Penjara Luka

Penjara Luka
Twenty one


__ADS_3

Sungguh Riena tidak habis pikir. Dia hanya bertanya di mana dan bagaimana bisa Reno menemukan tas miliknya. Tetapi jawaban yang diberikan Reno sungguh di luar dari itu. Pria tersebut malah membalas dengan menawarkan video dan foto yang katanya bisa membuat Riena menemukan jawaban dari sana.


"Tidak! Tidak mungkin!" Riena melemparkan telepon genggamnya ke atas ranjang. Pikirannya kembali terdorong pada peristiwa malam kelam yang sudah dengan susah payah dilupakan. Terbesit rasa khawatir dan juga ketakutan tersendiri. Manakala Riena menduga bahwa video dan foto yang dimaksud Reno adalah berisi tentang pemerkosaan malam itu.


"Aku harus memastikan. Jika dugaanku benar, dia harus menghapusnya." Riena memberanikan diri kembali mengambil ponselnya. Dia pun membalas pesan Reno dengan menyampaikan kesediaannya menerima video atau foto yang dimaksud.


Pesan balasan Riena langsung terbaca. Sepertinya Reno memang sedang menunggu jawabannya. Hanya berselang beberapa detik kemudian, sebuah video pun dikirim oleh Reno. Setelah terunduh sepenuhnya, dengan mengecilkan volume hingga tanpa suara, Riena memutar video tersebut.


Meskipun tangan Riena gemetaran disertai keringat dingin keluar dari beberapa anggota tubuhnya---akibat rasa cemas dan keberanian yang dipaksakan, tarikan napas lega juga tampak terlihat jelas ketika tampilan gerak audio visual di layar ponselnya berakhir. Video berdurasi kurang dari tiga menit tersebut ternyata hanya berisi perjalanan Reno yang sedang mengabadikan moment jalan-jalan menikmati sunrise hingga menemukan tas Riena yang tergeletak tidak jauh dari tempat terjadinya kejadian laknat itu.


"Syukurlah," lirih Riena sembari menghapus semua riwayat pesannya dengan Reno. Perempuan itu lalu beralih membuka email yang dikirim oleh Raditya untuk melakukan apa yang menjadi permintaan suaminya tersebut.


Tanpa diketahui oleh Riena, aktifitas penggunaan media sosial dan beberapa aplikasi komunikasinya kini sudah terhubung dengan ponsel milik Raditya. Kecewa, kesal, dan amarah begitu kerasnya ditahan oleh pria tersebut. Apa pun alasan Riena, Raditya masihlah manusia biasa yang mempunyai batasan dalam menerima tindakan yang baginya sudah melanggar komitmen mereka.


Berbohong saja cukup membuat Raditya ingin murka, apalagi mengetahui siapa yang membuat Riena senekat ini bermain belakang dari dirinya. Andai saja dia tidak mengingat kondisi sang istri dengan segala latar belakang yang membuat Riena bertindak demikian, jelas Raditya tidak segan membahas masalah ini saat itu juga.


"Tetap tenang, Dit. Jangan biarkan emosi membuat logika dan pikiranmu gelap. Keadaan tidak akan membaik hanya dengan dirimu bersikap emosional." Raditya berbicara pada dirinya sendiri. Seakan ingin meredam gejolak berbagai rasa yang gaduh dalam otaknya.

__ADS_1


Bisa saja dia langsung menghubungi Reno dan mengajak pria tersebut berhadapan empat mata dengan dirinya. Tetapi Raditya masih bisa menahan diri. Seseorang yang licik seperti Reno, harus dihadapi dengan hati-hati dan strategi yang matang. Apalagi Reina kini sudah dilibatkan, jelas dia harus tahu dulu apa rencana Reno sebenarnya. Ia semakin yakin, ada campur tangan saudara kembar dari perempuan yang pernah menjadi partner gilanya itu dalam kejadian laknat yang menimpa Riena.


"Rino, aku juga harus mengawasi dia. Bisa jadi, dia pelakunya," batin Raditya sembari meraup wajahnya dengan kasar. Semakin buyar sudah konsentrasinya pada pekerjaan. Sepertinya, untuk sementara waktu dia memang harus mengundurkan diri dari posisi direktur utama di perusahaannya sendiri. Dengan begitu, Raditya akan lebih fokus mendampingi Riena. Dan perusahaan pun akan tetap berjalan dengan semestinya.


Raditya benar-benar memacu otaknya untuk berpikir keras dan cepat. Sebagian saham miliknya sudah berpindah nama menjadi milik Riena. Itu artinya, pengunduran dirinya maupun penunjukan direktur utama baru tentu harus sepengetahuan para pemegang saham. Bagaikan sudah berdiri di tepian jurang---masih dikejar sekumpulan harimau. Maju mati, mundur pun binasa. Seperti itulah yang dirasakan Raditya saat ini.


Setelah pesan video dari Reno hanya dibaca oleh Riena, Reno terus mengirimkan beberapa pesan. Tangan Raditya tentu saja sudah tidak tahan ingin menjawab dengan caci maki atau tantangan untuk bersikap layaknya pria dewasa. Lagi-lagi, Raditya harus menekan marahnya untuk menjaga perasaan Riena. Untuk kesetiaan dan rasa cinta sang istri, Raditya tidak meragukan sedikit pun. Yang ia khawatirkan saat ini tentu lebih pada tipu muslihat dan kelicikan Reno yang sangat mungkin memanfaatkan kondisi Riena.


"Ay, aku sudah periksa semua. Tidak ada masalah secara finansial. Mungkin cocokkan lagi dengan data yang dimiliki divisi keuangan. Hanya saja, kenapa beberapa program kerja mereka malah kamu hold? Padahal kan bagus, Ay? Tinggal kamu yang melakukan pendekatan personal. Susah loh masuk ke Real Enterprises. Kamu gak sayang?"


Kemunculan Riena seketika membuyarkan lamunan Raditya. Jangankan menjawab, apa yang diucapkan istrinya saja dia tidak sepenuhnya mendengar.


"Enggak ada. Aku cuman capek." Tidak seperti sebelumnya. Raditya bicara sedikit datar. Ekspresi mau pun suaranya menandakan pria tersebut memang sedang bersusah payah menahan diri.


"Mau aku pijit?" Riena berjalan mendekat, memposisikan diri di belakang kursi kerja sang suami.


"Enggak usah, Bee," tolak Raditya sembari berdiri. Pria tersebut berjalan mendekati lemari pendingin, lalu mengambil sebotol air mineral kecil dan langsung meneguknya hingga tandas.

__ADS_1


Riena hafal betul dengan sikap dan tindakan Raditya. Jika sudah seperti itu, tentu ada sesuatu yang membuat suaminya tersebut tidak enak hati. Dan biasanya, dia yang akan berusaha membuat mood Raditya kembali membaik dengan segala keceriaan, celotehan atau sentuhannya yang menggoda.


"Ay, mau nemenin aku jalan-jalan tidak? Jalan-jalan, yuk! Ke taman yang biasanya. Mumpung belum malam dan masih jam kerja, pasti sepi," ajak Riena. Meski sebenarnya dia masih enggan untuk keluar rumah, tetapi tidak ada salahnya kali ini dia mencoba. Raditya sudah berbuat banyak untuknya.


"Aku sedang malas, Bee." Raditya masih menjawab dengan datar. Dia butuh waktu untuk kembali bersikap biasa saja setelah mengetahui Riena menghubungi orang lain secara sembunyi-sembunyi. Ditambah lagi orang tersebut adalah Reno. Tentu waktu yang dia butuhkan lebih lama dari biasanya.


"Ayolah, Ay. Sebentar saja. Kalau males macet. Kita naik motor saja, yuk! Keliling keluar perumahan sebentar. Trs beli mie ayam di tempat biasa. Yuk, Ay!" Riena masih bersemangat merayu suaminya. Ia sama sekali tidak merasa jika dirinyalah sumber dari perubahan mood Raditya kali ini.


Raditya menarik napas sedikit berat. "Aku ke kamar mandi sebentar."


Riena mengangguk sembari tersenyum. "Aku ambil jaket buat kita berdua dulu," ucapnya sambil berlalu meninggalkan ruangan.


Raditya kembali duduk di kursi putarnya. Kedua tangannya menumpu kepala di atas meja. Sesak dadanya. Ingin rasanya berteriak melepaskan kata-kata yang mungkin bisa meredam kan gemuruh amarah. Kondisi Riena saat ini, memaksa Raditya untuk benar-benar lebih bersabar.


"Ya Allah, kuatkan aku. Panjangkan sabarku. Entah sampai kapan kami harus seperti ini? Bohong kalau aku mengatakan tidak lelah," doa Raditya dalam hati. Lalu dia kembali beranjak berdiri. Berniat menyusul Riena yang katanya ingin mengambil jaket. Belum sampai menapaki anak tangga pertama, Riena tampak sudah keluar dari kamar mereka.


Di saat bersamaan, Resti masuk menghampiri Raditya. "Pak, di luar ada tamu mencari ibu."

__ADS_1


"Siapa lagi?" Raditya segera melangkahkan kakinya ke arah luar. Sejauh ini, bisa dihitung jari teman yang tahu alamat mereka. Kalau pun Reno datang begitu mudah, tentu karena kartu Identitas Riena yang ditemukannya.


"Surprise!" Sambut seseorang begitu Raditya membuka pintu utamanya.


__ADS_2