
Ratih tidak langsung menjawab pertanyaan dari suaminya. Dia malah memberikan tatapan heran pada pria yang dikenalnya sangat penyayang itu. Selama berpacaran dan menikah, rasanya baru kali ini suaminya itu bertanya tentang kliennya. Sebelumnya, Reno hanya peduli kapan jadwalnya praktik dan juga pulang untuk memastikan dia sendiri yang menjemput jika memang sedang tidak ada kesibukan. Reno kerap kali ke luar negeri atau luar kota untuk melebarkan bisnisnya.
"Tih, aku sedang bertanya padamu, loh." Reno mengingatkan dengan suara yang begitu mesra. Malah terkesan seperti sedang merajuk.
Ratih sampai ingin tertawa mendengar dan juga melihat ekspresi Reno saat mengatakannya. "Mas tumben, sih, tanya sampai ke kondisi klien? Kan, mas tau aku juga tidak mungkin menjawab pertanyaan itu."
"Karena kamu sampai bermalam di sana. Siapa tau kliennya cowok tampan, bisa main gitar, suaranya merdu dan juga romantis. Terus kamu terpesona sama dia. Makanya kamu bela-belain sampai tidak pulang." Reno menjawab dengan cukup pintar. Dia paham betul siapa istrinya.
"Andai ada yang begitu. Dsayangnya, klienku perempuan. Tentang bagaimana kondisinya, tetap aku nggak mau jawab, mas. Ada sumpah profesi yang mengharuskan aku menjaga itu. Meskipun mas suamiku, membicarakan tentang klien bukan dengan yang bersangkutan, bukan hal yang dibenarkan. Yang penting sekarang aku sudah di sini. Kalau memang kangen ...." Ratih tidak meneruskan kata-katanya. Dia menghampiri Reno dan duduk di pangkuan pria tersebut. Tangannya bergerak naik turun mengusap dada suaminya itu.
"Jangan sekarang, Tih. Aku masih ada janji dengan klien ku pagi ini. Aku tidak enak kalau terlambat. Nanti, ya." Reno menurunkan tangan Ratih dari dadanya. Sebagai gantinya, pria tersebut mengecup bibir istrinya itu dengan lembut.
Sementara itu, Raditya yang mendengar keinginan Riena untuk menceritakan sesuatu kepadanya, seketika merasa lumpuh. Tulang-tulang penyangga tubuhnya seakan luruh---hanyut dalam kekhawatiran. Rasanya dia tidak sanggup jika harus melihat Riena sendiri yang bercerita. Sakit, trauma dan luka itu masih menganga. Apa yang akan dilakukan istrinya ini, jelas malah akan memperdalam luka itu sendiri. Raditya yakin, Riena belum sepenuhnya siap.
__ADS_1
"Ay, duduklah di sampingku," pinta Reina.
Tanpa kata Raditya menuruti permintaan Riena. Sejenak dia tidak berani menatap wajah istrinya itu. Raditya tidak setegar itu. Mendengar penjelasan dokter saja dia harus menahan amarah, kecewa dan sedih yang datang bersamaan dengan susah patah. Apalagi jika harus Riena langsung yang menyampaikan.
"Ay, malam disaat aku menghadiri pernikahan Restu, a--ak---," Riena tidak melanjutkan kalimatnya. Suaranya bergetar diujung kalimat karena menahan tangis. Belum apa-apa, bibirnya sudah begitu berat untuk berucap.
"Bee, please jangan paksakan diri. Aku hargai keinginanmu untuk menceritakan apa pun itu yang ingin kamu ceritakan. Aku tidak lagi bertanya. Aku juga tidak menuntutmu untuk menjelaskan apa pun. Bukannya aku menutup mata dengan hal bodoh yang kamu lakukan kemarin. Aku hanya tidak ingin kita membahasnya. Apa yang membuat kamu melakukannya? Kenapa kamu sampai berpikir sejauh itu? Bagiku itu sudah tidak penting lagi." Raditya meraih tangan kiri Riena. Dibalasnya tatapan sendu istrinya itu dengan tatapan penuh cinta dan kehangatan.
"Yang terpenting sekarang hanya bagaimana aku bisa menjagamu, membuatmu nyaman dan kembali menjalani kehidupan kita yang luar biasa ini bersama-sama. Sedihmu adalah sedihku, Bee. Lukamu, pastilah juga menjadi lukaku. Dalam perjalanan hidup, tentu segala rasa akan kita alami. Dari awal kita menikah, aku sudah mengatakan, aku tidak berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Karena memang aku tidak sanggup, Bee. Aku tau suatu saat pasti ada tangisan dalam perjalanan kita. Tapi kamu ingat apa janjiku, kan?" Tatapan Raditya semakin dalam bertambah kesenduan.
"Aku minta maaf, Ay. Ternyata aku belum siap untuk jujur. Aku tidak memintamu mengerti sesuatu yang belum kamu ketahui. Satu hal yang pasti, aku sedang tidak baik-baik saja, Ay." Pertahanan Riena pun kembali runtuh. Tangisnya lagi-lagi sudah tidak bisa ditahan.
Raditya merengkuh pundak istrinya, membuat Riena reflek menyandarkan kepalanya di bahu Raditya. Tidak ada lagi kata-kata yang sanggup dia lontarkan. Hanya tangisan pilu yang mengungkapkan betapa dirinya masih begitu rapuh.
__ADS_1
"Aku pastikan aku tidak mengharapkan penjelasan apa pun darimu, Bee. Tentang apa yang membuatmu tidak baik-baik saja, aku sangat peduli hal itu. Tapi kita masih punya waktu seumur hidup untuk saling berbagi dan bercerita. Tidak perlu terburu-buru."
Isak tangis Riena semakin terdengar pilu. Dalam benaknya terlintas tanya, "Akankah sikap Raditya akan sama jika mengetahui masalah yang sebenarnya?" Riena memejamkan matanya, berusaha memfokuskan pikiran pada seluruh kebaikan yang diterimanya dari sang suami. Merangkai beberapa kejadian yang menunjukkan dan membuktikan betapa pria pilihannya itu memang sosok sandaran yang sempurna baginya.
Raditya mengusap pipi Riena yang basah dengan jemarinya. Dari jarak sedekat ini, dia baru melihat jelas bekas merah di sana. Hatinya kembali geram. Selama ini, dia selalu memperlakukan istrinya dengan lembut. Meski gemas sekali pun, dia tidak pernah mencubit bagian tubuh Riena mana pun. Dia tahu betul betapa sensitif kulit istrinya tersebut. Hanya tersenyum saja, pipi Riena sudah langsung bersemu merah.
"Ay, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Riena masih di tengah isak tangisnya yang mulai mereda. Kepalanya masih bersandar nyaman pada bahu sang suami.
"Tentu saja boleh." Raditya menjawab sembari mengusap rambut Riena.
"Sebelum kita pulang, entah nanti ke rumah mama atau kembali ke Jakarta. Aku kepengen ketemu sama Ratih dulu. Aku lupa belum meminta nomor teleponnya tadi. Aku rasa, aku butuh seorang psikolog, Ay. Bukan aku tidak percaya kamu. Aku ha---,"
"Aku tau, Bee. Aku paham. Meski aku sanggup menjadi siapa saja untukmu. Dan sekali pun aku juga sanggup melakukan segalanya untukmu, tentu saja kamu masih membutuhkan orang lain. Aku tidak keberatan sama sekali. Lakukan apa pun yang bisa membuatmu tidak baik-baik saja menjadi kembali luar biasa. Satu hal yang aku minta, libatkan Allah di dalamnya," pesan Raditya sembari sedikit memajukan badannya untuk mengecup kening Riena. Namun, niat tersebut urung manakala pintu ruangan terbuka secara perlahan diikuti langkah seorang perawat masuk ke sana.
__ADS_1
Sementara itu, Reno yang baru selesai bersiap untuk berangkat ke suatu tempat, tampak sedang menyemprotkan minyak wangi ke bagian lehernya.
"Mas, Rino sudah datang. Itu nunggu di luar. Kok tumben dijemput Rino?" Ratih memberikan informasi sekaligus bertanya pada suaminya sesaat setelah masuk ke kamar.