Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty five


__ADS_3

Di ruang tamu, Reno yang datang sendirian tanpa sepengetahuan Ratih menyambut kemunculan Riena dengan senyuman mempesona yang sengaja dilemparkan. Untuk segala informasi tentang masa lalu Raditya yang diberikan, baik Reno maupun Riena sepakat agar masalah ini tidak diketahui oleh Ratih. Dengan pertimbangan yang berbeda, tentu kesepakatan tersebut menjadi keberuntungan tersendiri bagi Reno.


"Rien, yakin kita bicara di sini?" tanya Reno sesaat setelah Riena memintanya untuk duduk.


Riena tidak langsung menjawab. Seharusnya mereka memang tidak bertemu di rumahnya. Hal ini pasti mengundang tanya bagi Rosyani dan Rinto. Namun, untuk pergi berdua saja dengan Reno, tentu bukanlah hal yang mudah dan lumrah bagi Riena. Meski hubungannya dengan Raditya sedang tidak baik-baik saja, dia sendiri juga masih trauma.


"Di mana pun kita bicara, Aku tidak masalah. Yang penting kamu nyaman, Rien," ucap Reno, seakan tahu isi kepala Riena.


Di tengah kegamangan hati Riena, Rosyani dan Rinto menampakkan diri. Keduanya jelas ingin tahu tamu yang datang menemui Riena. Dalam kondisi labil seperti ini, siapa yang dekat dengan anaknya pastilah berpeluang untuk mempengaruhi pola pikir Riena.


"Ini suaminya Ratih, bukan? Kok tidak sama Ratih?" tanya sekaligus sapa Rosyani tanpa basa-basi ditujukan pada Reno.


"Benar, Bu. Ratih sedang sibuk karena dia harus menyelesaikan berkas kepindahan dinasnya ke rumah sakit baru. Saya datang mewakili Ratih untuk menyampaikan pesan Ratih pada Riena." Reno menjawab dengan sangat meyakinkan. Tentu saja karena dia sangat piawai dalam hal mencari-cari alasan.


Rinto tersenyum ramah saat Rosyani memperkenalkan Reno sebagai suami dari Ratih. Rinto yang sebelumnya sudah mendengar tentang Ratih dari istrinya, tentu tidak banyak bertanya lagi.

__ADS_1


"Pa, Ma, maafkan Rien sebelumnya. Boleh, kan, Rien bicara berdua saja sama Reno? Maaf, Ma, Pa, bisa saja Rien tidak mengundang Reno kemari dan memintanya untuk bertemu di luar saja. Tapi tentu hal itu tidak Rien lakukan. Rien masih ingat dan memegang ajaran papa mama. Bagaimana pun, Rien masih istri Mas Raditya." Riena mengatakannya dengan suara lirih. Membuat niat Rinto dan Rosyani yang ingin duduk menemani, menjadi urung. Keduanya pun kembali ke ruang keluarga bagian dalam.


"Seperti janjiku, aku akan menjelaskan dari awal kenapa aku bisa mendapatkan video yang aku kirimkan ke kamu. Satu hal yang pasti, Raditya melakukan kegilaan itu sebelum kalian menikah." Tanpa membuang waktu, Reno memulai pembicaraannya. Dia tidak ingin memanfaatkan kesempatan untuk menarik simpati Riena lebih jauh.


"Ya, aku tau itu."


Reno pun mulai menceritakan semuanya. Tentang hubungan antara dirinya dan Rena. Dia juga sedikit mengungkapkan latar belakang keluarga mereka dengan jujur. Tentu saja hal itu dilakukan untuk menarik simpati Riena.


"Sungguh aku sudah memaafkan Radit. Karena semua juga tidak terlepas dari kesalahan Rena sendiri. Mungkin Rena yang salah mengartikan hubungannya dengan Radit. Sehingga Rena berharap lebih. Tapi, di luar sana, ada seorang perempuan yang jauh lebih parah sakit hatinya ketimbang Rena. Mungkin hal inilah yang mengantarmu pada kondisi sekarang. Aku memang tidak menyukai Radity, tapi aku masih manusia yang punya logika dan nurani. Aku tidak sampai hati menuntut balas dengan cara biadab seperti yang dilakukan orang itu padamu." Reno memberikan tatapan intens pada Riena yang sepertinya sedang mencerna kata demi kata yang didengarnya.


Bumi seketika terasa berputar begitu cepat, beban di pundaknya pun terasa semakin berat. Bibir Riena mengatup rapat. Habis sudah kesanggupannya mengucap kata. Tiga tahun berpacaran, ternyata tidak membuat Riena cukup mengenal Raditya dengan baik.


"Reyhan tentu ingin Raditya hancur. Dan dia tau persis, kelemahan Raditya adalah kamu. Karena kamu adalah alasan Raditya tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Ramona."


Riena menutup daun telinganya dengan kedua telapak tangannya sendiri. Cukup sudah dia mendengar masa lalu kelam sang suami.

__ADS_1


"Rie, please jangan lemah. Tunjukkan kekuatanmu. Buktikan tidak ada satu pria pun yang bisa mengendalikan hatimu. Tidak Reyhan atau pun suamimu sendiri. Aku akan membantumu menuntut balas pada Reyhan. Kuatkan hatimu, Rien. Hidupmu tidak berhenti di sini. Jangan toleh masa lalu. Fokus ke depan. Masih banyak hal lain yang bisa kamu lakukan. Di luar sana, banyak pria yang lebih pantas berharap ingin mendampingimu."


Riena duduk mematung. Semua anggota tubuhnya serasa kaku. Bahkan bola matanya pun juga tidak bergerak sama sekali. Bayangan Raditya dengan sikapnya yang manis, perhatian dan sangat romantis mulai sejak mereka pacaran dulu terus menjejali pikirannya.


"Tentu saja Raditya sanggup menerimamu, Rie. Karena semua karena dia. Dan dia tau persis, dia jauh lebih hina darimu. Kamu hanya korban kebodohan Raditya. Sedangkan dia? Radit adalah budak napsunya sendiri."


"Cukup, Ren! Cukup!" Riena berlari menuju kamarnya yang terletak di ruangan paling dalam di lantai satu. Rosyani Dan Rinto yang tidak tahu menahu apa yang terjadi, segera berbagi peranan. Rosyani mengejar Riena Dan Rinto menemui Reno.


Sementara itu, Raditya kini juga sudah berhadapan dengan sosok perempuan yang dicari-carinya sejak mengetahui Reyhan adalah pelaku pemerkosaan terhadap sang istri. perempuan berwajah Indo-Jerman itu tidak semempesona dulu. Entah karena Raditya yang sudah terlalu mengagumi Riena, atau memang karena kondisi Ramona sendiri yang sedikit tidak peduli pada penampilan seperti dulu.


Satu hal yang membuat Raditya shock, begitu dia memasuki rumah di kawasan padat penduduk tersebut, sejauh matanya memandang, yang terlihat adalah foto dirinya dalam berbagai pose Dan kegiatan. Ada beberapa yang sepertinya bukan editan, Dan Ada beberapa lagi yang sepertinya di atur sedemikian rupa sehingga menampakkan dirinya sedang menggendong seorang bayi.


"Siapa bayi itu, Mon? Dan kenapa begitu banyak fotoku di sini? Seharusnya tidak ada kenangan tentang kita sebanyak ini? Apa yang sedang kamu mainkan?" selidik Raditya dengan tatapan tajam.


"Bayi itu anakmu, Dit. Anak kita."

__ADS_1


__ADS_2