
Dua hari kemudian, putri Lylyan Qiran pulang ke istananya, ia di antar oleh pangeran Chian Shin.
"Pangeran, aku sudah siap. Ayo kita berangkat!" Kata putri Lylyan bersemangat.
"Sebentar lagi. Aku sedang memakai sepatu. Apa kamu tidak lihat, heh?" Tanya pangeran Chian seraya menaikkan satu alis matanya.
"Heheh," Putri Lylyan hanya tertawa.
Lima menit kemudian, pangeran Chian Shin pun sudah selesai memakai sepatunya. Lalu ia menyuruh pak Lan untuk membawa kudanya ke depan istana. Pak Lan adalah orang yang bekerja di istana Shin sebagai perawat kuda-kuda yang ada di istana Shin.
"Pak Lan, apakah kuda ku sudah siap?" Tanya pangeran Chian.
"Sudah, pangeran. Kuda anda sudah aku ikat di depan istana," Sahut pak Lan dengan nada bicara serak. Karena usia pak Lan sudah hampir tua.
"Terimakasih, pak Lan," Tutur pangeran Chian. Pak Lan pun mengangguk. Lalu ia meninggalkan pangeran Chian.
Pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran pun ke depan istana kerjaan Shin. Disana sudah ada raja Sanji Shin dan permaisuri Chylian Shin yang mengantar mereka sampai depan gerbang istana.
"Permaisuri Chylian, raja Sanji. Aku pulang dulu!" Tutur putri Lylyan.
"Aku sangat berterimakasih karena selama aku tinggal di istana Shin, kalian sangat baik padaku. Dan memberi semua kebutuhan ku," Kata putri Lylyan seraya tersenyum.
"Tidak perlu berterimakasih, kamu sudah kami anggap anak kami sendiri," Kata permaisuri Chylian.
"Hati-hati dijalan, jika ada sesuatu yang mengganggu perjalanan kalian, segera lah minta bantuan pada ku," Kata raja Sanji.
"Tenang, raja Sanji. Aku kan bersama pangeran Chian yang tampan tapi dingin seperti Es balok," Celetuk putri Lylyan tanpa dosa.
"Habis di puji, lalu di jatuhkan. Hancur semua," Celetuk permaisuri Chylian sedikit mengejek putra nya.
"Biarkan saja. Yang penting aku tampan, semua wanita akan suka padaku. Aku bisa memporak-porandakan hati para wanita, karena ketampananku," Kata pangeran Chian dengan gaya sok cool.
"Aku tidak suka padamu," Kata putri Lylyan dengan sorot mata sinis.
"Yasudah. Kalau begitu, aku tidak jadi mengantarkan mu," Tutur pangeran Chian. Ia kesal dengan ketidak jujuran putri Lylyan.
"Heheh, iya iya. Aku suka pada mu, pangeran Chian Shin yang paling tampan se kerajaan," Alibi putri Lylya, Ia merayu pangeran Chian. Karena ia tidak ingin pangeran Chian tidak jadi mengantarnya pulang.
"Sudahlah, putraku. Jangan di ambil hati," Kata raja Sanji. Ia menengahi percekcokan antara pangeran Chian dan putri Lylyan.
"Betul itu," Imbuh permaisuri Chylian. Pangeran Chian hanya diam saja.
"Ohiya, kami titip salam pada ke dua orang tua mu ya, putri Lylyan," Kata permaisuri Chylian. Putri Lylyan pun mengangguk.
"Yasudah, kami berangkat dulu!" Tutur pangeran Chian. Raja Sanji dan permaisuri Chylian mengiyakan.
Lalu, mereka pun menaiki kuda yang telah di sediakan, kemudian melajukan kudanya menuju istana kerjaan Qiran. Pangeran Chian yang menunggang kudanya. Putri Lylyan duduk di depan dan memunggungi pangeran Chian, sedangkan pangeran Chian duduk di belakang. Ya, seperti itu mereka. Seperti sepasang kekasih.
*****
Setelah mereka kurang lebih menempuh empat jam perjalanan, mereka pun sampai ke kerjaan Qiran. Mereka di sambut oleh raja Wian Qiran dan permaisuri Lylyan Qiran.
"Ayahanda, Ibunda. Aku sudah pulang," Putri Lylyan berteriak dari depan pintu istana.
"Iya sayang, kami mendengarnya," Kata permaisuri Lyana dari dalam istana.
"Masuklah, putriku," Kata raja Wian.
Pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran pun masuk kedalam istana kerjaan Qiran.
"Ayahanda, Ibunda. Aku rindu kalian," Kata putri Lylyan.
__ADS_1
"Kami juga merindukanmu," Sahut raja Wian.
"Sini, Ibunda peluk!" Tutur permaisuri Lyana. Putri Lylyan pun memeluk ibundanya sebentar. Setelah itu ia melepaskan pelukannya.
"Di antar oleh calon suami ya," Tutur permaisuri Lyana. Pangeran Chian hanya tersenyum.
"Apaan sih, Ibunda," Kata putri Lylyan. Ia sedikit malu.
"Uluh uluh, putri Ibunda masih malu-malu," Kata permaisuri Lyana.
"Bagaiamana, pangeran. Apakah kamu jadi menikahi putriku?" Tanya raja Wian seraya menaikkan satu alis matanya.
"Jadi, raja Wian. Aku pasti menikahinya. Kalau bisa bulan depan aku akan menikah dengannya. Kalau putri Lylyan mau," Tutur pangeran Chian dengan berani.
"Putriku pasti mau," Sahut raja Wian.
"Apaan sih, Ayahanda," Kata putri Lylyan.
"Ala, jujur saja. Kamu pasti mau kan," Kata permaisuri Lyana. Putri Lylyan hanya tersenyum.
"Tuh kan senyum. Berarti kamu mau," Celetuk permaisuri Lyana, ia sedikit menggoda putrinya.
"Kalau begitu, bulan depan akan ada acara pernikahan di istana kami. Kalian akan menikah disini, serta pesta yang sangat mengah," Tutur raja Wian seraya tersenyum.
"Baiklah, raja Wian. Satu minggu lagi, aku akan membawa kedua orang tua ku kesini untuk membicarakan pernikahan kami," Sahut pangeran Chian. Raja Wian pun mengangguk.
"Yasudah. Ayo kita makan siang dulu, pasti kalian sudah lapar," Tutur permaisuri Lyana.
Mereka berempat pergi ke ruang makan. Lalu para Maid menyiapkan makanan di meja makan. Setelah itu raja Wian Qiran, permaisuri Lyana Qiran, putri Lylyan Qiran dan pangeran Chian Shin makan siang bersama.
*****
"Wian, kami kesini ingin membicarakan pernikahan anak kita," Tutur raja Sanji.
"Kapan pernikahan ini akan dilaksanakan?" Tanya raja Sanji.
"Tiga bulan lagi. Di hari senin kita akan melaksanakan pernikahan mereka di istana ku ini. Kami akan membuat pesta yang sangat meriah," Sahut raja Wian.
"Baiklah, kami setuju," Kata raja Sanji.
"Satu lagi. Selama tiga minggu setelah pembicaraan ini, putri ku dan pengeran Chian tidak boleh bertemu. Waktu hari H nya baru mereka dipertemukan di acara pernikahan," Imbuh permaisuri Lyana.
"Kenapa begitu?" Tanya pangeran Chian. Ia sedikit terkejut mendengar ucapan permaisuri Lyana.
"Putriku harus dipingit dan pangeran Chian juga harus di pingit. Tidak boleh keluyuran," Sahut permaisuri Lyana seraya tersenyum.
"Iya, Ibunda. Aku tidak setuju," Tutur putri Lylyan tidak terima.
"Aku juga tidak setuju," Imbuh pangeran Chian.
"Kalian harus mengikuti aturan kerajaan. Kami juga dulu di pingit seperti kalian ini," Sahut permaisuri Chylian.
"Tapi, Ibunda...," Tutur putri Lylyan seraya memanyunkan bibirnya.
"Sudah lah, putriku. Setelah menikah pasti kalian sering bertemu. Bahkan satu rajang," Celetuk permaisuri Lyana.
"Iya, kalau sudah menikah, hanya suami kita saja yang sering kita lihat. Kemana-mana harus ikut. Keseringan ikut dari pada tidak. Terkadang sampai bosan melihatnya," Celetuk permaisuri Chylian.
"Benar yang di katakan permaisuri Chylian," Kata permaisuri Lyana.
'Apa'
__ADS_1
Sahut raja Wian dan raja Sanji sedikit kesal.
"Upss, keceplosan. Heheh," Kata permiasuri Lyana.
"Suami kami yang paling tampan dan bijak sana, kami tadi hanya bercanda," Kata permaisuri Chylian seraya nyengir kuda.
"Sudah lah, Hanya hal begitu saja pun," Celetuk pangeran Chian malas.
"Apa katamu?" Tanya raja Sanji semakin kesal.
"Kamu belum tahu, karena kamu belum menikah. Rasakan nanti kalau sudah menikah, kamu akan merasakan apa yang kami rasakan," Imbuh raja Wian juga semakin kesal.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak paham," Celetuk putri Lylyan dengan polosnya. Ia benar-benar tidak mengerti.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menepuk dahi mereka masing-masing melihat kepolosan putri Lylyan Qiran. Begitu polosnya ia, hal sepele yang dibicarakan tadi saja tidak paham. Apa lagi hal yang lainnya.
"Ya, Tuhan. Begitu polosnya calon istriku ini," Batin pangeran Chian.
"Aku harus benar-benar sabar menyikapinya. Kalau tidak, bisa hancur semuanya," Batin pangeran Chian lagi. Lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Lylyan, kamu benar-benar tidak paham?" Tanya pangeran Chian. Putri Lylyan hanya menggelengkan kepalanya.
"Yasudah, jangan dipikirkan lagi. Anggap saja angin lewat," Tutur pangeran Chian seraya tersenyum.
"Aduh, kamu harus ekstrak sabar, putraku," Tutur raja Sanji.
"Putriku sangat polos. Jadi, kamu kalau bertindak jangan gegabah. kalau tidak, kamu tidak akan mendapatkan hak milik mu," Kata raja Wian. Ia mengejek pangeran Chian.
"Tenang saja, aku akan mendapatkannya. Hal seperti itu, cukup gampang untukku," Kata pangeran Chian dengan gaya cool dan berani.
"Aku memberi mu jempol untuk keberanian mu," Kata raja Wian seraya tersenyum. Lalu mangacungkan kedua jempol tangannya.
"Putraku, gitu loh," Celetuk raja Sanji.
"Heleh," Kata raja Wian.
"Sudah, sudah. Apa sih yang kalian biacarakan. Tidak sopan," Kata permaisuri Lyana kelas.
"Entah itu. Lihat putri Lylyan, ia hanya diam saja dan bingung mendengar pembicaraan kalian yang tidak berguna itu," Imbuh permaisuri Chylian kesal pada para laki-laki.
"Heheh, maaf," Sahut raja Sanji.
"Jadi bagaimana, kita sudah deal kan, masalah pernikahan ini?" Tanya raja Wian.
'Sudah'
Sahut raja Sanji, permaisuri Chylian, permaisuri Lyana dan pangeran Chian. Sedangkan putri Lylyan hanya diam saja. Ia hanya mengikuti apa kata mereka.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote
Lanjut...
__ADS_1