Pengeran Es VS Putri Polos

Pengeran Es VS Putri Polos
Chapter57


__ADS_3

Dan kebetulan penjual manisan itu membawa kotak obat yang isinya obat-obatan tradisional.


"Pangeran, ini obat untuk mengobati luka putri Lylyan," Wanita penjual manisan itu memberi kotak obat.


"Dan ini kursi untuk putri Lylyan duduk," Kata suami dari penjual manisan itu.


"Terimakasih," Kata pangeran Chian.


"Sayang, duduklah!" Perintah pangeran Chian. Putri Lylyan pun menurutinya.


Pangeran Chian langsung membuka kotak obat itu menggunakan tangan kirinya. Dan ia mendapatkan obat untuk menahan keluarnya darah dari luka istrinya.


"Tahan sebentar ya, sayang!" Perintah pangeran Chian. Lalu, ia memberi obat di luka istrinya.


"Aauuh. Perih," Lirih putri Lylyan.


Pangeran Chian meniup tangan istrinya seraya terus mengobati luka ditangan istrinya.


Beberapa menit, ia selesai mengobati. Lalu ia membalutnya dengan kain yang ada di dalam kotak obat tadi.


Sedangkan orang-orang semakin ramai berkerumun melihat pangeran Chian dan putri Lylyan.


"Terimakasih, Suamiku," Kata putri Lylyan setelah suaminya selesai membalut lukanya.


Tiba-tiba.


"Ada apa ini ramai-ramai!!" Kata raja Wian dengan suara lantang.


Semua orang menoleh kebelakang. Saat mereka tahu itu adalah raja Wian, semua orang menundukkan kepalanya dan minggir dari tempat mereka sampai kelihatanlah pangeran Chian dan putri Lylyan yang sedang duduk tanah.


"Putriku, kamu kenapa?" Tanya raja Wian seraya mendekati putri Lylyan.


"Tadi ada yang perampok, dan dia menggores tanganku sampai luka seperti ini," Sahut Zena.


"Astaga, Putriku. Pasti ini sakit sekali," Kata permaisuri Lyana seraya memegang tangan putri Lylyan.


"Tidak kok, Ibunda. Jangan khawatirkan aku," Sahut putri Lylyan. Ia berusaha tersenyum dihadapat orang tuanya.


Mendengar ucapan anaknya, raja Wian Qiran langsung mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Ayahanda, jangan marah. Aku tidak apa-apa," Kata putri Lylyan. Ia takut jika ayahanda nya itu marah pada rakyat.


Raja Wian Qiran tersenyum pada putrinya. Ia meredahkan emosinya.


"Ayahanda tidak akan marah," Kata raja Wian.


"Istriku, kamu masih ingat ciri-ciri orang yang merampok mu?" Tanya pangeran Chian Shin pada putri Lylyan.


"Aku tidak tahu wajahnya karena dia memakai jubah hitam," Kata putri Lylyan.


"Yasudah," Sahut raja Wian.


"Sayang. Kita pulang saja yuk!" Pangeran Chian mengajak istrinya.


"Tapi aku masih ingin disini," Sahut putri Lylyan.


"Putriku, jangan membantah suamimu," Kata raja Wian.


"Iya, itu semua kan demi kebaikan mu," Imbuh permaisuri Lyana.


"Baiklah. Tapi aku mau beli manisan yang tadi dulu," Kata putri Lylyan.


"Manisan apa?" Tanya permaisuri Lyana.


"Itu, Ibunda. Manisan yang dijual oleh salah satu rakyat," Sahut pangeran Chian.


"Maaf, Anda penjual manisan tadi dan yang telah memberi obat pada ku tadi, bukan?" Tanya pangeran Chian pada penjual manisan.


"Iya, Pangeran," Sahut penjual manisan.


"Ini aku kembalikan kota obat nya," Kata pangeran Chian. Ia mengembalikan kotak obat itu.


"Apakah saya boleh membeli manisan yang Anda jual?" Tanya pangeran Chian.


"Tentu saja boleh, Pangeran," Sahut penjual manisan.


"Sebentar, saya ambilkan dulu," Sambungnya.

__ADS_1


Pangeran Chian mengangguk.


Beberapa menit, sang penjual buah itu memberikan empat bungkus manisan buah jambu untuk putri Lylyan Qiran Shin.


"Putri, ini manisan yang putri inginkan," Kata penjual buah itu seraya memeberikan empat bungkus manisan.


"Terimakasih," Sahut putri Lylyan seraya tersenyum manis.


"Akhirnya aku bisa dapat manisan ini," Sambungnya.


"Ini uang untuk mu," Kata pangeran Chian seraya memberikan satu kantung koin emas yang ia punya untuk penjual manisan itu.


"Tapi itu terlalu banyak, Pangeran," Sahut penjual buah itu.


"Harga manisan yang saya jual hanya empat koin emas saja," Sambungnya.


"Tidak apa-apa. Ini sebagai tanda terimakasih saya karena Anda sudah memberikan obat untuk mengobati luka Istri saya," Tutur pangeran Chian.


"Jadi, kumohon terimalah," Sambungnya.


"Tapi," Kata penjual manisan.


"Sudah, terima saja. Menantuku ingin kamu menerima koin emas itu. Ini sebagai tanda terimakasih kami karena kamu sudah menjadi orang yang baik," Kata raja Wian menambahi.


"Baiklah, raja," Sahut penjual manisan. Karena ia tidak ingin membuat raja Wian kecewa.


Lalu, pangeran Chian Shin memberikan satu kantung koin emas itu.


"Terimakasih, Pangeran," Kata penjual manisan.


Pangeran Chian mengangguk.


"Sayang, ayo kita pulang dualuan!"Pangeran Chian mengajak istrinya pulang.


"Iya ayo," Sahut putri Lylyan.


"Oh iya, Ayahanda dan Ibunda ikut pulang sekarang juga?" Tanyanya.


"Tidak, sayang. Kalian pulang duluan saja," Sahut permaisuri Lyana.


"Yasudah deh," Sahut putri Lylyan.


"Iya, Ayahanda," Sahut pangeran Chian.


"Kalau begitu, kami pamit dulu Ayahanda, Ibunda," Sambungnya.


Raja Wian Qiran dan permaisuri Lyana Qiran mengiyakan dan mengangguk tanda setuju. Lalu, pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin pun pulang ke istana kerjaan Qiran.


"Suamiku, apa kita harus mencari siapa yang membuat putri kita terluka seperti itu?" Tanya permaisuri Lyana saat anak dan menantunya sudah pergi.


"Aku memang mau mencari orang itu. Tapi karena tadi masih ada Lylyan, jadi aku mengurungkan niat ku," Tutur raja Wian.


"Sekarang Lylyan sudah pulang. Jadi aku akan menyuruh orang kepercayaanku untuk mencari orang tersebut," Sambungnya.


"Tapi gimana cara mengenali orang yang telah mencelakai putri kita?" Tanya permaisuri Lyana.


"Aku tahu kok caranya. Kamu tenang saja, Istriku," Sahut raja Wian. Ia tersenyum pada permaisuri Lyana.


"Baiklah. Aku percaya sama kamu," Kata permaisuri Lyana.


"Yasudah. Yuk kita keliling lagi!" Kata raja Wian.


Permaisuri Lyana tersenyum tanda setuju.


*****


Pangeran Chian Shin sudah sampai istana kerajaan Qiran.


"Suamiku, aku mau kedapur dulu," Kata putri Lylyan.


"Ngapain?" Tanya pangeran Chian.


"Mau naruh ini di piring," Sahut putri Lylyan seraya memperlihatkan manisan yang ia bawa.


"Tidak perlu kedapur," Kata pangeran Chian.


"Maid!!" Pangeran Chian memanggil satu Maid dengan suara lantangnya. Salah satu Maid datang.

__ADS_1


"Saya, Pangeran," Sahut Maid.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sambungnya.


"Ambilkan piring dan bawa ke kamar saya!" Perintah pangeran Chian.


"Dan satu lagi, sekalian air minum putih dan segelas susu," Sambungnya.


"Baiklah, Pangeran," Sahut Maid itu.


*****


Di Dalam Kamar


Maid sudah memberikan apa yang diperintahkan pangeran Chian Shin.


"Suamiku, bisakah tuangkan manisan ini di piring?" Lirih putri Lylyan.


"Tentu, sayang," Sahut pangeran Chian.


Pangeran Chian Shin pun menuangkan manisan kedalam piring.


"Aaaa," Pangeran Chian menyuapkan manisan kedalam mulut istrinya. Putri Lylyan pun menerima suapan itu.


"Enak tidak?" Tanya pangeran Chian.


"Enak banget," Sahut putri Lylyan.


"Kalau tidak percaya. Cobain lah!" Sambungnya.


Pangeran Chian Shin pun mencoba manisan itu.


"Iya, rasanya manis," Kata pangeran Chian.


"Aku mau manisannya lagi," Kata putri Lylyan.


Pangeran Chian menyuapi istrinya lagi. Tetapi putri Lylyan tidak mau membuka mulutnya.


"Aku tidak mau," Kata putri Lylyan.


"Jadi?" Tanya pangeran Chian yang sedikit tidak paham.


"Aku mau makan manisan dari mulut Suamiku," Tutur putri Lylyan.


"Hah," Pangeran Chian ternganga karena ucapan istrinya.


"Aku tidak salah dengar?" Tanya pangeran Chian.


"Yasudah kalau tidak mau," Kata putri Lylyan. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya, aku mau," Kata pangeran Chian.


Pangeran Chian menggigit ujung manisan itu agar istrinya bisa memakan manisan itu dari ujung satu lagi yang belum masuk ke mulutnya. Putri Lylyan pun menggit manisan dari mulut suaminya. Wajah mereka hanya berjarak dua cm saja. Lalu, putri Lylyan memakan manisan itu.


"Sudah kan," Kata pangeran Chian.


Putri Lylyan mengangguk.


"Sekarang minum susu nya!" Perintah pangeran Chian.


Putri Lylyan menurut. Setelah putri Lylyan selesai minum susu, pangeran Chian meletakkan cangkir itu diatas meja.


'Cup'


Pangeran Chian mencium bibir istrinya. Ia memegang tengkuk leher istrinya, lalu memperdalam ciumannnya dan putri Lylyan pun memebalas ciuamannya. Mereka berdua menikmati ciuman itu.


Beberapa menit, mereka melepas ciuman yang penuh gairah dan penuh rasa cinta serta sayang.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Like, coment, vote


Lanjut...


__ADS_2