
Rosyani seperti orang yang sedang kalah langkah. Dia pasrah dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Riena sudah terlanjur melihat dan penasaran. Tentu akan semakin aneh kalau dia masih memaksa putrinya itu untuk beranjak pergi dari sana.
Dari layar televisi sebesar 70 inch tersebut, Riena dan Rosyani bisa melihat dengan jelas Raditya tengah duduk di belakang pengeras suara yang sudah disiapkan sedemikian rupa. Sang asisten pribadi berdiri di belakangnya dengan tegap.
"Selamat siang semuanya. Terimakasih sudah berkenan hadir di sini. Sebelum saya menyampaikan beberapa hal, ijinkan saya untuk memberikan aturan terlebih dahulu. Sepanjang press conference ini, saya tidak ingin ada pertanyaan dari kalian. Saya harap, apa yang menjadi pernyataan saya sudah cukup mewakili informasi atau kebenaran yang ingin diketahui oleh publik. Jika setelah ini pemberitaan yang kalian berikan melenceng dari keterangan saya, bersiaplah untuk menghadapi tuntutan pidana secara resmi."
Mendengar dan memperhatikan Raditya berbicara melalui layar televisi, membuat Riena yakin hal yang serius telah terjadi. Meski berusaha menunjukkan ketenangan---kegusaran, kemarahan dan kesedihan, jelas masih bisa tertangkap oleh Riena dari setiap penekanan kata, bahasa tubuh, juga sorot mata Raditya.
Beberapa wartawan mulai berbisik-bisik. Tentu press conference tanpa adanya kesempatan bertanya adalah hal yang paling tidak disenangi oleh profesi mereka. Sedetail apa pun informasi yang diberikan, tentu para wartawan selalu memiliki pertanyaan yang bisa membuat mereka bisa mengupas informasi secara lebih mendetail.
"Bisa kita mulai sekarang? Mohon tidak ada suara lain selain suara saya. Jika ada yang bicara, silahkan menggantikan saya saja di depan saya ini. Karena saya tidak ingin mengulang setiap kata yang keluar dari mulut saya. Pastikan kalian fokus dan saling menjaga kondisi agar tetap tertib." Raditya begitu tegas dan lugas saat mengatakannya.
Rosyani dan Riena berdiri bergeming. Tatapan keduanya tidak sedetik pun beranjak dari layar televisi. Riena tidak sabar menanti sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sang suami. Berbeda dengan Riena, Rosyani dalam hati tidak berhenti berdoa untuk meminta kekuatan, perlindungan, kesabaran serta keikhlasan untuk semua anggota keluarga---khususnya untuk Raditya dan Riena. Dalam situasi yang sudah di ujung jurang seperti ini, Rosyani yakin hanya Allahlah yang berkuasa dan mampu menarik mereka agar tidak sampai benar-benar jatuh terpuruk di dalam jurang.
__ADS_1
"Saya rasa, kalian semua pastinya sudah melihat trending sosial media hari ini. Dan tentu hal itu menimbulkan pertanyaan sekaligus spekulasi dalam masyarakat. Di sini, saya ingin menegaskan bahwa foto yang beredar tersebut memang asli. Perempuan yang ada di sana benar adalah istri saya. Dan caption yang tertulis di sana juga tidak salah ...."
Kasak kusuk pemburu berita sesaat sayup terdengar. Jelas ini adalah berita yang sangat menarik dan pastinya akan menjadi trending untuk beberapa hari ke depan. Mengingat, orang-orang yang terlibat di dalamnya bukanlah orang biasa dalam dunia bisnis.
Riena masih belum paham sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Raditya. Perempuan tersebut menunjukkan kebingungannya pada Rosyani. "Ma, kenapa Mas Radit bawa-bawa Rien? Foto apa yang tersebar? Jadi ini bukan masalah perusahaan?"
Rosyani hanya sanggup menggeleng pelan. Lalu ia merangkul pundak Riena dengan erat. Hanya kekuatan dan dukungan tanpa kata yang ingin diberikan Rosyani saat ini.
"Ya, istri saya telah menjadi korban pemerkosaan biadap dari laki-laki yang selama ini dikenal publik sebagai pengusaha sukses berhati mulia karena memiliki beberapa yayasan sosial. Nyatanya, dia tidak lebih dari seekor binatang yang hanya memiliki napsu tetapi tidak memiliki akal serta hati nurani. Dengan keji Reyhan Aditama Prayoga menodai kehormatan istri saya. Melecehkan seorang perempuan yang berada dalam kondisi tidak berdaya, seakan dia adalah laki-laki naif yang tidak bisa mendapatkan perempuan baik-baik untuk dijadikan pasangan."
"Saya dengan dibantu tim IT yang terpercaya, sudah melakukan koordinasi dengan semua social media yang mengunggah foto bukti kejadian yang sangat menyakitkan bagi istri saya. Foto tersebut sudah di take down dan tidak akan ditemukan lagi pada fitur pencarian. Di sini, perkenankan saya memberikan peringatan pada semua pengunggah ulang foto atau pun yang menyimpan foto tersebut untuk menghapus secara permanen. Jika dikemudian waktu saya mendapati masih ada foto yang beredar, sudah pasti tuntutan secara pidana dan perdata akan ditempuh tanpa mengenal belas kasihan."
Sekujur tubuh Riena bergetar. Matanya berkaca-kaca. Dia pernah merasakan langit seakan runtuh menimpa dirinya hingga membuatnya tertanam ke dalam lubang penderitaan yang begitu sempit, dalam dan gelap. Dan kali ini, hal itu terjadi lagi. Seluruh dunia kini sudah tahu bahwa dia pernah diperkosa. Tidak kuasa menahan malu dan pemikiran-pemikirannya sendiri akan pendapat orang, tubuh Riena perlahan melemas.
__ADS_1
Rosyani yang masih merangkul pundak putri kesayangannya itu, menyadari perubahan emosi pada diri Riena. Karena itu, Rosyani merangkul pundak anaknya lebih erat lagi. Benar saja, bersamaan dengan kemunculan Rinto, tubuh Reina tumbang tanpa daya. Untung saja tangan Rosyani masih kuat untuk menopang. Rinto dengan sigap menggendong tubuh Riena dan membaringkannya di atas sofa panjang yang ada di ruangan di mana mereka berada.
Di tengah kepanikan Rosyani dan Rinto yang tengah berusaha memulihkan kembali kesadaran Riena, press conference yang dilakukan Raditya semakin memasuki pernyataan-pernyataan emosional yang memaksa pria tersebut sesekali berhenti di tengah-tengah kalimat. Raditya menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi secara garis besar. Tidak detail dan gamblang, tetapi diharapkan bisa dipahami.
"Sebagai penutup, ijinkan saya menyampaikan sesuatu untuk perempuan-perempuan yang mengalami peristiwa serupa dengan istri saya. Satu hal yang harus kalian katakan pada diri sendiri, ini bukan aib. Kalian tetaplah berharga apa adanya kalian. Dunia masih memiliki ruang yang sama untuk kalian. Bukan kalian yang tidak layak menyesaki bumi, tetapi para pelakulah yang seharusnya merasakan ketidaknyamanan itu."
Para pemburu berita semakin menaruh empati pada Raditya. Dengan nama besar dan kekayaan yang dimiliki, bisa saja Raditya menggunakan cara pintas untuk menuntaskan masalah ini. Tetapi, pria tersebut memilih cara yang tidak biasa. Muncul di media dengan berani dan memberikan pernyataan yang sanggup meredam spekulasi yang sebelumnya sudah muncul di masyarakat. Di mana tidak sedikit orang yang mengira bahwa foto yang beredar bukanlah bagian bukti pemerkosaan. Melainkan adalah bukti perselingkuhan.
"Pak Radit, boleh saya mengajukan satu pertanyaan saja?" tanya salah seorang wartawan dari sisi sebelah kanan depan. Sontak celetukan tanya itu membuat rekan yang lain memusatkan perhatian padanya. Secara dari awal Raditya sudah memperingatkan agar tidak ada pertanyaan selama press conference berlangsung.
Sementara Raditya belum menjawab pertanyaan pewarta berita, Reyhan dan Reno yang sama-sama juga melihat apa yang dilakukan Raditya melalui siaran televisi, terus mengumpat sepanjang acara.
"Semua ini gara-gara kamu, Rino!" gumam Reyhan dan Reno secara bersamaan meski keduanya berada di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Di sisi lain, Rino tampak tersenyum penuh arti. "Mari kita hancur bersama-sama,"