
Masih tidak percaya dengan apa yang menjadi permintaan Riena, Raditya tampak ragu untuk melangkah.Pria tersebut bergeming pada posisinya. Dia bahkan mengira sedang bermimpi. Padahal, belum semenit pun matanya terpejam. Sepanjang malam ini, Raditya terjaga untuk berkonsultasi dengan temannya.
"Ay, apa kamu tidak ingin memelukku?" Suara Riena semakin bergetar. Perempuan itu sedang menaruh pikiran negatif pada dirinya. Kebimbangan Raditya, dianggap sebagai bukti jika kini dia dirinya memanglah kotor dan hina.
Raditya seketika tersadar bahwa permintaan Riena bukanlah sekedar halusinasinya semata. Secepat kilat, Raditya menghampiri Riena dan langsung memeluk istrinya itu dengan hangat meski tidak terlalu erat. Dia tidak mau sedikit saja gerakan kasar atau penekanan dari fisiknya, membuat Riena kembali teringat kekerasan seksual yang sudah dialaminya.
"Minta aku memelukmu lebih lama, Bee. Jangan hanya sebentar. Aku sama sekali tidak keberatan." Sedikit kehilangan kontrol diri, Raditya berbisik mesra tepat di samping daun telinga Riena.
Tubuh Riena tiba-tiba terasa menegang. Raditya bisa merasakan sedikit ada tarikan mundur dari tubuh istrinya. Barulah pria itu tersadar. Riena belum sepenuhnya pulih. Istrinya itu pasti sedang berusaha keras mengatasi rasa takut dan traumanya. Perlahan, Raditya melepaskan pelukannya. Meski dengan berat hati dia melakukannya. Memeluk Riena baginya adalah obat dari segala kegundahan hati. Seberat dan secapek apa pun beban pekerjaan atau pikiran yang dirasakan, selalu mereda jika sudah mendekap Riena di sisinya.
"Ay, aku pengen keluar dari rumah sakit. Tapi aku tidak mau kembali ke cottage. Aku mau pulang ke rumah mama, boleh, kan? Aku kangen mama." pinta Riena.
"Kita tunggu dokter dulu, ya. Setelah infusmu dilepas, kita pulang." Tanpa banyak tanya, Raditya langsung memberikan jawaban yang membuat Riena lega.
"Makasih, Ay," lirih Riena sembari memundurkan langkahnya dan memilih duduk di tepian ranjang. Menyembunyikan tangan dan kakinya yang gemetaran menerima pelukan suaminya sendiri. Ternyata, memang masih butuh waktu dan keberanian lebih untuk membuat keadaannya pulih.
Raditya menangkap kegelisahan pada diri Riena. Dia memutar otak sejenak untuk mencari akal agar istrinya itu tidak merasa bersalah atas keanehan sikap yang ditunjukkan kepadanya.
__ADS_1
"Bee, aku ngantuk, semalaman nggak bisa tidur. Boleh aku tidur dulu di sini. Nanti kalau ada dokter, bangunin aku, ya?" Raditya langsung menarik bangku yang berada tidak jauh dari nakas di samping brankar Riena.
"Tidur saja di sini, Ay. Brankar ini cukup luas untuk kita berdua. Lagian aku capek rebahan." Riena mengatakannya dengan sedikit keraguan. Namun, dia tidak mungkin tega membiarkan Raditya tidur dengan posisi duduk seperti itu.
"Enggak ah, nanti dimarahi perawat." Raditya menolak dengan mata yang sudah terpejam. Kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Mulai kapan kamu takut dimarahi orang, Ay? Biasanya juga nggak ada takut-takutnya. Apalagi kalau hanya berhadapan dengan seorang perawat." Riena mulai kembali banyak bicara. Meski suaranya masih pelan dan tidak terlalu bersemangat.
"Nyaliku mulai menciut. Gara-gara kamu yang aku rindu, tapi malah mengabaikanku. Aku melemah, Bee. Benar kata orang, perempuan bisa membuat seorang laki-laki pintar menjadi bodoh. Laki-laki pemberani pun tidak jarang berubah menjadi penakut. Aku butuh recharge energi. Hanya kamu yang tau bagaimana caranya." Lagi-lagi Raditya kelepasan. Ucapan seperti ini biasa dilontarkan sebelumnya. Bahkan Riena pasti dengan senang hati akan membalas ucapan tersebut dengan tindakan langsung. Raditya lupa, keadaan sudah tidak lagi sama.
"Aku sedang bulanan, Ay. Lagian ini di rumah sakit," kilah Riena. Tentu saja dia berbohong. Dia mengatakan hal tersebut hanya karena tidak ingin mengecewakan Raditya terus menerus.
Raditya menggigit bibir bawahnya sembari kembali membuka bola matanya. Sudah tidak mungkin lagi untuk pura-pura tidur. Dia sadar betul apa yang dikatakan Riena pasti hanya untuk menjaga perasaannya. Tidak ubahnya dengan dirinya yang sedang berusaha menjaga hati perempuan yang sangat dicintainya itu, Riena pun juga melakukan hal yang sama. Di tengah lukanya sendiri, bahkan Riena masih mengusahakan hal terbaik untuk dirinya.
"Bee, bolehkah aku mencium kakimu?" Pertanyaan sekaligus permintaan tidak terduga meluncur dari bibir Raditya.
"Jangan, Ay. Kakiku kotor. Aku tidak mandi dari kemarin. Pasti bau." Seketika Riena menarik mundur kakinya hingga ke bawah kolong brankar.
__ADS_1
"Tidak mengapa. Kita sudah biasa bertukar peluh dan ludah, kan, Bee? Kalau hanya sekedar bau kaki, itu tidak ada artinya. Bahkan tidak jarang kita bisa langsung bercinta di pagi hari sebelum gosok gigi dan mandi. Apa bedanya?"
Riena tidak bisa menyanggah lagi. Apa yang diucapkan Raditya barusan memang benar adanya. Namun, apa yang membuat Raditya ingin melakukannya? Bukankah seharusnya malah Riena yang mencium kaki suaminya itu? Bukankah dia yang bersalah karena tidak bisa menjaga kehormatan seorang istri?
Tanpa menunggu jawaban Riena yang masih berpikir, Raditya meluruhkan badannya hingga bokong dan lututnya bersamaan menyentuh dinginnya keramik rumah sakit. Raditya bersimpuh tepat di bawah sang istri. Kedua tangan pria tersebut terulur meraih kaki Riena dan meletakkan kaki tersebut di atas pangkuannya. Perlahan badannya membungkuk untuk mencium kaki dari perempuan yang teramat dia cintai itu.
"Ay, jangan. Aku tidak pantas," Riena berusaha menarik punggung Raditya agar bibir suaminya itu tidak sampai menyentuh punggung kakinya. Tetapi terlambat. Sensasi hangat dari bibir Raditya seakan menembus relung hati Riena yang tengah beku karena luka mendalam yang masih utuh dirasakan.
"Yaa Allah, Ya Robb, ampunilah semua dosa hamba. Sungguh aku telah mengingkari anugerah terbaik yang Engkau titipkan kepadaku. Ampuni khilafku ya Allah. Tidak sepantasnya aku berusaha mengakhiri hidupku. Sementara Engkau telah mengirimkan malaikat tanpa sayap untuk menjagaku," sesal Riena, dalam hati.
Sudah hampir lima menit berlalu, Raditya masih enggan menjauhkan bibirnya dari punggung kaki Riena. Andai dia sanggup berkata-kata secara langsung, sungguh dia ingin meminta maaf atas ketidakbecusannya menjaga sang istri.
"Ay, ada yang ingin aku ceritakan sama kamu," putus Reina. Setelah beberapa saat dia terlihat mengajak otaknya untuk berpikir sedikit keras.
Di sisi lain, Ratih dan Reno yang sudah sampai di kediaman mereka, tengah berbincang sembari menikmati secangkir kopi di ruang tengah.
"Tih, tumben kamu sampai bermalam di rumah sakit? Bersama klien pula. Memangnya klien kamu kali ini spesial ya? Atau kondisi jiwanya sedang terguncang parah? Sampai-sampai kamu harus melakukan pendampingan selama 24 jam." Reno mencoba menggali informasi tentang Riena dari istrinya sendiri.
__ADS_1