Penjara Luka

Penjara Luka
Bonchap 1


__ADS_3

Setelah beberapa waktu disibukkan dengan menuntaskan permintaan maaf dan juga menghadiri pengadilan Reyhan sebagai saksi, Riena dan Raditya kini bisa bernafas lega karena satu per satu urusan mereka selesai juga. Vonis maksimal yang dijatuhkan hakim pada Reyhan, sedikit banyak turut menambah kelegaan yang dirasakan.


Sebagai puncak atas rasa syukur Raditya dan Riena atas apa yang sudah berlaku dalam diri mereka, keduanya memutuskan untuk menjalankan ibadah umroh ke tanah suci berdua. Kerinduan akan jiwa yang tenang dan damai, membuat Riena mengambil langkah terbaik dengan semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemilik. Segala upaya penyembuhan trauma secara medis dan psikologi sudah ia tempuh, maka sudah semestinya kepada Allah-lah Riena dan Raditya menyempurnakan usaha mereka untuk memulihkan keadaan.


"Bee, andai aku benar-benar mundur dari pekerjaanku, apa kamu akan keberatan? Aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Mungkin terlalu dini bagi kita untuk membicarakan berhenti berkarya, tapi setelah semua yang kita alami, tidak berlebihan kalau kita berpikir demikian." Raditya menggenggam kedua tangan Riena dan menatap lekat dua bola mata kecoklatan sang istri penuh cinta.


"Aku bisa belajar menjadi petani, peternak atau apa pun usaha yang tidak mengharuskanku pergi ke sana kemari dan harus meninggalkanmu meski cuman sesaat. Kita bisa hidup dalam kesederhanaan," tambah Raditya.


"Aku tidak keberatan sama sekali. Aku juga ingin menepi. Pastikan saja pengganti posisimu adalah orang yang amanah dan jujur. Bagaimanapun ini bukan hanya tentang kita, ada karyawan dan keluarga mereka yang ikut pertaruhan," timpal Riena seraya mengurai genggaman tangan Raditya. Perempuan yang belum mengalami kenaikan berat badan berarti meskipun sedang hamil itu, lalu berdiri mencari baju ganti yang akan dikenakannya untuk tidur.


"Jangan mengkhawatirkan tentang mereka. Tentu Aku sudah memikirkan masalah itu. Percayakan saja padaku. Yang penting kamu setuju kalau kita hidup sederhana di tempat baru. Aku tidak janji, tapi aku usahakan rumah yang akan kita tempati selesai sebelum kamu melahirkan." Raditya berdiri, berjalan mendekati Riena yang tengah bingung memilih pakaian di depan almari. Tanpa ragu, Raditya memeluk Riena dari belakang.


"Tidak pakai baju saja, pasti lebih enak," bisik Raditya, sedikit nakal sembari menyusupkan tangannya ke dalam baju atasan yang dikenakan Riena.


Seakan ada dorongan hasrat yang selama ini tertahan, reaksi mengejutkan diberikan oleh Riena. Tangan perempuan itu dengan santai menuntun tangan Raditya sampai di bagian dadanya yang kenyal dan mulai bertambah ukuran karena kehamilan.

__ADS_1


"Lakukan lebih, Ay. Kali ini aku tidak hanya siap, tapi aku juga ingin. Biarkan tubuhku kembali merasakan setiap sentuhanmu tanpa keraguan atau ketakutan lagi. Aku akan menikmatinya," lirih Riena dengan suara yang sudah bercampur dessah karena jemari Raditya mulai bergerak lincah menyusuri daerah sensitif di bawah perut.


Mendapat lampu hijau dari sang istri, Raditya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Sesuatu dalam dirinya yang sudah berubah ukuran semakin mengeras sempurna. Ia sengaja menempelkan bagian tersebut tepat di bokong Riena dan melakukan sedikit gerakan meliukkan pinggul sebagai signal ia pun sudah sangat siap melakukan aktivitas panas bertukar peluh dan lenguuh.


Kamar hotel tempat mereka bermalam sebelum keesokan pagi kembali ke tanah air terasa menghangat karena aktivitas sepasang sejoli halal yang sedang meluapkan kerinduan, cinta dan birahii yang menyatu sempurna. Raditya dan Riena menyatukan tubuh mereka tanpa jarak dengan lembut.


Sejak malam itu, kehidupan Riena dan Raditya mulai mendekati kata normal. Trauma Riena perlahan tersamarkan karena gencaran perlakuan lembut yang diberikan oleh Raditya. Tidak hanya masalah sentuhan, dari perlakuan dan perkataan Raditya pun semakin hari semakin meratukan Riena dalam keseharian.


Sampai usia kehamilan menginjak sembilan bulan, tidak ada hal yang membuat Riena kesulitan. Dia menikmati kehamilan tanpa ada rasa mual atau pun ngidam yang aneh-aneh. Segala keluhannya ibu hamil, dirasakan oleh Raditya dengan sabar walau pun kadang muncul sedikit keluhannya dari bibir bapak hamil tersebut.


"Nggak tentu, Ay. Tergantung kondisi masing-masing. ada yang kurang, ada yang lebihnya cuman tujuh hari, ada yang sampai sebulanan," timpal Riena sembari menurunkan tangan Raditya yang bukannya mengusap perut, tetapi malah memainkan pucuk dada Riena tanpa beban.


"Lama, ya? Apa Aku bakalan nggak doyan sama masakan Jepang, terus? Atau cuman pas kamu hamil saja?" Raditya kembali menaikkan tangannya ke posisi semula. Akhir-akhir ini memilin puncak dada Riena adalah pengantar tidur paling ampuh baginya.


"Kenapa tanya aku, Ay. Lihat saja nanti setelah lahiran." Riena mulai mengeliat karena tangan kanan dan kiri Raditya semakin bergerak aktif di dadanya.

__ADS_1


"Buka jalan lahir lagi, yuk! Biar gampang lahirannya. Kita kan kudu nurut kata dokter. Siapa tau, lahirannya lebih cepat dari perkiraan."


Riena yang sedari tadi dalam posisi tidur miring dengan posisi memunggungi sang suami, seketika mengubah posisi tidurnya. "Kalau pun dokter nggak nyuruh, sudah dasarnya kalau kamu tuh memang doyan, Ay. Jangankan tiap hari, tiap jam pun kalau bisa kamu maunya nusuk maju mundur terus. Pegel sudah ini pinggul. Coba perutmu sebesar ini, napas engap kalau kudu bales seranganmu terus-terusan."


Raditya terkekeh mendengar omelan Riena. "Engap-engap akhirnya juga kamu duluan yang basah. Mana suaranya yang paling kenceng. Kalau nolak itu yang total, jangan setengah-setengah. Malah bikin Aku nggak tega lihat kamu kepanasan begini. Sudah, bajunya dilepas saja. Ibu hamil memang gampang gerah."


Riena mencebik kesal, tetapi juga tidak protes ketika tangan Raditya mulai menarik ke bawah resleting daster yang dikenakannya. Penyatuan tubuh pun dilakukan dengan lembut. Menuju puncak kenikmatan, tiba-tiba Raditya mengeluarkan Si Raju dari celah sempit menjepitnya dan beranjak turun dari ranjang, berlari menuju kamar mandi.


"Ini kenapa panggilan alam tidak tau diri kebangetan," umpat Radit sembari duduk di closet duduk.


Riena memunguti bajunya yang berserak di sisi bawah kasur, lalu dia mengenakannya kembali. Dia terlihat mengusap perutnya yang terasa kencang dan kaku.


Sampai lima menit berlalu, usaha Raditya untuk mengeluarkan sesuatu yang membuat perutnya terasa melilit dan diremas-remas tidak membuahkan hasil. Pinggul belakangnya juga terasa seperti ditusuk-tusuk.


"Bee, perutku sakit banget, tolong ambilkan air putih," pinta Radit sambil berjalan tertatih sambil memegangi perut dan pinggul belakang secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2