Penjara Luka

Penjara Luka
Part fivty eight


__ADS_3

"Ay, kamu jangan ngerjain aku, deh. Aku yang hamil kenapa kamu yang pengen aneh-aneh, sih? Kalau minta sesuatu bisa tidak yang masuk akal dikit? Lagian, bisa, kan kamu mengendalikan keinginanmu sendiri? Apa iya semua harus dituruti?"cerocos Riena. Bola matanya bergerak malas.


Raditya terus menoleh ke belakang. Berada di dalam mobil yang masih melaju sedikit kencang, membuatnya semakin kehilangan pandangan pada sebuah tempat. Di mana tadi ia melihat penjual makanan kaki lima berjejer menjajakan dagangannya.


"Bee, sebentar saja, please!" pinta Raditya sembari menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sembari melemparkan tatapan memelas.


"Sudah malam, Ay. Aku pengen cepat rebahan. Kamu mau apa? Biar nanti Pak Rahmat yang membelikan. Sekalian biar dicarikan gabus pucung," tolak Riena dengan santai. Sungguh dia sedang mengira jika keinginan Raditya mulai tidak natural alias dibuat-buat.


Raditya terdiam pasrah. Sesekali dia kembali menoleh ke belakang. Meski apa yang ia lakukan percuma saja, karena mobil yang mereka tumpangi bahkan sudah mulai memasuki area perumahan di mana rumahnya berada.


Malam itu menjadi malam yang teramat panjang bagi Raditya. Matanya tidak bisa memejam lantaran keinginannya tidak terpenuhi dengan semestinya. Gabus pucung yang semula ingin disantap langsung ditempat, hanya bisa dilihat dalam bungkusan plastik bening yang dibawa oleh Rahmat---drivernya. Hal tersebut tentu membuat Raditya tidak ada keinginan lagi untuk memakannya. Sementara Riena malah sudah tertidur pulas karena sejak hamil dia lebih sering merasakan kantuk dibanding sebelumnya.


Sampai pagi menjelang subuh, Raditya masih terjaga di sisi ranjang samping Riena. Untung saja dia tidak merasakan mual berlebihan karena menghirup wangi tubuh sang istri yang menenangkan.


Raditya memilih untuk bangun dan bersiap terlebih dahulu. Dia mendengar perutnya mengeluarkan suara khas orang yang sedang lapar pada umumnya. Dalam kondisi biasa, tentu dia akan langsung turun ke bawah menuju dapur dan meminta asisten rumah tangga untuk membuatkan telur atau mie instant. Namun, kali ini berbeda, yang ada di pikirannya sekarang adalah makanan atau jajanan kaki lima di pinggir jalan.


Tidak lama, Riena pun terbangun begitu suara adzan subuh berkumandang. Saat matanya sudah terbuka sempurna, dia melihat Raditya dengan wajah yang masih basah karena baru saja mengambil wudhu, duduk di sofa dalam kamar mereka sambil menatap layar ponsel.

__ADS_1


"Kok aku nggak dibangunin, Ay?" Riena buru-buru melipat selimut dan merapikan sepreinya.


Raditya meletakkan telepon genggamnya di atas meja. "Pagi, Bee. Tidurmu lelap sekali. Aku nggak tega kalau harus bangunin."


"Ya sudah, Aku mandi dulu. Setelah sholat, kita langsung keluar, ya. Cari sarapan terus ke kantor polisi langsung."


Raditya belum sempat menjawab, Riena sudah masuk ke kamar mandi. Tidak terlalu lama Radit menunggu, tidak sampai 15 menit. Keduanya melakukan ibadah wajib dua rakaat di dalam kamar. Hal yang sungguh harus disyukuri mengingat sudah lama sekali Raditya dan Riena tidak melakukan sholat bersama.


Sesuai yang diucapkan Riena sebelumnya, sesaat seusai berganti pakaian, keduanya berangkat untuk mencari sarapan pagi di luar. Seperti seorang anak yang hendak dipenuhi keinginannya, Raditya sangat bersemangat. Ditambah lagi, Riena mengajaknya untuk mencari makanan di taman kota.


Berbeda dengan Riena yang sudah dilanda kekenyangan setelah memakan seporsi bubur ayam, Raditya masih terus memesan beberapa makanan lain untuk disantap. Lapar mata yang dialami bapak hamil itu sungguh meresahkan. Riena sampai tidak bisa berkata-kata karena Raditya sangat lahap ketika menghabiskan setiap menu yang dibelinya.


Raditya malah terkekeh. Omelan Riena terdengar bagaikan nyanyian merdu baginya. Sungguh, dia lebih suka Riena mengumpat dan mencaci dirinya ketimbang harus didiamkan seperti yang selama ini terjadi.


"Biar perutmu nggak buncit sendiri, Bee. Kita melebarkan badan bersama. Adil, kan? Bikinnya berdua, resiko ditanggung bersama."


Riena mencubit lengan Radit dengan gemas. Lalu dia pura-pura kembali fokus melihat jalanan di depan. Dalam hati, Riena diam-diam tersenyum. Tidak cuma hati Raditya yang berbunga-bunga, dia pun demikian. Hubungan mereka saat ini, serasa masih seperti pengantin baru. Ada sedikit malu-malu, tetapi sudah banyak maunya.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, Bee. Terimakasih mau kembali berada di sampingku. Betapa bahagianya aku sekarang, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ingin aku luapkan dalam pelukan, tapi aku takut pelukan malah memancing reaksi bagian diriku yang lain. Begini saja ..." Raditya mengucapkannya di waktu yang tepat. Ketika mobil berhenti karena lampu merah dengan durasi yang cukup lama. 180 detik. Waktu yang cukup, untuk pria tersebut mengecup kening istrinya.


Riena kembali mencubit lengan Raditya dengan manja. Pipinya merona kemerahan karena tersipu malu. "Apaan, sih? Kalau ada yang lihat gimana?"


Lagi-lagi Raditya terkekeh. Kali ini lebih lepas dari sebelumnya. Seperti hilang semua beban yang selama ini menghimpit dada dan menekan pundaknya. "Bee, bagaimana bisa kamu membuatku merasakan jatuh cinta setiap hari? Bahkan sekarang, sepertinya aku benar-benar sedang kasmaran. Kita sudah menikah, kan? Kenapa rasanya seperti aku masih sedang melakukan pendekatan?"


"Konyol ... dasar player. Sudah, Ay, cukup! Rayuanmu nggak mempan di aku. Asal kamu tau, aku kembali sama kamu karena berbagai alasan. Dan aku ingin mengajukan syarat untuk itu." Riena bersusah payah untuk serius saat mengatakannya.


Raditya reflek menginjak pedal rem mobilnya. Membuat badan Riena juga dirinya sedikit terpental ke depan. Untung saja mereka memang sudah memasuki area parkir kantor kepolisian.


"Maksudnya?" Raditya bertanya dengan perasaan harap-harap cemas.


"Nanti saja kita lanjutkan pembicaraan kita. Ini akan sangat serius. Aku harap kamu siapkan hatimu. Sementara aku memberikan kesaksian, kamu bisa gunakan kesempatan itu untuk menata dan menguatkan hati. Jelas yang ingin aku sampaikan bukan hal yang menyenangkan." Riena membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Meninggalkan Raditya yang masih kebingungan mencerna ucapan Riena barusan.


Waktu berjalan seakan begitu lambat. Bagi Raditya, satu detik bagaikan semalam suntuk. Entah sudah berapa kali dia duduk berdiri dan berjalan mondar mandir di sekitaran ruang tunggu berukuran empat kali lima meter itu. Sementara Riena masih berada di sebelah ruangan Raditya berada. Menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan oleh penyidik dengan emosional. Bahkan sepanjang memberikan keterangan, deraian air mata tidak surut membasahi pipi mulus Riena. Berbicara mengenai peristiwa kelam itu, jelas seperti menyiram luka dengan air garam.


Akhirnya, setelah tiga jam berlalu, pemeriksaan terhadap Riena pun selesai. Mata perempuan tersebut begitu sembab dan memerah saat keluar ruangan. Raditya langsung memberikan pelukan pada istrinya itu. Tanpa sepatah kata pun, tetapi cukup untuk mewakili betapa dia paham benar dengan apa yang dibutuhkan Riena saat ini. Dukungan nyata, bukan sekedar rangkaian kata-kata penguatan yang indah dan panjang.

__ADS_1


"Ay, aku--"


__ADS_2