Penjara Luka

Penjara Luka
Part twenty eight


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Reno mencari sosial media seseorang yang dicurigainya sebagai pelaku pemerkosaan terhadap Riena melalui telepon genggamannya. Setelah menemukan profil orang yang dimaksud, dia pun bertanya pada saudara kembarnya. "Apa pria ini yang melakukan?"


Tanpa berpikir panjang atau mengingat-ingat terlebih dahulu, Rino langsung menggelengkan kepalanya sembari berkata, "bukan."


Reno tampak berpikir keras. Lalu sesaat dari itu dia kembali meminta Rino untuk melihat dan mengingat lagi potret Seorang pria yang dia tunjukkan tadi. Lagi-lagi Reno menggeleng. Pria tersebut ingat betul dengan wajah orang yang memotong jalannya untuk melakukan kejahatan seksuaal pada Riena.


"Dia bukan orang bodoh. Sepertinya dia tidak ingin mengotori tangannya sendiri. Bisa jadi dia menyuruh orang lain. Cari tau tentang kegiatan dia selama ini. Awasi gerak geriknya. Aku akan mengirimkan informasi awal yang aku tahu sebagai petunjuk. Selebihnya, carilah sendiri," ucap Reno sembari berjalan mendekati pintu untuk keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Rino sendirian dengan segala tanya yang belum tuntas terjawab.


Di lain tempat, tepatnya di sebuah ruang tunggu tidak jauh dari salah satu ruang pemeriksaan UGD di mana Riena berada, Raditya dan Retno masih setia menunggu kabar tentang kondisi perempuan tersebut. Duduk gelisah dengan kedua tangan saling menggenggam---sama-sama memberikan kekuatan. Tiba-tiba telepon genggam yang ada di kantong celana Raditya mengeluarkan nada dering panjang pertanda ada panggilan masuk di sana.


Meski awalnya ingin mengabaikan panggilan tersebut, tetapi pada akhirnya Raditya segera menerimanya setelah melihat nama si penelepon yang tertera di layar ponsel. Pria tersebut menjauh beberapa langkah dari sang mama. Beberapa menit terlibat dalam pembicaraan serius entah dengan siapa, pria tersebut terlihat menarik napas berat begitu usai melakukan pembicaraan secara daring itu.


"Ada apa, Dit? Kalau kamu ada masalah kerjaan, pergi saja dulu. Nanti kalau ada kabar dari Riena, mama hubungi kamu secepatnya." Retno menghampiri Raditya yang berdiri bergeming seperti sedang malas untuk melangkah.


"Tidak, ma. Bukan masalah pekerjaan."

__ADS_1


"Lalu apa? Siapa yang menghubungi kamu?"


Raditya tidak menjawab. Dia memilih menggandeng pergelangan tangan Retno untuk kembali duduk di tempat sebelumnya.


"Dit, bagi beban pikiranmu sama mama. Dalam situasi sekarang, kita butuh saling menguatkan. Benar kata mamanya Riena tadi. Sudahi menyalahkan diri sendiri. Sekarang waktunya kamu bergerak dan menangguhkan diri agar Riena pun bisa cepat terbangun dari mimpi buruk ini." Retno mengusap punggung Raditya naik turun.


"Ma, mama ingat Reno, Rino dan Rena, tidak?"


Retno mengernyitkan keningnya dengan sempurna begitu mendengar pertanyaan Raditya barusan. Tentu dia tidak akan pernah melupakan orang-orang yang pernah membuat keluarganya kalang kabut luar biasa karena tuduhan berat yang ditujukan untuk Raditya.


"Ada apa lagi dengan mereka? Bukankah Rena sudah meninggal?" tanya Retno. Kali ini dengan suara dan tatapan sinis yang tidak biasa. Bagaimanapun, Retno tidak akan pernah lupa dengan dosa dan kebodohan masa lalu Raditya yang menyeret dirinya dan sang suami harus melakukan berbagai cara untuk membebaskan anaknya itu dari segala tuduhan. Membungkam semua orang yang terlibat langsung atau tidak langsung, serta memastikan kekacauan yang dibuat Raditya saat itu tidak sampai ke telinga Riena dan keluarganya.


"Papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pengecut, Dit. Kalau sudah begini, kamu harus bertanggung jawab," tegas Rama dikala itu. Di tengah kemarahan dan kekecewaan yang tentu saja masih tertahan karena di sana masih ada saudara kembar Rena---Reno dan Rino yang saat itu datang berdua saja untuk mewakili keluarga mereka.


"Apa yang harus Radit pertanggungjawabkan, Pa? Kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan dan tidak ada komitmen yang mengikat kami."

__ADS_1


"Enak saja. Setelah kamu puas meniduri Rena, kamu buang dia begitu saja. Ingat, Dit, kami bisa menyebar luaskan video kalian ke media sosial," ancam Reno yang dari awal memang terlihat lebih mendominasi ketimbang Rino.


"Lakukan saja. Siapa yang rugi di sini? Bukannya ingin merendahkan Rena. Apa tanggapan publik ketika melihat video itu? Kita hidup di negara yang mudah menerima dan memaklumi kenakalan lelaki. Harta, tahta dan wanita, bahkan sudah menjadi simbol kesuksesan pria. Coba pikirkan baik-baik, siapa yang dirugikan kalau video tersebut menyebar? Yang pasti bukan aku," jawab Radit dengan entengnya. Sedikit pun dia tidak ada rasa takut atau merasa bersalah.


Mendengar ucapan Raditya yang terkesan sangat merendahkan kaum perempuan. Retno langsung menyeret tangan putra tunggalnya itu untuk menjauhi yang lain. Dengan tatapan tajam yang tidak main-main, perempuan itu berkata, "Mama kecewa sama kamu, Dit. Terlepas kalian melakukan hanya untuk bersenang-senang atau apa pun, tidakkah kamu menyadari itu dosa besar? Dan bagaimana kalau Riena tau? Lebih baik kita batalkan saja rencana pertunangan kalian, kamu tidak pantas sama sekali mendampingi Riena."


"Tidak bisa begitu, Ma. Sudah Radit katakan. Kalau Radit sudah memutuskan untuk berubah setelah pertunangan ini. Kalau Radit masih mau senang-senang, jelas Radit tidak akan mengajak Riena bertunangan. Ma, tolonglah dukung Radit untuk berubah. Radit sungguh ingin benar-benar berubah. Radit benar-benar jatuh hati sama Riena. Ayolah, Ma. Kalau Radit main-main, bisa saja Radit sudah meniduri Riena dari dulu."


"Kamu bukannya tidak ingin main-main, Dit. Ngaku saja kalau Riena tidak mudah tergoda. Dia perempuan baik-baik punya iman. Tidak seperti kamu. Rasanya sia-sia mama mengajarkan nilai-nilai agama sama kamu. Nyatanya, napsumu membuat semua hal yang seharusnya tidak dilakukan malah kamu jadikan kebiasaan." Retno kembali menemui Reno dan Rino yang masih menunggu bentuk pertanggungjawaban Raditya.


Rena yang awalnya hanya ingin bersenang-senang dengan Raditya, pada akhirnya malah menaruh hati pada pria tersebut. Satu minggu sebelum bertunangan, Raditya mengatakan cukup sudah bersenang-senang nya. Tidak hanya Rena yang diputuskan, tetapi juga Raflesia dan juga Regina. Tentu saja ketiganya adalah perempuan-perempuan yang dikencaninya hanya sekadar untuk menyalurkan napsu birahinya yang luar biasa. Padahal, saat itu dia juga sudah menjalin hubungan dengan Riena. Hanya saja selama menjalin hubungan sebagai kekasih, Riena dan Raditya menjalin hubungan jarak jauh alias LDR antara Jakarta-Malang.


"Ma ...." Panggilan dan kibasan tangan Raditya tepat di depan wajah Retno, menyadarkan perempuan tersebut dari lamunan sang putra.


"Mereka menggunakan Riena untuk menuntut balas pada Raditya. Mereka masih menyimpan dendam. Kematian Rena, dianggap tanggung jawab Raditya. Dari informasi intelejen swasta yang Raditya sewa, mereka---,"

__ADS_1


"Jadi mereka yang membuat Riena mengalami peristiwa ini, Dit?" Retno langsung memotong ucapan Raditya.


"Bukan, ma. Bukan mereka pelakunya. Tetapi kondisi ini sedang mereka manfaatkan untuk memisahkan Riena dan Radit. Pelakunya adalah---," Raditya kembali tidak bisa meneruskan kata-katanya begitu dia melihat sekelebat bayangan sosok yang ingin disebut namanya berjalan ke arah ruangan di samping Riena berada.


__ADS_2