
Riena seketika menoleh dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sama sekali tidak menyangka Raditya sudah kembali pulang ke rumah. Suaminya itu menatapnya begitu dalam, menunggu jawaban dari pertanyaan yang baru saja dilontarkan. Yang lebih membuat Riena berpikir keras lagi, tas miliknya yang tadi dibawa Resti, kini sudah berpindah tangan pada Raditya dengan cepat.
Jelas suaminya itu langsung mengenali tas tersebut. Meski bergelimang harta, Riena bukan tipikal perempuan yang gemar mengoleksi barang-barang branded. Dia hanya memiliki beberapa tas saja. Diberbagai acara, hanya tas itulah yang sering digunakan Riena.
"Ini tasmu yang hilang, kan, Bee? Siapa yang menemukan?" selidik Raditya, sedikit tidak sabar. Karena dia menaruh banyak harapan pada siapa pun yang menemukan tas tersebut. Menurut pemikiran Raditya, orang itu setidaknya tahu di mana malam itu Riena berada. Sehingga selanjutnya dia bisa mendapatkan sedikit petunjuk tentang pria biaddab yang sudah berani melakukan pemerkosaan pada sang istri.
"Saya permisi dulu, Pak, Buk," pamit Resti, memanfaatkan hening suasana. Dia cukup pandai memahami keadaan. Begitu Raditya menarik tas yang dibawanya tanpa aba-aba, Resti sudah berniat untuk meninggalkan ruangan.
Raditya hanya menjawab dengan anggukan. Sementara Riena memilih bergegas beranjak berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Perempuan tersebut melangkahkan kaki menuju lantai dua di mana kamarnya berada.
Sebelum menyusul Riena, Raditya memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai satu yang jarang sekali dia singgahi. Ruangan di mana DVR yang terhubung dengan semua CCTV yang berada di dalam rumahnya berada. Di mana DVR tersebut selalu terkoneksi dengan layar monitor besar berukuran 72 inch.
Sampai di sana, Raditya langsung memutar mundur dua jam ke belakang mulai dari salah satu bagian yang mengarah pada gerbang pintu utama rumahnya. Mendapati ada kendaraan asing yang berhenti di gerbang utamanya, Raditya pun melakukan proses perbesaran di layar yang terbelah menjadi dua puluh empat bagian tersebut.
Tangan Raditya semakin lincah dan cekatan menggerakkan mouse, sesekali dia mengetikkan sesuatu untuk mencari tangkapan di layar sisi lain. Begitu sebuah layar menyorot dengan jelas ruang tamu, dan menampakkan sosok yang sangat familiar baginya, Raditya seketika keluar dari ruangan tersebut dan berlari menuju kamarnya di lantai dua.
Sebelum membuka pintu kamar tersebut, Raditya mengatur napasnya terlebih dahulu. Berusaha setenang mungkin meski hati dan pikirannya sedang dilanda tanya juga kecemasan luar biasa. Dengan logika dan akal sehatnya, sungguh Raditya mulai merangkai pertemuan-pertemuan yang kesannya kebetulan belaka antara dirinya, Rino, dan Reno. Sepertinya, dia kini harus menajamkan prasangka nya kembali.
__ADS_1
"Ya Allah, jagalah emosiku. Jauhkan amarah dari ucap dan sikapku." Raditya membuka pintu secara perlahan.
Riena seketika meletakkan ponselnya begitu Raditya melangkah mendekatinya yang sedang duduk selonjoran di sofa panjang. Tahu benar suaminya tersebut pasti masih akan membahas perihal tasnya tadi, Riena pun sengaja tidak mengubah posisinya. Dia membiarkan Raditya duduk pada sofa single di seberangnya.
"Bee, bisa kita bicara sebentar?" tanya Raditya dengan hati-hati. "Aku tidak memaksa jika kamu memang tidak mau menjawab. Abaikan jika kamu memang tidak ingin mendengar apa yang aku katakan. Tapi boleh, kan aku sedikit berharap? Aku mau kita saling berbagi seperti dulu. Lukamu, pastilah lukaku. Sakitmu, tentu saja akan menjadi sakitku," tambahnya.
Riena masih terdiam. Sesungguhnya dia sedang mengumpulkan keberanian, ketegaran, sekaligus kekuatan. Mungkin memang sudah saatnya dia membuka semua dihadapan sang suami.
"Sebenarnya, aku sudah tau apa yang menimpamu, Bee. Aku tau sejak kamu berada di rumah sakit. Maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa, maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Peristiwa malam itu, tidak sedikit pun mengurangi cinta dan sayangku ke kamu. Malah yang ada, aku merasa bersalah, Bee. Aku ini suami yang tidak berguna." Tatapan Raditya berubah sendu.
"Tidak seharusnya kamu memendam dan merasakan hal ini sendirian, Bee. Kita bisa melalui bersama. Jejak apa pun yang pria kejam itu tinggalkan di tubuhmu, biar aku yang hilangkan. Ayo, kita bangkit bersama. Lawan rasa takutmu. Buang jauh-jauh pemikiranmu yang merendahkan dirimu sendiri. Kamu tetap berharga di mataku. Bahkan sekarang jauh lebih berharga dari apa pun yang aku miliki. Bee, trust me please. Tidak ada yang sanggup mengubah hubungan kita, kecuali perasaanmu sendiri."
Riena tidak tahan lagi menahan tangisnya. Dia meluapkan semua dalam isakan. Hanya air mata yang mewakili rasa yang berkecamuk. Merasa selama ini dia sudah berlaku tidak adil, Riena beranjak berdiri, duduk di pangkuan sang suami dan memeluknya tanpa ragu. Menanggalkan sejenak rmrasa trauma yang masih timbul tenggelam dirasakan.
"Maafkan aku, Bee. Atas luka yang kamu tanggung sendirian. Hukum aku saja, jangan hukum dirimu. Kembalilah menjadi Riena yang aku kenal dulu." Raditya bertubi-tubi mengecup pucuk rambut istrinya.
Riena menggelengkan kepalanya begitu lemah sembari merenggangkan pelukan mereka. "Aku minta maaf, Ay. Aku yang salah, Aku---,"
__ADS_1
Kata-kata disertai isak tangis tersebut terputus manakala, Raditya membungkam bibir Riena dengan bibirnya. Entah dorongan dari mana, dia merasa tidak perlu mendengar kata apa pun dari sang istri. Sungguh Raditya tidak ingin, luka yang belum pulih benar, malah terasa perih kembali akibat harus menceritakan ulang kejadian yang teramat biadap itu pada dirinya secara langsung.
Di luar dugaan, Riena membalas kecupan lembut bibir Raditya. Meski hanya sekilas, sanggup membuat hati suaminya sedikit lega. Ya, hanya sedikit. Masih ada tanya dan kecemasan yang menumpuk di dada Raditya. Terlebih lagi ketika mengetahui orang yang mengembalikan tas Riena adalah Reno.
"Boleh aku tanya, kan? Sekali lagi, kalau kamu nggak mau jawab, aku tidak akan marah. Aku tidak pernah bisa benar-benar marah sama kamu, Bee. Kadang pengen sih marah kalau kamu ngeselin begini. Tapi kamu selalu mempunyai cara untuk meredam kemarahanku." Raditya memencet hidung Riena yang sudah memerah karena tangis dengan gemas. Sengaja menghangatkan suasana yang terkesan penuh kesedihan.
"Aku sudah lama tidak melakukan apa-apa untukmu, Ay. Dalam pernikahan kita, sepertinya aku lebih banyak menerima daripada memberi," lirih Riena sembari menatap sendu sang suami.
"Perjalanan pernikahan kita masih panjang. Masih banyak waktu yang akan kita lalui bersama. Jika sekarang yang banyak memberi adalah aku, mungkin nanti akan ada saatnya kamu yang demikian, Bee. Jangan bicara seolah hari kita berhenti di sini. Aku masih sabar menunggu pemberianmu di lain waktu. Aku yakin kamu orang yang pandai mengendalikan dan menempatkan diri. Kamu hanya perlu memaksa dirimu sedikit agar bisa keluar dari situasi ini. Kamu tidak perlu menanggung sendiri. Ada aku yang selalu bisa kamu andalkan." Raditya membalas tatapan Riena dengan penuh cinta.
Riena kembali memeluk Raditya. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. "Ay, tolong sentuh aku seperti biasa."
Kali ini, Raditya yang perlahan melepaskan pelukan mereka. "Tidak perlu dipaksakan, Bee. Aku paham itu bukan hal yang mudah. Kita akan lakukan setahap demi setahap. Tata hatimu lebih dulu. Aku masih bisa kendalikan, kok."
Riena tersenyum miris. Dalam kondisi normal, paling tidak mereka melakukan sekali dalam satu hari. Lebih sering dua atau tiga kali jika memang waktu sedang sangat longgar. Riena tidak pernah keberatan atau merasa kewalahan. Baginya, hal itu sangat wajar dan juga menyenangkan.
"Bee, siapa yang mengantar tasmu tadi? Dia datang kemari, bukan? Apa yang dia katakan? Apa sebelumnya kamu mengenal dia?" Raditya mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih serius agar dirinya dan juga Riena tidak fokus pada hal yang bisa membuatnya tergoda untuk menerima tawaran sang istri.
__ADS_1