Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty five


__ADS_3

Baik Reyhan maupun Reno, tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Keduanya tidak menyangka akan kedatangan pihak berwajib pada situasi yang sangat tidak tepat seperti sekarang. Penjelasan yang diberikan Rino belum juga tuntas. Masih banyak pertanyaan di benak Reyhan dan Reno yang belum terjawab. Terutama tentang bagaimana dan mulai kapan Rino memainkan emosi Ramona sehingga perempuan tersebut sangat tunduk pada pria tersebut.


Berbeda halnya dengan Reyhan dan Reno yang menunjukkan ketakutan dan ketidaktenangan yang kentara. Rino malah begitu tenangnya mengangkat tangan sembari mengulas sebuah senyuman. Raut wajahnya menunjukkan kelegaan luar biasa. Seakan menyiratkan bahwa saat ini adalah saat yang memang sudah dinanti-nanti.


"Siapa yang bernama Rino?" tanya salah seorang anggota aparat kepolisian sembari melemparkan pandang ke arah Rino, Reno dan Reyhan secara bergantian.


Sesaat kemudian, tiga orang anggota kepolisian secara bersamaan memeriksa tubuh Reno, Rino dan Reyhan untuk memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang membawa senjata api atau pun senjata tajam yang bisa melukai orang lain.


"Saya, Pak. Silahkan bawa saya. Semua barang bukti yang mungkin akan bermanfaat untuk penyelidikan kasus yang membawa Bapak kemari, sudah saya siapkan. Silahkan Anda bawa sekalian." Rino menunjuk sebuah flashdisk dan juga harddisk di atas meja kerjanya.


Seandainya saat ini tidak ada Reyhan beserta pihak berwajib di ruangan itu, mungkin Reno akan menghajar Rino tanpa ampun atas segala tindakan yang dilakukan saudara kembarnya tersebut tanpa sepengetahuannya. Ditambah lagi sekarang, masalah akan semakin rumit dan serius karena sudah melibatkan penegak hukum. Meski secara logika belum ada satu bukti pun yang bisa menjerat Reno, tetap saja pria tersebut sangat khawatir mengingat dia benar-benar tidak bisa menebak rencana Rino sesungguhnya.


Tidak jauh berbeda dengan Reno, bahkan mungkin ketakutan dan kekhawatiran Reyhan jauh lebih besar dari siapa pun yang ada di ruangan tersebut. Bagaimana tidak, dengan adanya foto asusila yang menempatkan dirinya sebagai aktor utama beredar di masyarakat, tidak menutup kemungkinan dia juga akan langsung ditahan saat ini juga. Mengingat pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Rino, jelas bertujuan menyeret dirinya secara terang-terangan.


"Silahkan dibaca dulu surat perintah penahanan ini, Pak. Anda berhak di dampingi oleh seorang pengacara. Kami akan memberikan waktu selama lima menit untuk menghubungi pengacara Anda, silahkan." Anggota kepolisian bernama Ragil itu menyodorkan secarik kertas kepada Rino.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya tidak akan menggunakan pengacara. Silahkan langsung bawa saya saja." Rino hanya menerima kertas tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu. Bahkan dia menolak kesempatan untuk mendapatkan pembelaan dari seorang pengacara.


"Bodoh! Apa sih maunya ini bocah," umpat Reno dalam hati.


"Dan Anda berdua, karena berada dalam lokasi saat kami melakukan penangkapan, mohon kesediaannya untuk kami mintai keterangan."


Permintaan salah seorang pihak berwajib tersebut tentu malah membuat Reyhan semakin resah. Untuk saat ini, mungkin polisi-polisi di hadapannya hanya fokus pada perintah untuk menangkap Rino atas pelaporan kasus pelanggaran UU ITE pasal 27 ayat 1 tentang penyebaran konten yang berisi segala hal yang masuk dalam kategori asusila. Tetapi nanti, saat Rino memberikan keterangan atau jika Riena atau pun Raditya sudah melakukan pelaporan, bisa jadi Reyhan pun akan langsung ditahan dengan mudah. Seakan dia malah menyerahkan diri begitu saja tanpa perlawanan berarti.


Di waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, Riena tampak menegarkan diri melihat tayangan press conference yang dilakukan Raditya melalui fitur play back di televisinya. Perempuan tersebut tidak menunjukkan reaksi apapun sepanjang menyimak pernyataan sang suami. Sesekali Riena hanya menarik napas dalam dan mengembuskan dengan kasar.


"Mungkin ini jalan keluar yang dikehendaki Allah, Rien. Kami tau tidak bisa menggantikan luka yang kamu rasakan. Tapi lihat suamimu, dia tidak sedikit pun menunjukkan rasa malu. Begitu juga dengan kami. Apa pandangan dan penilaian orang, biarlah itu menjadi urusan mereka. Yang penting kami, Rien. Mama, papa, Radit dan juga mertuamu, akan selalu ada bersama kamu. Raditya sudah melakukan bagiannya. Kini giliranmu, Ndhuk."


"Tenangkan hati dan pikiranmu, Rien. Setelah itu, baru tentukan langkahmu. Jangan terlalu cepat, juga jangan terlalu lambat. Papa yakin dan percaya, Rien lebih tau mana yang terbaik dan benar. Sedikit papa menaruh harapan, untuk anak kebanggaan papa ini, tolong perempuan-perempuan di luar sana yang kondisinya mungkin jauh lebih terpuruk daripada kamu. Jangan menjadi lilin, yang menerangi tapi meleburkan diri dan menjadikannya tiada. Bersinarlah seperti matahari, meski awan tebal kadang menutupi sebagian dari dirinya, masih ada sisi yang mampu menghangatkan belahan bumi lain. Kehadirannya tidak jarang dicela karena terlalu terik memancarkan sinar, tetapi tanpa matahari, alam semesta akan hancur."


Begitu mendalam pesan yang disampaikan oleh Rinto. Sejatinya setiap insan yang terlahir di dunia memang sudah membawa makna tersendiri bagi orang lain. Dipandang bisa memberi manfaat ataukah hanya dinilai sebagai beban kehidupan, tentu bergantung pada masing-masing yang melihat. Sebaik-baiknya suatu hal, akan tetap buruk di mata mereka yang senantiasa mencari kejelekan.

__ADS_1


Sementara itu, di ruang pemeriksaan yang terpisah, tetapi masih di gedung kepolisian yang sama, Reno, Reyhan dan terutama Rino dihadapkan pada penyidik masing-masing untuk menjawab beberapa pertanyaan. Untuk Reno sendiri, dia hanya menerima beberapa pertanyaan saja. Bahkan tidak sampai satu jam, pria tersebut sudah dijinkan untuk pulang. Berbeda halnya dengan Rino dan juga Reyhan yang masih harus melanjutkan pemeriksaan.


Keberuntungan dan nasib baik Reyhan memang sudah harus berakhir di sana. Berkat koordinasi antar aparat penegak hukum, penyidik yang berhadapan dengan Reyhan sudah mengetahui jika pria yang ada dihadapannya sudah dilaporkan oleh seseorang atas tindak kejahatan pemerkosaan. Tidak sulit bagi mereka untuk langsung menahan Reyhan, karena Rino dalam pemeriksaannya membeberkan bukti tindakan biadab pria tersebut dari video yang ada di dalam hard disk yang sudah ia serahkan sebagai barang bukti.


Setelah beberapa jam pemeriksaan, sembari menunggu proses hukum lebih lanjut, Rino dan Reyhan ternyata di tempatkan di dalam sel yang sama.


"Bukankah kamu ingin menghancurkan Raditya? Kenapa sekarang justru kamu menghancurkan dirimu sendiri? Kamu bodoh atau naif?" tanya Reyhan dengan nada dan raut wajah yang sama sinisnya. Sebisa mungkin dia menahan emosi. Sudah sampai di dalam sel, dia tidak ingin hukuman lain mengincarnya karena tindakan atau perilaku emosional.


"Bukan hanya Raditya yang ingin aku hancurkan, tapi kamu juga, Reyhan. Tidak ingatkah kamu peristiwa beberapa tahun lalu? Seorang perempuan muda yang ingin kamu manfaatkan untuk membalas kelakuan Raditya yang meniduri tunanganmu? Perempuan depresi yang kau jejali dengan harapan palsu akan sosok Raditya. Dia Rena, Reyhan. Rena adalah saudara kembarku. Gara-gara kamu adikku hilang akal dan merasa Raditya memang benar-benar mencintainya. Kamu dan Raditya tidak jauh berbeda."


Reyhan terkesiap. Kini dia mulai merangkai serpihan-serpihan fakta yang terjadi. Menghubungkan semua peristiwa menjadi satu kesatuan utuh sehingga dia dapat memahami keadaan dengan benar. Dendam yang ditumpangi dengan dendam. Dulu dia mengacau pikiran Rena yang sudah depresi untuk semakin mengejar Raditya, dan kini, Rino memanfaatkan Ramona dan dirinya secara bersamaan.


"Layaknya dendam yang memang harus dituntaskan. Kini semua impas. Cukup selesai sampai di sini," ucap Rino sembari menatap Reyhan dengan santai.


"Impas? Kamu dan Ramona mengarang cerita hingga membuat aku harus berbuat dosa sebesar ini, kamu bilang impas?" geram Reyhan.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, Raditya menarik napas lega begitu dia mendengar kabar bahwa Rino dan Reyhan sudah tertangkap. Kini, dia hanya harus mencari cara untuk mengurus Reno.


"Apa kami harus turun tangan, Dit?" tanya seseorang pada Raditya.


__ADS_2