
Pernyataan Reyhan barusan sungguh membuat Raditya semakin harus berupaya keras menahan kekesalan. Jelas dia tidak ingin mengumbar emosi sebelum mendapatkan informasi yang diinginkan.
"Aku ingin bertemu anaknya Ramona," ucap Raditya langsung pada tujuan dia datang ke tempat tersebut.
"Buat apa kamu mencari Reva? Dia sudah aman bersamaku. Jangan berlagak sok mau bertanggungjawab. Sudah sangat terlambat," tekan Reyhan dengan volume suara tertahan karena tidak ingin di dengar oleh penghuni lain yang sedang beraktivitas di sekitaran lobby.
Raditya mengulas senyuman sinis. "Sampai kapan pun aku tidak akan bertanggungjawab untuk sesuatu yang memang tidak aku lakukan. Mari kita bersikap layaknya seorang ksatria. Aku ingin tes DNA anak itu. Jika dia memang anakku, aku akan membuat pengakuan dan permintaan maaf di depan publik melalui media. Dan kamu, berlakulah yang sama. Pertanggungjawabkan apa yang sudah kamu lakukan pada istriku. Setiap air mata kesedihan dan keterpurukan istriku harus kamu bayar mahal."
Reyhan pun menarik garis senyuman tidak kalah sinis saat mendengar ucapan Raditya barusan. Dengan enteng dia berkata, "Aku harus bertanggungjawab bagaimana? Apa Aku harus menikahi istrimu? Dengan senang hati aku akan melakukan."
Raditya mengepalkan tangannya dengan kuat. Menahan diri untuk tidak bertindak bodoh. Bagaimana pun dia harus menuntaskan misinya. Jangan sampai karena emosi yang tidak terkendali, masalah akan semakin bertambah seperti beberapa waktu yang lalu.
"Apa yang aku lakukan pada istrimu setimpal dengan yang kamu lakukan, Dit. Kamu meniduri tunanganku, dan aku meniduri istrimu. Bedanya, aku hanya melakukan sekali. Kamu sendiri malah melakukan berkali-kali sampai meninggalkan benih di rahim Ramona. Kamu lebih beruntung karena Ramona menyerahkan tubuhnya secara suka rela."
"Berkali-kali? Tunggu! Dari mana kamu bisa seyakin itu? Ramona yang mengatakan? Dan kamu percaya begitu saja sama perempuan yang sudah mengkhianatimu? Antara kamu bodoh atau memang nggak ada otak, sih."
__ADS_1
Reyhan tampak jelas tidak menyangka Raditya akan menjawab demikian. Rasa cintanya pada Ramona memang begitu besar dan buta. Sehingga rasa itu mengantarnya pada tindakan-tindakan di luar nalar. Menentang norma sosial pun dilakukan demi tuntasnya sebuah dendam yang diyakininya bisa memulihkan kondisi kejiwaan Ramona.
"Aku percaya Ramona sepenuhnya. Sudahlah buat apa kita memperdebatkan hal ini? Buang waktuku saja. Sampai ketemu di pengadilan saja." Reyhan hanya mengatakan hal tersebut demi menggertak Raditya. Tentu dalam hati dia berharap masalah ini tidak sampai ke jalur hukum. Dia berharap Riena tidak memiliki cukup keberanian untuk menjalani serangkaian proses pemeriksaan untuk menjebloskan dirinya ke dalam jeruji besi.
Raditya terdiam. Bukan menyerah atau mengakui kedatangannya sia-sia belaka. Tentu dia tidak sebodoh itu. Sepanjang dia berbicara dengan Reyhan, seseorang yang dibayarnya sudah mendapatkan sampel DNA dari Reva. Tidak hanya itu, berkat keprofesionalan intelejen swasta yang dia sewa itu, ponsel Reyhan juga sudah berhasil diretas. Selesai sudah tugasnya mengalihkan perhatian pria laknatt di depannya dari ponsel yang biasanya tidak pernah lepas dari genggaman.
Di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah yang tadi sempat disambangi oleh Raditya, seorang pria datang menemui Ramona. Dari intonasi suara yang terdengar, bisa ditarik kesimpulan bahwa pria tersebut sedang memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkan.
"Aku capek. Aku bisa benar-benar gila kalau seperti ini. Kenapa tidak disudahi saja semuanya. Biarkan Aku tenang, Aku juga ingin hidup normal. Aku mau hidup tenang bersama Reva. Aku mau fokus terapi untuk kesembuhanku," lirih Ramona dengan suara mengiba.
"Sakit!" Ramona memekik keras sembari menepis kasar tangan pria yang semakin mengeratkan cengkraman di pundaknya. Perempuan itu bergegas berdiri. Sedikit mendapatkan kesempatan, Ramona langsung berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Di dalam sana Ramona menumpahkan kekesalan dalam ketidakberdayaan dengan berteriak dan melempar semua benda yang tampak di depan matanya ke segala arah.
"Bagus! Hubungi Reyhan, katakan Ramona kambuh karena kedatangan Raditya," perintah pria tadi pada perempuan penjaga Ramona.
Di waktu yang sama, di dalam sebuah mobil yang masih berada di pelataran parkir apartemen Reyhan, Raditya bersama seorang anggota intelejen swasta sewaannya, serius mengamati layar laptop 14 inch yang diletakkan di atas dashboard. Laptop tersebut sudah terhubung dengan berbagai informasi dari dalam ponsel Reyhan yang sudah di copy.
__ADS_1
Mata dan pikiran Raditya difokuskan benar pada tampilan layar. Dia tidak ingin melewatkan sekecil apa pun data yang tersaji di sana. Berharap ada secercah petunjuk yang bisa mengurai benang kusut dari masalah pelik yang dihadapinya.
"Tunggu-tunggu, coba buka kembali tiga gambar sebelum ini," pinta Raditya sembari memajukan duduknya agar bisa melihat dengan jelas. "Coba perhatikan pria ini," tunjuknya pada sosok yang ada hampir di setiap slide dikala Reyhan sedang berfoto bersama Reva di salah satu pantai di Pulau Dewata. Tanggal foto itu di buat, sama persis dengan malam kejadian pemerkosaan Riena.
Benar saja sesosok pria bermasker dan mengenakan topi hitam, tertangkap kamera Reyhan secara tidak sengaja. Yang menjadi tanda tanya bagi Raditya adalah sosok tersebut seperti bukan pelancong biasa. Meski hanya sekedar bagian foto yang bisa saja diabaikan, tetapi bagi Raditya yang memang sangat detail, hal tersebut bukanlah hal yang biasa. Ditambah lagi, dari lima foto yang terdapat bagian sosok tersebut, pose dan ekspresi mata pria itu seperti sedang mengintai gerak gerik Reyhan.
"Bisa tidak kita mencari tau identitas orang ini?" tanya Raditya.
"Tentu saja bisa, Pak. Saya akan menghubungi teman Saya untuk membuka CCTV yang mungkin bisa menangkap pergerakan orang ini dari pintu masuk pantai." Anggota intelejen swasta tersebut langsung mengambil telepon genggamnya.
"Baik, kabari Saya secepat mungkin. Saya ke rumah sakit dulu untuk memberikan sampel DNA ini. Awasi Reyhan. Jangan sampai lengah." Raditya keluar dari mobil tersebut dan masuk ke mobilnya sendiri.
Sementara Raditya sibuk mengurusi berbagai urusan, Riena masih bertahan berdiam diri di dalam kamar bersama Rosyani. Antara trauma dan luka masa lalu karena merasa dikhianati oleh Raditya kini bercampur jadi satu. Bahkan untuk saat ini, kebencian Riena pada pria yang memperkosanya dan juga Radit bisa dikatakan setara.
"Ma, bisa tidak Rien minta nomor telepon Om Rado?" tanya Riena memecah keheningan di sana.
__ADS_1
"Buat apa, Rien?" Rosyani balik bertanya mengingat nama yang disebut Riena adalah adik kandung dari Rinto yang berprofesi sebagai pengacara.