Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty six


__ADS_3

Raditya langsung menjawab dengan tenang. "Tidak perlu. Biarlah setiap perbuatan jahat, menemukan karmanya sendiri. Aku tidak mau mengotori tanganku untuk memupuk dendam. Sebaiknya aku fokus memulihkan hubunganku dengan Riena. Itu yang lebih penting."


"Ya sudah kalau begitu. Papa sama mama berangkat dulu. Segeralah menyusul." Seseorang tadi yang tidak lain adalah Rama, menepuk pundak Raditya sebagai bentuk memberikan kekuatan sekaligus dukungan. Sesaat dari itu, pria tersebut langsung meninggalkan ruangan. Menyusul sang istri yang sudah menanti di lobby gedung perkantoran untuk langsung menuju bandara.


Sepeninggalan Rama, rasa mual yang tadinya sudah menghilang tertutup dengan berbagai hal yang harus dipikirkan kembali muncul. Memaksa Raditya berlari menuju toilet yang ada di dalam ruangannya. Sepertinya, dia harus banyak berpikir, bergerak dan bekerja agar rasa mual tidak menghampiri.


Di kediaman Ratih, perempuan itu sedang sibuk berbicara dengan Rosyani melalui sambungan telepon. Menanyakan dan memastikan kondisi Riena pasca dunia maya dihebohkan dengan foto dan berita pemerkosaan sahabatnya itu.


"Syukurlah, Bu. Saya usahakan akhir pekan ini untuk datang ke sana. Semoga kondisi Riena semakin membaik. Saya yakin, perlahan Riena sudah menerima semuanya." Tidak lama setelah mengucapkan hal tersebut, sambungan telepon pun di putus. Bersamaan dengan itu, tampak Reno datang dengan wajah yang menunjukkan kemarahan berlipat-lipat yang sebelumnya pernah dilihat oleh Ratih.


Meski melewati Ratih, Reno tidak menyapa istrinya itu. Pria tersebut terus berjalan menuju kamar. Dia mengambil beberapa helai baju dan memasukkan ke dalam koper.


Ratih yang sedari tadi terus mengikuti Reno, semakin bingung dibuatnya. Namun, untuk bertanya pada sang suami, dia juga tidak kuasa. Perdebatan sebelumnya masih membekas dan membuat Ratih enggan untuk membahas hal baru. Ditambah lagi, dia sangat mengenal karakter Reno---kalau sudah marah, suaminya itu tidak bisa diajak bicara baik-baik.


"Siapkan semua barang-barangku. Dua atau tiga hari lagi, akan ada orang yang mengambil kemari. Mulai detik ini, kita bukan lagi suami istri. Surat resmi perceraian kita, biar aku yang urus."


Ratih mengerutkan kening hingga kedua ujung alisnya menyatu sempurna. Terlalu heran dengan pernyataan Reno yang seakan menganggap perceraian adalah sebuah candaan. Dalam keyakinan yang mereka anut, perceraian adalah hal yang tidak diperbolehkan. Apa yang sudah disatukan dalam nama Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia.

__ADS_1


"Aku serius dengan ucapanku. Kita tidak bisa meneruskan pernikahan kita," tegas Reno. Menyadarkan Ratih jika suaminya sedang tidak main-main.


"Apa salahku, Mas? Kenapa tiba-tiba?" tanya Ratih. Tentu saja dia tidak Terima dengan keputusan sepihak Reno.


"Kamu tidak salah. Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan. Kalau kamu mau tau apa alasanku, cukup lihat mataku. Apa ada cinta di sini?" Reno menunjuk matanya sendiri.


Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. Dia membalas sorot tajam bola mata Reno dengan tatapan berkaca-kaca. "Kamu sedang marah, Mas. Jangan mengambil keputusan disaat marah. Kamu ada masalah apa? Ayo kita bicarakan berdua. Jika ada yang salah, kita perbaiki bersama. Kita tidak bisa bercerai, Mas. Jangan mengingkari janjimu kepada Tuhan." Suara Ratih terbata dan sedikit bergetar menahan tangis saat mengatakannya.


"Menikahimu adalah sebuah kesalahan. Dan aku menyadari itu. Salahmu jelas, karena kamu adalah sahabat Riena."


"Karena Riena adalah istri Radit. Dan Radit adalah orang yang membuat saudara kembarku harus mengakhiri hidupnya. Riena tidak pantas untuk Radit. Dia terlalu baik dan sempurna." Reno mengibaskan tangan Ratih dengan kasar.


Ratih terkesiap. Selama ini tidak banyak yang dia ketahui tentang Reno, apalagi tentang latar belakang sang suami. Rasa cintaannya pada pria tersebut membuat kemampuannya menilai dan memahami karakter orang menjadi hilang seketika.


"Mas, jangan bilang kalau apa yang menimpa Riena ada hubungannya sama kamu? Apa benar seperti itu?" Ratih melemparkan tatapan tajam tetapi berkabut bulir bening pada suaminya.


"Ya, tentu saja ada. Kamu melihat kejadian hari ini di sosial media, bukan? Itu ulah Rino. Dan gara-gara Rino juga rencanaku untuk mendekati Riena hancur. Aku sudah mengawasi kehidupan Raditya dan Riena bertahun-tahun. Aku menunggu perpisahan mereka sejak lama. Riena bukan hanya sekedar targetku untuk menghancurkan Radit, tapi aku juga berharap benar-benar bisa memilikinya." Reno menjawab sinis seakan tidak ada beban dan tidak menghargai perasaan istrinya sama sekali.

__ADS_1


Ratih berdiri bergeming. Dia tidak kuasa lagi bertanya atau mengejar Reno yang kini sudah melangkahkan kaki dengan mantap sembari menyeret koper menjauhi dirinya. Perempuan tersebut hanya berkata lirih pada dirinya sendiri untuk menegarkan diri dengan menyebut nama Tuhan berkali-kali. Sesak di dadanya begitu menghimpit hingga membuat napasnya tersengal. Pernikahan sejatinya dilakukan atas dasar cinta menuju keberkahan Tuhan. Nyatanya pernikahan bagi Reno hanya dijadikan bagian dari permainan. Yang lebih sakit lagi, Reno malah gamblang mengatakan menginginkan sahabatnya sendiri.


Kembali di dalam sel tahanan, Reyhan dan Rino kompak membaca selembar tulisan tangan kiriman dari Ramona yang dititipkan melalui petugas polisi jaga. Perempuan tersebut hanya menyampaikan bahwa setiap perbuatan memang sudah sepatutnya memiliki akibat bagi pelakunya.


Reyhan meremaas kertas di tangannya lalu melemparkannya sembarangan. Hancur sudah hidupnya. Benar-benar hancur. Kini, Reva pun sudah kembali pada pelukan Ramona dan entah bakal dibawa pergi menjauh kemana oleh perempuan yang membuatnya berani bertindak senekat ini. Menyesal? Tentu sudah terlambat. Kanvas putih yang sudah terlanjur digores sebuah garis, tidak akan mungkin kembali polos seperti semula. Kita hanya bisa mengubah garis itu menjadi bentuk lain.


Berbeda dengan Reyhan yang kondisinya semakin tampak tertekan, Rino justru mengukir garis senyuman yang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi hari ini atau nanti. Tujuan hidupnya sudah dianggap usai.


***


Beberapa hari berlalu sejak kejadian yang menghebohkan sekaligus mengubah arah hidup orang-orang yang terlibat di dalamnya, Riena masih memilih menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di dalam kamar. Merenungi gaduh di pikirannya yang dilintasi bisik-bisik suara bersahutan menyerukan pemikiran-pemikiran yang saling beradu. Ada yang menguatkan, tetapi ada pula yang malah melemahkan. Surat panggilan dari pihak kepolisian yang mengundangnya sebagai saksi, belum sanggup dipenuhi oleh Riena.


"Pa, Raditya nunggu apa sebenarnya? Kenapa tidak datang kesini sampai sekarang?" Retno berbisik pelan pada Rama yang tengah duduk santai di sampingnya. Keduanya sudah berada di rumah Riena di hari yang sama dengan beredarnya berita pemerkosaan menantu kesayangannya.


"Masih ada hal yang harus dia selesaikan. Sudahlah, kamu bersabar saja," timpal Rama.


"Bagaimana bisa bersabar, Pa? Papa dengar sendiri ucapan Mas Rinto kemarin malam, Kan?"

__ADS_1


__ADS_2