Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty two


__ADS_3

Riena perlahan memejamkan matanya. Sekilas melihat dan menyadari kegamangan Ratih untuk menjawab pertanyaannya. Begitu pun dengan sang mama. Aborsi memang bukanlah perkara kecil. Selain dosa besar, resiko pertaruhan nyawa pun patut dipertimbangkan.


"Tidurlah, Rie. Istirahatkan ragamu. Sejenak bebaskan dirimu dari luka. Mama yakin, Rien pasti sanggup menjalani semua ini. Bawa dalam doa. Minta kekuatan pada Sang Maha Pemberi." Rosyani mengusap kening Riena penuh kasih sayang.


Ratih tersenyum getir. Tidak ada korban pemerkosaan yang bisa dikatakan beruntung. Sebaik-baiknya kondisi mereka, itu sangatlah bergantung pada bagaimana lingkungan sekitar menanggapi kejadian buruk yang menimpa mereka. Bagi Ratih, Riena mungkin memang sedikit beruntung karena memiliki orang terdekat yang tidak hanya bisa menerima keadaannya dengan sangat baik, melainkan turut membesarkan hati Riena bahwa apa yang sudah menimpanya bukanlah aib yang harus diratapi berkepanjangan.


"Bu Ros, bisa kita bicara sebentar?" tanya Ratih dengan suara berbisik.


Rosyani pun mengangguk. Mengira Riena sudah benar-benar tertidur pulas, perempuan tersebut mengajak Ratih untuk bicara di luar. Tepatnya di ruang keluarga lantai dua yang berada tidak jauh dari kamar utama yang ditempati Riena dan Raditya.


Masih diwaktu dan atap yang sama tetapi di ruangan berbeda, Retno dan Raditya juga sedang melakukan pembicaraan yang cukup serius di ruang kerja Raditya di lantai satu.


"Jadi ada masalah apa kamu sama Reyhan? Apa lagi ulahmu yang membuat dia tega melakukan semua ini pada Riena? Apa jadinya kalau mereka tau apa yang terjadi semua karena kamu, Dit? Dan Reno, pikirkan juga kemunculannya saat ini." Retno mengatakannya dengan suara bernada khawatir,kesal dan sedih yang beraduk.


Raditya menarik napas begitu berat mendapatkan cecaran pertanyaan dari sang mama. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh Raditya merasa saat inilah titik terendah dalam hidupnya. Belum juga dia berhasil membawa Riena keluar dari keterpurukan, bisa jadi kenyataan akan dirinya ini, malah akan membenamkan perempuan yang sangat dicintainya tersebut tenggelam dalam keterpurukan semakin jauh.


"Jawab mama, Dit? Sekarang Riena mungkin tidak terpikirkan siapa Reyhan atau siapa Reno sebenarnya. Tapi dia tidak tuli untuk mendengar setiap ucapan Reyhan tadi. Dalam keadaan normal, tentu Riena pun akan menanyakan hal yang sama seperti yang mama tanyakan tadi," desak Retno semakin tidak sabar.


"Ma, dulu Raditya pernah meniduri tunangan Reyhan. Hanya kenikmatan satu malam yang sama-sama kita lakukan atas dasar kesenangan dan napsu semata. Radit tidak berniat sedikit pun merebut pacar Reyhan. Setelah malam itu, Radit juga tidak pernah menemui Ramona lagi. Meski dia terus berusaha menghubungi Radit, tapi tidak sekali pun Radit tanggapi. Karena saat itu, secara hati memang Radit juga sudah terikat dengan Riena."

__ADS_1


Retno mengelus dadanya sendiri sembari mengucap istighfar berkali-kali, mendengar penjelasan Raditya, seakan diingatkan kembali akan kegagalannya menanamkan nilai agama pada sang putra. Raditya pada masanya begitu liar dalam pergaulan.


"Reyhan sampai bertindak sejauh ini, Radit tidak memperkirakan sama sekali, Ma."


Retno menatap putra tunggalnya itu lekat-lekat. Ingin menyalahkan sepertinya sudah tidak ada guna. Bahkan dia sendiri sebenarnya juga sudah tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Yang ada dibayangannya saat ini hanyalah tentang penerimaan dan reaksi Riena dan keluarganya jika tahu kenyataan ini dengan gamblang.


"Radit akan membereskan semua, Ma. Radit akan membuat Reyhan membayar luka yang sudah diberikan pada Riena dengan sangat mahal."


"Sudah seharusnya, Dit. Lakukan secepatnya. Kalau bisa, jangan libatkan Riena. Kalau masalah ini dibawa ke jalur hukum, mama takut traumanya malah akan semakin mendalam. Dia tentu harus melakukan serangkaian pemeriksaan sebagai saksi sekaligus korban. Riena tidak salah, kamu yang seharusnya membayar mahal kebodohanmu sendiri. Mama sayang Riena. Tapi mama sama sekali tidak mau ikut campur kalau sampai Riena tidak bisa menerimamu setelah tau semua kebenaran." Retno menundukkan wajahnya menyembunyikan air mata yang terlanjur luruh.


"Tidak, Ma. Radit tidak akan membiarkan mama kehilangan Riena. Beri waktu Radit untuk menyelesaikan semuanya. Terimakasih mama mau memahami kondisi ini. Radit akan mencari tau dulu, alasan apa yang membuat Reyhan begitu membenci Radit dan tega melampiaskannya pada Riena. Tidak mungkin semua ini hanya karena kejadian semalam Radit bersama Ramona."


"Mama nggak bisa berpikir, Dit. Mama benar-benar lelah. Mama tidak sanggup kalau harus menceritakan semua di depan mama papa Riena. Lakukan saja yang terbaik menurut kamu." Sesaat setelah mengatakan hal itu, Retno meninggalkan Raditya di ruangan sendirian.


"Bu Ros, kita harus meyakinkan Riena untuk mau USG. Tidak sekarang, karena pertemuannya dengan pemerkosanya jelas membangkitkan ingatan buruknya kembali. Kita ciptakan dulu suasana yang nyaman," ucap Ratih.


"Iya,Tih. Ibu nggak sanggup kalau harus mengiyakan permintaan aborsi Riena. Sakit rasanya melihat kondisi Riena sekarang. Hancur hati ibu." Rosyani kembali menyeka air mata yang jatuh semakin deras.


"Kita harus kuat, Bu. Jangan sampai kita yang tidak mengalami, malah lebih lemah dari Riena. Ratih yakin Riena hanya butuh waktu lebih untuk kembali bisa menjalani hidupnya."

__ADS_1


"Terima kasih ya, Tih. Ibu mau ke bawah dulu, ibu harus bicara sama Radit." Rosyani beranjak berdiri.


"Ratih juga mau turun, Bu. Suami Ratih ada di bawah." Perempuan tersebut melakukan hal yang sama dengan Rosyani.


"Astagfirullah, Ibu sampai gak memperhatikan. Ya sudah kita turun bareng saja." Rosyani mengamit lengan Ratih. Keduanya melangkahkan kaki menuju lantai satu.


Setiba di ruang tamu di mana Reno berada, pria tersebut tampak duduk santai sambil menatap layar ponsel genggamnya. Hal yang sebenarnya agak aneh bagi Ratih karena di luar kebiasaan suaminya itu bisa sabar diabaikan seperti sekarang.


"Maaf, ya, mas, lama nunggunya. Kenalin ini Bu Rosyani, Mamanya Riena." Ratih menghampiri sang suami dan mengatakan hal tersebut dengan lembut.


Reno pun berdiri dengan sopan dan mengulurkan tangan pada Rosyani. "Reno," ucapnya.


Rosyani menyambut uluran tangan Reno sembari melemparkan senyuman hangat. Bersamaan dengan itu, Raditya kembali muncul. Suami dari Riena itu menunjukkan sikap yang sulit untuk ditebak.


"Pak Radit, kenalkan ini suami saya." Ratih yang juga tidak tahu menahu tentang masa lalu sang suami, mengatakan hal tersebut dengan santai sesaat setelah Rosyani melepas jabatan tangan Reno.


Reno mengulurkan tangan pada Raditya seakan memang baru bertemu dengan sosok di depannya itu. Di luar dugaan Reno, Raditya menepis tangannya dengan kasar.


"Tidak perlu berpura-pura, Ren. Kita tidak perlu pura-pura tidak saling mengenal, bukan?"

__ADS_1


Baru saja Reno ingin menjawab, perhatian Retno dan Ratih tiba-tiba teralihkan dengan suara koper yang diseret asal menuruni anak tangga oleh Riena.


"Bee, kamu mau kemana?" Raditya menghampiri Riena dengan langkah terburu-buru. Perasaannya yang sudah campur aduk tidak menentukan semakin tidak karuan.


__ADS_2