Penjara Luka

Penjara Luka
Part twenty four


__ADS_3

Setelah kedatangan Ratih ke Jakarta, sikap Riena perlahan berubah. Dari hari ke hari, dia semakin terbuka dan ceria kembali. Keduanya bertemu hampir setiap hari. Pergi ke taman bersama atau sekedar ngobrol santai berdua di rumah Riena. Ratih yang baru minggu depan mulai bekerja dan sedang menunggu renovasi rumahnya, memanfaatkan waktu semaksimal mungkin bersama Riena. Hal tersebut tentu membuat Raditya bahagia. Apalagi Reno sudah tidak pernah lagi mengirim pesan begitu Riena selalu mengabaikan pesan pria tersebut. Ditambah lagi, istrinya kini mulai tidak canggung lagi bersikap manja pada dirinya.


Seperti sekarang, seharusnya Raditya ada jadwal untuk ke kantor karena ada meeting rutin akhir bulan yang harus dia pimpin. Namun, Riena masih enggan menggeser sedikit saja kepalanya yang menggunakan bahu Raditya sebagai bantal. Padahal, sudah setengah jam lalu mereka sama-sama terbangun.


"Bee, aku mau pipis sebentar," lirih Raditya. Suaranya parau antara bangun tidur bercampur dengan hasrat yang mulai terkumpul karena jemari Riena yang mengitari area dadanya dengan gerakan pelan menggoda.


Di luar pemikiran Raditya, Riena malah menurunkan tangannya ke bagian yang benar-benar sensitif darinya. Bagaimana tidak sensitif? Jangankan disentuh Riena seperti ini, hanya dengan berdekatan dengan istrinya saja, bagian tersebut sudah berubah ukuran panjang dan diameternya dengan cepat.


Riena tampak memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya sendiri dengan begitu sensual. Raditya buru-buru memalingkan wajahnya ke sisi lain, kalau sudah begini, Bisa-bisa dia kehilangan kendali atas napsunya sendiri. Namun, sesaat saja pikirannya lengah, sebuah lenguhh kenikmatan tidak tertahan lolos dari bibirnya. Tangan Riena ternyata masih lihai memanjakan si Raju (Raditya jumbo) menuju kenikmatan yang sesungguhnya.


"Bee," dessah Raditya. Tangannya tidak kuasa menahan diri untuk tidak mereemas bokong sintal milik Riena.


"Lakukan, Ay, selesaikan di tempat seharusnya," Riena melepaskan genggaman tangannya pada Raju dan menggeser posisi tubuhnya hingga telentang sempurna.


Walaupun hasrat sudah membuncah, Raditya masih saja ragu-ragu. Kekhawatiran jelas menyelimuti gelora napsunya yang ingin diantar sampai ke puncak. Di tengah keraguan itu, Riena malah menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya.


"Ayo, Ay, bantu aku, please," pinta Riena, suaranya juga sudah parau. Rupanya perempuan tersebut juga sedang dihampiri napsu birahii.


Raditya tidak kuasa lagi untuk menolak. Dia pun melepaskan setelan baju tidur yang dikenakan dan melemparkannya ke lantai begitu saja.

__ADS_1


Riena menuntun salah satu tangan Raditya untuk menyentuh bagian dadanya yang kenyal layaknya squishy. Mata Riena terus menatap lekat pada wajah Raditya, Ya, dia harus memastikan, yang sedang bercinta dengannya kali ini adalah suaminya sendiri.


Suara dessah lolos bersamaan dari bibir Riena dan juga Raditya begitu Raju sudah berhasil memasuki celah sempit pasangannya. Tangan Riena mulai mengeluarkan keringat dan sedikit gemetaran. Perempuan itu tengah berusaha sepenuh hati menepis trauma di tengah kenikmatan yang disuguhkan.


Semakin Raditya menyentakkan pinggulnya, semakin kuat tangan Riena mencengkeram seprei. Seperti sebuah slide di layar yang sedang di putar, bayangan dan seringai sosok yang menggagahinya dengan paksa hadir silih berganti dengan bayangan nyata Raditya yang tengah maracau karena kenikmatan duniawi yang sudah lama tidak dirasakan.


Riena yang lebih dulu memulai pergumulan panas ini, hanya bisa berusaha keras untuk tidak merusak kenikmatan Raditya. Air mata Riena menetes seiring kepiluan yang dirasakan. Untung saja Raditya sedang menengadahkan wajahnya, sesaat lagi pria itu akan melepaskan desiran yang kini sudah berkumpul di otot bawah perutnya.


Bersamaan dengan hentakan bertubi-tubi dari Raditya yang disertai erangan puncak kenikmatan, Riena menutup wajahnya sembari mengucapkan kata "jangan" dengan lirih. Raditya yang baru menyadari ketakutan pada istrinya, langsung menarik keluar si Raju dari tempatnya yang hangat. Setetes cairan putih keruh, tampak mengenai bagian paha luar Riena.


"Bee, maaf ... aku sudah membuatmu takut." Raditya dengan gesit menyambar segelas air putih di atas nakas.


"Minum dulu, Bee. Sekali lagi maaf. Seharusnya aku menahan diri." Raditya menatap istrinya penuh sesal.


Riena menerima gelas tersebut dan meneguk isinya hingga tandas. Sembari memberikan kembali gelas kosong itu pada Raditya, dia berkata, "terimakasih, Ay. Tidak ada satu hal pun bisa selesai jika kita tidak berani memulainya. Kita bisa mencobanya nanti hingga aku benar-benar bisa kembali menikmatinya. Maaf, ya."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu juga tidak perlu mengucapkan terimakasih. Aku bahagia kamu perlahan bangkit, Bee. Sudah seharusnya begini. Selagi kita bersama, tidak ada masalah yang tidak mungkin bisa kita selesaikan." Raditya menarik selimut untuk menutupi tubuh Riena yang polos tanpa sehelai benang pun.


Riena tersenyum tipis. Raditya kemudian membaringkan tubuhnya kembali di samping sang istri. Seharusnya, setelah bercinta keduanya akan kembali berpelukan sebagai ungkapan terimakasih sederhana atas penyatuan cinta yang bergelora. Kali ini tidak demikian, Raditya kembali menjaga sentuhannya karena takut Riena masih manata hati karena kejadian barusan.

__ADS_1


Dering suara telepon selular yang menandakan adanya panggilan masuk pada ponsel milik Raditya memecah keheningan. Riena yang lebih dekat posisinya dengan nakas, segera mengambilkan benda tersebut dan memberikannya pada Raditya.


Begitu melihat siapa yang menghubunginya, Raditya buru-buru menolak panggilan. "Aku mandi dulu, ya, bee. Aku harus ke kantor," ucapnya sembari beranjak turun dengan ponsel yang masih berada di genggamannya.


Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu dari luar pun terdengar. Diikuti dua suara perempuan saling bersahutan menyebut nama Raditya dan Riena secara bergantian.


"Mama," ucap Raditya dan Riena secara bersamaan. Keduanya langsung bergegas menggunakan kembali baju masing-masing.


Tanpa menunggu berlama-lama, Riena langsung membuka pintu kamarnya. Mengabaikan keadaan ranjang yang berantakan.


"Sudah jam berapa ini? Kalian masih enak-enakan di kamar. Awas saja kalau bulan ini mama belum juga mendengar kabar baik dari kamu, Rie. Mama langsung bawa kamu ke dokter kandungan." Rosyani, yang tidak lain tidak bukan adalah mama dari Riena langsung masuk ke dalam kamar. Perempuan tersebut dengan gerakan gesit menyingkap gorden tebal yang tadinya tidak tertembus cahaya dari luar. Seketika cahaya mentari menerobos masuk memberikan kehangatan sekaligus menegaskan jika waktu sudah beranjak siang.


"Mama bawakan ramuan khusus dari Arab untuk kalian. Dengan dibarengi doa, Insya Allah tahun depan, kalian tidak hanya berdua di kamar ini." Retno---mama dari Raditya tidak kalah semangatnya langsung meletakkan sekotak bingkisan di atas meja.


Raditya dan Riena saling bertukar pandang. Keduanya sama sekali tidak menduga kalau mama-mama mereka akan berkunjung langsung sepulang dari menunaikan ibadah umroh.


"Mama khususkan umroh kali ini untuk mendoakan kalian agar segera mempunyai keturunan. Selanjutnya, tergantung usaha dan keseriusan kalian sendiri. Doa tanpa usaha sama saja bohong. Ingat, usaha tidak hanya di atas ranjang. Temui dokter, konsultasi yang benar." Rosyani yang selalu berbicara tanpa basa-basi, menghampiri Riena dan berniat ingin memeluk putri tunggalnya itu.


"Ma, Riena belum siap," lirih Riena dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2