Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty seven


__ADS_3

Rama menatap istrinya sembari mengulas senyuman yang begitu menenangkan. "Hal yang sangat wajar dan bisa diterima. Papa pun akan mengatakan hal yang sama jika posisi kamu dibalik. Jangan terlalu dijadikan beban pikiran. Yang menjalani tetap Radit sama Riena. Bukan Mas Rinto, Mbak Rosyani dan juga kita."


Retno menarik napas begitu berat. Meski membenarkan apa yang diucapkan sang suami, tetap saja ia tidak tenang jika Raditya belum menunjukkan batang hidungnya. Dari pembicaraan mereka semalam, tersirat jika Rinto sama sekali tidak keberatan jika Riena memilih berpisah dengan Raditya. Hal itu sangat berbeda dengan keinginan Rama, Retno dan Rosyani yang tidak mengharapkan hal terburuk itu terjadi.


"Sudah, kita percayakan saja semua pada Radit. Dia pasti bisa memperbaiki keadaan dan memulihkan kembali kepercayaan Pak Rinto dan Riena. Sekelam apapun kisah masa lalu Raditya, dia tetap punya hak untuk mengubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Jika dia dihakimi sejenak untuk mengingatkan betapa keburukannya di masa lalu sudah menghancurkan segalanya, maka Radit harus terima. Termasuk ketika penerimaan Riena mungkin tidak akan lagi sama. Ketika cermin sudah terbelah, mau diperbaiki seperti apapun tidak akan kembali utuh."


Retno kembali menarik napas berat. "Seorang perempuan bisa memaafkan dengan mudah. Tetapi tidak dengan melupakan. Seperti yang papa katakan barusan. Kalau pun mereka kembali bersama, apa bisa hubungan mereka sehangat biasa?"


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Cukup kita doakan yang terbaik untuk anak-anak kita. Semoga dipanjangkan sabar dan ikhlasnya. Biarkan Allah yang melembutkan hati mereka. Hanya Allah yang berkuasa membolak-balikan hati hambaNya." Rosyani yang tiba-tiba muncul dan mendengar perkataan Retno, mencoba membesarkan hati besannya tersebut.


Bersamaan dengan itu, Riena tampak menuruni anak tangga. Langkahnya pelan namun pasti. Tidak seperti biasanya, perempuan tersebut mengenakan pakaian yang sangat rapi seperti hendak pergi keluar rumah. Biasanya, Riena hanya mengenakan setelan atau daster kekinian rumahan sebagai kostum keseharian.


"Mau kemana, Rien?" tanya Rosyani sembari menghampiri Riena yang sudah menapakkan kaki di lantai satu di mana mereka semua berada.

__ADS_1


"Rien mau keluar sebentar, Ma. Mau beli sesuatu." Riena menjawab dengan lembut. Setelah itu dia melemparkan senyuman yang sedikit dipaksakan pada Rama dan Retno.


"Pakai driver saja, Rien. Biar mama panggil Pak Rahmad. Ini sudah lewat maghrib." Rosyani melangkahkan keluar mencari sopir pribadi keluarga mereka yang biasanya berada di area taman samping garasi.


"Tidak usah, Ma. Riena pergi sendiri saja." Riena mencekal pergelangan tangan sang mama. Lalu sesaat kemudian langsung meninggalkan ruang santai di mana mama dan kedua mertuanya sedang bergeming menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandangan.


Meski dalam hati Rosyani sebenarnya sangat mengkhawatirkan keputusan Riena. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Bagaimanapun, Riena bukan lagi bocah atau abg yang ke mana-mana masih butuh diawasi atau ditemani.


"Anak di kamar terus, bingung. Anak keluar rumah malah mikir," celetuk Rinto yang muncul dari ruang kerja---tidak jauh dari ruang santai berada, seketika membuyarkan lamunan dua orang perempuan yang sedang dalam satu pemikiran.


Bukannya tidak memahami kekhawatiran sang istri. Tetapi Rinto sudah pasti memiliki cara tersendiri untuk menjaga dan melindungi Riena yang masih sangat labil kondisinya. Diam-diam, Rinto sudah menggerakkan kembali anak buah kepercayaannya yang sangat bisa diandalkan dalam hal pengamanan.


Sementara itu, Raditya malah masih tergolek lemah di atas ranjang. Sampai malam begini, belum ada satu aktifitas pun yang dilakukannya. Pekerjaannya hanya menerima telepon dengan malas dan menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk memberikan arahan. Padahal, satu jam lagi ada urusan penting yang mengharuskannya harus ke kantor polisi di mana Reyhan dan Reno ditahan. Sebagai pelapor, dia pun belum melakukan pemeriksaan dikarenakan masih ingin fokus mengumpulkan bukti tambahan yang bisa menguatkan tuntutannya terhadap Rino.

__ADS_1


Dari sekian banyak hal dan rencana yang disusun dengan matang oleh Raditya, hanya satu yang terlewatkan dan seharusnya malah diutamakan. Raditya lupa mengawasi pergerakan Riena sendiri. Entah terlalu percaya atau tidak memperhitungkan kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Kondisi Riena yang labil tetapi berada bersama mertuanya, membuat Raditya beranggapan mungkin istrinya itu sudah berada di tangan yang tepat sementara keduanya saling berjauhan.


Kenyataan tidak demikian, Riena keluar rumah untuk pertama kali, ternyata malah bertemu dengan seseorang yang seharusnya patut Raditya waspadai dan awasi gerak-geriknya. Dari ketiga orang yang erat berkaitan dengan kejadian pemerkosaan Riena, hanya sosok inilah yang tidak ditahan karena polisi belum menemukan hubungan sosok ini dengan kejahatan yang dilakukan Rino.


Di sebuah restoran tidak jauh dari bandara kota Malang, Riena terlihat menghampiri sosok yang pastinya adalah Reno. Perempuan tersebut sengaja menerima ajakan pria itu untuk menggali sebuah informasi demi memastikan cerita yang disampaikan Ratih sesaat setelah Reno meninggalkan sahabatnya itu tanpa perasaan.


"Terimakasih kamu bersedia menemuiku, Rien. Aku tidak menyangka kamu masih mau datang." Reno langsung menyambut kedatangan Riena begitu ramah. Wajahnya sumringah. Sungguh jauh dari kesan suami yang baru saja berbuat seenaknya pada seorang istri.


Riena sedikit memaksakan senyumnya. "Aku tidak bisa lama-lama, jadi langsung saja pada pembicaraan kita."


Reno mengangguk mantap seraya membantu Riena menarik bangku untuk duduk dengan cekatan.


Di tempat lain, kehebohan terjadi menjelang rutinitas makan malam dimulai. Ruang penitipan tahanan sementara untuk terdakwa kasus-kasus yang masih dalam proses persidangan mengalami kebakaran. Membuat para tersangka yang menghuni lapas tersebut mengalami kepanikan yang luar biasa.

__ADS_1


"Rey, Reyhan ...."


__ADS_2