Pengeran Es VS Putri Polos

Pengeran Es VS Putri Polos
Chapter48


__ADS_3

1 Bulan Kemudian


Usia kandungan putri Lylyan Qiran Shin sudah menginjak 2 bulan. Perut nya sudah mulai nampak membesar.


"Suamiku, apakah perut ku sudah nampak besar?" Tanya putri Lylyan pada suami nya. Ia sedang berkaca di lemari hias.


"Sedikit," Sahut pangeran Chian seraya melihat perut istri nya. Ia duduk di ranjang.


"Berarti anak kita semakin besar didalam perut ku," Kata putri Lylyan.


"Iya, sayang ku," Sahut pangeran Chian. Ia tersenyum pada istri nya.


"Kalau aku semakin gemuk, apakah kamu tetap sayang pada ku?" Tanya putri Lylyan.


Pangeran Chian Shin menghampiri istri nya.


"Sayang, mau kamu gemuk, aku tetap sayang pada mu. Sampai kapan pun aku akan tetap sayang pada mu," Sahut pangeran Chian.


Lalu, pangeran Chian Shin memeluk istri nya dari belakang.


"Kamu janji?" Tanya putri Lylyan. Pangeran Chian mengangguk.


"Anak ku sayang, cepat besar ya. Kamu di dalam perut, jangan nyusahin Ibunda mu," Tutur pangeran Chian seraya mengelus perut istri nya.


"Iya, Ayahanda," Sahut putri Lylyan. Ia mewakilkan anak nya yang ada di dalam perut.


"Kamu sudah siap berhias kan?" Tanya pangeran Chian pada istri nya.


"Sudah, Suamiku," Sahut putri Lylyan.


"Ayo kita keluar!. Ayahanda dan Ibunda pasti sudah menunggu," Kata pangeran Chian. Putri Lylyan pun mengguk.


Mereka keluar kamar, dan menuju ruang depan.


"Menantuku canti sekali," Permaisuri Chylian memuji putri Lylyan.


"Terimakasih, Ibunda," Sahut putri Lylyan seraya tersenyum. Dan permaisuri Chylian juga tersenyum.


"Ibunda juga cantik," Sambung nya.


"Terimakasih, sayang," Sahut permaisuri Chylian.


"Apakah sudah siap semua?" Tanya raja Sanji.


"Sudah, Ayahanda," Sahut pangeran Chian.


"Ayo kita berangkat!" Tutur raja Sanji.


Mereka pun berangkat ke kerjaan Lim untuk menghadiri acara jamuan antar kerjaan.


*****


Sesampainya di kerjaan Lim. Raja Sanji Shin, permaisuri Chylian Shin, pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin di sambut baik oleh raja dan permaisuri kerjaan Lim.


"Selamat datang di istna kerjaan kami yang kecil ini, Saudara ku," Tutur raja Ginz.


Raja Ginz Lim adalah suami dari permaisuri Liu Lim. Sedangkan, Liu Lim adalah adik kandung dari permaisuri Chylian Shin.


"Jangan bicara seperti itu. Istana kerjaan kamu besar juga kok," Sahut raja Sanji.


"Tapi lebih besar kerjaan mu," Imbuh raja Ginz.

__ADS_1


"Sudah lah jangan di bahas. Kalau kamu masih mau bahas, kami akan pulang," Sahut raja Sanji.


"Heheh," Raja Ginz cengengesan.


"Eh, Kakak ku ternyata sudah datang," Kata permaisuri Liu yang baru keluar dari istana.


"Iya, kamu saja yang lambat menyambut ku," Sahut permaisuri Chylian dengan malas.


"Heheh, maaf. Aku baru siap berhias," Tutur permaisuri Liu.


"Paman, Bibi. bisakah kami masuk ke aula?" Tanya pangeran Chian dengan dingin nya.


"Oh, tentu bisa, keponakan ku," Sahut raja Ginz.


"Silahkan masuk!" Sambung nya.


"Dari tadi gitu. Ini malah bahas hal yang tidak penting," Kata pangeran Chian dengan ketus nya.


"Huuuh, anak siapa sih kamu?" Tanya raja Ginz. Tetapi, pangeran Chian tidak menanggapi nya.


"Istri ku, ayo kita masuk duluan. Kamu tidak perlu dengerin ocehan para orang tua ini," Kata pangeran Chian dengan enteng nya. Putri Lylyan pun menuruti suami nya.


"Dasar anak laknat!!" Permaisuri Chylian kesal.


"Istri ku, sudah lah. Putra kita kan memang seperti itu orang nya," Raja Sanji menenangkan istri nya.


"Hmmm," Sahut permaisuri Chylian.


"Yasudah lah. Kalian masuk aja ke dalam duluan," Tutur permaisuri Liu.


Raja Sanji Shin dan permaisuri Chylian Shin berpamitan untuk masuk ke dalam aula.


*****


Para tamu sudah pada datang dan sudah masuk kedalam aula. Tamu itu berasa dari kerjaan Shin, Qiran, Min, dan Wen.


Kini, masuk lah acara jamuan nya. Acara jamuan ini hanya di adakan untuk pertemuan biasa. Bisa dikatakan sebagai tanda silaturahmi saja.


"Para raja dan permaisuri, saya mengadakan jamuan ini untuk menambah ke akraban kita. Tidak ada hal penting yang menyangkut masalah dalam kerajaan," Tutur raja Ghinz.


Para tamu pun paham atas penuturan raja Ghinz Lim.


"Silahkan makan makanan yang telah kami sediakan!" Kata raja Ghinz dengan ramah.


Para tamu pun mencicipi dan meminum hidangan yang tersedia di depan meja masing-masing. Tidak hanya hidangan saja yang di siapkan oleh raja Ghinz. Tetapi, tarian-tarian yang sangat indah dan musik kecapi yang di siapkan oleh raja Ghinz untuk menghibur para tamu.


Disela-sela mereka mencicipi minuman dan makanan. Mereka juga saling bercerita dan bercanda gurau.


"Raja Zhin Wen, bagaimana dengan kerjaan mu. Apakah ada masalah?" Tanya raja Ginz pada raja Zhin.


"Saat ini tidak ada masalah apa pun, raja Ginz," Sahut raja Zhin.


"Oh iya, raja Sishan. Apakah masalah di kerjaan mu sudah selesai?" Tanya raja Ginz.


"Belum, raja Ginz. Kami masih menangani nya. Tinggal sedikit masalah lagi yang belum selesai," Sahut raja Sishan.


"Apakah kalian butuh bantuan kami? Jika memang membutuhkan bantuan kami, kami siap membantu," Tanya raja Zhin.


"Tidak, raja Zhin. Terimakasih atas tawaran nya," Sahut putri Fiyen. Ia angkat bicara.


"Oh iya, ngomong-ngomong, kamu kan yang mengurus kerjaan Min?" Tanya raja Zhin pada putri Fiyen.

__ADS_1


"Iya, raja Zhin. Tetapi, saya di bantu oleh Ayahanda juga," Sahut putri Fiyen dengan sopan.


"Ooooh. Semangat terus putri Fiyen," Tutur raja Zhin.


"Terimakasih," Sahut putri Fiyen. Ia tersenyum manis.


"Cih, orang jahat seperti dia tidak pantas di puji," Batin putri Phily Wen. Karena ia masih ingat kelakuan jahat dan sombong putri Fiyen waktu dulu.


"Sekarang saja baik, dulu sombong dan licik nya minta ampun. Pengen ku cakar-cakar wajah nya itu," Batin putri Yiyin Lim. Ia sangat geram mengingat kelakuan putri Fiyen waktu dulu.


"Raja Wian dan raja Sanji kenapa diam saja?" Tanya raja Ginz.


"Bingung mau bicara apa. Aku jadi pendengar saja," Sahut raja Wian.


"Iya, aku juga bingung mau bicara apa," Sahut raja Sanji.


"Besanan kopak juga ya," Celoteh raja Ginz.


Raja Sanji Shin dan raja Wian Qiran hanya tersenyum.


"Oh iya, pangeran Chian juga kenapa diam saja?" Tanya putri Fiyen.


"Iya, bicara lah pangeran Chian!" Imbuh raja Ginz.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Jadi lebih baik saya diam saja," Sahut pangeran Chian dengan dingin nya.


"Pangeran, jangan terlalu dingin. Nanti istri mu pergi meninggalkan mu loh. Kamu tidak takut di tinggal sendiri," Putri Fiyen berkata tanpa memikirkan perasaan putri Lylyan.


"Putri ku, apa yang telah kamu katakan?" Tanya raja Sishan. Ia benar-benar bingung karena ucapan putri Fiyen.


"Maaf, aku refleks, Ayahanda," Sahut putri Fiyen dengan enteng nya.


Semua orang yang ada didalam aula hanya diam mendengar perkataan putri Fiyen.


"Huuuh, pangen ku cabei tuh mulut," Batin putri Phily Wen. Ia kesal melihat putri Fiyen.


"Maaf, putri Fiyen. Apa maksud dari ucapan anda tadi ya?" Tanya putri Yiyin.


"Maaf, saya tadi hanya bercanda," Sahut putri Fiyen.


"Kalau bercanda jangan berlebihan, semua orang yang ada di dalam aula ini sampai terdiam mendengar ucapan mu tadi," Kata putru Phily.


"Iya, tidak sepantas nya kamu bicara seperti itu. Seharus nya, kamu pikirkan perasaan putri Lylyan dan pangeran Chian," Imbuh putri Yiyin.


"Sudah-sudah, jangan di perpanjang lagi, aku tidak apa-apa kok, putri Phily, putri Yiyin," Putri Lylyan menengahi. Ia pura-pura tersenyum manis. Padahal, hati nya sakit mendengar ucapan putri Fiyen tadi.


"Maafkan saya, putri Lylyan," Tutur putri Fiyen.


"Jangan terlalu baik pada orang seperti dia, putri Lylyan," Kata putri Yiyin pada putri Lylyan.


Putri Lylyan Qiran Shin hanya membalas dengan senyuman. Sedangkan pangeran Chian Shin hanya diam saja, karena ia takut salah bicara sehingga putri Lylyan salah paham.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Like, coment, vote


Lanjut...


__ADS_2