Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirteen


__ADS_3

"Iya, kebetulan di project ini kami bekerjasama. Mumpung dia lagi pengen lama di sini." Reno menjawab sembari mengambil clutch kesayangannya.


"Tumben? Bukannya dia bilang lebih enak tinggal di Aussie?" Ratih semakin dibuat penasaran.


Reno mengedikkan bahunya. Tentu dia tidak akan menjawab pertanyaan istrinya itu. Tidak banyak cerita tentang dirinya dan juga tentang keluarganya yang di ketahui oleh Ratih. Bahkan saat keduanya menikah, dari pihak Reno, hanya dihadiri oleh Rino seorang.


"Ya sudah, aku berangkat dulu, ya. Baik-baik di rumah." Reno mengecup kening Ratih.


Belum sempat Ratih membalas ucapan Reno, suaminya itu sudah berlalu begitu cepat keluar dari kamar mereka. Tidak mau terlalu ambil pusing, Ratih memilih mengambil telepon genggamnya untuk mengirim pesan pada perawat jaga yang membantunya mengawasi Riena.


****


Sementara itu, Raditya terlihat duduk di antrian kasir rumah sakit untuk membayar biaya perawatan Riena. Setelah dokter memeriksa kondisi istrinya, dokter mengijinkan Riena melakukan pengobatan jalan. Tentu dengan berbagai catatan dan saran yang diberikan agar kondisi fisik Riena segera pulih.


Sembari menunggu proses pembayaran selesai, Raditya dengan berat hati meminta tolong salah satu pegawai di perusahaannya yang berada di Cabang Denpasar untuk membereskan barang-barang pribadi miliknya dan juga milik Riena yang ada di cottage. Sebelum itu, dia meminta pegawai tersebut membeli dan mengirimkan pakaian untuk Riena ke rumah sakit.


Tidak lebih dari tiga puluh menit, penyelesaian biaya administrasi selesai. Raditya pun kembali ke ruangan di mana Riena berada. Masih mengenakan baju khusus pasien, Riena duduk merenung di sofa dengan kondisi punggung tangan yang sudah terbebas dari jarum infus. Tidak ada satu pun alat medis yang menempel di tubuhnya. Hanya perban putih yang masih melingkari pergelangan tangan kanannya.


"Nunggu pegawaiku sebentar ya, Bee. Biar kamu ganti baju dulu. Baru kita keluar. Sudah hubungi Ratih, belum?" tanya Raditya memecah lamunan sang istri.


"Jadi merepotkan orang lain, ya, Ay. Maaf," lirih Riena. Dia benar-benar merasa tidak enak. Sebelumnya, Raditya tidak pernah sekali pun meminta pegawai untuk mengurusi keperluan pribadinya. Bahkan, selevel asisten pribadi atau sekretaris yang setiap saat bekerja dekat dengannya, tidak ada yang tahu kediaman Raditya.


"Gak apa-apa, Bee. Sesekali. Aku mau berangkat beli sendiri, tapi aku lagi nggak pengen jauh-jauh dari kamu." Raditya sengaja memilih kata-kata itu agar Riena tidak merasa keadaannya hanya menjadi beban bagi orang lain.

__ADS_1


Meski dalam hati Riena menangis, dia mencoba tetap memaksakan diri memberikan sebuah senyuman. Sebagai bentuk ucapan terimakasih tanpa harus mengucap kata. Karena dirinya, Raditya melanggar prinsip kerja yang diterapkan. Sikap suaminya itu, membuat Riena bersyukur sekaligus merasa tidak pantas pada saat bersamaan.


"Bee, sudah dapat nomor telepon Ratih belum? Kalau sudah dapat, kamu hubungi dia. Janjian ketemu di mana atau kita langsung ke rumahnya saja." Raditya mengulang pertanyaannya sekali lagi karena Riena belum menjawab dan malah terdiam.


"Sudah, Ay. Tapi aku tidak tau di mana ponselku sekarang. Di cottage atau di mana? Aku tidak yakin." Tatapan Reina begitu kosong. Sejak peristiwa pemerkosaan itu, dia tidak pernah menggunakan telepon genggamnya lagi.


"Pakai punyaku saja, Bee. Nanti kita beli saja yang baru." Raditya memberikan ponselnya pada Riena. Sesaat kemudian, pria itu menarik napas begitu berat.


Ketika Riena mengatakan masalah ponsel, Raditya baru terpikirkan akan tas, dompet beserta isinya yang di bawa sang istri saat malam naas itu. Tentunya kartu Identitas berikut beberapa kartu ATM milik Riena juga tidak diketahui keberadaannya. Dan sekarang, Raditya tidak mungkin menanyakan atau memastikan hal tersebut secara langsung.


Riena menerima benda pipih yang diberikan suaminya itu. Lalu mengaktifkan layarnya dengan menggunakan pemindaian retina mata. Riena memutuskan untuk tidak menghubungi Ratih melalui panggilan suara, dia hanya mengirimkan pesan tulisan singkat. Tidak berapa lama, pesan itu pun berbalas.


"Kita ke rumah Ratih saja, Ay. Katanya tidak jauh dari sini. Sekitaran dua puluh menit saja." Riena mengatakannya sembari mengembalikan telepon genggam ke Raditya.


"Nanti kalau ada relasi atau orang kantor yang menghubungi kamu gimana, Ay? Sudah kok. Ratih juga sudah kirim lokasi rumahnya di situ."


Raditya mengacak mesra rambut Riena. "Aku kan cuti, Bee. Mana ada yang berani menghubungi aku kalau sudah ada warning di profil pic, info dan status whasappku."


Riena menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat. Mendadak begitu banyak hal-hal yang terlewatkan dan terlupakan olehnya. Sudah rahasia umum, ketika suaminya itu cuti, pasti di sosmed atau pun di aplikasi komunikasi berkirim pesan suaminya itu, baik status sampai profil pic nya seketika akan berganti background hitam dengan tulisan huruf kapital "ON DUTY WITH THE ONE & ONLY MY R" yang artinya semua sudah paham jika Raditya sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun dan dengan alasan apa pun. Jika benar-benar penting, hanya diperbolehkan mengirim pesan melalui seluler dan selanjutnya Radityalah yang akan menghubungi terlebih dulu.


Di tengah lamunan Riena, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Raditya bergegas menghampiri arah sumber suara dan membuka daun pintu tersebut tidak terlalu lebar.


"Terimakasih, ya. Maaf membuat kamu repot dan juga terganggu kerjaanmu," ucap Raditya sembari menerima paper bag berwarna hitam glossy dari kepala cabang perusahaannya di Denpasar yang baru pertama bertemu dengannya secara langsung.

__ADS_1


"Tidak mengapa, Pak. Senang bisa bertemu dengan Bapak. Jika ada yang perlu kami kerjakan lagi, mohon Bapak tidak sungkan-sungkan memberi tahu kami."


Merasa tidak sopan dengan sikapnya, Raditya memutuskan keluar untuk menghampiri pegawainya itu. Pintu ruangan ditutupnya rapat-rapat.


"Sudah tidak ada. Terimakasih sekali lagi. Untuk barang yang di cottage, tolong nanti langsung saja dititipkan di resepsionis hotel yang saya infokan tadi. Sekali lagi terimakasih. Dan maaf jadi mengurusi kebutuhan pribadi saya." Raditya mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan pegawai pria yang sepertinya lebih muda darinya beberapa tahun.


Tidak berlama-lama, setelah jabatan tangannya bersambut, Raditya langsung kembali masuk ke ruangan. Diberikannya paper bag tadi pada Riena yang langsung menerima dengan tidak sabar. Istrinya itu bergegas menuju kamar mandi.


Sembari menunggu Riena selesai berganti baju, Raditya menghubungi driver mobil yang disewanya dari hotel tempat mereka akan menginap nanti.


"Aku sudah selesai, Ay." Riena kembali muncul dengan mengenakan dres floral dengan dasaran warna pink yang dominan.


"Yuk!"


Keduanya pun meninggalkan rumah sakit dengan membawa harapan dan doa yang terlantun di dalam hati masing-masing.


Di sisi lain, di sebuah tempat pemakaman elite, Rino dan Reno terlihat berdiri menghadap pusara bertuliskan "Rest In Peace Bernadeta Rena Monoarfa".


"Ren, hari ini tepat enam tahun kamu pergi meninggalkan kami. Damai di surga dalam kasihNya. Biar kami yang tuntaskan sakit hatimu."


❤❤❤❤❤


Dear Readers, sehubungan dengan saran editor yang diberikan pada author. Maka terjadi sedikit perubahan pada Bab 1 pada part setelah Riena diperkosa menuju ke cottage. Karena itu, mohon readers berkenan membaca ulang part tersebut karena suatu saat pasti akan ada pembahasan akan hal tersebut.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2