Penjara Luka

Penjara Luka
Part fivteen


__ADS_3

Raditya seketika menoleh ke arah pemilik suara yang tidak lain tidak bukan adalah Rino. Keduanya saling menatap penuh tanya. Pertemuan secara kebetulan untuk ketiga kalinya dan terjadi di rumah Ratih.


"Ada urusan apa kamu di sini?" ulang Rino sembari mendekati Raditya.


"Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu, bukan?" Raditya malah balik bertanya.


"Tidak harus. Kalau pun kamu tidak menjawab. Aku bisa bertanya pada pemilik rumah ini," sahut Rino dengan tajam.


"Kalau begitu, silahkan tanya sendiri." Raditya langsung melangkah menuju ke dalam rumah. Meninggalkan Rino yang tentunya masih dihinggapi rasa penasaran.


Setiap kali bertemu dengan Rino, perasaan tidak nyaman selalu datang menghampiri. Dosa masa lalu membuatnya sedikit merasa terintimidasi. Kata-kata "urusan kita tidak akan pernah usai, sebelum hidupmu hancur" mendadak kembali terngiang jelas di telinga Raditya. Padahal, kata-kata tersebut diucapkan tujuh tahun yang lalu.


Memasuki ruang tamu, Riena tampak sudah berdiri dan berpamitan pada Ratih. Perempuan tersebut memang tidak ingin berlama-lama di sana. Segera mungkin dia juga ingin kembali ke hotel.


"Aku sudah selesai, Ay." menyadari kehadiran Raditya, Riena pun mengatakan hal tersebut.


"Baiklah." Raditya memberikan senyuman yang sangat teduh pada istrinya. Lalu dia mengalihkan tatapan matanya pada Ratih. "Terimakasih sudah menemani Riena. Kami permisi dulu," pamitnya.


"Saya belum melakukan apa-apa, Pak Radit. Terimakasih karena kalian mau berkunjung kemari. Maaf, tidak disuguhkan apa-apa. Hanya mau memberi air minum pun kata Riena tidak usah." Ratih tersenyum lembut pada Raditya dan Riena secara bergantian.


"Tidak mengapa, Tih. Kapan-kapan gantian kamu yang datang ke rumah kami, ya." Riena kembali memeluk Ratih dengan nyaman.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku akan datang ke sana. Semoga dalam waktu dekat ini. Ingat ya, Rie. Kamu luar biasa. Kamu bersama dan berada di dekat orang yang tepat." Ratih mengatakan hal tersebut dengan suara lirih seperti sedang berbisik.


Setelah pelukan kedua perempuan tersebut terlepas. Raditya segera menggenggam tangan Riena. Mereka pun kembali berpamitan untuk kedua kalinya. Ratih mengantar sepasang suami istri itu sampai tempat mobil yang mengantar Riena dan Raditya tadi terparkir.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata milik Rino terus memperhatikan pembicaraan dan interaksi ketiganya melalui ruang keluarga yang ada di samping ruang tamu persis. Pria tersebut memang sengaja memilih masuk lewat pintu belakang karena ingin tahu maksud kehadiran Raditya di rumah salah satu saudara kembarnya itu tanpa harus bertanya pada Ratih.


"Sepertinya Ratih dan istrinya Radit sangat dekat. Tidak mungkin dia hanya sebatas klien bagi Ratih. Bagaimana kalau memang mereka pernah dekat sebelumnya? Apa jadinya nanti? Reno tidak boleh tahu hal ini." Pikiran Rino mulai gaduh sendiri.


Pria tersebut lalu duduk di sofa single. Otaknya tampak sedang berpikir keras. Akhir-akhir ini, hidupnya semakin tidak tenang. Dirinya seakan dikejar dosa yang tidak biasa. Antara mengikuti dendam ataukah hati nurani yang selalu mengatakan "sudahi sampai di sini".


"Loh, No, kapan kamu datang? Mas Reno mana?" tanya Ratih begitu dia kembali masuk dan mendapati Rino sudah berada di ruang tengah.


Pertanyaan Ratih seketika membuyarkan lamunan Rino. "Beberapa saat yang lalu. Karena takut ganggu kamu sama temenmu, aku lewat belakang saja," sahutnya.


"Ah, iya sampai mau lupa ... Reno harus meninjau proyek ke Lombok. Dadakan karena klien mintanya langsung melihat lokasi," terang Rino. Dia menyampaikan persis dengan apa yang disampaikan Reno.


"Kebiasaan. Selalu begitu." Ratih langsung mengambil ponsel di saku celana yang dikenakannya. Berniat ingin menghubungi Reno. Seperti biasa, setelah menyampaikan pesan lewat orang lain, ponsel suaminya itu langsung tidak bisa dihubungi. Meski hal itu merupakan ketidakwajaran, Ratih tetap membiasakan diri akan hal tersebut.


Di sisi lain, Raditya dan Riena yang masih berada di dalam mobil menuju hotel tempat istirahat mereka, masih sama-sama terdiam duduk di bangku yang memang secara interior di design terpisah.


"Bee ... mau mampir ke pantai dulu, tidak?" Raditya mencoba membuka pembicaraan dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Tidak," sahut Riena. Cepat dan tegas.


"Mumpung cuacanya bagus, Bee. Bersantai di pinggir pantai sambil minum air kelapa hijau pasti sangat nikmat." Raditya masih mencoba mencari celah agar Riena menerima ajakannya. Karena dia tahu betul, pantai biasanya adalah tempat favorite dari istrinya itu.


"Aku bilang tidak ya tidak, Ay. Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja sendiri. Jangan paksa aku!"


Raditya seketika terdiam. Pria tersebut langsung menarik napas sedikit berat. Kata-kata ketus disertai bentakan baru saja terlontar dari mulut seorang Riena untuk dirinya. Bukan hanya Raditya yang kaget, driver yang mengendarai mobil yang mereka tumpangi pun merasakan hal yang sama dengan Raditya. Driver tersebut hanya berani menyimpan rasa herannya dalam hati. Perempuan memang selalu benar. Ditanya baik-baik pun, kadang kala jawaban yang diberikan malah menyakitkan. Dan anehnya, tidak ada rasa bersalah sedikit pun yang ditunjukkan.


"Bee, aku tidak sedang memaksa. Aku ha---,"


"Jangan paksa aku, Ay. Kalau kamu mau pergi, turunkan aku di sini biar aku ke hotel sendiri. Seumur hidup, aku tidak akan menginjakkan kakiku ke pantai lagi. Jika kamu keberatan, carilah perempuan lain untuk menemanimu." Riena tampak sangat emosional saat mengatakannya. Matanya berkaca-kaca, suara dan tangannya sama-sama bergetar. Pantai baginya sudah tidak lagi menyimpan ketenangan dan keindahan. Tempat itu, sudah seperti neraka dalam pikiran Riena. Hanya mendengar orang lain mengajaknya saja, sudah sanggup membuat emosinya naik.


Raditya menatap Riena dengan tatapan yang begitu tajam. Tersirat kekecewaan pada sorot matanya. Dia hanya pria biasa. Bukan dewa kesabaran. Ketika ada hal-hal yang menurutnya sudah di luar batas, sepatutnya dia juga meluapkan emosinya.


"Bukan hanya kamu yang punya hati, Bee. Selama ini, aku selalu mencoba memahamimu. Aku tidak mengeluh atau pun menyesali kondisi kita sekarang. Tapi tolong, sedikit saja kamu juga hargai aku. Kamu pikir aku ini suami macam apa? Apa serendah itu aku dimatamu? Sehingga meninggalkanmu dan mendapatkan perempuan lain adalah hal yang sanggup aku lakukan?" Raditya terlihat sangat emosional saat mengatakannya.


"Kamu sanggup, Ay. Jangankan satu, dua atau tiga sekali pun kamu pasti sanggup. Aku bahkan tidak keberatan jika kamu mau menceraikanku," sinis Riena diikuti deraian air mata yang membasahi pipinya tanpa aba-aba.


Hati Raditya semakin sesak mendengar ucapan Riena barusan. Sepanjang pernikahan mereka, Kata cerai adalah kata yang paling pantang diucapkan. Di saat seperti ini, seharusnya saling menguatkan, bukan malah melemahkan.


Bersamaan dengan itu, driver menghentikan mobil tepat di depan area lobby hotel. Riena langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana tanpa menunggu Raditya terlebih dahulu. Karena terburu-buru, Riena sampai tidak melihat ada orang lain yang berjalan berlawanan arah dengannya. Hingga tabrakan antara bahunya dan sosok tersebut, tidak dapat lagi bisa dihindarkan.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" Riena mendorong sosok yang bertabrakan dengannya begitu kuat sembari berteriak.


__ADS_2