
"Aku mau ke rumah mama. Aku mau pulang ke Malang sekarang juga."
Mendengar jawaban Riena yang begitu dingin tanpa ekspresi, Rosyani buru-buru menghampiri putri tunggalnya itu. Sementara Retno yang baru keluar dari dari kamar yang disediakan untuknya di lantai satu, seketika ikut-ikutan menghampiri Riena.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sekali? Rien, kamu sedang tidak enak badan, nanti ya tunggu kamu sehat dulu. Kalau kamu sudah sehat, kita ke Malang rame-rame. Sekalian nunggu papamu juga. Papa besok dateng kok," cegah Retno sembari menahan pegangan koper milik Riena.
Ratih merasa kedatangannya bersama Reno kali ini, bukanlah waktu yang tepat. Seandainya dia datang sendiri, tentu dia akan lebih leluasa membantu meyakinkan Riena. Namun, dengan keberadaan Reno saat ini, tentu Ratih tidak bisa berbuat banyak. Bahkan sepertinya mengajak suaminya itu untuk berpamitan adalah pilihan terbaik. Mengingat yang terjadi saat ini termasuk dalam ranah yang sangat privasi. Lagi pula, ada beberapa hal yang ingin ditanyakannya pada Reno mengenai cerita masa lalu yang melibatkan suaminya itu dan Raditya. Meski dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dari bahasa tubuh Raditya dia menangkap ketidaknyamanan dan kebencian yang begitu besar untuk suaminya.
"Mas, ayo kita pulang saja," bisiknya pada Reno.
Suaminya itu hanya menggelengkan kepala. "Sepertinya Riena sedang membutuhkan kamu, Tih. Aku tidak keberatan menunggu di sini."
Jawaban Reno sungguh membuat Ratih terkesima. Reno yang selama ini tidak mau banyak melibatkan diri untuk urusan Ratih, mendadak begitu peduli. Tanpa Ratih sadari, Reno sedang bersorak dalam hati karena Riena benar-benar sudah masuk ke dalam alur permainannya.
"Tidak, Mas. Masalah ini terlalu pribadi. Biar mereka ada ruang untuk menyelesaikan sendiri tanpa kehadiran orang lain. Kita pulang saja. Waktu berkunjung kita ini tidak tepat." Ratih tetap bertahan pada pemikirannya. Masalahnya kini, kepada siapa dia akan mengucapkan kata pamit, sementara hampir semua orang yang bisa disebut sebagai tuan rumah tampak mengerumuni Riena yang masih berdiri di dua anak tangga terakhir mendekati lantai satu.
"Bee, bisa kita bicara sebentar?" tanya Raditya dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
Riena ingin sekali menolak, tetapi kepala dan mulutnya seakan sulit berkata "tidak". Dia malah mengangguk lemah sambil kembali melangkahkan kakinya. Retno mengambil alih koper yang diseret Riena dan bergegas berjalan mendahului menantu serta putra kesayangannya.
Rosyani hanya berdiri bergeming pada posisinya. Kakinya terasa berat untuk bergerak mengikuti langkah Riena dan Raditya. Tarikan napasnya panjang mengiringi lantunan doa dalam hati, memohon agar Tuhan benar-benar mengulurkan tanganNya untuk menopang dan memberi kekuatan pada Riena.
Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, Ratih mengajak Reno menghampiri Rosyani. Mama Riena itu jelas sekali sedang melamun. Tatapan kosong tetapi tampak berkaca-kaca, menegaskan yang ada dibenaknya saat ini sudah pasti berhubungan erat dengan serentetan kejadian yang mengguncang mental putri semata wayangnya.
"Bu Ros ... Maaf, kami mau pulang dulu," ucap Ratih dengan hati-hati.
"Iya, Tih," jawab Rosyani tanpa menatap sosok yang mengajaknya berbicara. Pandangannya masih kosong lurus ke depan.
Sementara itu, Riena dan Raditya yang memilih berbicara berdua di ruang kerja, sudah duduk saling berhadapan. Tatapan keduanya sama-sama sendu.
"Bee, kenapa harus pergi? Serahkan semua padaku, Aku akan mengurus bajingaan itu. Kamu fokuslah dengan apa saja yang bisa membuatmu nyaman." Raditya mulai berbicara dengan suara begitu lembut.
"Aku tidak nyaman di sini. Aku ingin mencari suasana lain. Kamu tidak perlu ikut. Karena aku ingin sendirian."
Mendengar jawaban Riena yang ketus, Raditya menelan ludahnya dengan susah payah. Sedetik pun dia tidak ingin membayangkan bisa hidup berjauhan dengan Riena dalam kondisi seperti ini. Sebulan terakhir, begitu banyak tawaran bisnis menggiurkan yang sudah dilepas hanya dengan perimbangan agar dia tidak perlu ke luar kota dan tetap bisa bekerja di rumah demi bisa menemani Riena. Namun, dengan keinginan Riena barusan, tentu ini menjadi hal yang sangat sulit.
__ADS_1
"Bee, bukankah seorang istri harus ada ijin dari suami ketika dia ingin meninggalkan rumah? Bagaimana jika Aku tidak mengijinkanmu ke Malang?" tanya Raditya. Sungguh dia terpaksa menggunakan pertanyaan itu untuk mencegah kepergian Riena.
"Aku akan tetap pergi. Silahkan kamu talak Aku jika keberatan dengan keputusanku. Aku sama sekali tidak keberatan." Riena beranjak berdiri. Keputusannya memang sudah bulat. Setelah membaca pesan dari Reno berisi video pergumulan panas Raditya dengan Rena, hatinya yang sudah hancur semakin remuk redam. Dia yang tadinya merasa tidak pantas mendampingi Raditya, kini diam-diam berbalik mempertanyakan kepantasan sang suami mendampingi dirinya.
"Talak? Bee, harus berapa kali Aku katakan, kita tidak akan bercerai, sampai kapan pun!" tegas Raditya dengan suara meninggi karena emosinya mulai tidak terkontrol.
Riena tidak peduli, dia tetap melangkah mendekati pintu keluar. Dia sadar benar hatinya sendiri sedang sangat rapuh. Berdebat pun dia sudah tidak kuasa. Satu hal yang pasti, dia semakin mantap dengan keputusannya saat ini. Pergi menjauh dan memastikan kehamilannya berakhir secepat mungkin.
"Jika dekat denganku hanya membuat lukamu semakin menganga, pergilah, Bee. Aku tidak akan memaksamu bertahan di sini. Sejauh apa pun kamu berlari, kemana pun kamu pergi bersembunyi, cintaku tetap akan menjadi bayanganmu." Raditya mengatakannya sambil membalikkan badan karena tidak sanggup menatap kepergian Riena.
Di sisi lain, Rosyani dan Retno yang kini sudah duduk berdampingan tampak saling bergenggaman tangan saling menguatkan. Mata keduanya sembab dan basah. Sama-sama seorang ibu, tentulah mereka berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Maafkan Radit ya mbak. Saya juga minta maaf karena baru jujur sekarang." Retno kembali mengucapkan maaf entah untuk keberapa kalinya setelah dia menceritakan masa lalu Raditya.
Rosyani menggelengkan kepala lirih sembari berkata, "Setiap manusia memiliki jalan dosa masing-masing. Saya tidak berhak menghakimi Radit. Tapi saat nanti kondisi Riena membaik, dia berhak tau yang sebenarnya."
"Berhak tau apa, Ma?" tanya Riena yang tiba-tiba muncul dihadapan Retno dan Rosyani.
__ADS_1