasti akan balik lagi kesini," Sambungnya. Pangeran Chian hanya menggelengkan kepalanya.


Raja Sanji Shin dan permaisuri Chylian Shin hanya tersenyum melihat tingkah menantunya. Mereka pun juga melambaikan tangan.


"Ayo berangkat! " Perintah pangeran Chian pada kusir.


Kusir itu menjalankan kereta kudanya. Lama-kelaman kereta kuda itu tidak terlihat lagi oleh permaisuri Chylian dan raja Sanji.


"Hmmm," Kata permaisuri Chylian.


"Kamu kenapa?" Tanya raja Sanji.


"Istana kita jadi sunyi kalau tidak ada mereka, apalagi tidak ada Lylyan," Sahut permaisuri Chylian.


"Sudahlah. Mereka hanya beberapa hari disana. Jadi jangan sedih," Tutur raja Sanji pada istrinya.


"Ayo kita masuk istana," Sambungnya.


Permaisuri Chylian Shin menuruti suaminya. Mereka pun masuk kedalam istana.


*****


Disisi lain, yaitu kerjaan Qiran. Raja Wian Qiran dan permaisuri Lyana Qiran menyuruh para Maid untuk membuatkan makanan kesukaan anak dan menantunya.


"Maid, makanannya sudah siap semua?" Permaisuri Chylian bertanya pada salah satu Maid.


"Belum, Permaisuri," Sahut Maid itu dengan sopan.


"Yasudah, cepat selesaikan," Tutur permaisuri Lyana.


"Kalau sudah selesai semua. Taruh dimeja tempat biasanya!" Sambungnya.


"Baik, Permaisuri," Sahut Maid itu.

__ADS_1


Permaisuri Lyana Qiran keluar dari dapur dan menuju ruang kerajaan.


"Suamiku," Permaiauri Lyana memanggil suaminya.


"Iya," Sahut raja Wian yang duduk di kursi singgasana nya.


"Duduklah dulu!" Perintah raja Wian.


Permaisuri Lyana pun duduk di samping raja Wian.


"Putri dan menantu kita sudah sampai mana ya? Aku sudah tidak sabar bertemu putriku," Tutur permaisuri Lyana.


"Hmmm, sabarlah sedikit. Sebentar lagi pasti mereka sampai," Sahut raja Wian.


"Heheh," Permaisuri Lyana hanya tertawa.


Tiba-tiba, terdengar suara gong yang diketuk oleh sekte. Dan sekte itu menyebut nama orang yang telah tiba didepan istana.


"Suamiku, itu mereka sudah sampai. Ayo kita sambut!" Permaisuri Lyana mengajak suaminya. Ia sangat antusias.


"Iya-iya," Sahut raja Wian.


Raja Wian Qiran dan permaisuri Lyana Qiran keluar istana.


"Putriku," Teriak permaisuri Chylian. Ia berlari menghampiri anaknya.


"Ibunda," Sahut putri Lylyan.


Lalu, mereka berpelukan.


"Salam, Ayahanda," Tutur pangeran Chian. Ia membungkukkan badannya tanda hormat.


"Iya, Menantuku," Sahut raja Wian.


"Putriku, Ibunda rindu sekali denganmu," Kata permaisuri Chylian.Ia memepererat pelukannya.


"Aku juga rindu dengan Bunda," Sahut putri Lylyan. Rindu yang ia rasakan sudah terbayarkan.


"Ekhem-ekhem," Raja Wian berdehem. Sehingga permaisuri Lyana dan putri Lylyan melepaskan pelukannya.


"Eh, Ayahanda," Kata putri Lylyan. Lalu, ia menyengir kuda.


"Jadi, begitu ya. Kamu hanya rindu dengan bunda mu saja," Tutur raja Wian seraya memalingkan wajahnya. Ia pura-pura ngambek.


"Ayahanda jangan nagambek," Samhungnya. Ia berusaha merayu Ayahandanya.


"Hmmm," Sahut raja Wian dengan tampang dinginnya.


"Ayahanda, jangan marah...," Tutur putri Lylyan. Ia mengeluarkan pup eyes.


"Baiklah-baiklah," Sahut raja Wian.


"Ayah aku peluk?" Tanya putri Lylyan.


"Tidak usah, nanti ada yang cemburu," Sahut raja Wian. Ia melirik menantunya.


"Siapa?" Tanya putri Lylyan. Ia mengerutkan alisnya tanda tidak paham.


"Huuuh, dasar putriku yang polos. Ya suami mu lah, entar dia cemburu kalau kamu peluk Ayahanda," Celetuk raja Wian.


"Oooh," Putri Lylyan hanya menjawab oh.


Pangeran Chian hanya tersenyum. Ia sedikit malu mendengar ucapan mertuanya.


"Menantuku, Putriku. Ayo kita masuk!" Permaisuri Lyana mengajak anak dan memantunya untuk masuk kedalam istana.


*****


Diruang Makan


Dimeja sudah tertata rapi jenis kue, sayur, buah dan ikan yang sudah dimasak.


"Wah, makanannya banyak sekali," Kata putri Lylyan.


"Iya, Putriku. Ini semua khusus untuk menyambut kalian," Sahut permaisuri Chylian.


"Terimakasih, Ibunda," Sahut putri Lylyan seraya tersenyum.


"Suamiku, kamu mau makan apa?" Tanya putri Lylyan pada suaminya.


"Aku mau makan kue itu saja," Sahut pangeran Chian seraya menunjuk.


"Sebentar," Sahut putri Lylyan.

__ADS_1


Lalu, putri Lylyan Qiran mengambil piring dan meletakkan beberapa jenis kue diatas piring itu.


"Ini kue nya, makanlah!" Perintah putri Lylyan.


"Banyak sekali, aku kan hanya meminta satu saja," Sahut pangeran Chian.


"Yasudah, kita konsi berdua," Kata putri Lylyan.


"Baiklah," Sahut pangeran Chian.


Raja Wian, permaisuri Lyana, pangeran Chian dan putri Lylyan pun memakan makanan yang sudah di sediakan.


"Emmm, enak," Celoteh putri Lylyan setelah ia menggigit kue yang empuk.


Raja Wian Qiran dan permaisuri Lyana Qiran hanya terseyum melihat putrinya itu.


"Sayang, makannya jangan terburu-buru nanti kamu bisa tersedak," Tutur pangeran Chian.


"Tid...," Ucapan putri Lylyan terhenti.


"Uhuk uhuk," Putri Lylyan terbatuk. Ia tersedak makanan yang sedang ia makan.


Pangeran Chian memberi minum pada istrinya.


"Sudah ku bilang, jangan terburu-buru," Kata pangeran Chian seraya mengelus punggung istrinya.


"Hmmm, maaf," Sahut putri Lylyan setelah selesai minum.


"Tidak perlu minta maaf," Sahut pangeran Chian dengan lembut. Ia membersihkan kue yang menempel di ujung bibir istrinya.


"Pemandangan macam apa ini, Haiiih," Raja Wian membatin. Ia sedikit kesal melihat anak dan menantunya yang bermesraan tidak tahu tempat.


"Suamiku, suapi aku!" Perintah putri Lylyan.


"Baiklah, Istri manja ku," Sahut pangeran Chian.


"Mau kue yang mana?" Pangeran Chian bertanya pada istrinya.


"Terserah, yang mana aja aku mau," Sahut putri Lylyan seraya tersenyum.


Pangeran Chian Shin mulai menyuapi istrinya secara perlahan.


"Cieee, romantisnya," Imbuh permaisuri Lyana.


"Suamiku, aku jadi iri dengan mereka," Sambungnya.


"Hmmm, ingat umur," Sahut raja Wian pada istrinya.


"Walaupun sudah tua, tidak ada salahnya tetap romantis," Kata Putri Lylyan.


"Iyakan, Suamiku?" Sambungnya.


"Iya, sayang," Sahut pangeran Chian pada istrinya.


"Hmm. Kalian saja yang romantis, Ayahanda tidak mau," Sahut raja Wian.


"Itulah, Ayahanda mu tidak seperti suamimu. Kamu beruntung punya suami seperti pangeran Chian," Tutur permaisuri Lyana. Ia sedikit menyindir suaminya.


"Baiklah-baiklah. Aku akan romantis padamu, Istriku," Sahut raja Wian.


Raja Wian Qiran mengambil satu kue, lalu menyuapkannya pada permaisuri Lyana Qiran.


"Terimakasih, Suamiku," Kata permaisuri Lyana.


"Iya, Istriku," Sahut raja Wian. Ia menyunggingkan senyuman pada istrinya


"Sangat romantis," Celoteh putri Lylyan pada kedua orang tuanya.


Raja Wian Qiran dan permaisuri Lyana Qiran hanya tersipu malu.


*


*


*


*


*


Like, coment, vote


Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2