Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty three


__ADS_3

Raditya menatap tajam pencari berita yang berani melemparkan pertanyaan padanya. Seorang perempuan yang masih sangat belia, mungkin masih fresh graduate. Raditya tidak menjawab. Namun, dari sorot matanya jelas sudah berhasil membuat perempuan tersebut harus menelan kecewa dan ketakutan disaat bersamaan.


Sejenak suasana lobby tempat press conference diadakan hening. Raditya sepertinya juga sedang mencoba berpikir. Mengingat kembali apa yang sudah disampaikannya sudah memenuhi rasa keingintahuan publik ataukah belum.


"Saya rasa cukup. Saya mengadakan press conference ini bukan untuk membuat kalian memihak pada saya. Untuk keseimbangan berita, silahkan kalian berburu informasi dari sumber lain. Namun, saya tekankan sekali lagi, pemerkosaan bukan aib bagi perempuan yang menjadi korbannya. Kita tidak berhak menghakimi dan memandang rendah mereka layaknya perempuan penjaja sek. Dukungan kita sangat berarti. Sudahi berita bunuh diri dan depresi yang menimpa korban pemerkosaan. Mereka butuh dukungan, bukan cacian apalagi hinaan."


Begitu tegas dan lugas apa yang dikatakan Raditya barusan. Sejak dia mengetahui sang istri menjadi korban pemerkosaan, yang terlintas dibenaknya hanyalah tanya. Tentang bagaimana korban pemerkosaan di luar sana berjuang hidup setelah kejadian. Sementara akses pendampingan dari psikolog atau psikiater, tidak bisa dengan mudah didapatkan oleh semua orang.


"Pak Raditya, bagaimana jika Bu Riena tau kalau foto-fotonya sudah tersebar di media? Bukankah hal itu akan membuat trauma korban semakin mendalam? Apa yang akan Pak Raditya lakukan?" Pertanyaan seorang wartawan menghentikan gerakan kaki Raditya yang sudah hendak beranjak meninggalkan tempat.


Di luar dugaan wartawan yang hadir di sana. Jika sebelumnya Raditya menampilkan ketegasan saat ada yang tiba-tiba bertanya, sekarang dia malah tersenyum begitu tenang. Lalu pria tersebut menjawab, "Saya akan selalu ada untuk istri saya. Kami akan melewati semua bersama. Dengan kerendahan hati, mohon sambung doa saya kiranya Allah melimpahkan kesabaran dan kekuatan iman kepada kami. Sejatinya kami bukan siapa-siapa. Kami hanya hamba yang sedang mendapatkan limpahan perhatian dari Sang Maha Penguasa Alam beserta isinya. Kami sedang dikuatkan dan diingatkan. Betapa dunia tidak selalu menyajikan keindahan."


Raditya benar-benar meninggalkan tempat sesaat setelah mengatakan sederetan kalimat yang meluncur begitu saja dari bibirnya. Di balik semua yang sudah dilakukan, siapa sangka hati kecil Raditya sedang meronta menahan jerit kekecewaan dan rasa bersalah yang begitu menyesaki dadanya.

__ADS_1


"Dasar manusia sok suci! Membawa nama Tuhan seakan dia tidak pernah melakukan dosa yang sama. Aku sudah terlanjur hancur, Dit. Dan aku tidak mau kehancuran ini sia-sia. Kamu dan terutama Rino, harus lebih hancur dari aku." Reyhan yang sedari tadi masih memantau press conference Raditya semakin geram mendengar pernyataan penutup dari Raditya. Sudah susah payah dia membalas dendamnya, bukannya kehancuran yang didapat Raditya, sekarang simpati masyarakat justru malah tertuju pada pria yang sangat dibencinya itu.


Sementara itu, beberapa saat setelah Rosyani mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidungnya, Riena perlahan membuka kedua bola matanya. Perempuan tersebut langsung menoleh ke layar televisi besar yang sudah menyajikan acara lain.


"Ma ...," panggil Riena dengan suara yang sangat lirih.


"Iya, Ndhuk. Mama di sini. Ada papa juga. Raditya sudah melakukan hal yang benar. Apa yang beredar di media, sudah diatasi suamimu dengan sangat baik. Jangan pikirkan pandangan orang lain terhadap dirimu. Kamu tetap akan baik di mata orang-orang yang memang menyayangi dan mengenalmu. Sebaliknya, kamu tetap akan terlihat jelek di mata pembencimu. Kamu bisa, Rien. Ayo bangkit kembali. Ini saat yang tepat untuk kamu menuntut keadilan," tutur Rosyani. Begitu lembut dan penuh kasih.


Reina menatap mama dan papanya secara bergantian sembari mengubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk. Tatapannya mendadak berubah kosong layaknya seseorang yang sedang melamun. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih belum menunjukkan perubahan nyata.


Riena bergeming. Menjadi kuat di posisi sekarang rasanya memang cukup sulit. Tetapi terus melemahkan diri juga bukanlah pilihan yang bijak. Entah bagaimana nantinya dia akan menatap dunia, setidaknya dia harus mencoba bergerak melakukan sesuatu. Riena sadar, kini semua bukan hanya tentang dirinya dan Raditya.


Di tempat yang berbeda, Reno dan Rino yang kini sudah saling berhadapan, saling beradu pandangan tajam. Terutama Reno yang sepertinya sudah siap untuk menerkam saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Kanapa kamu lakukan ini, No? Seharusnya cukup bukti itu kita berikan pada Riena. Biar dia gunakan untuk melaporkan Reyhan ke kepolisian," ucap Reno. Ada kekesalan dan amarah luar biasa yang ingin dia luapkan.


"Supaya memuluskan niatmu mendekati Riena? Apa lagi yang kamu cari, Ren? Kamu sudah memiliki istri sebaik Ratih, apa itu tidak cukup? Lagipula, masalah kita tidak ada hubungannya dengan Riena. Radityalah yang harusnya kita hancurkan. Bukan Riena!" timpal Rino.


"Riena satu-satunya cara kita membuat Raditya hancur, Rin. Seharusnya kamu paham itu. Kalau sudah begini, hancur kita semua!" Reno membalikkan badannya membelakangi posisi Rino.


"Cukup, Ren. Aku capek bertahun-tahun hidup dengan drama dan dendam. Bukan kepuasan atau kenikmatan yang Aku dapat, tapi hidup malah berantakan. Sudahi, Ren. Mumpung semua belum terlambat. Ratih perempuan baik-baik. Jalani saja rumah tanggamu dengan benar."


Mendengar ucapan Rino barusan, Reno hanya tersenyum sinis. "Aku bisa menceraikan Ratih. Setelah itu, kamu bebas mendekatinya. Bukankah kamu diam-diam menyukai Ratih? Aku tidak bodoh untuk cepat menyadarinya, No. Bagimu Riena mungkin terlalu sulit digapai, tapi tidak bagiku. Kita buat kesepakatan saja. Biarkan Aku dengan rencanaku, dan aku akan menceraikan Ratih untuk kamu."


Rino menggeleng-gelengkan kepalanya disertai senyuman sinis. Reno sungguh sudah terjebak dalam permainan dendamnya sendiri. Logikanya sudah dipenuhi dendam dan cinta buta yang tidak tepat.


"Cukup, Ren! Cukup! Bahagialah bersama Ratih. Sudah saatnya aku juga mempertanggungjawabkan semua yang sudah aku lakukan pada Ramona. Asal kamu tau, Ren, anak yang selama ini diakui Ramona sebagai anak Radit, sebenarnya adala--,"

__ADS_1


Rino tidak melanjutkan kalimatnya, karena tiba-tiba pintu ruangan kantornya terbuka dengan sangat kasar disertai kemunculan sesosok pria yang sama sekali tidak di duga Reno maupun Rino bisa datang ke kantor mereka.


__ADS_2