
"Tidak, Pa. Kita tidak akan pergi ke mana-mana. Sejauh apa pun kita melangkah, ketenangan tidak akan kita dapatkan selama hati dan pikiran kita masih terikat pada masalah ini. Pergi hanya menunda sejenak apa yang seharusnya kita selesaikan. Rien lelah berlari. Sudah saatnya Rien kembali."
Jawaban Riena membuat Retno dan Rosyani menarik napas lega sembari saling bertukar pandang. Kedua ibu tersebut kompak mengucap syukur dalam hati. Perlahan Tuhan sedang menunjukkan campur tanganNya. Kekuatan doa memang tidak membuat masalah selesai seketika. Namun, dengan doa keangkuhan manusia perlahan sirna. Doa menjauhkan seseorang dari sifat keakuannya. Di mana seseorang yang tekun dalam doanya, tidak akan mengakui keberhasilan karena kehebatannya semata.
"Kamu mau balik ke Jakarta, Rien?" tanya Rinto yang sepertinya belum rela melepas kembali putri tunggalnya.
Riena menggeleng sembari mengulas sebuah senyuman yang begitu lembut. Dia menatap satu per satu sosok yang berada di sana. "Rien tetap di sini. Rien akan kembali beberapa hari lagi. Rien siap menjadi saksi di persidangan nanti."
"Kamu yakin?" Rosyani menggenggam jemari Riena semakin erat.
"Rien yakin, Ma. Tidak ada awal tanpa akhir. Kesedihan, luka dan duka pasti ada ujungnya, bukan? Sudah, tidak perlu mama jawab. Rien istirahat dulu," pamit Riena, buru-buru.
"Boleh Mama temani kamu sebentar, Rien?" tanya Retno dengan tiba-tiba. Tentu saja menemani yang dia maksudkan sebenarnya adalah ingin berbicara empat mata dengan menantunya itu. Beberapa hari berada satu atap, belum sekali pun mereka berbincang akrab seperti dulu.
"Boleh, Ma."
__ADS_1
Riena dan Retno berpegangan tangan menapaki anak tangga menuju lantai atas. Meninggalkan Rosyani, Rama dan Rinto yang sepertinya juga ingin membahas banyak hal lagi tentang masa depan hubungan Riena dan Raditya. Terutama tentang kondisi Riena yang tengah hamil. Karena hal itulah yang sampai saat ini masih menjadi dilema tersendiri. Berbeda pendapat dengan besan dan istrinya, Rinto lebih cenderung menyetujui niat Riena yang dominan ingin menggugurkan kandungannya.
"Kira-kira, masih ada berapa orang lagi yang menaruh dendam pada Radit, Ram?" tanya Rinto begitu mereka sudah kembali menduduki sofa empuk di ruangan tersebut.
"Saya tidak tau, Mas. Yang bisa menjawab pertanyaan Mas Rinto dengan pasti hanyalah Radit sendiri. Tapi saya rasa tidak semua orang yang pernah ada di masa lalu Radit berniat menuntut dendam. Kalau kita mau jujur, apa bedanya masa lalu kita dengan Radit. Bedanya hanya satu. Dulu sampai sekarang Allah menutup aib kita rapat-rapat."
Meski tidak secara langsung, jelas ucapan Rama tersebut seakan ingin mengingatkan kenakalan Rinto dan Rama yang memang tidak jauh berbeda dengan Raditya.
"Senakal-nakalnya kita, tentu kita tidak mengharapkan anak-anak kita mendapatkan orang yang brengssek, bukan?" sindir Rinto, mencari pembenaran akan sikap yang dipilihnya.
"Tentu saja benar. Saya sependapat dengan Mas Rinto. Jika posisi kita dibalik, saya pun akan mengambil sikap yang sama. Radit memang brengssek. Mungkin Radit memang tidak pantas untuk Riena yang tentu bagi Mas Rinto sangat sempurna. Saya minta maaf, karena saya menurunkan kebrengssekan saya pada Radit. Saya tidak seberuntung Mas Rinto yang berhasil mendidik anak menjadi seorang perempuan yang benar-benar baik." Rama menarik napas dalam. Sengaja menghentikan ucapannya sejenak untuk memperhatikan reaksi dan ekspresi Rinto.
Rosyani tidak tahu harus berkata apa mendengar ucapan Rama barusan. Sedari tadi perempuan tersebut memang hanya menyimak. Dua orang dewasa, bahkan bisa dikatakan matang usia, jika sudah berbicara tentang anak tentu akan memberikan pembelaan tersendiri. Masing-masing jelas tidak akan membiarkan anak kesayangan mereka sakit hati.
"Pa ... Mas Rama, maaf saya sedikit menyela. Sebenarnya tidak ada gunanya kita membahas masalah ini lagi. Sebagai manusia biasa, kita jelas tidak diciptakan untuk menjadi hamba yang sempurna layaknya malaikat. Ada kalanya kita ini bertindak seperti iblis atau setan yang merugikan dan menyakiti hati orang lain. Berhenti membahas masa lalu. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Cukup kita sadari itu. Kalau bisa, kita yang tua ini jangan malah mundur ke belakang. Yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa diulang kembali untuk diperbaiki. Lebih baik kita fokus ke depan," tutur Rosyani. Tegas dan lugas tanpa maksud menggurui.
__ADS_1
Rama dan Rinto hanya terdiam. Keduanya tidak lagi beradu pendapat. Apa yang dikatakan Rosyani memang benar adanya. Terlalu fokus merutuki masa lalu, kadang membuat manusia lupa bahwa masa depan lebih baik itu hanya akan digapai jika kita fokus melangkah ke depan. Terlalu sering menoleh ke belakang, bisa jadi kita malah akan terperosok ke dalam lubang penyesalan.
Di tempat yang terpisah, tetapi masih dalam satu atap. Riena dan Retno berbincang tidak kalah seriusnya dengan ketiga orang di lantai satu.
"Rien, boleh Mama memberikan pendapat sedikit?" tanya Retno sembari mengusap lembut rambut Riena yang kini berbaring menggunakan pangkuannya sebagai bantal.
Setelah merasakan kepala Riena mengangguk pelan, Retno pun kembali berkata, "besok kita cek kandungan, ya? Supaya kita tau bagaimana kondisi dan berapa usia janinmu sekarang. Semoga kita bisa berhitung dan ada sedikit kejelasan dari sana. Mari kita membuat masalah ini jadi lebih sederhana, Rien."
Riena memilih untuk tidak menimpali pernyataan tersebut. Bibirnya terkunci rapat karena hatinya masih sangat gamang. Ada kalanya dia menerima kondisi kehamilannya tanpa mempermasalahkan benih siapakah yang berkembang di dalam rahimnya sekarang. Namun, ada saatnya pula logika berpikirnya mendorong agar dia menyudahi saja kehamilannya dengan berbagai cara yang malah berujung menyakiti fisiknya sendiri.
"Rien, sekarang tes DNA bisa dilakukan sejak janin masih berada di dalam kandungan. Kalaulah anak itu memang anak dari manusia laknat itu, Mama tidak keberatan kamu menggugurkannya. Selama janin itu belum bernyawa, seorang korban kekerasan pemerkosaan memang berhak melakukan aborsi. Hanya saja, pastikan dulu semuanya daripada menyesal kemudian."
Lagi-lagi Riena hanya terdiam. Sampai detik ini, dia seakan mati rasa. Jiwa keibuannya tidak tergerak sedikit pun untuk memperlakukan janinnya dengan baik. Dia memang pernah beberapa kali mengusap perutnya sembari mengucap sesuatu. Namun, sesuatu yang terucap tersebut tentu bukanlah hal-hal yang baik. Lebih pada keluhan dan juga kekesalan.
****
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, tepatnya menjelang tengah malam, Reno sampai juga di rumah sakit tempat di mana jenazah Rino disemayamkan. Untuk kali kedua, dia ditinggalkan oleh seseorang yang hampir sembilan bulan berada di dalam rahim yang sama dengannya. Sebesar apa pun kebencian dan pertikaian yang akhir-akhir ini terjadi, luluh sudah kekecewaan serta kekesalan di hati Reno. Begitu dia berhadapan langsung dengan tubuh Rino yang terbujur kaku di atas brankar, tulang-tulang yang menopang tubuhnya mendadak melemah tidak berdaya. Teringat bagaimana mereka pernah bahagia dalam ikatan persaudaraan yang sangat hangat.
"Aku turut berduka cita, Ren." Suara seseorang yang sangat familiar di telinga Reno, menjeda kilasan kenangan yang sedang dilamunkan pria tersebut.