
"Sepertinya ingatanmu memang sangat bagus, Riena." Pria tersebut mengulurkan tangannya pada Riena. Tentu saja perempuan tersebut langsung memundurkan langkahnya dengan cepat.
"Bagaimana kamu juga bisa tau namaku?" selidik Riena, semakin penasaran.
Sosok tersebut melebarkan senyumannya. Menyadari Riena tidak mungkin menyambut uluran tangannya, pria tersebut menurunkan tangannya kembali dan agak mundur selangkah dari posisi sebelumnya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag yang ditentengnya.
"Aku hanya mau mengembalikan tas ini. Dari kartu identitas di dalamnya, aku tau alamat dan namamu. Andai aku membuka isinya malam itu juga, mungkin saat kita bertabrakan di hotel beberapa waktu lalu aku bisa langsung mengembalikannya." Sosok pria yang tidak lain tidak bukan adalah Reno itu memberikan tas milik Riena yang jatuh saat malam pemerkosaan.
Riena menerima tas tersebut dengan tangan dan kaki yang sudah gemetaran. Ingatannya seolah kembali di dorong pada kejadian malam kelam itu. Semua yang ada di dalam sana jelas kartu-kartu penting yang bahkan sama sekali belum diurusnya kembali. Semua tagihan dan pengeluaran rumah, pastilah sudah diambil alih oleh Raditya.
"Ponselmu juga ada di dalam sana. Tolong kamu periksa dulu. Maaf baru sekarang aku sempat mengembalikan." Reno tidak melepaskan tatapannya sedetik pun dari Riena.
Riena hanya membuka dan melihat sekilas isi tasnya. Sungguh sebenarnya dia sama sekali tidak peduli semua itu kembali padanya atau tidak. Justru sekarang dia malah dibuat berpikir. Bagaimana bisa pria yang belum dia ketahui namanya itu menemukan benda tersebut.
"Sudah mengantar sejauh ini, apa segelas air putih saja tidak ingin kamu berikan? Aku tidak mengharapkan ucapan terimakasih lebih. Hanya saja, aku sangat haus," ucap Reno tanpa basa basi.
Riena berbalik badan, masih di dalam ruangan yang sama terdapat lemari pendingin khusus untuk minuman ringan yang memang disediakan jika ada tamu yang datang. Meski Resti menawarkan diri untuk mengambilkan, tetapi Riena menolak dengan halus.
"Silahkan duduk, Pak." Resti mewakili Riena mengatakan hal tersebut. Rasanya tidak pantas membiarkan orang yang sudah berbaik hati mengembalikan barang hilang milik majikannya---berdiri seperti layaknya tamu yang tidak diundang.
__ADS_1
"Silahkan." Riena memberikan botol air mineral dingin ukuran tanggung pada tamunya.
"Terimakasih, Riena. Panggil saja aku Reno," ucap pria tersebut sembari menebarkan senyuman hangat mempesona.
"Ren, ada yang mau aku tanyakan. Tapi---," Riena melirik ke arah Resti. Dia tidak mungkin berada berdua saja dengan Reno. Di sisi lain, Riena juga tidak ingin bodyguard sewaan suaminya itu mendengar apa yang akan dibicarakan. Dia yakin, Resti pasti akan melaporkan semua pada Raditya.
Reno menangkap ketidaknyamanan Reina dengan jelas. Maka dari itu, dia pun beranjak berdiri setelah isi di dalam botol air mineral yang diteguknya sudah tandas.
"Apa pun yang ingin kamu tanyakan, sebaiknya kita bicarakan lain waktu. Aku meninggalkan nomor ponselku di dalam dompetmu. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama karena masih ada urusan pekerjaan," pamit Reno. Lagi-lagi tatapannya benar-benar lekat pada Riena. Membuat istri Raditya itu menjadi tidak nyaman.
"Terimakasih." Riena mengucapkan dengan lirih.
"Sama-sama, Rie. Sekedar menajamkan apa yang ada di ingatanmu. Sampai dengan hari ini, kita sudah bertemu sebanyak empat kali. Tiga diantaranya tentu saja kebetulan. Yang pertama kali, kita bertemu di bandara karena koper kita tertukar. Yang kedua, kita bertemu di acara resepsi pernikahan di mana aku yang membuat gaunmu terkena wine dan ketiga tentu saja di hotel waktu kamu menabrakku."
"Rie, aku pamit, ya? Rie ...." Reno berusaha mendekati Riena, tetapi Resti dengan sigap menghalangi dengan menggeser posisinya tepat di depan Riena persis.
Riena tampak mengangguk. Lalu perempuan tersebut melangkahkan kaki dengan pelan menuju dapur. Diabaikannya Reno yang masih belum beranjak meninggalkan ruangan tamu meski sudah berpamitan. Pria itu masih menatap lekat bagian pinggul ramping Riena. Dengan imajinasi liarnya, Reno sepertinya tidak main-main dengan keinginannya untuk bercinta dengan istri dari pria yang sangat dibencinya itu.
"Maaf, Bu, ini ketinggalan di depan." Resti memberikan tas tangan yang tadi memang digeletakkan begitu saja di atas meja.
__ADS_1
"Tolong kamu simpan dulu ya, Res. Kapan-kapan kalau saya butuh, saya minta ke kamu," pinta Riena. Suaranya lirih. Lalu diteguknya kembali segelas air putih yang baru saja diambilnya dari dispenser.
"Bu, saya ditugaskan oleh Bapak untuk menjadi teman dan membantu Ibu agar tidak merasa kesepian. Saya sama sekali tidak disuruh Bapak untuk memata-matai Ibu. Bapak tidak pernah menanyakan apa yang Ibu lakukan sepanjang hari. Bapak hanya menanyakan satu hal, "apa Ibu baik-baik saja?". Hanya seperti itu, Bu." Resti mencoba mengatakan hal tersebut dengan hati-hati. Dia merasa perlu meluruskan pemikiran Riena. Raditya tidak mau, kehadiran Resti malah membatasi kebebasan Riena. Justru sebaliknya, dengan adanya Resti, Raditya berharap istrinya mau keluar untuk sekadar belanja atau membeli keperluan pribadinya sendiri dengan nyaman.
"Saya beruntung sekali ya, Res. Suami seperti Mas Raditya pasti sangat langka. Sayangnya, saya ini jauh dari kata sempurna, Res. Menjaga diri saya sendiri saja saya tidak mampu." Mata Riena berkaca-kaca saat mengucapkan hal tersebut.
"Pak Raditya juga beruntung mempunyai istri seperti Bu Riena. Allah tidak mungkin salah menyatukan dua orang manusia dalam ikatan rumah tangga. Sementara atau selamanya, pasti Allah memiliki rencana tersendiri. Apalagi pernikahan Ibu dan Bapak pasti didasari dengan cinta yang luar biasa. Maaf kalau saya lancang, Bu. Menurut saya, setiap pernikahan pasti mengalami badai dasyat dalam perjalanannya. Saya pun pernah merasakannya." Resti yang biasanya lebih banyak diam, kini memberanikan diri untuk mengemukakan pendapatnya.
"Kamu sudah menikah?" tanya Riena.
"Sudah, Bu. Saya menikah di usia yang masih sangat muda karena saya hamil duluan. Di usia tujuh belas tahun saya sudah melahirkan seorang anak. Belum sampai anak saya berusia enam bulan, saya hamil lagi. Saat itulah Allah membukakan hati dan pikiran saya bahwa laki-laki yang menjadi pilihan saya bukanlah orang yang baik. Dia menghamili perempuan lain. Lalu saya ditinggalkan begitu saja dengan kondisi hamil besar dan harus merawat anak pertama yang bahkan belum bisa berjalan. Tidak ada keluarga yang membantu. Karena saya memang yatim piatu, Bu."
"Astaghfirullah, Res. Maaf kalau saya membuat kamu mengingat kembali kesedihan dan luka lama kamu. Saya tidak bermaksud begitu. Maaf, ya, Res." Riena merasa tidak enak sekaligus merasa sedikit tertampar. Masalah yang menimpanya tidak lebih buruk dari Resti. Memang berat dan sakit, tetapi sejatinya tidak ada masalah yang benar-benar berat jika terus dihadapi dengan berani.
"Tidak mengapa, Bu. Saya malah sering mengingat kejadian itu sebagai penyemangat. Sekarang saya bisa hidup lebih baik. Tuhan kembali mengirimkan jodoh buat saya. Meski saya ini janda dan mempunyai dua orang anak, dia mau menerima saya juga anak-anak dengan tulus. Itulah mengapa saya selalu menjaga prasangka baik saya sama Allah. Di balik ujian yang diberikan, pasti akan ada hadiah besar yang diberikan jika kita mampu melaluinya dengan ikhlas."
Riena menundukkan wajahnya. Ada rasa malu terlintas dibenaknya. Resti yang secara sosial dan pendidikan tidak lebih baik darinya, malah bisa berpikiran seperti itu. Sedangkan dirinya? Hanya berputar pada luka dan kesedihan saja. Padahal, ribuan nikmat telah diberikan Tuhan untuknya dengan begitu mudah. Terlahir sebagai anak tunggal di keluarga berada dan harmonis, memiliki paras cantik, pendidikan bagus juga karier yang cemerlang. Belum lagi pernikahannya dengan seorang Raditya---pengusaha muda, mapan, tampan dan sama-sama anak tunggal. Kesempurnaan apa lagi yang ingin dikejar? Kalau pun sampai detik ini ada yang kurang dalam keluarga kecil mereka, tentulah itu kehadiran seorang anak.
"Maaf, bukan maksud saya membuat Bu riena sedih. Maaf kalau kata-kata saya terkesan menggurui dan menyinggung perasaan Ibu. Saya hanya sekedar berbagi pandangan. Jika Ibu memang merasa bersyukur mendapatkan bapak, sudah sepantasnya, Ibu akan mengusahakan yang terbaik seperti yang sudah bapak lakukan."
__ADS_1
Riena menarik napas dalam. Perempuan tersebut mencoba tersenyum pada Resti. "Terimakasih ya, Res. Sepertinya, saya juga harus banyak belajar ikhlas dari kamu... Oh, ya, Res, soal tamu tadi. Tolong jangan cerita sama Bapak. Masih ada sesuatu yang ingin saya cari tau sendiri jawabannya. Sebenarnya saya tidak yakin, tapi saya mau mencoba. Tolong carikan kertas berisi nomer ponsel orang tadi di dalam tas itu. Saya harus menghubunginya untuk menanyakan sesuatu."
"Menghubungi siapa? Dan menanyakan apa?" tanya Raditya yang tiba-tiba muncul di belakang Riena.