Penjara Luka

Penjara Luka
part thirty


__ADS_3

Dengan tubuh sempoyongan sembari meringis kesakitan akibat nyeri luar biasa di rahang kanan-kirinya, pria bernama Reyhan yang sebenarnya berusaha menegakkan badan demi meredam tangis dan ketakutan anak kecil perempuan yang tadi bersamanya, seketika malah mengalihkan perhatian pada Riena. Garis senyuman sinis, samar terlihat dari wajahnya yang babak belur akibat pukulan di luar kontrol Raditya.


"Apa kabar, Riena?" tanya Reyhan seakan tidak ada dosa besar yang dia miliki pada perempuan yang disapanya. Pria tersebut menurunkan tangan seseorang yang membantu menopang tubuhnya. Tentu saja karena dia tidak ingin terlihat lemah di depan lawan.


"Aku masih baik. Dan aku tidak gila seperti yang kamu mau. Sampah busuk seperti kamu, sudah seharusnya mendapatkan pelajaran." Riena menatap Reyhan penuh kebencian. Meski suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha menegarkan diri demi membalikkan keadaan. Sekali pun jiwa raganya remuk redam, tetapi pantang bagi Riena untuk menunjukkan kelemahan. Kali ini dia bertekad akan memperhitungkan semuanya. Pria tersebut harus menerima balasan yang setimpal atas perbuatan yang dilakukan.


Pria tersebut sepertinya sedang menahan diri, tentu karena dia harus memedulikan bocah kecil yang menghampirinya dengan isak tangis yang mulai mereda.


"Ayo kita temui dokter, Om! Bibir Om Reyhan berdarah," ucap gadis cilik itu dengan polosnya.


"Nanti, ya. Reva sama encus dulu." Reyhan seketika menjadi lembut. Dia lalu meminta orang-orang yang tadi berniat membantunya untuk kembali melanjutkan kegiatan atau tujuan masing-masing.


Rosyani yang hanya bisa sebatas menerka-nerka, tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain mencoba menenangkan Riena sembari mengingatkan sang putri kesayangan bahwa Raditya pastinya sedang dicecar di pos security.


"Mama lihat binatang ini baik-baik, dialah yang membuat Rien seperti sekarang."


Rosyani seketika murka mendengar ucapan Riena. Dia menghampiri Reyhan yang tengah menghubungi seseorang dari ponselnya. Perempuan tersebut melepas wedges tebal yang dikenakan sebagai alas kakinya. Tanpa ancang-ancang, Rosyani melemparkan benda tersebut ke kepala Reyhan.

__ADS_1


"Awas, Om!" Bocah kecil itu menyelamatkan Reyhan dari hantaman keras wedges Rosyani dengan menarik paksa tangan pria kesayangannya itu sekuat tenaga.


Tidak berhenti di sana, Rosyani yang belum puas mengekspresikan kemarahannya, berniat meraih rambut Reyhan yang memiliki tinggi hampir 185 sentimeter. Untung saja, seorang petugas security datang melerai.


"Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal dari kami dan juga dari Tuhan. Ingat baik-baik, siapa pun gadis kecil itu, dia pastinya anak yang sangat kamu sayangi. Bagaimana jika dia mengalami hal yang sama dengan Riena? Semoga kamu memikirkan hal itu!" Kecam Rosyani.


"Jika itu terjadi, maka karma memang sedang berlaku pada Raditya. Menantu kesayangan Anda itu tidak sebaik yang Anda kira," sinis Reyhan.


Belum sempat Rosyani menimpali, seorang anggota security menghampiri dan melerai mereka. Riena yang emosinya jelas semakin membara, terpaksa menahan langkahnya untuk mencakar mulut Reyhan. Sekali lagi mereka menjadi sumber perhatian dari pengunjung rumah sakit khususnya yang berada di sekitaran atau menuju ruangan UGD.


Setelah perdebatan yang tidak biasa antara Rosyani, Riena dan security, akhirnya mereka semua menuju ke pos keamanan rumah sakit di mana Raditya berada. Begitu pun dengan Reyhan yang terus didampingi security di sampingnya karena khawatir adanya serangan mendadak dari Reina atau Rosyani. Sembari berjalan pelan, tangan kanan pria tersebut terus menggenggam jemari mungil gadis kecil tadi dengan posesif.


"Sudahlah, Pak. Bawa saja saya ke kantor polisi. Biar saya bisa satu sel dengan binatang itu. Akan saya buat dia merasakan bagaimana binatang lapar menerkam lawannya untuk melampiaskan biraahi binatangnya." Raditya sengaja mengucapkan kata binatang berkali-kali dengan intonasi yang tegas dan tatapan tajam penuh kebencian pada Reyhan yang baru saja masuk ke dalam sana.


Tidak lama dari itu, seorang perempuan berusia dua puluh tahunan berseragam babysitter masuk dan langsung mengajak bocah perempuan kecil yang sedari tadi menatap lekat ke arah Raditya keluar ruangan. Meski ketakutan, dari raut wajahnya jelas anak tersebut sedang menggali sesuatu dari ingatannya.


Di tengah kelengahan semua orang yang sedang menunggu sampai gadis cilik dan babysitter tadi menghilang dari pandangan, Riena tidak menyia-nyiakan keadaan. Dia mengambil segelas air yang masih penuh berisi air di atas meja security, lalu dengan gerakan cepat Riena menyiramkannya tepat mengenai wajah Reyhan yang babak belur. Perih sudah pasti dirasakan oleh pria yang kini harus berhadapan langsung dengan korban kebiadabannya secara langsung sekali lagi.

__ADS_1


Riena yang sedari tadi memang sudah gemetaran, akhirnya tidak kuat terus berpura-pura baik-baik saja. Perempuan tersebut kembali merasakan ketakutan luar biasa ketika apa yang dia lakukan barusan, hanya dibalas seringai licik oleh Reyhan. Perempuan itu berlari tak tentu arah. Membuat Retno, Rosyani dan Raditya memilih untuk mengejar Riena ketimbang fokus pada Reyhan.


"Tunggu, masalah ini belum selesai!" teriak seorang security yang hampir keluar untuk mengejar Raditya.


"Biarkan, Pak! Tidak perlu dikejar. Saya anggap masalah ini tidak ada," cegah Reyhan. Dia tahu pasti jika masalah ini sampai pada tingkat kepolisian, tentu Riena tidak akan tinggal diam. Meski peristiwa tersebut sudah berlangsung lebih dari sebulan, tentu pembuktian masih mungkin dilakukan. Mengingat latar belakang Raditya dan Riena sama-sama bukan orang biasa, apa pun bisa saja terjadi. Bukannya dia takut, tetapi apa yang menjadi tujuannya belum tercapai sama sekali. Bahkan bisa dikatakan gagal jika melihat betapa kuatnya Riena bertahan hingga saat ini.


Langkah Riena semakin gontai seiring dengan deru napasnya yang terengah-engah bercampur isak tangis. Ketidakberdayaan, kemarahan dan kebencian bercampur jadi satu. Tidak dihiraukannya puluhan mata yang memandang ke arahnya.


"Rien, kita pulang, yuk! Ada mama di sini. Ada Raditya juga. Tidak ada lagi yang bisa menyakiti kamu. Biar nanti papa yang mengurus semua." Retno berusaha membujuk Riena. Tutur kata dan tatapan mata perempuan tersebut sama lembutnya. Meski dalam hati, dia tidak bisa memungkiri ketidaktenangan yang kini membebaninya. Entah mengapa, sejak Riena tidak ingin ditemui siapa pun saat di ruangan tadi, dia merasakan badai besar sepertinya sedang menuju ke arah mereka.


Riena hanya mengangguk pasrah. Kakinya melangkah pelan meski panas jalanan aspal langsung bersentuhan dengan telapak kakinya. Begitu pun dengan Rosyani yang tentunya tidak sempat memungut wedgesnya kembali.


Mengingat Raditya tadi belum sempat menyelesaikan pembayaran, akhirnya dengan terpaksa pria tersebut meminta petugas parkir untuk membayarkan tagihan atas nama Riena. Dia memberikan uang lebih untuk mempermudah segala urusan dan mereka pun segera kembali ke rumah.


Hampir satu jam lebih perjalanan yang ditempuh. Lalu lintas padat seakan menambah keruwetan yang ada di pikiran Raditya, Riena, Rosyani dan juga Retno. Keempatnya kompak terdiam tanpa kata. Riena terus memeluk mamanya dengan bahasa tubuh yang masih menyiratkan ketakutan.


Sampai di rumah, bukannya pikiran sedikit tenang, mereka rupanya juga sudah disambut dengan kenyataan baru yang mungkin akan membuat dua orang di antara mereka berempat terkejut luar biasa.

__ADS_1


"Sepertinya ada tamu," batin Retno begitu melihat pintu utama rumah terbuka lebar.


__ADS_2