
Reno melirik ke arah Rino setelah mengatakan hal tersebut. Serangkaian peristiwa pahit yang menimpa mereka beberapa tahun yang lalu, masih menyisakan luka mendalam yang mengakibatkan dendam di hati keduanya tidak kunjung meredam.
Puas berbicara di depan pusara berbentuk salib yang sangat mewah itu, Reno dan Rino pun meninggalkan tempat tersebut tanpa kata. Sampai di tempat parkir, keduanya bahkan terpisah menaiki mobil yang berbeda. Saat berangkat tadi, tentu Rino hanya dijadikan alasan oleh Reno untuk memuluskan rencana selanjutnya.
Mobil yang ditumpangi Reno dan Rino melaju beriringan menyusuri jalanan aspal yang tidak terlalu ramai. Baru kemudian di pertigaan jalan menuju arah pusat kota, keduanya terpencar untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Mobil yang membawa Reno entah bergerak ke mana, yang pasti mobil yang ditumpangi Rinolah yang malah mengarah ke kediaman Ratih.
Sementara itu, Raditya dan Reina terlihat masih di dalam mobil yang bergerak perlahan memasuki sebuah perumahan mewah yang merupakan perumahan di mana rumah Ratih berada. Driver sewaan yang mengantar mereka tampak fokus memperhatikan deretan bangunan-bangunan megah berpagar tinggi di sisi kiri-kanan jalanan yang dilaluinya.
"Sepertinya yang di ujung itu, Pak." Raditya sedikit memajukan badannya menunjuk sebuah gerbang yang sudah terbuka dan dari kejauhan tampak seorang perempuan berdiri di sana---seperti sedang menunggu kedatangan tamu.
Riena hanya terdiam. Pandangannya pun hanya fokus pada satu titik. Yaitu pada pergelangan tangannya yang tertutupi perban. Beribu penyesalan menghinggapi dirinya. Kini, dua kali rasa malu dan berlipat rasa bersalah Riena pada Raditya. Lamunan itu sepertinya semakin dalam, hingga saat mobil berhenti dan pintu mobilnya sudah terbuka pun Riena masih bergeming pada posisinya.
"Akhirnya ... tidak susah, kan, mencari alamatku?" sambut Ratih dengan ramah. Bahkan sebelum Riena mau pun Raditya keluar dari mobil. "Eh, kalian jangan turun," cegah Ratih. Lalu perempuan itu meminta driver membawa saja mobilnya sampai masuk ke dalam. Dan dia sendiri menggunakan segway nineboot mengikuti mobil yang membawa tamunya itu. Hal ini dikarenakan jarak antara gerbang depan dengan pintu utama rumah Ratih, terhitung lumayan jauh.
__ADS_1
Begitu Riena dan Raditya memasuki ruang tamu bersama Ratih, suasana kontras dengan kemegahan yang tampak di luar begitu terasa. Dinding rumah itu terlalu polos untuk ukuran rumah bergaya minimalis modern. Tidak ada foto pemilik rumah yang terpajang di sana atau pun satu lukisan yang menghiasi dinding. Putih bersih tidak ada ornamen apa pun di sana. Sejauh mata memandang, hanya dua set sofa lengkap dengan mejanya yang tertata di sana.
"Silahkan duduk Pak Raditya ... Rie," ucap Ratih masih dengan keramahan yang tidak dibuat-buat. Dia melemparkan senyuman pada Raditya dan Riena secara bergantian.
"Terimakasih," ucap Raditya seraya mengambil duduk di sofa single. Sementara Riena dan Ratih duduk di sofa panjang yang sama. Tangan kedua perempuan tersebut tampak saling menggenggam.
"Syukurlah kamu sudah semakin terlihat segar.Kamu menginap di mana? Kalau kalian berkenan, aku bisa menyiapkan satu kamar untuk kalian. Tapi beginilah keadaan rumahku." Ratih memulai percakapan.
"Aku mau pulang, Tih. Ak---." Riena mengurungkan niatnya untuk mengucapkan sesuatu. Tidak ingin Raditya ikut mendengar apa yang ingin disampaikannya pada Ratih.
"Suamiku sangat baik, Tih. Tidak seharusnya aku menyembunyikan peristiwa sebesar ini darinya. Tadi aku sudah mencoba untuk bercerita, ternyata aku tidak sekuat itu. Aku takut, aku malu, dan aku juga khawatir dia akan berubah setelah tau yang sebenarnya." Riena menatap sendu pada Ratih.
"Tidak mengapa, Rie. Dengan kamu mempunyai pikiran seperti ini saja, itu sudah perkembangan yang sangat bagus. Jangan terburu-buru. Peristiwa itu masih sangat hangat. Tentunya masih melekat kuat di pikiranmu. Sadari, semua butuh proses. Kamu sudah sangat hebat. Cukup terus ingatkan dirimu. Ini bukan aib. Ini musibah. Kamu tidak kotor. Kamu bukan jallang yang sengaja menawarkan tubuh untuk ditiduri oleh pria yang tidak dikenal. Terima dirimu sebaik kamu menerima dirimu sebelumnya. Maka Raditya atau orang lain, juga akan melakukan hal yang sama."
__ADS_1
Riena menundukkan wajahnya. "Aku akan berusaha, Tih. Tolong bantu aku keluar dari situasi ini," liriknya.
"Tanpa kamu minta, aku pasti akan temani kamu, Rie. Tapi tidak secara profesional, aku mendampingimu hanya sebagai sahabat. Kamu tetap butuh bimbingan profesional. Aku ada teman psikolog di Jakarta. Tidak perlu sampai ke psikiater. Nanti aku kasih kontak dia, ya. Ini bukan karena aku tidak mau, Rie. Ini lebih karena aku merasa mempunyai ikatan emosional denganmu. Aku takut tidak bisa bersikap objektif karena itu."
Riena tidak bisa menutupi kekecewaannya ketika mendengar penolakan Ratih. Biar pun disampaikan secara halus dan dengan alasan yang tepat, tetap saja membuat Riena sedih. Bertemu psikolog atau orang baru, tentunya akan membuatnya terpaksa harus menceritakan semua dari nol. Jelas hal itu membuat Riena enggan.
"Kalau kamu tidak berminat, tidak mengapa kok, Rie. Aku bantu kamu sebisaku. Sesekali aku akan datang ke tempatmu." Ratih merasa tidak tega dengan kondisi Riena. Dia pun memutuskan untuk menangani Riena sendiri. Dengan kasus seberat ini, seharusnya pendampingan tidak cukup dilakukan dari jarak jauh. Harus ada interaksi langsung antara dirinya dan pasien.
"Terimakasih, Tih. Allah memang baik. Rencananya sungguh tidak terduga. Mungkin aku memang harus melalui semua ini agar bisa bertemu sama kamu lagi."
"Tidak perlu berterimakasih, Rie. Aku tidak memberimu apa-apa. Aku juga belum melakukan apa-apa. Semangat, ya, Rie. Ayo terus berpikiran positif. Selalu berprasangka baik pada rancangan Allah. Ia yang paling tau kemampuanmu. Dalam keluhmu, Ia tetap setia menemani. Allah tidak akan meninggalkanmu, Rie. Apa pun yang sudah berlaku dalam dirimu, biarkan campur tangan Allah yang menyertai. Allah tidak menjanjikan akan selalu ada pelangi setelah hujan, tetapi tidak ada hujan yang tidak reda, Rie."
Riena langsung memeluk Ratih dengan begitu berat. Air mata lagi-lagi berderai tanpa aba-aba. Ucapan syukur tidak hentinya diucapkan dalam hati. Seberat apa pun kondisinya sekarang, Reina beruntung karena masih dikelilingi oleh orang-orang yang tulus mencintainya.
__ADS_1
Sementara itu, Raditya yang memang sengaja memberikan ruang dan waktu pada Riena agar bisa berbicara lebih leluasa dengan Ratih, tampak duduk dipinggiran kolam ikan gurami di sisi samping kiri halaman rumah Ratih. Tatapannya begitu tenang tertuju pada segerombolan ikan yang sedang berlindung di bawah pohon keladi dari sengatan terik sinar matahari.
"Ada urusan apa kamu datang ke sini?" tanya seseorang dengan nada sinis setengah berteriak. Suaranya terdengar tidak asing di telinga Raditya.