
Rintik hujan perlahan berubah semakin deras. Ratih yang sudah tidak bisa membiarkan Reno menyiksa diri dengan terus berdiam diri di bawah guyuran hujan, langsung menarik tangan pria tersebut dengan paksa.
"Kamu pikir dengan kamu berdiam diri di sini, Rino akan bangun kembali? Kalau memang kamu berpikir seperti itu, silahkan teruskan! Andai aku juga mampu berkhayal dan berpikiran sebodoh kamu, aku pun berharap mereka hidup kembali. Biar mereka memberikan kesaksian betapa tidak ada gunanya menyimpan kebencian," teriak Ratih sembari beberapa kali meraup wajahnya yang terkena hempasan air hujan.
Reno menepis tangan Ratih yang berusaha menyentuhnya dengan kasar. Sorot matanya tajam menatap sosok perempuan yang secara agama dan juga negara sebenarnya masih sah menjadi istrinya tersebut.
"Tidak ada yang menyuruh atau memaksamu peduli padaku. Kalau pun aku tidak mendapatkan Riena, bukan berarti aku mau kembali padamu. Cukup sudah aku pura-pura mencintaimu."
Gemuruh petir di antara derasnya hujan tidak berhasil menyamarkan teriakan Reno barusan. Bahkan kata-kata itu bagi Ratih lebih menggelegar dibanding suara alam di sekitarnya. Kesabaran, kerendahan hati dan juga keikhlasan yang sedari kemarin-kemarin dia siapkan, luruh sudah. Ikut terhanyut aliran arus air hujan.
"Sebuah hubungan, terlebih lagi ikatan suci pernikahan, harusnya dipertahankan dan diperjuangkan oleh kedua belah pihak. Jika hanya aku yang berjuang, bukan hanya berat, tetapi jelas ini tidak adil. Sekali pun sumpah atas nama Tuhan sudah kita ambil, aku rasa Tuhan juga tidak tidur. IA pasti tau kenapa pada akhirnya aku harus menyerah. Semoga kamu bisa lebih baik. Jalan apa pun yang kamu ambil, buanglah kebencian jauh-jauh dari hatimu. Jika memang tidak bersamaku, setidaknya sayangi dirimu sendiri." Ratih langsung berbalik badan dan berlari meninggalkan Reno setelah mengatakan hal tersebut.
Sementara Reno malah tertawa lepas sembari menantang langit. Meneriakkan umpatan-umpatan pada Sang Maha Pencipta yang dirasanya tidak pernah adil terhadap dia dan keluarga.
__ADS_1
Tidak kalah kacaunya dengan kondisi Reno, Reyhan didapati telah membuat kekacuan kembali di kamar mandi. Pecahan kaca kecil yang digunakan untuk melukai lehernya sendiri tidak terlalu tajam. Bukannya membuat dia meregang nyawa seketika, benda itu hanya berhasil menimbulkan goresan yang tidak terlalu dalam. Hingga darah pun mengucur tidak seberapa. Hanya menyisakan perih luar biasa yang membuat Reyhan mengerang kesakitan.
"Kamu orang baru, sudah berani bikin ulah. Menambah pekerjaan saja. Kamu pikir kalau mati bidadari surga yang akan menyambutmu? Jangan mimpi! Bahkan malaikat maut saja tidak sudi menjemput nyawamu," umpat sipir tahanan yang kebetulan sedang jadwal berjaga seraya memapah Reyhan menuju ruang pengobatan.
Keadaan yang berbeda seratus delapan puluh derajat terjadi di ruangan dokter yang memeriksa kondisi Raditya dan Riena, mereka begitu lama berada di dalam ruangan tersebut. Banyak hal yang ditanyakan Retno dan Rosyani tentang kehamilan Riena. Tentu saja hal-hal yang kiranya bisa menambah dan menumbuhkan rasa kepercayaan diri Riena. Terutama tentang couvade syndrome atau hamil simpatik yang dialami Raditya. Hingga suasana yang sudah mulai mencair itu kembali berubah sedikit tegang manakala ketika hendak berpamitan, Raditya malah memberanikan untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya kepada sang dokter.
"Maaf, Dok, apa kondisi anak saya baik-baik saja? Saya takut, karena setelah musibah yang dialami istri saya, dokter yang menangani dia sempat memberikan suntikan anti hamil. Apa itu bisa mempengaruhi kondisi janin? Dan kenapa sampai mereka tidak mengetahui kalau istri saya sedang hamil?"
Pertanyaan yang dilontarkan Raditya tentu saja membuat Retno dan Rosyani kompak membulatkan bola matanya lebar-lebar. Mereka sudah bersusah payah mencari pertanyaan yang bisa membangkitkan jiwa keibuan Riena, malah Raditya sendiri yang bertanya tentang sesuatu yang menghubungkan Riena dengan kisah kelamnya kembali.
Retno dan Rosyani setuju sepenuhnya dengan penjelasan dokter barusan. Apa yang diucapkan memang benar adanya. Tidak semua usaha menggugurkan kandungan atau pencegahan kehamilan itu bisa berhasil sesuai atau seenak kehendak manusia.
"Dok, pertanyaan saya ada satu yang belum terjawab. Kenapa saat itu mereka tidak tau kalau istri saya sedang hamil?" Raditya yang belum puas akan jawaban dokter, kembali mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Sementara Riena memilih untuk tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia begitu tenang. Meski hati dan pikirannya sedang gaduh mencerna kenyataan yang baru saja dia ketahui. Bahagia, sedih dan rasa bersalah mulai beradu di luar kendali.
"Bisa saja, Dit. Biasanya karena kita lebih fokus untuk menyembuhkan atau mengetahui luka pasca kejadian. Jadi tidak terpikirkan untuk cek darah menguji kehamilan. Atau bisa jadi karena saat pemeriksaan terjadi, kehamilan Riena masih samar. Karena ada beberapa kasus kehamilan yang baru bisa di deteksi setelah usia kehamilan dua bulanan ke atas. Hal itu terjadi karena beberapa faktor. Sudahlah, Dit. Kapan-kapan kita bahas lagi, yang penting nikmati saja kehamilan istrimu. Jangan mengeluh kalau kamu mual atau muntah terus, toh itu hasil perbuatanmu sendiri." Dokter menepuk pundak Raditya sembari tersenyum hangat dan sekilas melirik Rosyani.
Akhirnya, mereka pun meninggalkan ruangan. Menemui Rama dan Rinto yang sedari tadi sebenarnya sudah sangat tidak sabar. Kedua pria tersebut segera menyambut keempat orang yang dinanti-nanti kemunculannya itu.
"Nanti saja di rumah. Kita pulang dulu." Rosyani langsung memberikan jawaban bahkan sebelum suaminya bertanya. Dia langsung mengamit lengan Rinto dengan senyuman lebar.
Riena dan Raditya melangkah paling belakang. Keduanya beberapa kali saling menoleh dan beradu tatap. Tetapi tidak sepatah kata pun yang tersampaikan. Mereka sama-sama canggung harus memulai darimana. Ditambah lagi dengan keberadaan para orangtua, tentu membuat Riena Dan Raditya semakin tidak leluasa.
Sesampainya di rumah. Para orangtua meminta Raditya dan Riena untuk langsung beristirahat. Meski kondisi Raditya tampaknya sudah lebih baik, tetapi beberapa kali pria tersebut masih menahan muntah begitu mencium bau makanan tertentu di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Ay, aku pengen pulang ke Jakarta. Aku mau selesaikan masalah persidangan. Setelah itu, aku Mau tutup buku sama kasus itu. Bismillah, aku mau fokus dengan kehamilanku."
__ADS_1
Raditya tidak bisa membendung lagi rasa bahagianya. Dia kembali memeluk Riena dan mencium kening dan pipi istrinya itu bertubi-tubi sembari mengucapkan kata terimakasih. Dia tidak sadar, Riena sedikit berkeringat melawan kegelisahan karena mendapatkan perlakuan yang sedikit brutal darinya. Peristiwa pemerkosaan yang pernah dialaminya, membuat tubuh Riena menjadi peka dan selektif terhadap sentuhan.
"Ay, jangan!" tolak Riena sembari mendorong dada Raditya yang ingin mengullum bibirnya.