
Keesokan harinya, pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin bersiap untuk pergi ke acara perayaan panen buah di alun-alun.
"Suamiku, lihatlah perutku semakin besar," Kata putri Lylyan. Ia berkaca untuk melihat dirinya sendiri.
"Terus kenapa?" Tanya pangeran Chian pada istrinya.
"Pakaian ku jadi terasa sempit di bagian perut, rasanya tidak nayaman," Sahut putri Lylyan. Ia memanyunkan bibir nya.
"Jangan cemberut dong. Entar cantiknya hilang loh," Kata pangeran Chian. Lalu, ia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Kalau masalah pakaian kamu yang semakin sempit. Besok kita akan beli lagi yang lebih cantik," Sambungnya.
"Janji? " Tanya putri Lylyan.
"Iya aku janji," Sahut pangeran Chian.
"Baiklah," Sahut putri Lylyan.
"Yuk kita keluar!. Ayahanda dan Ibunda pasti lagi nunggu," Tutur pangeran Chian. Dan ia mengecup pucuk kepala istrinya sekilas.
Pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin keluar dari kamar.
*****
"Kenapa kalian lama sekali?" Tanya permaisuri Lyana.
"Maaf, Ibunda. Istriku lama sekali nerdandan nya," Sahut pangeran Chian.
"Namanya juga perempuan jadi lama, Ibunda. Heheh," Sahut putri Lylyan pada Ibundanya.
"Sudah, jangan dibahas lagi," Raja Wian menengahi.
"Ayo kita berangkat saja!" Ajak raja Wian pada Istri, anak dan menantunya.
"Baik, Ayahanda," Sahut pangeran Chian.
"Ayo Istriku!" Sambungnya. Pangeran Chian mengajal istrinya, begitu juga raja Wian.
Setelah itu, mereka pergi ke acara perayaan panen buah yang diadakan di alun-alun.
*****
Di Dalam Kereta Kuda
"Suamiku, rasanya kereta kuda kita ini jalannya sangat kencang," Tutur putri Lylyan.
"Jadi, bisakah diperlambat sedikit?" Tanya putri Lylyan. Ia mengkode pada suaminya, tetapi ia tidak berbicara apa yang ia mau secara langsung.
Pangeran Chian Shin mengerutkan kedua alisnya karena ia tidak paham mengapa istrinya meminta seperti itu.
"Kenapa kamu minta kereta kudanya diperlambat, sayang ku?" Tanya pangeran Chian.
"Jalanannya kan tidak rata, jadi perutku terasa terguncang jika kereta kudanya cepat sekali," Kata putri Lylyan.
"Pak kusir, tolong jalannya diperlambat sedikit. Istriku, merasa tidak nyaman," Teriak pangeran Chian pada kusir yang menunggang kreta kuda itu.
"Baik, pangeran," Sahut kusir dengan sopan. Lalu, ia memperlambat jalannya kereta kuda itu.
__ADS_1
"Sayang, apakah sudah lebih nyaman?" Tanya pangeran Chian pada istri tercinta, termanja, dan terpolosnya.
"Iya, Suamiku. Terimakasih," Sahut putri Lylyan. Ia menyunggingkan senyuman manisnya.
"Apa sih yang tidak untuk Istriku," Kata pangeram Chian. Ia juga tersenyum pada istrinya.
*****
Disisi lain, yaitu kereta kuda yang dinaiki oleh raja Wian Qiran dan permaisuri Lyana Qiran.
"Suamiku, kenapa kereta kuda mereka jadi lambat begitu?" Tanya permaisuri Lyana pada suaminya seraya mengerutkan kedua alisnya. Ia melihat kereta kuda yang berada didepannya yaitu kereta kuda milik anak dan menantunya.
"Aku pun tidak tahu, Istriku," Sahut raja Wian. Ia pun juga bingung seperti halnya dengan istrinya.
"Kira-kira ada apa ya?" Tanya permaisuri Lyana lagi. Ia sedikit penasaran.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kita sesuaikan saja laju kereta kuda kita dengan kereta kuda mereka," Tutur raja Wian.
"Baiklah, Suamiku," Sahut permaisuri Lyana. Ia mengurunkan rasa penasarannya.
Lalu, raja Wian Qiran meminta kusir yang menunggangi kuda untuk menyesuaikan laju kereta kuda yang ada didepan mereka.
*****
Beberapa menit, mereka sampai ke alun-alun kerjaan Qiran.
"Akhirnya sampai juga," Celoteh putri Lylyan.
"Iya, sayang," Kata pangeran Chian.
"Chian, kenapa kereta kuda kalian tadi jadi lambat?" Tanya raja Wian pada menantunya.
"Maaf, Ayahanda. Kereta kudanya lambat karena perut Istriku terasa terguncang jadi kami meminta kusir untuk sedikit pelan dalam menunggangi kudanya," Sahut pangeran Chian tanpa menghilangkan rasa hormatnya.
"Oooh, yasudah," Sahut raja Wian.
Saat raja Wian Qiran, permaisuri Lyana Qiran, pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin ingin melangkahkan kakinya, ternyata ada seseorang yang menyapa mereka.
"Salam, raja, permaisuri, pangeran dan putri," Seorang ketua pedesaan yang dipercayai oleh raja Wian itu menyapa. Yaitu Hansi.
"Salam," Sahut raja Wian.
"Raja Wian. Saya sudah menyiapkan kursi untuk Anda disana," Tutur Hansi.
"Terimakasih," Sahut raja Wian.
Hansi pun mengngguk, lalu menuntun raja Wian Qiran, permaisuri Lyana Qiran, pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran Shin ke arah kursi untuk mereka duduki.
Sesampai sana, mereka duduk dikursi yang sudah disiapkan. Setelah itu, raja Wian Qiran membuka acara perayaan buah di alun-alun kota kerjaan Qiran.
*****
Setelah acara dimulai, dimulailah acara bajar pasar buah, yaitu jual beli buah-buahan segar, makanan yang terbuat dari buah segar, dan manisan yang terbuat dari buah segar yang baru dipetik.
Putri Lylyan Qiran Shin ingin melihat-lihat bajar itu dan ditemani oleh suami tercintanya.
"Suamiku, lihatlah disana ramai sekali. Kita kesana yuk!" Putri Lylyan mengajak suaminya.
__ADS_1
"Tapi itu ramai sekali, sayang. Kita lihat yang lain saja ya," Kata pangeran Chian.
"Aku tidak mau. Aku maunya kesitu," Kata putri Lylyan.
"Baiklah-baiklah," Kata pangeran Chian.
Sesampainya, putri Lylyan tidak bisa melihat dan membeli manisan karena terlalu ramai bahkan penjualnya saja tidak lagi terlihat karena begitu padat.
"Iiih ramai sekali. Aku tidak bisa didepan," Celetuk putri Lylyan.
"Yasudahlah. Kita beli manisan ditempat lain saja ya!" Ajak pangeran Chian.
"Aku tidak mau, aku maunya disini," Putri Lylyan tetap kekeh pada keinginannya.
"Yasudah, sebentar. Aku saja yang membelinya. Kamu tunggu saja disini. Jangan kemana-mana," Tutur pangeran Chian.
Putri Lylyan pun mengangguk. Lalu pangeran Chian pergi ikut mengantri sampai pangeran Chian didorong-dorong. Para rakyat tidak sadar yang mereka dorong itu adalah menantu dari kerjaan Qiran.
Ditengah-tengah pangeran Chian mengantri untuk membeli manisan yang diinginkan istrinya. Tiba-tiba...
"Aaaaahh," Putri Lylyan beeteriak karena ada yang menggores tangannya kanannya. Sehingga satu kantung koin emas yang ia pegang terjatuh dan diambil oleh seseorang berjubah. Lalu, seseorang itu melarikan diri.
"Tolong, pencuri," Sambungnya. Putri Lylyan menahan sakit. Darah mulai keluar dari lukanya.
Seeketika orang-orang yang sedang mengantri itu pun menoleh ke sumber suara. Yang paling utama adalah pangeran Chian.
"Lylyan. Istriku," Kata pangeran Chian. Ia juga berteriak. Lalu, ia keluar dari anterian itu dan cepat-cepat menghampiri istrinya.
Semua orang pada terkejut mendengar pangeran Chian memanggil putri Lylyan sebagai istrinya.
"Sayang, tangan mu berdarah," Kata pangeran Chian. Ia lalu menutup luka ditangan istrinya dengan telapak tangannya agar darahnya tidak terus mengalir.
"Sakit. Tanganku sakit," Kata putri Lylyan. Ia kesakitan dibagian tangan kanan. Darah mengalir di tangannya.
"Suamiku, tanganku sakit sekali," Kata putri Lylyan. Ia kesakitan dibagian tangan kanan. Darah mengalir di tangannya.
Putri Lylyan menangis karena tangannya terasa pedih dan sakit.
"Jangan nangis, nanti darahnya semakin benyak keluar," Kata pangeran Chian dengan lembut.
Semua orang yang ada di sana hanya bisa melihat apa yang terjadi pada putri Lylyan.
"Siapa pun yang punya obat-obatan. Tolong beri aku sedikit obat-obatan kalian. Tolong!!" Teriak pangeran Chian Shin. Ia sudah bingung mau melakukan apa disaat sedang darurat seperti itu.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote
Lanjut...
__ADS_1