
Perawat yang tadinya ingin membetulkan posisi kaki Riena, dengan sigap langsung membantu menopang tubuh Radit yang tidak sadarkan diri. Bidan pun tergerak melakukan hal yang sama.
"Waduh! Kok bisa begini. Istrinya yang mau lahiran, malah bapake yang pingsan." Bidan segera menarik jari telunjuknya dari jalan lahir Riena. Lalu dia melepas sarung tangannya sembari tergopoh membantu perawat yang sepertinya tidak kuat ingin menarik tubuh Raditya ke brankar kosong berjarak kurang dari dua meter dari tempat Riena berbaring.
Riena segera bangun dari posisinya. Dia seakan lupa kalau bidan baru saja membuka jalan lahir yang membuatnya tidak memakai celaana dalam. Dengan langkah tergesa dia mendekati bidan dan perawat yang sedang berusaha menyadarkan suaminya.
"Ay," panggil Riena sembari menepuk-nepuk pipi Raditya begitu dia sudah berdiri dekat dengan suaminya itu.
"Bu Riena. Bukaan jalan lahir ibu sudah menuju ke bukaan sembilan. Kita langsung ke ruang bersalin saja. Sepertinya tidak perlu induksi apa pun untuk ibu. Biar diantar suster ke sana. Tempatnya lumayan dari sini. Kalau ibu kuat, tidak mengapa jalan kaki agar bisa segera memaksimalkan pembukaan." Bidan mengatakannya dengan sangat jelas. Kemudian perempuan tersebut memerintahkan perawat untuk memanggil perawat yang lain. Karena mereka harus segera mengurus Riena.
Sayup-sayup mendengar suara penjelasan bidan, Raditya pun perlahan membuka matanya. Sakit diperut dan punggung belakangnya mulai mereda. Hanya saja, dia kini merasakan keinginan untuk buang air besar yang tidak bisa tertahan. Maka, tanpa mengindahkan keberadaan Riena, perawat dan bidan yang masih ada di sana, Raditya bergegas turun dari brankar dan dengan tergesa berkata, "tunggu sebentar, aku harus mencari toilet dulu. Tinggu di sini."
"Kita tunggu sambil jalan, Sus. Nitip pesan ke perawat yang lain saja biar suami saya menyusul ke ruang bersalin." Riena tentu merasa tidak enak kalau mereka bertahan di sana hanya untuk menunggu Raditya yang entah akan berapa lama berada di dalam toilet.
Riena bersama bidan dan perawat langsung berjalan menuju tempat yang dimaksud. Semakin lama, langkah kaki Riena semakin melambat. Dia merasakan sesuatu yang mengganjal di bagian bawah perutnya. Seakan ada benda besar yang menghalangi jalan air seninya untuk mengalir.
"Bu Riena masih kuat?" tanya Bidan.
__ADS_1
Napas Riena semakin terasa berat. Perempuan tersebut hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Sudah tinggal beberapa meter lagi mereka akan tiba di ruang persalinan. Tetapi Riena benar-benar merasa tidak kuat.
Perawat pun berlari ke ruang persalinan untuk mengambil kursi roda. Tidak lama perawat tersebut kembali dan meminta Riena duduk di sana.
"Biar saya bantu, Bu." Perawat dan bidan kompak membantu Riena naik ke atas brankar khusus melahirkan.
Tidak berapa lama, dokter kandungan Riena pun datang. Perempuan berhijab tersebut berniat turun tangan sendiri untuk memeriksa jalan lahir Riena. Namun, belum sampai jari telunjuknya masuk, dokter kandungan bernama Dokter Raisa itu dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa.
"Rambutnya dedek sudah kelihatan, Bu. Tarik napas dalam, lalu mengejan kuat-kuat. Bokongnya jangan diangkat. Mengejan semaksimal yang ibu bisa." Dokter langsung memberikan arahan pada Riena. Perawat seketika mendekatkan peralatan yang dibutuhkan saat nanti bayi sudah lahir.
Dokter kandungan terus memberikan arahan, sementara Riena berusaha melakukan arahan tersebut dengan baik. Tanpa melalui drama melahirkan yang menghebohkan, suara tangis melengking bayi pun terdengar memenuhi ruangan. Seorang dokter anak yang baru saja masuk langsung menangani bayi mungil berjenis kelamin sama seperti mamanya tersebut.
"Suara My Bee bukan, sih? Kayak bukan. Tapi bisa jadi iya. Rasa sakit mungkin membuat suaranya berubah," batin Raditya sembari nekat menekan gagang pintu arah sumber suara jeritan tersebut ke bawah.
Bola mata Raditya seketika membulat lebar. Begitu pun dengan bibirnya. Apa yang tampak di depan matanya sungguh sesuatu yang sangat dramatis. Belum menyadari apa yang dilakukannya membuat salah seorang perawat yang ada di dalam sana memasang wajah ketus, Raditya bergeming saking terpananya dengan polah seorang ibu yang tengah menjambak kuat rambut suaminya sambil terus berteriak melampiaskan kesakitan.
"Maaf, Pak, apa Anda tidak melihat ada tulisan besar di depan pintu? Lagipula, sebelum Anda ingin tau urusan orang lain, tolong urus diri Anda sendiri dulu." Si perawat mengatakannya dengan suara dan raut wajah kesal yang kentara. Sorot matanya melirik bagian resleting Raditya yang terbuka.
__ADS_1
Menyadari sudah salah kamar, Raditya pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut dengan permintaan maaf sekedarnya. Ia kembali mencari keberadaan Riena. Dalam benak Raditya, Ia tengah membayangkan kejadian yang baru saja dilihat juga akan segera dia nikmati. Bukannya takut, Radit sangat bersemangat dan tidak sabar mendapatkan jambakan dari sang istri. Rasa mulas, nyeri, sakit pinggang, pinggul hingga punggung yang sedari tadi, kini sudah menghilang.
"Akhirnya bapak datang juga. Istri Anda su--,"
Perawat yang sebelumnya memang berniat mencari keberadaan Raditya, terlihat menarik napas lega. Namun, dia tidak melanjutkan ucapannya karena Radit dengan tidak sabar membuka daun pintu ruangan Riena yang berada tepat di balik punggungnya.
"Bee, jambak aku saja. Jangan ditahan sakitnya. Kamu boleh ngumpat, teriak, ngomel-ngomel. Nih cakar, sini kalau perlu. Aku siap." Tanpa melihat sekeliling, Raditya langsung menghampiri sang istri yang tengah berbaring santai sembari memijat satu-satunya sumber kehidupan Baby R.
Raditya menyingsingkan kain yang menutupi lengannya. Lagi-lagi dia berkata, "Nih, cakar di sini. Kalau perlu yang dalam dan membekas. Biar ada kenang-kenangan luka. Nanti aku bisa bangga bercerita sama anak kita kalau Ayahnya juga ikut berjuang menyambut kelahirannya di dunia."
Riena langsung mencubit lengan tersebut dengan gemas. "Ay, kamu ini apa'an, sih?"
Raditya tersenyum senang. Mengira cubitan barusan adalah pelampiasan kesakitan pembukaan dari sang istri. Pria tersebut semakin percaya diri manakala dokter kandungan dan satu perawat yang masih ada di sana memandanginya dari atas hingga berhenti ke tengah. Salah satu dari ketiga perempuan tersebut berpikiran sedikit liar karenanya. Mengingat apa yang ada dibalik celana dengan resleting terbuka itu menonjol dengan ukuran di atas normal.
"Astagfirullah, Ay!" seru Riena sembari menepuk lengan Raditya agak keras. Tentu saja dia ikut malu akan kelakuan suaminya itu.
"Apa? Kenapa? Sakit? Dok ini istri saya sepertinya sudah mau melahirkan. Tolong dibantu. Kenapa kalian malah diam saja? Kenapa saya yang dilihatin? Nanti saja kalau mengagumi ketampanan saya." Raditya panik setengah kebingungan dengan reaksi tim penolong istrinya. Hingga bola matanya mengikuti arah tatapan mata si perawat. Dia pun langsung berbalik badan menarik ke atas resletingnya yang kelupaan dia tutup karena tadi terlalu terburu-buru.
__ADS_1
"Silahkan distimulasi pemberian ASInya, Bu. Biar ananda bisa mengenal dan mencari putting Ibu." Dokter Anak membawa kembali bayi cantik Riena setelah membersihkan dan memberikan pakaian pada bayi tersebut.
Mulut Raditya menganga lebar. Dia melihat perut Riena yang belum mengempis sempurna. Hanya menyusut sedikit di mata Raditya. "Jadi anak saya kembar? Yang satu belum keluar?"