Penjara Luka

Penjara Luka
Part thirty one


__ADS_3

Resti yang sedang berjaga di luar seketika membantu Rosyani memapah Reina yang masih gemetaran. "Ada Bu Ratih dan Pak Reno di dalam," ucapnya, begitu lirih hingga tidak terdengar oleh yang lain kecuali Riena dan Rosyani.


Resti mengernyitkan keningnya sembari terus berjalan mengikuti langkah pelan Riena yang tidak memberikan reaksi apa pun. Biasanya, majikannya itu akan menyambut dengan senang hati setiap kali Ratih datang berkunjung. Namun sekarang, jangankan memperhatikan Ratih, memikirkan keadaan dirinya sendiri saja Riena tidak mampu. Kakinya memang melangkah, telinganya masih bisa mendengar dengan baik. Matanya juga masih terbuka lebar untuk menatap sekitar. Tetapi sepertinya Riena sengaja membuat dirinya lumpuh, tuli dan buta disaat bersamaan. Raga tanpa jiwa---bernyawa tetapi tidak memiliki keinginan untuk hidup. Seakan napas yang berembus hanyalah tentang keterpaksaan dan siksaan.


Berada pada posisi di belakang Riena, Rosyani dan Resti, Retno yang masih mengenali wajah Reno dengan jelas, langsung menarik lengan Raditya yang belum menyadari kehadiran Reno di rumahnya. Perempuan tersebut mendekatkan bibirnya pada daun telinga milik sang putra.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Retno dengan suara berbisik.


Belum sempat Raditya menjawab atau pun memperhatikan sosok Reno, Ratih langsung mendekati Riena. Perempuan tersebut menggantikan posisi Resti untuk membantu memapah Riena. Reno sendiri memilih hanya ikut berdiri di tempat dengan tenang, layaknya tamu biasa yang tidak sedang memainkan perannya.


Paham benar saat ini Riena sedang membutuhkan ketenangan, Ratih dengan sopan berkata. "Bu Ros, maaf kalau saya lancang. Sebaiknya kita langsung antar Riena ke kamarnya."


Meski heran mengapa Ratih bisa mengetahui namanya dan terlihat dekat dengan Riena, Rosyani mengangguk setuju. Dia sendiri sudah lelah dengan kejutan dan prahara besar hari ini. Sungguh dia ingin segera melihat Riena kembali setegar dan seceria dulu.

__ADS_1


Setelah Riena perlahan menapaki anak tangga, Raditya baru mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Saat itulah dia menyadari keberadaan Reno. Ada kemarahan dan kekesalan yang harus dia tahan. Satu permasalahan besar sudah menunggu ketegasannya agar bisa diselesaikan, kini di depan mata tampaknya ada lagi yang ingin menguji kesabarannya.


"Kamu boleh kembali ke tempatmu, Res," ucap Raditya tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari sosok Reno.


Reno masih menebarkan senyumannya yang terkesan sopan bagi sapa pun yang tidak mengenal kelicikannya. Pria tersebut tampak tenang seolah dia benar-benar sosok tamu yang datang dengan maksud baik.


"Jangan bersikap sok manis di depanku. Setelah mengetahui Riena adalah sahabat Ratih, tentu rencanamu berubah, bukan?" tanya Raditya tanpa basa basi begitu melihat hanya ada dirinya, Reno dan Retno di ruangan tersebut.


Sesungguhnya, Raditya juga baru tahu jika Reno adalah suami Ratih. Tepatnya tadi saat intelejen swasta yang disewanya memberi tahu jika pelaku pemerkosaan terhadap Riena adalah Reyhan. Sungguh sebuah pukulan berat tersendiri bagi Raditya. Orang-orang dengan dendam masa lalu pada dirinya, bersikap pengecut dengan menggunakan Riena sebagai alat untuk menuntaskan kebencian mereka.


"Saya datang kemari untuk mengantar istri saya bertemu dengan sahabatnya. Apa ada hal penting lain yang harus kita bicarakan? Mungkin kita pernah bertemu beberapa tahun yang lalu, tetapi saya sudah melupakan peristiwa itu. Terlalu pahit untuk diingat-ingat. Hidup berjalan ke depan, buat apa kita harus mundur ke belakang." Reno secara tidak langsung menolak keinginan Retno. Pria tersebut hanya ingin bertahan pada peranannya. Saat ini, mendekati Riena jauh lebih menguntungkan dibanding apa pun.


"Sudahlah, jangan bersandiwara di depanku. Apa tujuanmu? Jangan berlagak seolah baru sekali ini kamu datang kemari menemui istriku. Jika kamu ada masalah denganku, maka selesaikanlah denganku. Apa yang terjadi di masa lalu, Aku tidak bisa perbaiki. Tapi apa yang menimpa Rena, benar-benar di luar kendaliku. Jika masalah itu yang mengan---,"

__ADS_1


"Aku tidak mau membahasnya lagi, Dit. Aku tidak hidup dalam masa lalu. Terserah kamu menganggapku bagaimana. Pertemuan-pertemuan kita yang terjadi akhir-akhir ini memang hanya sebuah kebetulan." Reno buru-buru memotong ucapan Raditya. Dia masih ingin bertahan dengan sandiwaranya. Hari ini baru langkah awal, Reno tidak ingin terpancing dan masuk ke dalam pemikiran Raditya yang jelas ingin menggiringnya mengakui bahwa masa lalu masih menjadi alasan kuat Reno kembali muncul di hadapan pria tersebut.


"Terserah kamu mau berkelit seperti apa. Aku sama sekali tidak percaya. Dengan kerendahan hati dan kesadaran penuh, aku minta padamu, jika masih ada ganjalan di hati kalian tentang kisah masa laluku bersama Rena, lampiaskan saja padaku. Tidak perlu melibatkan Riena." Kali ini Raditya merendahkan nada suaranya. Bukan pertanda dia sedang putus asa atau menyerah kalah, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk mencegah Reno melaksanakan rencana jahatnya lebih jauh. Tidak mengapa harga dirinya jatuh, asal Riena tidak kembali menjadi korban dari orang-orang yang sakit hati padanya.


Reno hanya tersenyum penuh arti mendengar ucapan Raditya. Dalam hati, pria tersebut jelas menikmati moment langka seperti ini. "Tidak salah aku menggunakan Riena untuk menghancurkanmu, Dit," batinnya.


Retno menarik tangan Raditya untuk meninggalkan Reno begitu saja. Perempuan itu sudah tidak sabar ingin meluapkan banyak kata tanya pada sang putra. Pada akhirnya, masa lalu yang ditutup rapat harus dibongkar kembali satu per satu agar dapat menyelamatkan rumah tangga Raditya dan Riena sendiri.


Sementara itu, di dalam kamar Riena, Rosyani yang baru saja dijelaskan bahwa Ratih adalah putri dari mantan asisten rumah tangganya terus mengucap syukur karena mereka dipertemukan kembali disaat yang tepat. Setidaknya Riena tidak terpuruk terlalu dalam karena pendampingan yang dilakukan oleh Ratih.


"Ma, tolong jangan ceritakan pada siapa pun apa kata dokter tadi. Riena tidak mengharapkan kehamilan ini," pinta Riena pada sang mama dengan tatapan sendu. Lalu sesaat kemudian dia mengalihkan tatapan tersebut pada Ratih. "Tih, bukankah korban pemerkosaan boleh melakukan aborsi? Aku mau melakukannya, Tih. Aku tidak mau hamil anak seorang bajingaan," ucapnya, pelan namun jelas dan tegas.


Ratih tentu saja tidak menjawab langsung pertanyaan Riena. Sejujurnya, dia sendiri juga terkejut dengan kabar kehamilan sahabatnya itu. Sejauh yang diingat Ratih, Riena sudah diberikan suntik untuk pencegahan kehamilan. Meski tidak menjamin keberhasilan 100%, tindakan tersebut biasanya mempunyai tingkat keberhasilan hampir 95%. Ditambah lagi suntikan itu dilakukan hanya beberapa jam setelah pemerkosaan terjadi.

__ADS_1


"Jangan-jangan ...." Ratih melempar pandang ke arah Rosyani dan Riena secara bergantian. Ingin sekali dia langsung mengutarakan apa yang ada dipikirannya sekarang. Namun, kondisi Riena jelas sedang tidak bisa menerima atau mendengar pendapat dari orang lain.


__ADS_2