Penjara Luka

Penjara Luka
Part twenty three


__ADS_3

Raditya menarik napas dalam. Berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan amarahnya. Menghadapi seseorang seperti Reno, tidak bisa bermain otot. Pikiran dan otaknya harus tetap jernih dan tenang. Apalagi saat ini dia sudah tertinggal satu langkah dengan Reno. Pastinya pria yang merupakan kembaran tidak identik dari Rino dan Rena itu, sudah mencari informasi tentang dirinya dengan detail. Pendekatan manis yang dilakukan pada Riena, jelas menandakan Reno tahu persis kelemahan Raditya.


Di sisi lain, Ratih tampaknya sudah dihubungi oleh sang suami. Terdengar perempuan tersebut menyebut alamat lengkap rumah Riena. Namun, selang beberapa saat setelah itu, raut wajah kecewa tampak tersirat pada wajah perempuan tersebut.


"Suamiku masih ada acara lain. Jadi dia tidak bisa datang ke sini," sesal Ratih.


"Kalau begitu kita jalan-jalan saja, yuk! Sebentar aku panggil Mas Radit dulu. Nanti sekalian aku antar ke hotel." Riena beranjak berdiri. Kemudian melangkahkan kaki menuju lantai dua.


Masuk ke dalam kamar, Raditya terlihat duduk di atas sofa sembari berbalas pesan dengan seseorang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Raditya harus berhubungan dengan jasa intelejen swasta untuk membantunya mengurai benang kusut masalah yang sedang dihadapi.


"Masih capek, Ay?" Riena mendekat dan duduk di samping Raditya persis.


"Sudah tidak terlalu. Mau pergi sekarang?" Raditya menatap Riena sekilas lalu kembali fokus pada layar ponselnya. Sebagai langkah pertama, tentu dia harus memberikan beberapa informasi awal untuk mempermudah langkah intelejen yang disewanya.


Riena mengangguk manja. Bibirnya yang ranum sedikit manyun, mampu menggugah senyuman yang sedari tadi enggan ditampilkan oleh Raditya.


"Aku pengen makan mie ayam di luar, Ay. Pengen banget dari tadi," Rengek Riena sembari mengapitkan tangannya pada lengan kekar sang suami.

__ADS_1


Raditya mengernyitkan keningnya. Merasa sedikit aneh dengan keinginan Riena. Sudah lama rasanya tidak melihat sang istri merengek saat menginginkan sesuatu.


"Ya sudah, kita turun. Temenmu ikut juga?" Raditya mengajak Riena untuk berdiri.


"Ikut dong, Ay. Suaminya masih ada kerjaan. Jadi kita nanti antar sekalian ke hotelnya bisa, kan?"


"Iya,Bee.Terserah kamu saja."


Keduanya lalu berjalan bersama keluar kamar menuju ruang tamu dimana Ratih berada. Kepala Riena menempel di lengan suaminya begitu mesra, entah mengapa dia merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika mencium wangi maskulin dari tubuh Raditya.


Ratih mengucapkan syukur dalam hati begitu melihat Riena bersikap manja pada suaminya. Paling tidak, trauma itu perlahan mulai menghilang. Setidaknya, Riena sudah menghargai dan menerima diri sendiri. Kini hanya masalah waktu untuk menuju fase penyembuhan selanjutnya---fase dimana korban pemerkosaan mulai membangun relasi kembali dengan orang-orang yang sebelumnya dekat dengan mereka.


"Ay, kamu ganti parfum nggak sih? Kenapa aku merasa wangi yang sekarang enak banget, ya?" Riena mengendus tubuh Raditya yang sedang fokus mengemudikan mobil. Begitu santai tanpa rasa sungkan, seolah tidak ada Ratih di deretan bangku belakang.


"Masih sama, kok, Bee. Mana mungkin ganti. Kan, kamu yang pilihin." Raditya sampai salah tingkah sendiri karena dia sadar betul mereka tidak hanya berdua di dalam mobil.


"Nanti aku mau cek," Riena kembali pada posisinya.

__ADS_1


Raditya menarik napas lega. Meski dalam hati terselip sedikit curiga akan sikap Riena hari ini. Lebih hangat dan ceria dari biasanya, murah senyum, dan tidak segan menyentuhnya. Tetapi, disaat bersamaan, Raditya juga takut perubahan drastis sikap Riena ini malah akan menjadi boomerang bagi mereka.


Sementara itu, di sisi lain, Rino dan Reno yang sedang berada di sebuah rumah yang akan di tempati Reno bersama Ratih selama di Jakarta, tampak sedikit bersitegang.


"Ren, kamu sengaja, bukan memilih tempat ini? Sudahlah, kita ubah rencana kita. Hancurkan bisnis Radit. Jangan libatkan Riena."


Ucapan Rino barusan, tentu saja membuat Reno tersulut emosinya. "Kamu bodoh atau bagaimana? Jangan naif kamu, No. Sampai detik ini, Raditya masih berada di samping istrinya. Kondisi Riena juga semakin baik. Masalah seberat itu saja bisa mereka lewati. Apalagi sekedar bangkrut. Mereka berdua sama-sama terlahir kaya. Bukan hal mudah membuat mereka bangkrut. Koneksi yang dibangun sudah kuat dan mendarah daging. Tidak ada yang bisa menghancurkan mereka, selain diri mereka sendiri. Lemahkan Radit. Hanya itu pilihan kita."


"Riena teman Ratih, Ren. Kalau kamu mendekati dia. Sama saja kamu menghancurkan rumah tanggamu sendiri," sentak Rino.


Tidak ada gunanya lagi dia menyembunyikan kenyataan bahwa Ratih mempunyai kedekatan tidak biasa dengan Riena. Setelah menghubungi Ratih dengan niat menjemput istrinya, seketika Reno tahu bahwa teman lama sekaligus sahabat dekat yang dimaksud sang istri adalah Riena. Perempuan yang sedang gencar-gencarnya ingin dia dekati.


"Aku rela melepas Ratih asal Riena berpisah dengan Raditya. Aku tidak akan membiarkan hidup Raditya sesempurna ini setelah apa yang sudah dia lakukan pada Rena."


"Tapi tidak harus melalui Riena, Ren. Dia juga perempuan yang tidak tau apa-apa. Jelas-jelas, Raditya yang mengajak Rena bermain di belakang Riena," sahut Rino dengan cepat.


"Cukup, No! Jangan sok peduli. Jangan-jangan, kamu sudah terbius dengan kenikmatan yang kamu paksakan pada Riena. Memang seenak apa rasanya? Apa jerit kesakitan dan hinaan Riena justru mampu membuatmu merasa jantan?" Reno mengatakannya dengan ekspresi wajah dan nada suara yang sama-sama sinis.

__ADS_1


"Sudah berapa kali aku katakan, Ren. Bukan aku yang melakukannya. Ada orang lain yang mendahuluiku. Dan aku tidak kenal orangnya." Rino mengatakannya dengan nada kesal. Lalu dia segera pergi meninggalkan Reno yang tentu saja tidak percaya begitu saja dengan ucapan kembarannya.


"Keberuntungan memang selalu berpihak padaku. Tanpa harus bersusah payah, Ratih yang akan membantu memuluskan rencanaku. Membawa Riena dekat dan masuk ke perangkapku, ternyata tidak sesulit yang aku duga." Reno tersenyum licik penuh kemenangan.


__ADS_2