Penjara Luka

Penjara Luka
Part ten


__ADS_3

Pria yang disebut namanya oleh Ratih tadi tampak tergagap begitu melihat perempuan itu berjalan mendekatinya. Dia sama sekali tidak mengira jika istrinya berada di dalam ruangan yang di awasinya di waktu-waktu tertentu.


"Mas kok tahu aku di sini? Kapan datangnya? Kenapa nggak ngabarin dulu? Ini aku masih ada kerjaan, Mas. Aku harus nunggu suami pasienku sebentar. Karena ada hal penting harus kami bicarakan." Ratih langsung memeluk pria yang baru tiga bulan menjadi suaminya itu.


"Aku kangen sekali sama kamu. Makanya dari bandara aku langsung kesini. Tadi aku ke ruanganmu tapi kamunya nggak ada. Terus dikasih tau perawat kalau kamu sedang menemani pasien di sini. Daripada pulang juga sendirian, aku tunggu saja sampai kamu keluar. Aku masih baru datang, kok. Belum sampai satu jam." Pria bernama Reno itu buru-buru menyunggingkan sebuah senyuman dan membalas pelukan Ratih dengan erat. Berharap dengan begitu sang istri tidak mencurigai kebohongannya.


"Tunggu di ruanganku saja, gih. Aku kelarin dulu tugasku sebentar." Ratih memencet hidung mancung suaminya dengan gemas.


"Nggak, ah. Tunggu di sini saja. Dekat dengan kamu, meski tidak terlihat langsung didepan mata. Tidak bisa memeluk atau menyentuh, sudah cukup bagiku merasakan kehangatanmu," rayu Reno diikuti sebuah kecupan lembut di samping bibir Ratih.


"Hilih, gombal. Sudah, ah ... Aku masuk dulu." Pipi Ratih bersemu merah saat mengatakannya. Setelah memberikan cubitan manja di dada sang suami, Ratih kembali masuk ke dalam ruangan Riena.


Reno menarik napas lega. Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama begitu dia melihat Raditya hampir mendekati tempatnya berdiri sekarang. Secepat kilat, Reno mengambil ponsel dari saku celana dan menempelkan benda tersebut pada daun telinganya seakan sedang menerima panggilan telepon dengan posisi badan memunggungi arah datangnya Raditya.


Terlalu bersemangat mendapatkan kabar jika Riena mencarinya, Raditya pun tidak memperhatikan sekeliling. Dia langsung masuk ke ruang rawat khusus untuk istrinya itu.


"Bee." Mata Raditya berbinar bahagia sekaligus haru begitu melihat Riena sudah sadarkan diri secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Langkah kakinya pun dipercepat untuk menghampiri sang istri. Namun, menyisakan satu langkah mendekati brankar Riena, Raditya malah menghentikan langkahnya. Hal itu tidak lain tidak bukan karena dia melihat mata Riena menyiratkan sebuah ketakutan. Trauma itu masih kentara. Sekuat apa pun Riena berusaha tampak baik-baik saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... kamu terlihat segar, Bee." Kata-kata yang sangat dipaksakan lolos terucap dari bibir Raditya. Terkesan canggung dan basa basi. Hanya sebuah pelukan yang ingin Raditya berikan untuk Riena. Namun, saat ini dia harus menahan diri. Tadi di hotel, dia sudah melakukan konseling dengan temannya yang juga berprofesi sebagai psikiater melalui sambungan telepon. Bukannya tidak percaya pada Ratih, tetapi Raditya memang sangat menghindari keterbukaan dengan lawan jenis apa pun alasannya. Temannya itu sudah memberitahukan hal-hal yang harus Raditya lakukan untuk membantu pemulihan mental Riena.


"Rie, sudah ada suamimu. Aku tinggal, ya? Nanti sore aku datang lagi. Oke?" Ratih menyela kecanggungan yang ada.


Raditya sedikit terkejut, dia baru menyadari keberadaan Ratih di antara mereka. Tanda tanya seketika terlintas di benak pria tersebut. Meski kondisi Riena memang sedang butuh penanganan dan perhatian khusus, tetapi keberadaan psikiater semalaman bersama pasien bukanlah hal yang biasa.


"Makasih, ya, Tih." Riena menjawab dengan suara lirih. Dalam hati, sesungguhnya ia ingin menahan Ratih agar tetap di sana. Tetapi logika Riena mulai berjalan. Tentu Ratih juga mempunyai urusan lain selain dirinya.


"Sama-sama, Rie. Kamu sudah baik-baik saja. Pulang dan nikmatilah indahnya Pulau Dewata. Jalan-jalan sana sama suamimu. Ya kali ke Bali cuman numpang tidur di rumah sakit." Ratih melambaikan tangan sambil berjalan mendekati pintu.


Mendengar ucapan Ratih barusan, membuat tanda tanya Raditya semakin bertambah. Untuk dua orang yang baru bertemu dan saling mengenal, kata-kata itu jelas menunjukkan keakraban yang terjalin lama.


"Oh, begitu. Kebetulan sekali, ya. Tapi benar loh, Bee, apa yang dikatakan temanmu tadi. Kamu harus keluar dari sini. Masak ada orang sehat tidur di rumah sakit." Raditya sengaja membelokkan pembicaraan. Meski sebenarnya dia ingin mendengarkan secara mendalam tentang cerita masa lalu sang istri dengan Ratih, tetapi dia mengenyampingkan keinginannya itu.


"Ay, ak---," Riena tidak jadi melanjutkan kata-kata nya. Matanya kembali berkaca-kaca. Sekedar kata maaf pun dia tidak sanggup mengucapkannya.


"Aku juga sayang kamu, Bee. Aku cinta kamu dan aku tidak mau hidup tanpa kamu. Aku tidak ingin meminta penjelasan apa pun dari kamu. Bahagiaku, melihatmu sekarang baik-baik saja." Betapa kata-kata itu diucapkan Raditya dengan susah payah. Suaranya jelas bergetar menahan tangis. Sejak kemarin, jiwa Raditya memang mendadak melankolis. Begitu mudah air mata keluar dari matanya.

__ADS_1


Riena memalingkan wajahnya ke sisi lain. Harusnya dia memang bersyukur, tetapi kenapa berat untuk melakukannya? Kenapa justru yang hadir saat ini malah perasaan tidak pantas mendampingi suaminya sendiri?


"Aku sholat subuh dulu, ya, Bee. Aku sholat di sini saja." Raditya menggulung bagian bawah celana panjang yang dikenakannya hingga hampir setinggi lutut. Sesaat setelah melepas sepatu sneakers yang dikenakan, dia mengambil wudlu di dalam kamar mandi.


Tidak lama, Raditya kembali muncul dengan wajah dan rambut yang basah. Tanpa kata, pria tersebut langsung berdiri menghadap kiblat di sudut kanan ruangan. Raditya melakukan kewajiban dua rakaat dengan sangat khusyu meski tanpa gelaran sajadah sebagai alasnya.


Seusai mengucapkan salam pertanda sholatnya telah usai. Raditya tampak mengusap wajahnya sembari mengambil posisi bersila. Setelah sejenak berzikir, tangan dan wajahnya sama-sama menengadah, sebuah doa dia lantunkan dalam hati dengan mata terpejam begitu penuh pengharapan. Selanjutnya, dilanjutkan dengan doa yang dia lafalkan dengan suara yang begitu bergetar.


"Ya Allah, Ya Robb. Terimakasih atas napas kehidupan yang Engkau berikan pada kami hingga detik ini. Senantiasa berkahi hamba dan istri hamba dengan limpahan kasih-Mu. Jadikanlah kami kekuatan, kebaikan dan anugerah bagi satu sama lain. Dekatkanlah jiwa dan raga kami sampai nanti di Jannah-Mu. Dalam kebesaran kuasa-Mu, kami pasrahkan segala kesulitan. Dengan campur tanganMu, niscaya tidak ada ujian tanpa disertai jawaban serta jalan keluar."


Air mata Riena menetes deras sembari lirih mengucapkan kata "Amin". Hatinya tersentuh sekaligus tersayat-sayat mendengar doa Raditya. Secercah keyakinan timbul di dalam dirinya---semua akan baik-baik saja jika mereka menjalaninya bersama.


Ketika Radiya sudah berbalik badan dan berdiri menghadapnya, Riena buru-buru mengusap pipinya yang basah. Perlahan dia berusaha beringsut turun dari brankar.


Meski tahu apa yang dilakukan sang istri, Raditya sengaja pura-pura tidak melihat. Dia sendiri juga sedang berusaha keras menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan membantu. Bukan tidak peduli, Lagi-lagi, karena Raditya hanya tidak ingin Riena kembali histeris dan merasa ketakutan akan adanya sentuhan fisik dari lawan jenis.


" Ay," panggil Riena, begitu lembut di telinga.

__ADS_1


"Iya, Bee...." Raditya menjawab dengan tatapan dan suara yang tidak kalah lembutnya. Langkah kakinya tetap tertahan. Jarak masih terbentang lebar di antara keduanya. Sungguh bagi Raditya ini adalah sebuah siksaan.


"Tolong peluk aku sebentar saja," pinta Riena, sedikit ragu dengan kepala menunduk hingga dagunya menyentuh dadanya sendiri.


__ADS_2