Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty eight


__ADS_3

Seorang narapidana berteriak memanggil Reyhan ketika melihat pria tersebut tidak segera berlari menuju titik kumpul untuk menyelamatkan diri. Reyhan malah sibuk mencari sesuatu di dalam saku tasnya. Namun, bola matanya terus bergerak lincah mencari keberadaan Rino di tengah situasi mencekam karena teriakan kesakitan dari beberapa tahanan yang mengalami sesak napas.


Kepulan asap hitam semakin menebal, pria yang tadi memanggil-manggil Reyhan akhirnya berlari dan tidak memedulikan temannya lagi. Teriakan kepanikan bercampur dengan rintih kesakitan semakin terdengar bersahutan dan menyayat hati. Semua orang sibuk menyelamatkan diri. Lupa peduli dengan yang lain. Padahal, ada beberapa sel yang belum terbuka gemboknya. Sehingga penghuni di dalam sel, meninggal dunia seketika karena terpanggang hidup-hidup.


Di tengah kekacauan, dengan langkah tertatih Reyhan berusaha berjalan menerobos asap tebal. Napasnya sudah terasa berat karena kadar oksigen semakin berkurang. Pandangan Reyhan pun menjadi kabur. Tetapi dia berusaha tetap berjuang untuk mencapai titik yang ditujunya. Bukan masalah menyelematkan diri yang membuat Reyhan mati-matian bertahan. Tetapi sebuah dorongan kuat akan sebuah dendam dan sakit hati yang ingin dituntaskanlah yang menggerakkan kakinya untuk terus melangkah.


Di sisi lain, Riena dan Reno masih duduk terdiam saling berhadapan tanpa kata. Meski terlihat tenang, sebenarnya Riena sedang bersusah payah meredam ketidaknyamanannya. Bohong jika dengan semua yang sudah terjadi, terutama ketika dia sudah mengetahui sepenggal cerita dari Ratih---Riena bisa bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Tentu tidak demikian. Dia terus menguatkan hati dan pikiran agar bisa melawan ketakutan, kebencian serta ketidakberdayaan akan rasa traumanya sendiri.


"Jadi apa lagi yang ingin kamu sampaikan, Ren?" Riena bertanya tanpa menatap wajah Reno.


"Santai saja, Rien. Tidak mau pesan makan dulu? Maaf aku makan duluan ini tadi." Reno sepertinya memang sengaja mengulur waktu agar bisa berlama-lama menatap paras cantik wanita di depannya. Di atas meja sebenarnya dia sudah menyiapkan beberapa menu makanan ringan dan juga minuman yang masih utuh.


"Tidak. Langsung saja. Aku yakin ini masih tentang suamiku, bukan? Ada apa lagi? Apakah cerita masa lalu belum juga bisa disudahi?" tegas Riena. Sesaat menatap Reno, lalu menundukkan pandangannya kembali.

__ADS_1


"Duh, kamu nggak sabaran sekali. Lagian, kenapa kamu masih peduli sama dia? Setelah apa yang dia lakukan, seharusnya dia tidak pantas mendapatkan perhatianmu. Ingat Rien, apa yang kamu alami, itu karena dia loh."


Riena mengulas senyuman sinis. Entah dia sedang menujukan senyuman itu untuk apa dan siapa. Wajahnya sudah tidak lagi menunduk. Tetapi tatapannya juga tidak tertuju pada Reno.


"Rien, mungkin sekarang yang menuntut balas pada Radit adalah Rino dan Reyhan. Tapi ke depan? Bisa jadi ada lagi dendam dari perempuan atau keluarga dari perempuan yang pernah menjadi korban dari kenakalan suamimu itu. bagaimanapun, tidak ada yang rela dipermainkan. Dan Raditya tidak sekedar mempermainkan perempuan yang dekat dengannya. Dia mengambil kehormatan dari perempuan-perempuan itu. Sehingga mereka terbuai dan menyerahkan darah keperawanan mereka secara sukarela."


Reno sengaja mengatakan hal tersebut untuk menegaskan betapa bejatnya seorang Raditya di masa lalu. Dia paham benar ketika awal-awal menjalin hubungan dengan Riena, banyak pengkhianatan yang dilakukan oleh Raditya karena ketidaksanggupan pria tersebut menahan napsu birahi yang sedang liar-liarnya.


"Terus apa lagi, Ren?" Meski pelan, pertanyaan Riena itu tidak menekankan rasa keingintahuan. Melainkan lebih pada rasa ingin menguji sejauh mana tingkat kebencian dan Keculasan Reno.


"Berbicara memang semudah itu, ya, Ren. Menunjuk keburukan orang lain bukanlah sesuatu yang sulit. Hanya butuh sedikit rasa benci dan dengki untuk melihat jelas kekurangan orang," sindir Riena.


"Aku tidak membenci Radit. Sama sekali tidak. Sudah aku bilang sama kamu, Rien. Dendamku sudah lama usai. Itulah kenapa aku juga bingung kenapa Rino berbuat sejauh ini. Andai aku tau, pasti aku akan menghalangi niatnya. Saat ini, aku hanya peduli sama kamu, Rien. Maaf kalau perbuatan Rino membuat semua orang tau tentang kejadian buruk yang menimpamu. Aku akan menebus kesalahan Rino padamu. Aku yang akan memperbaiki semuanya." Reno mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri.

__ADS_1


"Rino yang salah, kenapa kamu yang harus bertanggungjawab? Apa ada yang meminta pertanggungjawabanmu? Ren, taruhlah Mas Radit memang seorang pendosa di masa lalu. Tetapi apakah ada hak kita untuk turut turun tangan mengadilinya? Tuhan saja tidak serta merta memberikan balasan kejam pada kesalahan hambaNya."


"Memang tidak ada yang meminta tanggung jawabku, Rein. Ini murni karena aku menaruh empati sama kamu. Pertama kali melihatmu, aku sudah merasakan kamu begitu istimewa. Sayang sekali kamu harus hidup bersama Radit dan menanggung dosanya lebih besar. Rien, ambil keputusan. Tinggalkan Radit. Masih banyak pria baik-baik yang mau mendampingimu. Sekali pun nanti statusmu seorang janda, tidak akan berkurang pesonamu untuk menarik kaumku." Reno masih saja berusaha membuat Riena terkesan kepadanya.


"Jangan melebihi batas kita, Ren. Seharusnya kamu malu mengatakan hal seperti itu padaku. Aku ini sahabat Ratih. Dan kamu suaminya. Kemarin-kemarin aku mencoba mempercayaimu. Menganggapmu berbeda karena kamu adalah pendamping hidup Ratih. Pastilah dia tidak akan salah pilih. Ternyata aku salah. Kamu tidak sebaik yang aku dan Ratih kira." Riena mulai membalas tebaran pesona Reno dengan ucapan-ucapan ketusnya.


"Rien, pernikahanku dan Ratih adalah sebuah kesalahan. Kami terlalu buru-buru memutuskan untuk menikah. Baru sebentar kami menikah, rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Bukan karena kami terlalu memahami satu sama lain, tapi karena pernikahan kami sangat membosankan."


Riena seketika berdiri dan langsung menyambar segelas air putih yang ada di meja. Dia menyiramkan air tersebut tepat di wajah pria yang menurutnya sangat pandai bermain peran tersebut.


"Kamu bodoh, Ren. Kamu pria yang sangat tidak tau diri. Memiliki istri seorang Ratih adalah anugerah. Tapi kamu melepaskannya untuk hal bodoh yang tidak pasti. Kamu akan menyesal. Di luar sana memang banyak perempuan cantik, tapi belum tentu mereka bisa memahamimu sebaik Ratih. Bagimu mungkin aku memang lebih menarik ketimbang istrimu sendiri. Sayangnya aku tidak menganggapmu demikian. Bagiku kamu sama piciknya dengan Rino, Reyhan atau siapa pun yang membalas perbuatan buruk Mas Radit melalui aku. Pria sejati menyelesaikan masalah langsung dengan si pembuat masalah, tidak melalui orang lain."


Riena langsung meninggalkan Reno yang masih sibuk mengeringkan wajahnya dengan tisu. Beberapa pengunjung resto tampak memperhatikan mereka dengan tatapan yang menyiratkan beragam prasangka.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, teriakan lantang disertai gerakan reflek beberapa tahanan dan petugas kepolisian, sigap mengamankan sosok bermasker yang baru saja datang ke titik kumpul evakuasi keadaan darurat. Di tengah kondisi yang masih mencekam karena api semakin besar berkobar, seseorang itu memanfaatkan situasi dengan sangat baik. Sementara beberapa orang lain, membantu Rino yang sudah tersungkur memegangi bagian dadanya.


__ADS_2