
Tanpa salam dan sapa basa-basi, sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Reyhan itu langsung menarik krah kemeja yang dikenakan Rino. Hingga membuat pria tersebut kesulitan bernapas karena lehernya tercekik.
Reno pun tidak tinggal diam, dia menarik lengan Reyhan dan melayangkan sebuah pukulan kuat yang berhasil mengenai tulang pipi kanan Reyhan.
"Dasar pengecut! Kalian mau keroyokan? Sini maju!" tantang Reyhan sembari memasang kuda-kuda sesaat setelah mengusap pipinya yang terasa ngilu.
"Siapa yang pengecut? Memangnya kamu siapa? Tiba-tiba datang dan masuk dengan cara yang tidak sopan. Apa urusan kamu dengan kami?" Reno berlagak tidak tahu menahu akan sosok Reyhan. Padahal, dia dan Rino tahu betul siapa pria tersebut.
"Jangan berlagak tidak tau siapa aku. Siapa pun kamu, urusanku bukan sama kamu." Ucapan Reyhan tersebut ditujukan untuk Reno. Namun, sorot mata penuh amarah masih tertuju sepenuhnya pada Rino.
"Mari kita bicara layaknya pria dewasa. Jika mau adu otot, silahkan tentukan di arena mana kita akan bertanding. Aku sama sekali tidak keberatan." Bukannya takut, Rino malah menunjukkan ketenangan yang terkesan menantang. Hal itu tentu saja membuat Reyhan semakin terpancing emosinya.
Reno dengan sigap menahan kepalan tangan Reyhan yang sudah melayang dan hampir mengenai bagian dada Rino. "Jika kamu datang kemari hanya untuk beradu kekuatan, aku pastikan kamu tidak akan sanggup berjalan keluar dari ruangan ini dengan kakimu sendiri," ucap Reno sambil mengibaskan tangan Reyhan dengan kasar. Meski dia sendiri sedang sangat marah pada Rino, jelas dia juga tidak akan membiarkan Rino menghadapi siapa pun sendirian. Apalagi keterlibatan Rino sejauh ini, sedikit banyak juga karena dirinya.
__ADS_1
"Katakan mulai kapan kamu dekat dengan Ramona? Sampai di mana hubungan kalian hingga Ramona begitu takhluk sama kamu? Dan bagaimana bisa kamu mendapatkan semua foto-foto yang sudah kamu sebarkan ke media? Apa tujuanmu melakukan semua ini?" Reyhan langsung mencecar Rino. Reputasinya sudah hancur, kali ini, dia benar-benar berharap ada sedikit celah untuk terbebas dari jeratan pidana berat.
"Reyhan-Reyhan, tidak sadarkah selama ini kamu sudah dibodohi Ramona? Kamu pikir hanya Radit yang meniduri mantan tunanganmu itu? Kamu pikir karena kehamilannya tidak diakui Raditya dia menjadi depresi dan sempat gila? Tentu saja tidak!" Rino berseringai licik di ujung kalimatnya.
Bukan hanya Reyhan, Reno pun kini mendengarkan penjelasan Rino dengan seksama. Sungguh Reno sama sekali tidak menduga. Saudara kembarnya yang selama ini terlihat sebagai seseorang yang sangat penurut dan senantiasa melibatkan hati nurani dalam setiap tindakan, ternyata malah sudah melakukan hal yang melampaui batas. Bahkan Rino sanggup berakting pura-pura bodoh dan tidak tahu menahu akan adanya sosok Reyhan yang juga menaruh dendam pada Raditya.
"Ramona tidak sebaik itu, Reyhan. Kamu terlalu dibutakan oleh cintamu sendiri. Seandainya kamu tidak sebodoh ini, tentu kamu akan tau kalau Ramona hanya memanfaatkan dirimu untuk mencapai tujuannya sendiri. Bukan Radit yang memaksa Ramona untuk bercinta. Tunanganmu itu datang dengan suka rela menghampiri dan mengajak Radit ke kamar hotel yang sudah kami siapkan."
"Ya, kami. Aku dan Ramona sudah mengatur semuanya. Itulah mengapa aku mempunyai video percintaan mereka. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Ramona tidak benar-benar mencintaimu, dia ingin kehidupannya terjamin, Perempuan penggila harta, tidak sulit merendahkan harga dirinya demi mempertahankan kemewahan yang dimiliki." Rino menjeda penjelasannya sejenak. Sekedar memastikan Reno dan juga Reyhan benar-benar memahami kata demi kata yang diucapkannya.
Reyhan mengepalkan tangannya begitu kuat. Hingga buku-buku jemarinya memucat karena darah seakan berhenti mengalir di sana. Dia belum paham benar situasi yang terjadi sesungguhnya, tetapi sekilas dari penjelasan Rino, dia mulai tersadar jika dirinya sudah terjebak dalam permainan Ramona. Ya, Reyhan memang tergila-gila dengan perempuan tersebut. Cinta itu bahkan sudah tidak lagi memakai logika. Tidak perlu diragukan lagi. Reyhan yang tidak pernah sedetik pun bercinta dengan Ramona, bahkan rela mengambil alih hak asuh dan tanggung jawab atas Reva yang sebenarnya entah anak siapa.
"Ingatlah kamu mengapa Ramona tiba-tiba menghilang di pesta pertunangan kalian? Tentu saja karena Ramona tau perusahaanmu sedang tidak baik-baik saja, Rey. Dan aku memberikan tawaran yang lebih menarik untuknya ...." Rino menjelaskan dengan gamblang bagaimana kesepakatan yang dibuat antara dirinya dan juga Ramona. Sebuah perjanjian yang tentu saja lebih menguntungkan Rino ketimbang Ramona sendiri. Namun, tentu saja saat itu Ramona setuju-setuju saja karena masih begitu silau dengan harta. Hal tersebut sekarang tentu tidak berlaku lagi.
__ADS_1
Mental sesehat apa pun, jika terus ditekan dan dipaksa untuk pura-pura sakit, lama kelamaan mental itu pun akan benar-benar terganggu. Itulah yang terjadi pada Ramona. Rino selalu menuntut, mengarahkan dan memberikan peranan pada Ramona sebagai seorang perempuan korban pelecehan seksual yang dicampakkan dalam kondisi hamil.
"Bukan Raditya ayah dari Reva. Karena Raditya hanya bercinta dengan Ramona sekali saja. Reva adalah anak dari seseorang yang kami bayar agar bersedia memberikan sel speermanya untuk memuluskan rencana inseminasi agar Ramona hamil tanpa harus bercinta dengan lelaki lain. Aku tidak mau mengambil resiko. Ramona perempuan penggila sek."
Reyhan langsung menghantam mulut Rino dengan kepalan tangan kekarnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan semua yang sudah dia dengar. Serendah-rendahnya seorang Ramona, tidak sepantasnya Rino menjadikan perempuan yang pernah dan mungkin masih dicintainya dalam rasa sakit itu layaknya boneka yang bisa diperintah untuk melakukan semua kemauan Rino.
Kali ini, Reno tidak sedikit pun tergerak untuk membela Rino. Dia membiarkan Reyhan berkali-kali menghujani wajah saudara kembarnya dengan bogem mentah. Rasa kecewanya begitu dalam. Hati kecilnya diliputi tanya. Lalu untuk apa selama ini Rino memintanya menjauhi Riena dan tetap mempertahankan Ratih? Lalu kenapa Rino ingin mereka menyudahi dendam yang sudah terlanjur berkepanjangan? Sedangkan Rino sendiri diam-diam ternyata adalah penulis skenario berdarah dingin. Begitu kejam, karena kekejiannya samar dan menggunakan tangan orang lain.
Bertahun-tahun Reno dan Reyhan menahan diri untuk tidak langsung menuntut balas pada Raditya, tentu karena masing-masing dengan cara tersendiri ingin mendapatkan moment terbaik. Moment di mana puncak kebahagiaan sedang diraih oleh Raditya. Tentu saja agar kehancuran itu semakin sempurna. Namun, siapa sangka, Rinolah orang yang malah menghancurkan semua rencana---justru saat tuntasnya dendam sudah sejengkal mendekati garis finish.
"Bunuh aku sekalian, Rey. Bunuh! Kita sama-sama pendosa, bukan? Siapa yang lebih kejam di antara kita? Tidak perlu kamu jawab. Kita sama-sama kalah. Pukulanmu sama sekali tidak terasa sakit. Tidak sesakit hatiku, saat mengetahui kamu adalah orang yang--,"
"Tetap di tempat! Angkat tangan kalian ke atas!" Beberapa orang berseragam dinas kepolisian tiba-tiba membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1