Penjara Luka

Penjara Luka
Part fifty one


__ADS_3

Reno sama sekali tidak menoleh ke arah sumber suara. Tatapannya lurus tertuju pada Rino. Begitu banyak kata yang ingin diucapkan. Namun, semua hanya sampai di tenggorokan. Tidak ada kata yang sanggup mewakili apa yang sedang Reno rasakan saat ini.


"Tidak ada dendam yang berakhir dengan indah, Ren. Dendam tidak berkesudahan hanya akan menciptakan benih kebencian baru dan menghancurkan kebahagiaan. Mereka yang memendam dendam, tidak akan pernah puas sebelum semua hancur." Sosok yang datang tadi, yang tidak lain adalah Raditya, kembali mencoba mengajak Reno merenungi pesan dibalik kematian Rino.


Sekilas Reno menatap Raditya. Pria tersebut sesungguhnya juga tidak tahu sikap apa yang harus dia ambil. Akhir kehidupan kedua saudara kembarnya sama-sama mengenaskan. Baik Rena maupun Rino, meninggal dalam keadaan yang tidak semestinya.


"Ayo kita mandikan Rino, Ren. Setelah itu, kita makamkan jenazahnya segera. Rino berhak mendapatkan penghormatan terakhir menuju alam keabadiannya. Aku tidak ingin mengatakan semua sudah impas sekarang. Sungguh aku tidak berpikir demikian. Aku hanya lelah terusik masa lalu. Sudah seharusnya kita mulai berdamai dengan setiap kejadian buruk yang sudah kita alami. Dengan kerendahan hati, sekali lagi aku meminta maaf jika perbuatanku pada Rena menggiring kalian pada kebencian dan dendam yang nyatanya malah membuatmu lagi-lagi kehilangan saudara."


Reno masih bergeming dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Kebenciannya pada sosok Raditya belum luruh benar. Dengan kematian Rino yang disebabkan oleh ulah Reyhan, dia pun tidak menutup mata jika apa yang terjadi sekarang sedikit banyak adalah akibat dari dendam yang dia tanamkan pada diri Rino.


Menyadari penerimaan Reno yang sepertinya tidak ingin berbasa-basi, Raditya memilih untuk memundurkan langkahnya. Bersamaan dengan itu, Ratih tampak tergesa-gesa memasuki ruangan jenazah tersebut. Perempuan tersebut melewati Radit begitu saja dan segera menghampiri Reno.


"Kadang Tuhan hadir bukan untuk mengambil alih masalah yang kita hadapi. IA juga tidak datang untuk menyudahi cobaan yang sudah diberi. Tuhan menyapa kita dengan cara yang IA kehendaki. Ada kalanya satu atau dua teguran tidak cukup membuat seorang hamba tersadar bahwa hidup sejatinya adalah tentang menebar kasih dan kebaikan." Ratih mengucapkannya dengan hati-hati. Tangannya terulur menyentuh pundak Reno. Sejenak dia melepas persoalan yang terjadi di antara mereka.


Raditya yang mendengar perkataan Ratih, membenarkan kata-kata perempuan tersebut dalam hati. Meski berbeda keyakinan, nyatanya tidak ada satu agama pun yang mengajarkan keburukan. Dalam hal kebaikan, semua agama menjelaskan dengan gamblang dan tidak memberikan tawar menawar.

__ADS_1


"Aku tidak menyuruh Mas Reno untuk bersabar atau pun ikhlas. Setidaknya, ayo kita berikan perlakuan yang pantas pada Rino untuk yang terakhir kalinya. Mas mau Rino disemayamkan dulu apa langsung dimakamkan?"


Bukannya menjawab pertanyaan Ratih, Reno malah mengalihkan perhatiannya pada sosok Raditya yang kini tengah bersandar di tembok samping pintu. "Tinggalkan ruangan ini. Dan jangan datang lagi. Kamu bukan teman apalagi saudara bagi kami. Keberadaanmu di sini tidak sedikit pun ada artinya. Semoga ini terakhir kalinya kita bertemu. Maaf di antara kita juga tidak perlu diucapkan."


Ratih memberikan isyarat melalui gerakan bola mata pada Raditya. Meminta suami dari sahabatnya itu untuk menuruti saja apa yang diinginkan Reno. Dan Raditya pun memahami hal itu. Lagipula, satu jam ke depan, dia akan melakukan penerbangan ke Malang. Sudah saatnya dia bertemu dengan Riena.


Tanpa disadari oleh siapa pun, Reyhan ternyata berada di rumah sakit yang sama. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, pria tersebut berhasil mendapatkan kembali kesadarannya.


"Kenapa saya masih hidup? Seharusnya kalian tidak perlu menolongku. Aku ini seorang pemerkosaan sekaligus pembunuh kejam. Apa ada gunanya lagi aku hidup? Sementara kebebasan dan kehormatanku sudah terenggut oleh dendam. Hukuman apa yang tepat untukku selain kematian?" Reyhan menatap salah seorang anggota kepolisian yang menjaganya dengan sorot mata yang menyiratkan ketidakberdayaan.


"Tentu saja kamu harus hidup. Banyak hal yang harus kamu pertanggungjawabkan.Kematian tidak cukup menebus semua perbuatan jahatmu. Seharusnya kamu bersyukur. Tuhan masih memberimu nafas untuk memperbaiki diri dan memohon ampunan," ucap anggota kepolisian yang menemani Reyhan. Meski intonasi suaranya terkesan sinis, tetapi yang dikatakannya memang benar adanya.


"Allah itu Maha Pemaaf. Sebesar apapun dosamu, selama kamu bersungguh-sungguh dalam pertobatan, Allah akan mengampunimu. Tapi entah dengan keluarga orang yang kamu bunuh dan perempuan yang kau nodai kehormatannya. Tentu akan sulit. Karena maaf seorang hamba itu memiliki batasan. Itulah mengapa, sebaik-baiknya manusia adalah dia yang senantiasa menjaga diri agar tidak menyakiti orang lain."


Reyhan menelan ludahnya dengan susah payah. Diikuti kemudian sebuah tarikan nafas yang begitu berat. Logika dan hati nurani seakan engan bersuara ketika amarah karena rasa cinta dan cemburu sudah membabi buta. Hingga pada akhirnya, Reyhan merelakan dirinya untuk diperbudak oleh angkara murka yang menjerumuskan dalam kelam penyesalan.

__ADS_1


Meninggalkan Reno dan Ratih dalam duka, serta Reyhan yang mulai menunjukkan depresi berat, Raditya berangkat menuju bandara seorang diri. Pria tersebut membawa harapan besar akan kelangsungan hubungan rumah tangganya bersama Riena. Setelah beberapa hari mereka berpisah, Raditya berharap kerinduannya disambut sang istri dengan rasa yang sama.


Meski mual perlahan kembali memunculkan ketidaknyamanan, Raditya tetap berusaha mengabaikan hal tersebut. Dia terus menyemangati diri sendiri agar fisiknya tetap kuat sampai tujuan.


"Aku tidak pernah sakit selama ini. Kalau semua urusanku sudah beres, aku harus general checkup," batin Raditya.


Beberapa jam berikutnya, setelah melalui perjalanan udara dan darat, akhirnya sampai juga Raditya di rumah orangtua Riena. Kedatangannya yang mendadak dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, membuat penghuni rumah yang sebagian sudah bangun karena baru selesai melaksanakan ibadah sunnah dua rakaat terkejut.


"Ma, boleh Radit ke kamar Riena?" tanya Raditya dengan sangat sopan pada sang mama mertua yang kebetulan berada di lantai satu karena ingin membuatkan Rinto jus daun seledri seperti biasa.


Dalam keadaan normal, tentu Raditya tidak perlu menanyakan hal tersebut pada Rosyani. Sebagai seorang suami, tentu dia mempunyai hak sepenuhnya atas Riena. Jangankan hanya masuk ke kamar, menyusul tidur seranjang pun tidak jadi soal.


"Silahkan, Dit. Mungkin Riena masih tidur. Kamu ini suaminya. Rumah ini rumahmu juga. Tapi kalau Riena nanti menolak, kamu jangan tersinggung, ya. Kamu yang sabar." Rosyani mengulas senyuman yang begitu lembut dan menenangkan di ujung kalimatnya.


Tanpa membuang waktu lagi, Raditya segera melangkahkan kaki menuju tempat di mana kamar Riena berada. Sesampainya di depan pintu, dia menghentikan langkahnya. Sejenak mengatur degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Kerinduan dan kekhawatiran jelas sudah berbaur menjadi satu.

__ADS_1


Di tengah pergulatan batinnya, rasa mual yang sebelumnya memang sudah timbul tenggelam melanda, kembali datang dengan sensasi yang lebih luar biasa. Raditya pun tidak kuasa lagi menahan dorongan kuat sesuatu yang sudah memenuhi tenggorokannya. Dan ....


"Hoekkkkkk"


__ADS_2