Pengeran Es VS Putri Polos

Pengeran Es VS Putri Polos
Chapter55


__ADS_3

"Suamiku, kita berapa hari disini?" Tanya putri Lylyan pada pangeran Chian.


"Sepertinya hanya bisa lima hari saja, sayang," Sahut pangeran Chian.


"Soalnya aku ada urusan dikerajaan Shin," Sambungnya.


"Baiklah," Kata putri Lylyan.


Dua puluh menit mereka sudah berkeliling istana.


"Suamiku, aku lelah," Kata putri Lylyan.


"Yasudah, ayo kita balik ke dalam istana saja!" Pangeran Chian mengajak istrinya.


"Mau aku gendong?" Tanya pangeran Chian.


Putri Lylyan menangguk dan tersenyum manis. Dan pangeran Chian membalas senyuman istrinya.


*****


Keesokan harinya, keluarga kerjaan Qiran sedang berkumpul di ruang khusus.


"Putriku, menantuku. Kalian tidak ingin pergi ke acara perayaan panen buah di alun-alun?" Tanya raja Wian.


"Kapan, Ayahanda?" Tanya putri Lylyan pada Ayahndanya.


"Besok pagi sampai sore hari," Sahut raja Wian.


"Wah, aku mau kesana lah," Kata putri Lylyan.


"Suamiku, kita pergi kesana kan?" Tanya putri Lylyan.


"Iya, sayang," Sahut pangeran Chian.


"Ayahanda dan Ibunda pergi juga?" Tanya putri Lylyan.


"Yaiya lah, Ayahanda dan Ibunda jelas datang kesana. Ayahanda mu kan raja nya, mada tidak datang," Sahut permaisuri Chylian.


"Heheh, iya ya. Aku lupa," Putri Lylyan berkata dan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


Raja Wian Qiran, permasuri Chylian Qiran dan pangeran Chian Shin hanya menggelengkan kepalanya.


"Istriku sayang, kamu besok mau ikut ke acara perayaan panen buah kan?" Tanya pangeran Chian.


"Iya, sayang," Sahut putri Lylyan dengan antusias.


"Kalau mau kesana. Kamu tidak boleh sampai kecapean. Paham!" Tutur pangeran Chian.


"Siap, aku paham, Suamiku," Sahut putri Lylyan. Lalu, ia tersenyum manis.


"Bagus," Ucap pangeran Chian seraya mengelus kepala istrinya.


"Ayahanda, apakah besok kita pergi bersama?" Tanya pangeran Chian pada raja Wian.


"Terserah kalian saja, mau pergi bersama ya tidak apa-apa," Sahut raja Wian.


"Baiklah, kami berangkat bersama Ayahanda dan Ibunda saja," Kata pangeran Chian.


"Ayahanda, Ibunda. Aku ke kolam ikan dulu ya," Kata putri Lylyan.


"Iya sayang," Sahut permaisuri Lyana.


Putri Lylyan Qiran Shin pun beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi ke kolam ikan.


"Menantuku, kamu tidak menyusul Istrimu?" Tanya raja Wian.


"Eh, iya ini mau nyusul," Sahut pangeran Chian. Ia pun menyusul istrinya.


Pangeran Chian Shin cepat-cepat berjalan menyusul istrinya.

__ADS_1


"Istriku, tunggu sebentar!!" Teriak pangeran Chian.


Putri Lylyan pun berhenti berjalan dan menoleh ke belakang.


"Ngapain kamu ngikuti aku?" Tanya putri Lylyan. Ia mengerutkan alisnya.


"Memang tidak boleh?" Pangeran Chian balik bertanya.


"Iya boleh," Sahut putri Lylyan.


"Yasudah. Ayo kita kesana," Kata pangeran Chian.


Pangeran Chian dan putri Lylyan pun pergi ke kolam ikan bersama-sama.


*****


Sesampainya


"Wah, ikannya sudah pada besar-besar," Tutur putri Lylyan seraya tersenyum . Lalu ia duduk direrumputan pinggir kolam ikan.


"Sayang, bisakah kamu jangan duduk dirumput?" Tanya pangeran Chian seraya menatap istrinya.


"Memangnya kenapa?" Tanya putri Lylyan dengan polosnya.


"Nanti baju kamu jorok, sayang. Lagi pula, disini ada kursi," Sahut pangeran Chian.


"Tapi duduk disini enak," Putri Lylyan membantah ucapan pangeran Chian.


"Sayang, masih bisa dibilangi kan?" Tanya pangeran Chian.


"Hmmm, baiklah," Sahut putri Lylyan. Ia sangat takut jika suaminya itu akan marah padanya.


"Aku akan duduk dikursi," Sambungnya.


Putri Lylyan pun duduk dikursi itu dan bersebelahan dengan pangeran Chian.


"Sudah kan," Kata putri Lylyan. Pangeran Chian hanya tersenyum.


"Tentu saja boleh. Bahkan boleh banget," Sahut pangeran Chian. Ia merentangkan kedua tangannya.


Dengan cepat, putri Lylyan Qiran Shin memeluk pangeran Chian Shin dengan erat.


"Tumben meluknya seperti ini," Tutur pangeran Chian.


"Aku hanya teringat waktu kamu memarahiku disini sampai aku menangis dan mimisan. Dan aku sekarang sangat bersyukur, kamu ada disisiku," Tutur putri Lylyan.


"Dulu, kita juga pernah berpisah selama bertahun-tahun karena adanya konflik antara kerjaan. Dan sekarang aku bisa menikah dengan mu, menjadi istri mu dan aku bisa bersama mu setiap hari. Aku sangat senang sekali, aku tidak ingin berpisah dengan mu untuk yang kedua kalinya," Sambungnya.


Pangern Chian Shin hanya bisa diam.


"Terimakasih Suamiku, kamu sudah memberikan perlindungan dan kehangatan untukku selama ini," Lanjutnya.


Putri Lylyan Qiran Shin semakin mempererat pelukannya. Pangeran Chian Shin juga mempererat pelukannya.


"Tidak perlu berterimakasih, Istriku. Kamu adalah penyemangat dalam hidupku. Tanpa mu aku tidak mampu menghadapi kehidupan yang terkadang menyakitkan," Sahut pangeran Chian.


"Dan kamu itu bagaikan matahari di siang hari dan bagaikan bulan di saat malam hari," Sambungnya.


"Kenapa seperti itu?" Tanya putri Lylyan. Ia sedikit bingung.


Pangeran Chian tersenyum.


"Kamu itu m**atahari yang menyinari hari-hari ku saat siang hari. Dan menyinari hari-hari ku saat malam hari. Sehingga saat pergantian waktu, kamulah yang menyinari diriku sampai aku mampu menjalani aktivitas setiap hari. Kamulah segalanya bagiku dalam hidupku. Jika kamu tidak ada disisi ku, maka kehidupanku akan suram dan gelap. Dan Kamu tidak akan bisa tergantikan oleh siapa pun dalam hidupku," Lanjutnya.


Putri Lylyan Qiran Shin tersentuh hatinya mendengar ucapan suaminya.


"Suamiku, aku sangat mencintaimu. Aku akan selalu menyinari hidup mu sampai maut menjemputku," Kata putri Lylyan.


Beberapa menit, mereka melepas pelukannya.

__ADS_1


'Cup'


Pangeran Chian mengecup sekilas bibir istrinya. Dan putri Lylyan juga membalas kecupan suaminya.


*****


"Sayangku, jangan lupa didalam perut mu ada junior kita," Kata pangeran Chian. Lalu, pangeran Chian mengelus perut istrinya.


"Jadi, kamu tidak boleh melakukan hal-hal yang membuat junior kita dalam bahaya," Sambungnya.


"Iya aku tahu. Aku akan selalu menjaganya," Sahut putri Lylyan.


"Oh iya. Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?" Tanya putri Lylyan.


"Terserah, yang mana saja boleh. Aku tidak mempermasalahkan jenis kelaminnya. Yang penting sehat saja," Sahut pangeran Chian.


Putri Lylyan Qiran Shin sangat senang dengan ucapan pangeran Chian Shin. Karena suaminya itu tidak mempermasalahkan jenis kelamin anaknya nanti.


"Sayang, aku jadi ingin makan ikan mas goreng," Kata putri Lylyan. Ia tiba-tiba menginginkan itu.


"Yasudah, nanti kita suruh Maid memasak ikan mas goreng," Sahut pangeran Chian.


"Baiklah," Sahut putri Lylyan.


"Ayo kita kekamar!" Pangeran Chian mengajal istrinya untuk beristirahat.


"Tetapi sebelum kekamar, kita ngambil buah di dapur dulu ya,' Kata putri Lylyan.


"Iya, Istriku terbayang," Sahut pangeran Chian seraya tersenyum.


Mereka berdua pun menuju dapur untuk mengambil buah yang ia inginkan.


Tidak butuh lama, mereka pun sampai ke dapur.


"Pangeran Chian, putri Lylyan. Ada yang bisa saja bantu?" Tanya salah satu Maid.


"Aku mau minta buah," Sahut putri Lylyan.


"sebentar ya, putri. Saya ambilkan dulu buahnya," Tutur salah satu Maid.


"Ini buahnya, putri Lylyan," Kata Maid itu memberikan satu keranjang kecil buah-buahan.


"Banyak sekali. Aku hanya mau buah apel, jambu, dan mangga saja," Kata putri Lylyan.


"Maafkan saya, putri. Saya tidak tahu," Sahut Maid itu. Ia sedikut takut.


"Tidak perlu minta maaf," Sahut putri Lylyan. Ia tersenyum pada Maid itu.


Lalu, putri Lylyan Qiran Shin mengambil buah yang ia inginkan.


"Suamiku, bawain dong!" Tutur putri Lylyan. Ia menyuruh suaminya untuk membawakan buah itu. Pangeran Chian pun menurutinya.


"Maid, untuk makan malam. Masakin satu ikan mas goreng khusus untuk Istriku!" Kata pangeran Chian pada Maid itu.


"Baik Pangeran," Sahut Maid.


"Istriku, ayo kita kekamar!" Pangeran Chian mengajak istrinya ke kamar. Putri Lylyan pun mengikuti suaminya.


*


*


*


*


*


Like, coment, vote

__ADS_1


Lanjut...


__ADS_2