Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty


__ADS_3

Pintu kamar Raditya perlahan terbuka diikuti Retno yang masuk ke sana sembari membawa semangkok bubur hangat. Sebagai seorang ibu, tentu dia sangat memahami kondisi sang anak.


"Sarapan dulu, Dit." Retno meletakkan mangkok bubur di atas nakas.


Belum apa-apa, Raditya sudah menutup hidungnya. Aroma taburan bawang goreng di atas bubur begitu menusuk hidung. Sukses membuat perutnya kembali serasa diaduk-aduk. Dia pun segera berlari ke dalam kamar mandi dan berusaha memuntahkan sesuatu yang seolah terus mengganjal di tenggorokannya.


Dengan langkah lebar Retno bergegas menyusul Raditya. Dia membantu memijat leher belakang putra kesayangannya itu agar tidak terlalu merasakan siksaan rasa mual yang tidak kunjung reda.


"Manggil dokter saja, ya, Dit?" tanya Retno.


Raditya mengangguk lemah dan pasrah. Sebelumnya, dia tidak pernah mengalami sakit seperti sekarang. Cukup hanya istirahat sebentar, penyakit sudah menghilang. Andai saja tidak banyak urusan yang harus diselesaikan, tentu Raditya ingin sekali tiduran saja di ranjang.


Tidak jauh dari kediaman rumah Raditya, Reno yang baru saja datang langsung disambut tanya oleh Ratih. Bukannya meminta maaf atau mengakui kesalahannya yang tidak memberi kabar dan mematikan ponsel dari semalam, Reno malah sengaja menabur pertikaian dengan sang istri.


"Tidak bisakah kamu membiarkan aku istirahat dulu? Aku capek, Tih. Kita bisa bicara nanti saja." Reno terus berjalan tanpa memedulikan Ratih yang menanti jawabannya.


"Mas, aku cuman bertanya. Aku khawatir karena ponsel mas tidak bisa dihubungi. Salahkah aku kalau sesekali ingin mas mengirimkan kabar jika berada di luar kota? Bahkan mas pergi tanpa Rino saja mas nggak ngasih tau aku." Ratih ikut berjalan di belakang suaminya dengan langkah terburu.


"Salah, Tih, sikapmu jelas salah. Dari awal bukankah kamu tau kalau aku memang seperti ini? Kanapa kamu jadi banyak menuntut sekarang? Jangan mengajakku berdebat!" Reno membuka pintu ruang kerjanya dengan kasar.

__ADS_1


Ratih menarik napas dalam. Padahal sikapnya masih sangat wajar. Pertanyaannya bukanlah pertanyaan yang mengintimidasi apalagi menuduh. Tidak ingin berkepanjangan, Ratih memilih menyudahi perdebatan mereka.


Tidak lama berada di dalam ruang kerjanya, Reno kembali ke luar dengan wajah yang sangat murka. Pria tersebut berteriak memanggil Ratih dengan intonasi kemarahan yang kentara.


"Ada apa, Mas? Kenapa marah-marah begitu, sih?" Ratih buru-buru menghampiri Reno yang berdiri sambil berkacak pinggang tepat di anak tangga pertama lantai dasar. Dia sendiri sebenarnya sudah siap untuk berangkat dinas.


"Siapa yang mengijinkan Rino masuk ke ruang kerjaku? Kamu?" Reno menatap tajam Ratih.


"Mas, kamu kenapa, sih? Rino keluar masuk ke ruanganmu bukan hal yang aneh, bukan? Tanpa seizinku atau tidak, dia sudah melakukan itu sejak kita belum pindah ke sini." Kesabaran Ratih sudah mulai habis. Ingin mengalah, tetapi rasanya Reno semakin mencari-cari kesalahan untuk dilimpahkan kepadanya.


"Kali ini berbeda, Tih. Sudahlah, malas aku terus berdebat. Pulang ke rumah bukannya bisa tenang pikiran, malah nambah beban." Reno melangkahkan kaki ke arah pintu utama. Pria tersebut kembali meninggalkan rumah. Kali ini tanpa pamit entah hendak pergi kemana.


"Tidak, ini tidak mungkin," ucapnya seraya bangkit berdiri dan mengambil gagang pesawat telepon. Tiga digit nomor ditekannya untuk menghubungi sang asisten kepercayaan yang berada di ruangan lain.


Berselang hanya beberapa menit saja, asisten yang bernama Ramon itu masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Dengan sopan dia bertanya, "permisi, Pak, ada tugas untuk saya?"


"Kirim orang untuk mengawasi dan juga mencari tau satu per satu orang yang datang ke rumah Ramona. Pastikan tidak ada yang terlewatkan. Untuk sementara, putus hubungan komunikasi Reva dan Ramona!" perintah Reyhan dengan tegas dan jelas.


"Baik, Pak, akan saya laksanakan. Apakah ada lagi?" tanya Ramon sebelum meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Tidak. Pergilah! Sebisa mungkin lakukan dengan cepat." Reyhan kembali duduk di kursi kebesarannya. Hati pria tersebut mulai dilanda kecemasan. Jelas Reyhan sama sekali tidak menginginkan ada orang lain yang tahu jika dia adalah pria yang sudah berbuat keji pada seorang perempuan. Kenyataan ini, jelas mengusik ketenangannya.


Belum juga reda kekhawatiran yang dirasakan Reyhan, beberapa notifikasi pesan text tampak bertubi-tubi masuk pada ponselnya. Hingga membuat layar tersebut menyala dan menunjukkan pergerakan angka yang begitu cepat berubah di sebelah aplikasi berbalas pesan warna hijau.


Reyhan pun membuka pesan tersebut satu per satu. Matanya jelas terbelalak lebar membaca dan melihat apa yang terpampang nyata di sana.


"Sialan! Siapa yang berani melakukan ini semua?" Reyhan membanting ponselnya ke lantai. Hingga benda canggih tersebut mengalami pecah pada bagian layarnya dengan sangat parah. Namun, karena telepon genggam tersebut memiliki kecanggihan dan proteksi yang luar biasa, benda itu masih menyala dan bisa berfungsi dengan baik.


Tidak jauh berbeda kondisinya dengan Reyhan, Reno yang kini berada di sebuah unit apartemen yang di belinya tanpa sepengetahuan Ratih, juga mengumpat geram mendapati langkahnya telah didahului oleh seseorang. Baru saja dia mulai dekat dengan Riena---kepercayaan belum di dapat sepenuhnya, tetapi barang bukti yang seharusnya dia gunakan sebagai senjata untuk menarik hati Riena sudah tidak lagi bernilai. Bukti itu kini sudah tersebar ke dunia maya.


Sementara itu, ponsel Rinto dan Rosyani tidak hentinya berdering. Panggilan telepon dari kolega dan juga kerabat terus silih berganti berusaha untuk menghubungi keduanya. Namun, tidak satu pun dari panggilan tersebut yang di terima. Rosyani dan Rinto memilih fokus menjaga agar Riena tidak sampai membuka sosial media atau telepon genggamnya. Keduanya tidak sedetik pun meninggalkan Riena. Setiap kali putrinya itu ingin mengambil gawainya, Rinto atau Rosyani selalu bertindak cepat mengalihkan perhatian Riena pada hal lain.


Hal yang berbeda dilakukan oleh pasangan Retno dan Rama, kedua orangtua itu langsung menghampiri Raditya yang masih meringkuk lemah di atas ranjang karena obat yang diberikan oleh dokter tidak membuat keadaannya membaik sedikit pun.


"Dit, bangun! Jangan manjakan rasa sakitmu. Lihat ini!" Rama melemparkan ponselnya dengan geram. Benda itu jatuh tepat mengenai dagu Raditya.


"Ada apa, sih, Pa?" Raditya bersusah payah membuka matanya. Bukan karena kantuk, tetapi karena dia merasakan bumi berputar begitu hebat ketika dalam kondisi terjaga.


"Bangun, Dit! Jangan manja! Kamu harus segera melakukan sesuatu. Masa bodoh dengan reputasi keluarga kita. Selamatkan Riena. Perasaan dan kehormatan dia yang utama." Retno mengguncang pundak Raditya dengan tidak sabar. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Riena dan Riena semata.

__ADS_1


__ADS_2