
Bersamaan dengan itu, pintu kamar tepat di depan Raditya berdiri terbuka lebar. Rasa pahit dan getir sisa muntahan yang kembali tertelan di tenggorokan seketika terasa semakin terasa pahit. Tumpahan cairan menjijikkan dari mulut Radit, tepat mengenai kaki Riena.
"Maaf, Bee ...." Hanya dua kata tersebut yang sanggup Raditya ucapkan. Pipinya tampak bersemu merah karena malu. Sungguh dia merasa tidak enak hati.
"Mas ... Mas Radit sakit?" Riena yang sebenarnya masih sangat terkejut dengan kedatangan Raditya dan juga apa yang baru saja menimpanya malah mengulurkan tangan hendak memeriksa kening Raditya. Perempuan berparas cantik itu tidak sedikit pun risih dengan kakinya yang basah dan lengket terkena muntahan.
"Aku---," Raditya tidak meneruskan ucapannya. Kali ini, hati kecilnya berbisik agar dia memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan kembali perhatian Riena. "Mungkin aku hanya masuk angin. Setelah sholat subuh, aku akan tidur sebentar. Sekarang kamu bersihkan dulu kakimu, Bee. Maaf ... aku benar-benar tidak bisa menahan mualku," tambah Raditya reflek menarik tangan Riena kembali masuk ke dalam kamar.
Meski sedikit risih dan belum nyaman dengan perlakuan Raditya, Riena tidak menolak. Dia pun langsung masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Sementara Raditya mengambil baju di lemari pakaian miliknya yang ada kamar itu.
Tidak lama, Riena keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan daster rumahan yang sudah berganti. "Air panasnya sudah aku siapin, Ay. Kamu mandi dulu. Biar aku bikinkan jahe hangat biar enakan."
Raditya mengangguk pelan. Dalam hati, jelas pria tersebut sedang berbunga-bunga. Setelah sekian lama Riena memperlakukan dirinya seperti sosok yang teramat menakutkan, kini sikap istrinya tersebut melembut. Meski masih jauh dari kehangatan sebelumnya, keadaan ini sudah patut disyukuri. Riena sedang berproses, maka dia harus menemani proses tersebut tanpa banyak mengeluh.
Sementara itu, Retno dan Rama yang berjalan melewati kamar Riena, hampir saja terpeleset karena cairan muntahan Raditya juga tertinggal di sana.
__ADS_1
"Innalillahi, siapa numpahin air di sini? Kenapa tidak langsung dibersihkan? Bagaimana kalau Riena yang lewat. Bisa jatuh kan bahaya," omel Retno dengan suara cemprengnya yang khas.
Mendengar suara keributan di depan kamarnya, Riena pun segera keluar. "Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Ini siapa numpahin air di sini. Eh, tunggu, ini ada nasi utuh juga. Bekas apa sih ini?" Retno membungkukkan badannya. Melihat lebih dekat tumpahan yang sebenarnya tidak begitu banyak di sana.
"Oh, ini bekas muntahan Mas Radit. Rien belum bersihkan." Riena mengambil keset kering di dalam kamarnya dan meletakkan benda tersebut tepat di atas muntahan sang suami.
"Radit datang?" Retno dan Rama kompak melongokkan kepala ke dalam kamar. Mereka memang belum tahu akan kedatangan sang putra satu-satunya.
"Mas Radit masih mandi, Ma, Pa. Sepertinya masuk angin." Menyadari kedua mertuanya tampak cukup terkejut dengan kedatangan Radit, Riena pun buru-buru memberikan penjelasan tambahan.
"Bisa jadi Radit sedang banyak pikiran, Ma. Lambung itu kambuh bukan hanya karena telat makan, tapi juga bisa dipicu karena stres." Rama ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Tidak-tidak. Mama yakin kali ini beda. Rien, ayo kita ke dokter kandungan pagi ini. Mama yakin, anak yang kamu kandung, pasti anak Radit. Apa yang dialami Raditya sekarang persis yang dialami papamu dulu. Saat hamil Radit, mama nggak seperti orang hamil pada umumnya. Malah papamu yang muntah, pusing dan nyidam ini itu."
__ADS_1
Riena terdiam. Setiap kali bicara kehamilan, rasanya dia tidak siap dan ingin menghindar. Seandainya peristiwa kelam pemerkosaan itu tidak pernah terjadi, kehamilan ini tentu akan disambut dengan suka cita yang luar biasa oleh Riena.
"Tidak perlu pergi kalau kamu memang tidak siap, Rien. Kamu pemilik tunggal atas dirimu selain Allah. Tidak ada orang lain yang berhak mengatur dirimu harus kemana dan bagaimana. Papa yakin kamu tau yang terbaik. Nikmati proses hidupmu sekarang. Meski sulit, Papa yakin kamu bisa. Ingat! Kamu masih sangat beruntung dibanding perempuan lain di luar sana." Rama berusaha menjadi penengah di antara keinginan Retno yang terkesan sedikit memaksa. Sedangkan Reina sendiri jelas masih berat untuk mengabulkan keinginan Retno.
Setelah itu, semua penghuni rumah pun berkumpul di mushola untuk melakukan ibadah wajib dua rakaat. Tidak terkecuali dengan Raditya yang datang belakangan mendekati rakaat pertama dimulai. Di sanalah, Raditya baru bertemu dengan Rinto. Kedua pria yang bisa dikatakan sangat mencintai Reina tersebut menunjukkan kecanggungan---tidak sehangat biasa. Suasana itu berlangsung hingga sholat subuh berjamaah usai.
"Apa kabar, Pa?" Raditya menyapa sembari mencium punggung tangan Rinto.
"Seperti yang kamu lihat. Setelah ini, kita bicara di taman." Rinto menjawab dengan nada dan wajah yang sama datarnya. Pria itu berjalan meninggalkan Radit, menyusul Rama yang sudah dulu beranjak dari sana karena ada panggilan alam yang tidak bisa ditunda.
Di sisi lain, Retno dan Rosyani saling berbisik lirih sembari melirik Riena yang sedang melipat mukena. Kedua ibu tersebut sepertinya tengah merencanakan sesuatu.
"Bagaimana, Mbak? Kita harus sedikit nekat. Saya rasa ini cara yang tepat." Retno menarik lengan Rosyani dengan sedikit kuat. Dia bermaksud mengajak besannya itu untuk segera menjauhi posisi Riena.
"Tapi kalau papanya Riena tau bagaimana? Tau sendiri, kan, Mas Rinto sekarang susah banget satu pemahaman sama kita? Bisa-bisa malah runyam. Dan yang paling saya takutkan, kalau kenyataan malah jauh dari dugaan kita, Riena pasti akan semakin tenggelam pada rasa traumanya." Rosyani terlihat benar-benar ragu.
__ADS_1
"Mbak, kita ini seorang perempuan yang sudah pernah hamil dan melahirkan. Meskipun anak kita cuman satu, bukan berarti kita tidak banyak pengalaman. Saya ini yakin 100 persen. Sudah, mbak, kita Bismillah saja. Ini juga demi Riena. Saya yakin kalau sudah ada kejelasan dan terbukti dugaan kita benar adanya, pasti Riena perlahan akan kembali seperti semula." Retno terus
berusaha meyakinkan Rosyani. Keduanya terus berjalan meninggalkan musholla. Melewati Radit yang masih setia menunggu Riena tanpa sapa.