Penjara Luka

Penjara Luka
Part seventeen


__ADS_3

Mengetahui Raditya dan Riena berjalan ke arah lobby, Reno segera berbalik badan agar posisinya tidak terlihat oleh pasangan suami istri tersebut. Dia menunggu bukan untuk bertemu keduanya saat itu juga. Reno hanya ingin sejenak menikmati wajah sendu Riena. Entah mengapa, kesenduan perempuan berparas ayu itu sangat membuatnya bersemangat.


"Kamu memang beruntung, Dit. Sayang, sebentar lagi keberuntunganmu itu akan berakhir. Kini aku berharap, bukan Riena yang gila, tapi kamu." Lagi-lagi Reno bergumam sinis. Tatapannya begitu lekat pada lekuk pinggul Riena yang tampak lenggak lenggok saat berjalan cepat mendekati mobil yang sudah menunggu di pelataran lobby.


"Malam itu, memang bukan aku yang berhasil menidurimu, Rie. Tapi suatu saat nanti, aku akan buat kamu dengan suka rela menyerahkan tubuhmu untukku. Aku yakin, kamu pasti sanggup melakukan apa saja demi menjaga nama baik keluarga dan suamimu." Reno berseringai licik. Lalu dia bergegas berdiri begitu melihat mobil yang ditumpangi Raditya dan Riena bergerak menjauh meninggalkan area hotel.


Setelah perjalanan kurang lebih selama 30 menit, sampailah Raditya dan Riena di bandara. Mereka tiba di sana tepat sepuluh menit sebelum pesawat yang mereka tumpangi lepas landas. Hal itu tidak menjadi masalah dikarenakan mereka adalah penumpang Elite plus yang tentunya mendapatkan layanan prioritas dari maskapai penerbangan.


Ada kesedihan, kelegaan dan kecewa yang berkecamuk di dada Riena begitu pilot menginformasikan pesawat akan segera take off. Perlahan Riena memejamkan matanya. Dalam hati dia bersumpah tidak akan pernah datang ke pulau itu lagi.


Raditya menoleh ke arah istrinya. Seakan paham apa yang ada sedang bergejolak di pikiran Riena, Raditya berinisiatif menggenggam tangan sang istri. "Aku akan menjagamu lebih baik lagi, Bee. Maafkan aku sudah memberikan kado sepahit ini untuk anniversary pernikahan kita," janji Raditya dalam hati.


***


Dua jam kurang sepuluh menit melakukan perjalanan udara, ditambah empat puluh menit perjalanan darat, akhirnya Riena dan Raditya sampai juga di rumah mereka. Rukmi---asisten rumah tangga senior di sana, langsung menyambut ramah kedua majikannya itu. Namun, Riena terus berjalan tanpa memedulikan sapaan Rukmi. Hanya Raditya yang menghentikan langkahnya sejenak.

__ADS_1


"Ibu sedang tidak enak badan, Bi. Tolong masakkan sup, bubur, atau apapun masakan yang hangat untuk Ibu, ya. Sementara, kalau ada apa-apa, Bibi langsung sampaikan ke saya saja. Tolong bilang ke yang lain juga. Kalau Ibu tidak minta, jangan ada yang masuk ke kamar kami. Terimakasih sebelumnya, Bi," pesan Raditya dengan jelas dan sopan pada perempuan paruh baya di depannya.


"Baik, Pak. Semoga Ibu lekas sembuh," harap Rukmi. Dalam hati perempuan tersebut menaruh rasa curiga. Sudah hampir lima tahun bekerja bersama pasangan Raditya dan Riena, baru kali ini dia mendapati majikan perempuannya itu bersikap acuh.


Raditya melanjutkan langkah kakinya. Dia bergegas menyusul Riena yang sudah lebih dulu sampai di kamar mereka. Sejak hari itu, suasana rumah mereka pun tidak lagi sama. Riena bisa dikatakan 95 persen lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Perempuan itu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya hanya melalui pesan elektronik yang dikirmkannya pada pemilik perusahaan sekaligus CEO tempatnya bekerja. Sementara Raditya sendiri pada akhirnya memilih menyelesaikan pekerjaannya dari rumah. Untuk dokumen penting yang harus ditandatangani, dia mempercayakan driver pribadinya untuk mengambil dan mengantar dokumen-dokumen tersebut. Hanya sesekali dia datang ke kantor secara langsung. Itu pun tidak ber lama-lama. Sebelum makan siang, pasti Raditya sudah ada di rumah kembali.


Hampir satu bulan kondisi itu bertahan, meski konsultasi virtual antara Riena dan Ratih terus berjalan, tidak banyak perubahan berarti yang terjadi. Hanya saja, sekarang Riena sudah mulai kembali bisa berinteraksi dengan orang lain di rumahnya. Untuk sikap pada Raditya, perempuan tersebut masih saja sulit mengendalikan rasa takutannya. Sampai sejauh ini, pelukan adalah sentuhan fisik maksimal yang bisa dilakukan.


"Ay, Ratih mau mengajukan pindah dinas ke sini. Dia mau ikut suaminya yang baru saja membuka kantor di Jakarta." Riena menarik kursi putar di depan meja kerja Raditya. Ia sengaja menghampiri suaminya itu di ruang kerja.


Riena hanya tersenyum mendengar jawaban Raditya. Lalu dia menjatuhkan pandangannya pada tumpukan berkas yang ada di atas meja kerja suaminya.


"Ay, kenapa kamu tidak bekerja di kantor seperti biasa? Kalau kerja di rumah begini, kamu pasti kerepotan karena tidak ada asisten atau sekretaris yang membantu secara langsung."


"Kalau tau aku kerepotan, kenapa kamu tidak menawarkan diri sebagai asisten ku, Bee?" goda Raditya.

__ADS_1


"Berapa kamu akan membayarku? Tapi enggak, ah... Takut malah gak profesional. Nanti pekerjaan kebawa sampai di atas ranjang malah bahaya," timpal Riena, diikuti tawa renyah yang rasanya sudah lama sekali tidak terdengar di telinga Raditya.


"Berapa pun yang kamu minta, aku pasti tidak akan menawarnya lagi. Sampai di atas ranjang pun aku tidak keberatan." Raditya menaik turunkan alisnya. Tatapannya begitu nakal sampai membuat Riena tersipu malu sekaligus deg-deg'an. Kalau sudah begini, dia tahu pasti Raditya sudah berharap lebih.


"Aku hanya becanda, Bee. Setelah ini aku tinggal sebentar, ya? Aku ada meeting sama klien di hotel Windham. Semoga tidak sampai sore. Kamu hati-hati di rumah. Kalau memang mau keluar, kabari Resti." Raditya menyebut nama perempuan yang sengaja disewanya untuk menjadi bodyguard Riena. Penampilan Resti yang feminim tetapi jago bela diri, membuat Raditya sedikit tenang ketika meninggalkan Riena.


"Aku masih tidak ingin ke mana-mana, Ay," lirih Riena saat menanggapi pernyataan suaminya.


Raditya tersenyum begitu lembut. Sedikit kemajuan seperti ini saja, sudah membuat hatinya lega. Mungkin memang masih butuh waktu yang panjang untuk membuat Riena pulih seutuhnya. Raditya yakin kesabarannya tidak terbatas. Demi Riena, beberapa project pekerjaan bahkan sudah dia lepas karena tidak ingin meninggalkan istrinya itu jauh-jauh.


Selepas mengantar Raditya sampai masuk ke dalam mobil. Riena kembali memasuki rumahnya. Beberapa saat ikut berkutat di dapur bersama Ratmi, satpam penjaga rumah menghubungi Riena melalui sambungan telepon internal mengatakan ada tamu pria mencari dirinya. Tentu saja perempuan tersebut langsung menolak. Tetapi, satpam menyatakan bahwa pria tersebut memaksa ingin menemuinya karena ingin mengembalikan sesuatu.


"Ya sudah, suruh masuk saja. Suruh Resti masuk sekalian untuk menemani saya," pinta Riena pada satpam shift siang bernama Ribut itu.


Belum apa-apa, tangan Riena sudah berkeringat. Jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Menerka-nerka siapa yang datang, membuatnya dilanda kecemasan. Selain dengan Raditya, berinteraksi dengan lawan jenis secara langsung sungguh masih terasa berat baginya.

__ADS_1


"Anda? Sepertinya kita pernah bertemu? Bagaimana bisa Anda tau alamat rumah saya?" Riena tampak sangat terkejut begitu melihat siapa sosok pria yang muncul bersamaan dengan Resti. Meski samar-samar dia mengingat, yang pasti Riena yakin pernah bertemu dengan sosok tersebut.


__ADS_2