Penjara Luka

Penjara Luka
Part fivty seven


__ADS_3

"Radit paham, Pa. Radit bisa menerima pemikiran papa. Mohon beri Radit kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah Radit perbuat. Mungkin usaha yang Radit lakukan tidak akan sanggup menghapus kejadian buruk yang terlanjur menimpa Riena. Setidaknya, ijinkan Radit memberikan kenangan baru yang perlahan mungkin bisa mengubur kenangan pahit itu."


Rinto mengalihkan perhatian pada bingkai foto berukuran besar yang menempel pada dinding di sisi atas ranjang. Di mana foto tersebut menampilkan prosesi akad nikah Raditya dan Riena. Di sana, Rinto terlihat menjabat tangan Raditya yang duduk di samping Riena dengan mantap. Tergambar jelas pernikahan yang dilangsungkan saat itu bukanlah pernikahan yang terjadi atas dasar keterpaksaan. Pancaran cinta berbaur sempurna dalam kebahagian dan keharuan, tersirat dari sorot mata semua orang yang tertangkap dalam potret.


"Saat Raditya menjabat tangan papa dan mengucap akad, saat itu pula tanggungjawab dunia akhirat Riena sudah beralih di pundak Radit. Radit tidak hanya menerima nikah dan kawinnya Riena prameswari binti Rinto Harahap, melainkan juga kekurangan, dosa, khilaf dan segala baik buruknya perilaku Riena. Raditya yang bertanggungjawab. Bukan lagi papa. Tanpa mengurangi rasa hormat Radit pada papa, ijinkan Radit menunaikan janji itu hingga akhir hembusan nafas Radit."


Tanpa sadar, air mata Rinto menetes. Pernyataan Raditya barusan dirasakannya begitu tulus dan penuh kesungguhan. Namun, tentu saja Rinto masih terlalu gengsi jika secepat ini harus melepas kembali Riena tanpa syarat. Meski ia paham benar, untuk saat ini, Raditya lebih berhak atas Riena ketimbang dirinya.


"Sesaat seusai akad, Raditya dan Riena memohon restu pada papa. Apakah papa lupa apa yang papa sampaikan pada Radit waktu itu? Papa bilang, laki-laki adalah pemimpin sekaligus pelindung bagi perempuan. Saat seorang pemimpin mulai menyerahkan kendalinya pada perempuan, maka akan merugilah dia. Dan ucapan papa itu benar adanya. Andai Raditya tegas menjadi seorang suami. Andai Radit tidak memberikan Reina kepercayaan sepenuhnya untuk pergi sendiri, tentu kejadian buruk sekecil apa pun tidak akan menimpa Riena."


Rinto lagi-lagi hanya bisa terdiam. Tarikan napasnya begitu dalam dan berat. Di luar kekecewaannya pada Raditya yang sudah membawa serta Riena dalam kisaran kelam masa lalu, Rinto harus mengakui betapa pertobatan yang dilakukan Raditya telah sanggup meluluhkan egonya sebagai seorang ayah.


"Dengan apa lagi Radit harus menunjukkan kesungguhan Radit untuk memperbaiki diri sebagai suami, Pa? Insya Allah Raditya akan lakukan yang terbaik. Asal jangan pisahkan Raditya dengan Riena. Jika kami berpisah, apa lagi yang bisa Radit buktikan? Radit akan menjaga Riena lebih baik lagi."

__ADS_1


"Papa percayakan kembali Riena padamu, Dit. Buktikan ucapanmu. Jangan sampai ada lagi yang menyakiti hati putri kecil papa. Riena memang istrimu, tapi Riena adalah seluruh dunia beserta isinya bagi papa. Jika bahumu tidak cukup kuat untuknya bersandar, bahu ini selalu ada dan tidak akan pernah rapuh untuknya berkeluh." Suara Rinto bergetar menahan tangis sembari menepuk bahunya sendiri dengan gerakan pelan.


Raditya tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak hanya Rinto yang dilanda keharuan. Raditya pun merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka adalah dua pria yang tidak pandai meluapkan perasaan. Pelukan tentu bukanlah hal yang biasa mereka lakukan. Hanya sebuah senyuman mengiringi tepukan hangat Rinto pada pundak Raditya yang menjadi pertanda ketegangan di antara mereka berdua telah usai.


****


Suasana rumah semakin menghangat. Hati masing-masing orang yang berada di sana sedang di penuhi rasa syukur karena badai perlahan mereda. Yang menjadi permasalahan saat ini hanyalah keinginan Riena. Sedikit memaksa, perempuan yang tengah berbadan dua tersebut terus mengajak Raditya untuk kembali ke Jakarta sesegera mungkin. Padahal Rosyani Dan Rinto berharap agar Riena lebih lama tinggal bersama mereka.


"Biar besok pagi Rien bisa langsung memenuhi panggilan kepolisian, Ma. lebih cepat lebih baik. Lagian Mas Radit juga sudah pengen banget makan gabus pucung. Kasihan seharian perutnya belum keisi apa-apa." Riena menoleh sekilas ke arah Raditya yang duduk tepat di sampingnya dengan kondisi setengah lemas karena baru saja memuntahkan sup iga buatan Rosyani.


"Buat apa kasihan, Rien? Kamu hamil juga ulah dia. Biar dinikmati. Kalau perlu, sembilan bulan penuh Radit begitu. Itu hukuman karena sudah pernah main-main sama perempuan. Mama malah seneng. Biar karmanya habis sekarang. Jangan sampai keturunan kalian yang merasakan akibat dari kenakalan bapaknya. Mama berharap anak pertama kalian ini perempuan. Mama pengen tau akan setenang apa tidur Radit kalau anaknya keluar rumah," ceplos Retno tanpa sadar.


Bukan hanya Raditya yang tidak nyaman dengan ucapan Retno, Riena pun demikian. Ucapan Retno seakan mengingatkan resiko ke depan yang akan dihadapi. Trauma yang dirasakan Riena tidak hanya akan berdampak pada dirinya. Tentu rasa itu akan mempengaruhi pola asuh atau sikap Raditya dan Riena terhadap anak-anak mereka.

__ADS_1


"Dalam keyakinan kita tidak mengenal karma. Pada dasarnya, setiap perbuatan dan keputusan yang kita ambil pastilah memiliki resiko di belakangnya. Tapi sebagai manusia yang memiliki iman, tidak sepantasnya kita menaruh prasangka buruk kepada Allah. Yang belum kejadian, doa kan yang baik-baik. Dan satu lagi, Mau anak perempuan atau laki-laki, sama saja sekarang," tukas Rama sembari melirik tajam ke arah Retno.


Untuk mencairkan suasana yang mendadak berubah tegang, Rinto akhirnya berkata, "ya sudah, kalian boleh pulang malam ini. Tapi ingat! Sering-sering hubungi papa mama."


Rosyani beranjak berdiri menghampiri Riena. Lalu keduanya saling berpelukan erat. "Payung tidak bisa menghentikan hujan. Ia hanya melindungi kita dari guyuran air langit. Begitu pun dengan keimanan kita pada Sang Maha segalanya. Senantiasa beriman pada Allah tidak menjanjikan hidup kita selalu dalam kemudahan. Tapi percayalah, mengimani Allah dengan segala sifat-Nya, membuat kita merasa kuat meski kita sedang terjatuh dan tidak memiliki apa-apa."


Tidak lama dari itu, Riena dan Raditya pun benar-benar kembali ke Jakarta. Keduanya menggunakan private jet yang di sewa Raditya dari rekan bisnisnya. Sepanjang perjalanan udara yang ditempuh kurang lebih selama satu jam 40 menit, Raditya menghabiskan hampir separuh waktunya di dalam toilet.


"Bee, habis ini aku nggak mau naik pesawat lagi. Lain kali kalau ke Malang, kita naik kereta atau mobil saja," keluh Raditya begitu sudah berada di dalam mobil jemputan mereka.


Riena hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil. Dia tidak mau menanggapi serius karena paham benar kondisi suaminya sekarang hanyalah efek dari cauvade syndrome.


"Bee, aku mau itu," ucap Raditya, tiba-tiba sambil menunjuk sesuatu yang memaksa Riena harus menajamkan indera penglihatannya.

__ADS_1


__ADS_2