Penjara Luka

Penjara Luka
Part fivty six


__ADS_3

Raditya terkesiap. Dia baru menyadari tindakannya sangat ceroboh dan terlalu terburu-buru. Dia mengutuk tindakan bodohnya dalam hati. Selalu saja sulit menahan diri ketika dihadapkan pada kenikmatan duniawi. Meski sudah tidak sedasyat dulu, tetapi berhadapan dengan Riena dalam kondisi tertentu jelas memancing hasrat birahiinya yang sudah lama tidak tersalurkan dengan benar.


"Maafkan aku, Bee," pinta Raditya dengan penuh penyesalan.


"Tidak mengapa. Aku yang seharusnya minta maaf, Ay. Aku akan berusaha meredam traumaku. Tidak janji akan pulih secepatnya. Tapi aku pastikan akan berusaha lebih keras lagi." Riena menatap mata Raditya dengan tatapan yang begitu teduh.


"Jangan terlalu keras pada dirimu, Bee. Semua terjadi karena aku. Sudah seharusnya aku yang berusaha lebih keras memahami dan menerima semuanya. Abaikan keinginanku yang tidak tau diri ini. Maaf karena dulu aku sempat mengkhianatimu. Tapi ijinkan aku mencintaimu dengan caraku yang sedikit egois. Aku tau aku tidak sempurna. Aku tau masa laluku jauh dari kata baik. Tolong jangan tinggalkan aku karena itu."


Riena bergeming mendengar penuturan panjang lebar dari Raditya. Begitu Pun saat pria berusia tiga puluh dua tahunan itu menyatukan kedua tangan mereka dalam genggaman. Mereka saling melempar tatap begitu dalam. Menyiratkan cinta yang apa adanya.


"Aku ingat pesan mama sebelum kita menikah dulu. Mama selalu mengingatkanku berulang-ulang. Bahkan setiap kami ada kesempatan sedang santai berdua. Pernikahan itu tidak menjanjikan kebahagiaan, melainkan mendatangkan keberkahan. Pernikahan seharusnya mengantar suami istri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Setia bukan karena kepuasan, melainkan karena mengejar Ridho Allah."


Riena menarik napas dalam. Menjeda sejenak perkataannya yang sudah sangat panjang, sekedar memastikan Raditya memahami setiap kata yang diucapkan.


"Setelah menikah, orang yang paling mungkin menyakiti hati kita adalah pasangan kita sendiri. Karena seseorang yang mencintai kita dengan benar, sejatinya tidak melulu menjanjikan rasa nyaman. Ada kalanya dia menegur kesalahan kita dengan keras. Bukan karena marah, melainkan karena dia ingin bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam perjalanannya, tentu ada banyak perbedaan yang tidak mungkin dipaksa untuk disamakan. Ketika yang satu berusaha memahami, bisa jadi yang satu sudah tidak sabar dan terlanjur sakit hati. Yang satu menganggap caranya benar, belum tentu yang satunya lagi demikian."


"Yang dikatakan mama memang benar, Bee. Seperti Aku yang egois ingin mempertahankan pernikahan kita. Padahal aku yakin, luka yang aku torehkan begitu dalam. Tapi apa dayaku, aku memang egois. Aku menyadari itu dan aku memilih untuk tidak peduli. Aku akan menebus semua. Tidak penting berapa lama atau akan seberat apa. Ijinkan Aku tetap mendampingimu sebagai suamimu selamanya."


Riena kembali menempelkan kepalanya ke dada bidang milik Raditya. Tangannya memeluk erat pinggul suaminya tersebut. Tidak ada lagi yang sanggup diucapkan. Memilih berdamai dengan luka, nyatanya membuat jiwanya jauh lebih tenang. Kalau pun ada trauma yang tersisa, biarlah waktu yang mengaburkannya perlahan.

__ADS_1


"Jangan pernah menjauh lagi. Kalau mau marah, pukul dan caci aku langsung. Aku lebih suka melihat kemarahanmu ketimbang hanya membayangkannya. Kata maafku sudah cukup. Terlalu banyak aku ucapkan juga tidak ada gunanya. Biarlah sikapku saja yang membuktikan," bisik Raditya sembari mengecup kepala istrinya.


Riena semakin mengeratkan pelukannya. Kali ini, dia benar-benar merasakan sebuah kenyamanan yang tidak biasa. Begitu pun dengan Raditya. Rasa mual dan pusingnya benar-benar berkurang hampir 90 persen. Bahkan kini dia merasakan lapar. Beberapa makanan terlintas dipikiran dan ingin segera disantapnya.


"Bee, di sini ada yang jual gabus pucung tidak? Aku pengen banget makan sama itu. Tapi makan di tempatnya langsung. Nggak mau dibawa pulang." Raditya sampai menelan ludahnya sendiri.


Riena langsung mengurai pelukannya. Kening perempuan berparas ayu tersebut mengernyit sempurna karena merasa aneh dengan keinginan sang suami. Jangankan gabus pucung, rawon saja biasanya Radit tidak suka. Segala jenis makanan yang mengandung kluwek, jelas bukanlah menu yang familiar bagi pria di depannya itu. Raditya adalah penggemar makanan dengan bumbu minimalis. Bisa dibilang anti rempah-rempah.


"Mana ada di sini, Ay. Lagian mulai kapan kamu doyan gabus pucung? Makan yang ada aja kenapa, sih? Sup bikinan mama enak, loh. Biasanya kamu juga suka." Riena membalikkan badan sembari melangkah mendekati sofa untuk mendudukkan bokongnya di sana.


Raditya mendengus kesal. Seperti bocah kecil yang tidak dibelikan mainan, dia mulai menunjukkan gejala ingin merajuk. Raditya duduk di samping Riena dan menggoyang-goyang lengan istrinya sembari berkata, "Bee, ayo cari. Ini mumpung aku lagi laper dan pengen banget makan. Dari kemarin-kemarin aku nggak mau makan loh. Please."


"Maunya beli," rengek Raditya.


"Ay!"


Raditya seketika terdiam. Meski dalam hati masih tidak terima. Dia memilih pasrah ketika Riena meninggalkannya sendirian di kamar. Gambaran gabus pucung seakan semakin nyata menggoda di depan mata. Hingga membuatnya lagi-lagi harus menelan ludahnya sendiri.


Riena memperlambat langkah kakinya saat mendengar suara Retno dan Rosyani di ruang makan. Kedua perempuan cantik paruh baya tersebut tampaknya sedang menikmati sepiring rujak manis berdua. Hati yang gembira membuat mulut mereka enak mengunyah makanan apa pun.

__ADS_1


"Eh, Rien, mau rujak?" tanya Rosyani.


"Enggak, Ma. Masam pastinya." Riena menjawab sembari melongokkan kepala ke kiri dan kanan ruangan. Mencari sosok Rumini---asisten rumah tangga yang biasanya selalu berkutat di dapur.


"Cari siapa? Yu Rum lagi keluar ke Indomei. Kirim uang buat anaknya di kampung. Tadi mama bantu kirim nggak mau. Katanya sekalian beli sesuatu." Rosyani memberikan penjelasan sebelum Reina bertanya.


"Mas Radit pengen makan gabus pucung, Ma. Mau minta tolong Yu Rum buatkan."


"Hah? Gabus pucung? Mulai kapan Radit doyan gabus pucung?" Reaksi Retno pun tidak kalah herannya dengan Riena tadi.


"Bilang Radit, di sini gak ada gabus pucung. Gak ada yang bisa masak juga. Yang banyak spon gabus. Mau? Kalau Mau ini banyak buat sumpelan beha," sahut Rosyani dengan santai sembari sesekali mengunyah mangga muda di mulutnya.


"Mama!" kesal Riena sambil melangkahkan kaki ke arah pintu utama.


"Sepertinya ini permulaan yang bagus, mbak," bisik Retno.


"Semoga saja," harap Rosyani.


Sementara itu, di dalam kamar Riena, ternyata Raditya sudah tidak sendirian lagi. Rinto yang secara tidak sengaja melihat Riena menuruni anak tangga ketika dia membuka pintu kamarnya tadi, langsung berinisiatif mengajak Raditya membicarakan hal yang seharusnya sudah mereka bicarakan seusai makan pagi.

__ADS_1


"Dit, sebelumnya papa tidak 100 persen berharap kamu dan Riena kembali. Kalau pun akhirnya Riena memilih untuk menerima kamu apa adanya, papa tidak akan melepaskan Riena begitu saja. Kelalaian yang kamu buat sangat fatal akibatnya. Dan itu harus kamu bayar mahal."


__ADS_2