Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty nine


__ADS_3

Raditya tidak menjawab pernyataan Rama meski dia masih mendengar dengan jelas, Raditya memilih memejamkan matanya rapat-rapat. Bukan berniat mengabaikan, melainkan sadar benar apa yang dikatakan papanya tidaklah salah. Raditya ingin tidur sejenak, berharap apa yang dialaminya hanyalah mimpi buruk semata. Nanti ketika terbangun, keadaan membaik dan ada jalan keajaiban yang menyatukannya kembali bersama sang istri.


Retno dan Rama meninggalkan Raditya sendirian di kamar. Keduanya kini hanya bisa saling menguatkan dan berdoa agar badai besar dalam rumah tangga Riena dan Raditya segera berlalu. Meski tidak memungkiri jika semua terjadi karena kesalahan sang putra, sebagai orangtua tetap saja berharap yang terbaik tetap berlaku pada anaknya.


Sampai keesokan harinya di saat subuh menjelang, Raditya terbangun karena merasakan mual yang luar biasa. Dia pun segera bangkit meski dengan langkah sempoyongan menuju kamar mandi. Raditya kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi air.


Susah payah Raditya menguatkan dirinya sendiri untuk tidak mengikuti rasa tidak nyaman yang dirasakan. Berniat mengurangi rasa mual, dia mencari minyak penghangat yang biasanya digunakan Riena untuk memijat dirinya. Tetapi aneh, saat menemukan minyak tersebut, mual yang dirasakan Raditya malah semakin bertambah. Hingga pada akhirnya dia memilih membuang botol tersebut jauh-jauh.


"Mungkin aku butuh udara segar," batinnya sembari mengambil telepon genggam di atas meja rias Riena yang dari semalam diabaikannya begitu saja.


Raditya membuka pintu kamar yang menghubungkan ke balkon. Dari sana dia bisa melihat ke segala arah dengan pemandangan taman dan kolam di lantai bawah. Merasakan sedikit kenyamanan, Raditya menghidupkan layar ponselnya. Beberapa pesan masuk sudah menunggu untuk dia buka.


Mata Raditya membelalak lebar begitu dia melihat potongan video yang dikirim oleh intelejen swasta yang sepertinya memang sangat bisa diandalkan. Tidak sampai dua puluh empat jam, sosok bermasker yang dicurigai Raditya membuntuti Reyhan bisa diungkap dengan jelas.


"Sudah saatnya aku merangkai keping-keping puzzle ini. Aku tidak sanggup lebih lama lagi berpisah dengan Riena." Satu tangan Raditya mengepal sempurna. Menyadari orang-orang yang dihadapinya memanglah orang yang terhubung erat dengan masa lalunya. Kini, hanya satu petunjuk lagi yang harus dia dapatkan.

__ADS_1


Raditya mengirimkan pesan pada intelejennya. Kali ini, dia mengiming-imingi dengan bonus yang lumayan besar agar orang-orang tersebut bekerja lebih maksimal dalam tempo waktu yang sangat cepat.


"Aku tidak perlu mengotori tanganku sendiri atau bersusah payah menuntut balas. Biarkan mereka saling berhadapan tanpa aku harus ikut campur," gumam Raditya sembari memijat pelipis kepalanya.


Sementara Radit sedang bergelud dengan ketidaknyamanan karena pusing dan mual yang timbul tenggelam dan juga memikirkan memecahkan masalah pelik yang dihadapinya. Riena tampak bersimpuh di atas sajadah birunya mengahadap kiblat. Tatapan perempuan itu begitu sendu.


Sebuah Al'quran lengkap dengan terjemahannya berada di atas pangkuan Riena dalam posisi terbuka. Entah sebuah kebetulan atau memang ini adalah petunjuk dari Tuhan, bagian yang langsung terbaca oleh Riena dan mampu membuat hati perempuan tersebut menghangat adalah QS Ali Imran ayat 141. Di mana dalam terjemahan ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah dengan sengaja membiarkan musibah besar menimpa hamba-Nya. Bukan karena IA murka, melainkan karena Allah ingin menghapus dosa-dosa dan membersihkan diri manusia sebelum kesulitan itu kekal (kematian).


Riena memejamkan matanya, perlahan dia mengingat kata-kata Raditya yang diucapkan beberapa bulan lalu---jauh sebelum peristiwa kelam dan serentetan masalah menimpa mereka.


"Ya Allah ya Robb. Aku pasrahkan semua yang akan terjadi pada hidupku kepadaMu. Jika memang tidak akan ada pelangi setelah badai besar ini, setidaknya ijinkan aku tetap melihat bentangan luas awan biruMu dalam sebuah harapan kecil," lirih Riena sembari perlahan membuka matanya kembali dan menutup Al'quran di pangkuannya.


Di tempat yang berbeda, di waktu yang sama, pertengkaran hebat baru saja terjadi antara Ramona dan Reyhan. Setelah semalaman pria itu berada di sana untuk memastikan kondisi sang mantan kekasih baik-baik saja, apa yang didapatinya saat terbangun sungguh di luar dugaan.


Pertengkaran itu dipicu dengan adanya tumpukan print out foto yang sepertinya di ambil dari tangkapan layar video. Bukan sembarang foto, melainkan dari foto itu bisa saja menjadi bukti sah untuk menjerat Reyhan dalam pidana.

__ADS_1


"Katakan padaku, Mon, dari mana kamu mendapatkan ini semua?" Reyhan masih bersikukuh memaksa Ramona untuk membuka mulut.


"Aku tidak tau, Han. Sungguh Aku tidak tau bagaimana foto-foto itu bisa berada di sini." Ramona menjawab dengan jujur. Meski dalam hati dia menyimpan kecurigaan pada seseorang, tetapi dia memang tidak tahu bagaimana bisa foto-foto bukti tindakan biadab Reyhan pada Riena berada di rumahnya.


"Jangan bohong kamu! Atau kamu mau benar-benar kehilangan Reva? Katakan Mona siapa yang kamu suruh memata-mataiku sejauh ini?" Reyhan mengapit dagu Ramona dengan satu tangannya. Hingga membuat wajah perempuan itu sejajar dengannya.


Belum sampai Ramona mengucapkan sebuah kata, ponsel perempuan tersebut berdering disaat yang tidak tepat. Dia lupa untuk mengheningkan atau mematikan benda pipih berteknologi tinggi tersebut. Mungkin Ramona memang sedang dilanda kesialan atau memang sudah waktunya terbongkar semua kebohongannya selama ini.


Reyhan menyambar ponsel milik Ramona yang tergeletak di atas nakas samping ranjang perempuan tersebut. Sesaat setelah membaca isi pesan yang diterima, rahang Reyhan semakin terlihat mengeras, sorot matanya tajam kemerahan menahan amarah.


"Katakan mulai kapan kamu berhubungan dengan dia!" bentak Reyhan.


Di sisi lain, Raditya yang masih bingung mengatasi mual yang semakin parah, sedikit bisa menarik napas lega setelah menerima laporan dari salah seorang intelejen bayarannya.


"Saatnya aku mengakhiri permainan kalian. Sudah sepantasnya kalian membayar mahal semuanya. Tidak ada ampun untuk kalian yang sudah berani melibatkan Rienaku," gumam Raditya sambil memijat-mijat sendiri tengkuk lehernya.

__ADS_1


__ADS_2