Penjara Luka

Penjara Luka
Part seven


__ADS_3

Raditya menoleh ke arah sumber suara. Mengetahui siapa sosok tersebut, pria itu semakin tidak berminat untuk menjawab. Sudah kemarahan dan emosinya sedang memuncak, malah bertemu dengan Rino kembali. Sungguh membuat Raditya semakin ingin mencari pelampiasan untuk melepaskan rasa yang menyesakkan dadanya itu.


"Dit, kamu baik-baik saja?" Sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Rino itu terlihat sangat ingin tahu apa yang sedang menimpa Raditya. Meski pertanyaannya tadi diabaikan, pantang menyerah dia berusaha tetap mendekati teman lamanya tersebut.


"Sama sekali bukan urusanmu ...." Raditya begitu tajam menatap Rino. Penuh selidik dan juga curiga. "Kenapa aku merasa kamu sedang membuntutiku? Dalam sehari, kita bertemu secara tiba-tiba sebanyak dua kali. Tidak ada kebetulan berturut-turut di dunia ini. Andai aku ada waktu untuk mempertanyakan hal ini lebih jauh. Sayangnya, aku sedang malas berdebat." Sesaat setelah mengucapkan hal tersebut, Raditya melangkahkan kaki meninggalkan Rino dengan angkuh. Sorot matanya jelas memendam kemarahan. Marah pada dirinya yang tidak bisa menjaga sang istri, juga marah pada entah siapa---pria yang tega menyentuh istrinya dengan sangat tidak bermoral.


"Pak Raditya, tunggu," teriak psikiater yang terus mengikuti Raditya. "Bisa kita bicara sebentar?" tambahnya.


Raditya menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Pundaknya tampak naik turun, seiring napasnya yang memburu karena berjalan terlalu cepat bercampur emosi yang membuncah.


"Saya ingin mengajak Bapak ke suatu tempat. Tapi ini sudah terlalu malam. Karena itu, jika tidak keberatan, mari ikut keruangan saya. Kita bicara di sana. Sebentar saja," harap perempuan bernama Ratih tersebut.


Raditya hanya menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi tanpa menoleh pada psikolog yang benar-benar hanya ingin membantu dirinya dan Riena keluar dari situasi sulit ini. Bukan hanya karena tugas profesinya memang demikian, tetapi pengalaman buruk tentang pemerkosaan yang dialami seseorang yang sangat penting dalam hidupnya, menggerakkan hati Ratih untuk total dalam membantu korban kejahatan serupa.


Ratih pun berjalan mendahului Raditya agar pria tersebut bisa mengikuti kemana arah yang mereka tuju. Perempuan itu menyusuri koridor yang sama arahnya dengan ruang kerja dokter forensik yang menangani Riena tadi. Ternyata, ruangan Ratih memang berada persis di sampingnya.

__ADS_1


Setelah keduanya memasuki ruang kerja Ratih, perempuan itu langsung mempersilahkan Raditya untuk duduk di depan meja kerjanya. Tanpa membuang waktu, Ratih langsung mengambil sebuah gadget berukuran layar 8inch yang ada di laci meja tersebut dan mengaktifkannya dengan cepat.


"Maaf sudah membuat Pak Raditya menunggu. Saya hanya ingin sedikit berbagi cerita. Kesedihan dan kesulitan apa pun yang kita alami, sejatinya bukan hanya kita seorang yang mengalami. Di luar sana, pastilah banyak manusia yang juga sedang berjuang untuk keluar dari berbagai permasalahan." Ratih menghentikan ucapannya karena gadged di genggamannya sudah menampilkan sebuah video yang dia inginkan. Perempuan itu kemudian memberikan benda bertekhnologi tinggi itu pada Raditya.


"Di tempat ini, separuh penghuninya adalah perempuan korban kekerasan seksual. Ada yang hamil, bahkan sampai melahirkan. Mereka terbuang dari keluarga. Masyarakat juga kerap kali memandang hina pada mereka. Padahal, aib apa yang mereka berikan? Hal buruk apa yang mereka lakukan untuk masyarakat?"


Mata Raditya begitu lekat memperhatikan gerak-gerik beberapa perempuan yang ditampilkan layar I-Pad. Ada seorang yang berbicara sendiri menatap dirinya di depan cermin, ada yang berteriak-teriak sembari berlari, beberapa memilih sendiri meringkuk di sudut ruangan, dan masih banyak lagi hal-hal tidak biasa yang tertangkap oleh indera penglihatan dan pendengaran Raditya dari video yang dilihatnya. Hatinya semakin terenyuh.


"Tidak seharusnya mereka mengalami gangguan jiwa. Pemerkosalah yang lebih pantas dipertanyakan kewarasannya, lalu ditempatkan di sebuah tempat untuk direhabilitasi jiwanya," tekan Ratih, suaranya terdengar sangat emosional saat mengatakan hal tersebut. Sebagai seorang psikiater, seharusnya dia memang lebih tenang. Tetapi pada kondisi tertentu, dia sengaja melepaskan sakitnya sendiri di depan orang lain. Bukan untuk mengiba, melainkan untuk menumbuhkan empati dan kepercayaan calon klien pada dirinya.


Ratih menghampiri Raditya dan mengambil kembali I-Padnya. "Jika menghilangkan nyawa si pemerkosa bisa memulihkan jiwa orang yang diperkosa, maka akan banyak yang melakukannya. Sakitnya jiwa, tidak bisa disembuhkan dengan dendam dan kematian. Dukungan, rasa cinta, perlindungan dan kepercayaan dari orang terdekat lah yang dibutuhkan."


Raditya bergeming. Dia tidak menjawab. Matanya terasa panas dan nanar. Pandangannya sedikit tersamarkan kabut cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. Teringat kembali kondisi Riena yang begitu lemah, hatinya benar-benar hancur. Rasa bersalahnya juga tidak kalah besar dengan kemarahannya kali ini.


"Sebelum melangkah mencari tau siapa pelakunya. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah memastikan korban benar-benar baik-baik saja. Karena pastinya, hanya dia mengenali wajah pelaku." Ratih menatap Raditya dengan tajam. Ucapannya begitu tegas dan lugas. Tidak seperti psikiater pada umumnya yang terkesan lebih lembut dalam bertutur kata dan bertindak.

__ADS_1


"Saya hanya ingin istri saya menjalani kehidupannya dengan kembali normal. Apa pun akan saya lakukan demi memulihkan dia."


"Dan sebelum bapak membantu istri bapak lepas dari traumanya. Bapak harus pastikan bisa mengendalikan perasaan dan pikiran bapak saat ini. Jika itu kemarahan, maka redakan. Jika itu kesedihan, maka jangan tunjukkan. Jangan menaruh belas kasihan, tapi tunjukkanlah kasih."


Raditya menarik napas dalam. Menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan Ratih benar adanya. Dia tidak akan pernah bisa menjadi pelindung Riena, jika dirinya sendiri lemah. Sepertinya semuanya memang tidak akan mudah, pastinya akan melelahkan jiwa raga. Namun, jika terus diam, maka keadaan tidak akan pernah berubah membaik.


"Kita sudah selesai, bukan? Terimakasih untuk masukannya pada saya. Riena tidak akan sendiri melalui ini. Keadaan Riena tidak akan pernah sama dengan perempuan-perempuan yang ada di video Anda. Riena bukan perempuan lemah. Dia hanya butuh sedikit waktu. Saya tidak akan meninggalkan Riena sekali pun dia yang meminta. Saya akan bertahan. Ini bukan tentang saya tidak bisa hidup tanpa Riena. Jelas saya bisa. Tapi saya tidak mau."


Ratih tersenyum lega. Setidaknya satu langkah maju sudah dilakukan untuk membantu seorang korban. Sikap positif Raditya, membuatnya optimis proses kedepannya akan berjalan lebih cepat. Dibutuhkan lingkungan dengan orang-orang yang berpikiran terbuka dan positif untuk membantu seseorang terlepas dari traumanya. Riena sudah memiliki itu.


Raditya meninggalkan ruangan Ratih dengan langkah yang tidak lagi gontai. Meski kemarahan dan kesedihan masih memenuhi isi kepalanya, namun Raditya berusaha menekan rasa itu dengan logika. Dia dan Riena tidak boleh lemah apalagi terpuruk disaat bersamaan.


Sementara Raditya masih berjalan menuju ruang ICU di mana Riena berada. Sesosok pria tidak dikenal, sedari tadi tampak sudah berdiri menatap pintu ruangan itu dari kejauhan. Tatapannya begitu dingin.


"Raditya," gumamnya begitu melihat Raditya sedang berjalan mendekati ruangan yang diawasinya. Pria itu lantas buru-buru menjauh dari salah satu pilar penyangga bangunan yang dijadikannya persembunyian.

__ADS_1


__ADS_2