Penjara Luka

Penjara Luka
Part eight


__ADS_3

Raditya menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu di ruangan khusus Riena di tempatkan. Tangannya ragu-ragu ingin membuka daun pintu di depannya. Menimbang kemungkinan yang terjadi jika dia memaksakan diri mendampingi sang istri. Raditya khawatir, Riena malah akan sedih atau histeris seperti reaksi yang ditunjukkan sebelumnya.


"Sebaiknya Pak Raditya istirahat saja dulu. Kami akan mengawasi dan menjaga kondisi istri Bapak. Jika ada perkembangan, kami akan menginformasikan segera pada bapak." Salah seorang perawat jaga menghampiri Raditya. Dia merasa iba karena melihat pria itu begitu lelah.


"Sampai kapan istri saya akan tertidur, Sus?" tanya Raditya sesaat setelah meraup wajahnya sendiri dengan kasar.


"Kami tidak bisa memastikan, Pak. Seharusnya kurang lebih satu jam lagi jika berdasarkan dosis obat penenang yang kami berikan. Tapi semua kembali pada kondisi fisik pasien sendiri. Dalam beberapa kasus, ada yang lebih cepat atau lebih lama tersadarnya," jelas si perawat, begitu sabar.


"Baiklah, Sus. Saya titip istri saya. Jika ada apa-apa, segera kabari saya." Raditya lalu meninggalkan tempat tersebut. Dia terus berjalan menyusuri koridor sepi menuju ke arah keluar. Begitu sibuk dan gaduhnya pikiran Raditya saat ini, hingga dia tidak menyadari sosok pria yang tadi mengintai ruangan Riena, kini tengah mengikuti langkahnya.


Raditya terus berjalan kaki, tujuannya adalah hotel yang tidak jauh rumah sakit di mana Riena berada. Hal itu dia lakukan untuk memudahkan dan mempercepat responnya jika sewaktu-waktu mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit.


"Ini baru awal, Dit. Kita lihat sejauh mana kamu akan bertahan pada kesetiaan dan keadaan ini," gumam sosok yang mengikuti Raditya tadi dengan suara yang sangat lirih disertai seringai licik.


*****


Tengah malam sudah lewat dua jam, jemari Riena terlihat bergerak perlahan. Matanya terasa masih begitu berat untuk dibuka. Rintihan pelan terdengar keluar dari bibirnya. Bukan kata "sakit", melainkan kata " tolong" yang tertangkap di telinga Ratih yang sengaja menemani Riena malam ini.


"Rie, coba buka matamu, Rie," bisik Ratih tepat di samping daun telinga Riena.

__ADS_1


"Tolong ...." Lagi-lagi satu kata itu yang keluar dari bibir Riena. Begitu lemah. Tetapi Ratih masih jelas mendengarnya karena posisi keduanya sedang sangat dekat.


"Bangun, Rie. Lawan siapa pun yang sedang menyakitimu sekarang. Ayo, bangun! Buka matamu. Kamu bisa! Jangan kalah pada rasa takut yang kamu ciptakan dari pikiranmu sendiri." Ratih kembali membisikkan serangkaian kalimat penyemangat untuk Riena. Suaranya bergetar. Tampaknya, Ratih terlalu dalam melibatkan emosinya kali ini. Seharusnya tidak boleh secara etika pekerjaan, tetapi dia tetaplah perempuan biasa. Bukan tanpa alasan mengapa bisa demikian.


Takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak. Riena yang ada di depannya sekarang, tidak lain tidak bukan adalah teman yang selalu ada untuknya saat dia dulu dalam kondisi terpuruk. Sekian lama tidak bertemu, tidak membuat Ratih lupa. Paras cantik Riena begitu khas. Bahkan waktu tidak sanggup memudarkan kecantikan itu.


Dia tidak menyangka, Rasa penasaran ternyata membawa berkah kebaikan tersendiri bagi Ratih. Setelah berbicara empat mata dengan Raditya, dia begitu penasaran dengan sosok perempuan beruntung yang mendapatkan suami seperti Raditya. Ratih pun memutuskan untuk melihat ke ruangan yang sudah diketahui dari dokter forensik sebelumnya. Dan sungguh dia merasa tangan Tuhan memang sedang bekerja, mempertemukan dirinya dengan seseorang yang selalu ada dalam doanya karena kebaikan yang memang tidak bisa di lupakan sepanjang hidup Ratih.


"Tolong, jangan sentuh saya." Rintihan kata yang diucapkan Riena mulai bertambah panjang. Ingatan dan isi pikirannya benar-benar masih dikuasai oleh kejadian kejih yang sudah menimpanya.


"Rie, please, buka matamu. Lawan dong, Rie. Kamu hebat, kamu kuat. Siapa dia bisa membuatmu selemah ini. Tidak ada satu pun yang bisa melemahkanmu, bukan?" Ratih mengusap rambut Riena sembari terus berbisik.


Perlahan, mata Riena pun terbuka. Namun, tatapannya begitu kosong. Bola matanya fokus ke atas. Tidak ke kiri atau ke kanan. Dalam waktu yang begitu lama. "Apa aku sudah ada di neraka?" tanyanya. "Apa neraka sesepi ini? Dimana malaikat yang akan menanyaiku?"


"Ini bukan neraka, Rie. Ini juga bukan di surga. Kamu masih di dunia. Dunia yang katamu perlu perjuangan dan sedikit kebohongan untuk menjalaninya."


Riena mengerjapkan matanya beberapa kali. Lambat laun pikirannya seakan merangkai peristiwa yang beberapa saat lalu dialaminya. Perempuan itu mengangkat pelan tangan kanan yang kini sudah terbungkus perban tepat pada bagian pergelangannya. Ya, Riena ingat telah melukai tangan itu demi menjemput kematiannya sendiri.


"Kenapa aku tidak mati saja?" tanya Riena sembari mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Barulah dia menyadari jika dirinya sekarang berada di rumah sakit. Sesaat kemudian, tatapannya jatuh pada sosok Ratih. Tangannya reflek ingin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tetapi jarum infus membatasi gerakannya. Riena mencoba menjauhkan diri dari Ratih.

__ADS_1


"Rie, ini aku. Lihat baik-baik." Ratih mengatakannya dengan sangat lembut. Dia tidak sedikit pun menggeser tubuhnya meski tahu betul, dengan jarak sedekat ini, jelas membuat Riena merasa terancam dan tidak nyaman. "Tarik napas perlahan, Rie. Lihat baik-baik wajahku. Coba ingat-ingat. Semoga kamu tidak lupa. Karena wajahku ini banyak yang menyerupai," Ratih mencoba mencairkan suasana. Moodnya pun sengaja diubah dratis.


Kening Riena semakin mengernyit hingga ujung alisnya pun menyatu. Mengingat disaat kondisi normal tentulah hal yang mudah. Namun untuk saat ini, jelas hal itu sulit untuk dilakukan.


"Ah, sudahlah. Tidak mengapa kalau kamu sudah lupa. Nanti pelan-pelan aku yang akan membuatmu ingat akan tingkahku. Sekarang kamu minum dulu."


Ratih mengambil posisi berdiri dan dengan cekatan membuat posisi bagian atas brankar yang ditiduri Riena agak naik. Sehingga posisi Riena kini menjadi setengah duduk.


"Aku tidak haus," tolak Riena sembari mendorong botol air mineral yang sudah dibuka dan diberikan sedotan oleh Ratih.


"Kamu masih bernapas, Rie. Usahamu kemarin gagal. Jadi tetaplah minum meski tidak haus dan tetaplah makan meski tidak lapar. Tuhan masih sayang kamu, Rie. Janganlah disia-siakan. Kalau mau mati, pastikan dulu bekal kebaikanmu cukup." Kata-kata yang diucapkan Ratih barusan sama sekali tidak mewakili profesinya. Yang dia lakukan saat ini adalah perannya sebagai sahabat.


Riena akhirnya menerima air mineral tadi dan meminum hampir separuh isinya. Meski dia belum bisa mengingat siapa perempuan di depannya, tetapi Riena tidak ada keinginan untuk menolak kehadirannya. Yang Riena lakukan setelah itu hanya menarik selimutnya hingga sebatas leher.


Ratih tersenyum melihat hal itu. Meski hatinya sebenarnya sangat miris. Apa yang dilakukan Riena menegaskan betapa perempuan tersebut masih malu dan rendah diri pada kondisinya.


"Bagaimana badanmu? Ada yang kamu keluhkan? Ada yang terasa sakit? Aku panggilkan dokter, ya?"


Mendengar pertanyaan Ratih, Riena langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak! Aku baik-baik saja. Jangan ada yang menyentuhku! Aku mau pulang!"

__ADS_1


Riena mencoba melepas paksa jarum infus yang tertancap di punggung tangannya dengan gerakan cepat dan memaksa. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan ketakutan.


"Jangan, Rie. Jangan! Oke tidak perlu memanggil dokter atau siapa pun. Sudah tidak apa-apa. Menurutku kamu memang baik-baik saja. Nanti aku bantu antar kamu pulang, oke?"


__ADS_2