Pengeran Es VS Putri Polos

Pengeran Es VS Putri Polos
Chapter42


__ADS_3

Setelah pangeran Chian Shin selesai berganti pakaian. Ia pun mendekati istrinya.


"Sayang," Panggil pangeran Chian.


"Apa," Sahut putri Lylyan dengan ketus.


"Kok gitu jawab nya?" Tanya pangeran Chian.


"Suka hati lah," Sahut putri Lylyan.


"Kamu marah pada ku?" Tanya pangeran Chian.


"Tidak," Sahut putri Lylyan dengan singkat.


"Jadi?" Tanya pangeran Chian lagi. Putri Lylyan hanya diam.


"Sayang, apakah malam ini kita harus membuat cucu untuk Ayahanda dan Ibunda?" Tanya pangeran Chian. Ia berbisik di telinga istrinya.


"Apaan, aku tidak mau," Sahut putri Lylyan. Lalu ia mebalik tubuhnya membelakangi suaminya. Sedangkan pangeran Chian hanya tersenyum semirk.


Pangeran Chian Shin langsung membalikkan tubuh istrinya. Lalu menindihnya dan mengunci istrinya agar tidak bisa bergerak.


"Apa-apaan ini?" Tanya putri Lylyan. Ia tidak terima dan meronta-ronta.


"Bisakah kamu diam, Istriku?" Tanya pangeran Chian. Ia menatap dengan tatapan mata elang yang ingin menerkam mangsa nya.


"Lepasin, jika mau sesuatu jangan memakasa begini," Tutur putri Lylyan.


"Aku tidak percaya kamu mau menuruti keinginanku," Sahut pangeran Chian seraya menatap mata istrinya.


"Katakan dulu, apa mau mu?" Tanya putri Lylyan lagi.


"Aku ingin dirimu," Bisik pangeran Chian. Sedangkan putri Lylyan hanya diam, ia paham apa yang diinginkan suaminya.


"Ayo kita lakukan sekarang!" Bisiknya lagi.


"Aku tidak mau. Aku sedang tidak enak badan," Kata putri Lylyan berbohong.


"Benarkah?" Tanya pangeran Chian. Lalu ia menempelkan telapak tangannya di dahi istrinya.


"Tidak panas pun," Kata pangeran Chian.


"Mati lah aku, salah buat alasan," Batin putri Lylyan.


"Kamu mulai belajar berbohong, Sayang?" Tanya pangeran Chian.


"Tidak," Sahut putri Lylyan.


"Dasar Istriku yang nakal. Masih saja mau mengelak," Tutur pangeran Chian.


"Aku ti...," Ucapan putri Lylyan terpotong.


"Cup"


Pangeran Chian menempelkan bibirnya ke bibir putri Lylyan sampai beberapa detik. Kemudian, ia mencoba untuk ********** tetapi putri Lylyan meronta-ronta. Mau tidak mau, pangeran Chian menggigit pelan bibir bawah istrinya agar ia mendapatkan peluang untuk masuk kedalam mulut istrinya. Dengan begitu ia mudah mengabsen satu persatu dalam mulut istrinya. Beberapa menit, putri Lylyan tidak meronta-ronta lagi. Malah, ia menikmati setiap ciuman yang di berikan suaminya kepadanya. Ia merasa terbawa suasana karena ciuman hangat dan lembut yang dilakukan suaminya.


"Emmm," Putri Lylyan mengerang.


Hal itu membuat gairah pangeran Chian semakin menjadi-jadi. Ya, sampailah terjadi hubungan suami istri.


*****


2 Bulan Kemudian


Putri Lylyan Qiran Shin sedang bersantai dengan suaminya, di tepi kolam ikan.


"Hay, ikan. Ini aku bawa makanan kesukaan mu. Makan yang banyak ya," Kata putri Lylyan. Ia duduk di rerumputan di tepi kolam, seraya menaburkan makanan ikan di kedalam kolam.


"Cepat besar ya, ikan yang cantik-cantik," Sambungnya. Senyumnya selalu mengembang.


Pangeran Chian Shin yang sedang duduk di kursi, hanya melihat tingkah istrinya itu, tanpa ada berkomentar sedikit pun. Malah, ia tersernyum melihatnya.


"Senyum mu, itulah kebahagiaan ku. Teruslah tersenyum, Istriku," Batin pangeran Chian seraya memandang istrinya.

__ADS_1


"Huek huek," Putri Lylyan tiba tiba mual.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya pangeran Chian. Ia menghampiri istrinya.


"Aku tidak tahu, perut ku terasa penuh. Jd ingin mual," Sahut putri Lylyan. Wajahnya sedikit pucat.


"Yasudah, ayo kita ke kamar! Biar kamu bisa itirahat," Tutur pangeran Chian.


"Tidak mau," Kata putri Lylyan.


"Tetapi, wajahmu pucat. Sepertinya kamu sakit. Lebih baik kamu istirahat dulu," Kata pangeran Chian seraya menangkup wajah istrinya.


Putri Lylyan Qiran Shin hanya menggelengkan keplanya tanda tidak mau.


"Plisss," Kata putri Lylyan seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Pangeran Chian Shin diam sejenak untuk berpikir.


"Baiklah," Sahutnya.


"Terimakasih, Suamiku," Kata putri Lylyan sangat senang. Hanya di balas senyuman oelh suaminya.


"Yasudah, kita duduk di kursi saja!," Kata pangeran Chian.


Mereka pun duduk di kursi itu. Putri Lylyan pun meletakkan kepalanya di pangkuan suaminya. Wajahnya membelakangi suaminya.


"Eh," Kata pangeran Chian.


"Sayang, jangan tidur seperti ini. Nanti badan mu sakit," Tutur pangeran Chian.


"Tidak akan," Sahut putri Lylyan.


"Biarkan seperti ini sebentar," Sambungnya.


"Baiklah," Kata pangeran Chian.


Pangeran Chian Shin mengelus pucuk kepala istrinya sampai beberapa menit.


"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Tanya nya.


Pangeran Chian melihat wajah istrinya.


"Hmm, kebiasaan," Gumam pangeran Chian. Ia tersenyum.


Setelah itu, pangeran Chian Shin menggendong istrinya ala bridal, menuju kamar mereka.


*****


Sore Hari


Pangeran Chian Shin meninggalkan istrinya yang sedang tidur. Ia pergi melihat keadaan gudang serta persediaan bahan pangan didalam gudang itu.


Sesampainya di sana, pangeran Chian Shin pun menemui Ermin.


"Selamat datang, pangeran Chian," Kata Ermin seraya membubgkukkan badannya tanda hormat. Lalu, ia berdiri seperti semula.


"Ermin, apakah stok bahan pangan kita masih banyak?" Tanya Pangeran Chian.


"Masih, tuan," Sahut Ermin.


"Baguslah," Kata pangeran Chian.


Tiba-tiba ada seorang laki-laki tua yang datang ke gudang itu.


"Tuan, bisakah saya meminta sedikit makanan mu?" Tanya laki-laki tua itu.


"Hey, disini bukan tempat orang meminta-minta. Pergilah!!" Tanya Ermin dengan suara tinggi.


"Ermin," Kata pangeran Chian Kepada Ermin.


"Maaf, pangeran," Sahut Ermin.


"Bapak, belum makan?" Tanya pangeran Chian.

__ADS_1


Laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya.


"Ermin, ambilkan dulu makanan serta minum untuk Bapak itu!" Perintah pangeran pada Ermin.


"Tapi, pangeran. Bisa saja dia berbohong," Tutur Ermin.


"Bapak ini tidak mungkin berbohong," Sahut pangeran Chian.


"Tapi...," Ucapan Ermin terhenti.


"Ikuti saja perintah ku!" Kata pangeran Chian.


Ermin sang penjaga gudang pun menuruti perintah pangeran Chian.


"Bapak duduk saja dulu!" Perintah pangeran Chian dengan lembut.


Laki-laki itu pun duduk di kursi panjang yang ada di depan gudang.


"Pangeran, ini makanan dan minum nya," Kata Ermin dengan membawa satu piring nasi serta lauknya dan satu cangkir air putih. Pangeran Chian pun mengambilnya.


"Pak, makan lah ini!" Tutur pangeran Chian.


"Terimakasih, tuan," Sahut laki-laki tua itu. Lalu, dibalas senyuman orlh pangeran Chian. Kemudian, laki-laki tua itu pun memakan makanan itu.


Beberapa menit, laki-laki tua itu pun selesai makan.


"Nama bapak siapa?" Tanya pangeran Chian dengan lembut.


"Nama saya, Yayan," Sahut laki-laki tua itu.


Ya, namanya adalah Yayan.


"Bapak tinggal dimana?" Tanya Pangeran Chian.


"Saya tinggal di desa kerjaan Shin," Sahut Yayan.


"Kamu punya keluarga?" Tanya pangeran Chian lagi.


"Punya, tuan. Saya memiliki istri dan tiga orang anak," Tutur Yayan.


"Apa kamu asli dari desa kerjaan Shin?" Tanya pangeran Chian.


"Bukan, tuan. Saya berasal dari desa kerjaan Min. Baru satu bulan saya pindah ke desa kerjaan Shin," Jelas Yayan.


"Apa tujuan mu pindah?" Tanya pangeran Chian.


"Karena, Saya ingin mencari pekerjaan untuk menafkahi istri dan anal-anak saya," Sahut Yayan.


"Apakah disana tidak ada pekerjaan?" Tanya Pangeran Chian dengan serius.


"Tidak ada, tuan. kerjaan Min sedang mengalami kesulitan. Hampir semua rakyat yang berada di pedesaan mengalami kesulitan dalam hal pekerjaan dan makanan. Sudah banyak rakyat pedesaan yang pindah ke kerjaan lain. Termasuk saya yang kesulitan dalam hal pekerjaan dan makanan sehingga pindah dari pedesaan kerjaan Min," Tutur Yayan.


"Kenapa bisa terjadi seperti itu?" Tanya pangeran Chian. Ia mengerutkan dahinya.


"Ini karena sebagian besar kebun dan sawah mengalami gagal panen, disebebkan banyak tikus serta ulat yang memakan hasil penen. Sehingga pemasukan tidak ada," Tutur Yayan.


"Jadi, saya serta keluarga saya berinisiatif untuk pindah ke pedesaan kerjaan Shin agar mendapat pekerjaan, untuk menyambung hidup kami. Tetapi, alangkah malangnya, saya disini tidak mendapatkan pekerjaan . Sehingga saya tidak bisa menafkahi istri dan anak-anak saya," Sambungnya. Yayan menjelaskan dengan mata ber kaca-kaca.


Pangeran Chian Shin dan Ermin diam mendengarkan perkataan Yayan. Mereka berdua mencerna apa yang dijelaskan Yayan.


*


*


*


*


*


Like, coment, vote


Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2