Penjara Luka

Penjara Luka
Part nine


__ADS_3

Riena menatap Ratih dengan sendu. Andai tatapan itu bisa diterjemahkan dalam kata-kata, mungkin perempuan tersebut sedang ingin memastikan apa yang baru saja diucapkan Ratih bukanlah kata penghibur semata.


"Aku janji akan membawamu keluar dari sini, Rie. Kamu tenang dulu, ya. Yang sabar. Aku tau dan percaya kamu baik-baik saja." Ratih memilih untuk mengikuti pemikiran Riena. Memastikan perempuan tersebut nyaman dan menaruh kepercayaan padanya.


"Siapa yang membawaku kesini? Suamiku? Di mana dia sekarang?"


Akhirnya, Ratih menarik napas lega. Pertanyaan itulah yang ditunggu-tunggunya sejak tadi. Paling tidak, Raditya memang sosok penting dan berpengaruh dalam kehidupan Riena. Dan pria itu benar, Riena hanya butuh waktu untuk bisa membuka diri dan kembali berbagi segala hal dengan suaminya itu.


"Iya suamimu yang membawamu kemari. Kamu beruntung, Rie. Dia begitu mengkhawatirkan kamu. Tadi perawat memintanya pulang. Kalau kamu mau bertemu dia sekarang, biar aku meminta perawat untuk menghubungi suamimu," jelas Ratih sembari perlahan kembali duduk di sisi kosong bed pasien tempat Riena.


"Dia pasti sangat lelah. Biarkan saja. Aku tidak mau membuatnya repot." Riena mengatakannya sembari menundukkan kepala. Rasanya dia sudah tidak mempunyai muka lagi untuk bertemu dengan suaminya itu. Bingung, jawaban apa yang akan dia berikan ketika suaminya nanti bertanya alasan dibalik tindakan percobaan bunuh diri yang sudah dia lakukan.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dan menghindar dari suamimu, Rie. Kamu baik-baik saja, bukan? Maka biarlah suamimu juga menilaimu sama. Orang lain tidak akan percaya kamu tidak bersedih jika matamu terus menangis. Orang akan menganggapmu pembohong jika kamu terus mengatakan baik-baik saja, tapi wajahmu selalu murung." Ratih membalas tatapan Riena dengan lembut. Dalam hati dia berharap perempuan itu segera bisa mengenali dirinya.


Riena tampak berpikir keras. Dia begitu bingung. Cintanya pada Raditya begitu besar. Namun, untuk yang kesekian kali, keadaan benar-benar membuat Riena merasa tidak pantas untuk orang sebaik dan sesabar Raditya.


Seakan tahu apa yang terlintas di pikiran Riena, Ratih meraih tangan kiri Riena dan menggenggamnya erat. "Kita tidak akan pernah tau apa yang ada dipikiran orang lain tentang kita, sampai orang tersebut mengungkapkannya. Rie, kamu baik-baik saja. Sampai detik ini kamu masih bernapas itu artinya perjalananmu masih harus dilanjutkan. Seperti yang kamu katakan, semua baik-baik saja."

__ADS_1


Bulir bening mulai membasahi pipi Riena. Pundaknya naik turun seirama dengan isak tangisnya. "Aku kotor, aku hina. Aku tidak mau memberatkan langkah suamiku. Bagaimana kalau semua orang tau. Suamiku akan malu."


Ratih menggeser duduknya sedikit ke atas. Direngkuh nya pundak Riena masuk ke dalam pelukannya. "Luapkan semua, Rie. jangan disimpan sendiri. Semua baik-baik saja." Berkali-kali Ratih menekankan dan mengucapkan kata-kata itu. untuk mensugesti Riena agar ucapan "baik-baik saja" bukan hanya sebatas kata, melainkan memang nyata merasuk ke jiwa hingga terwujudkan dalam sikap nyata.


Begitu lama Riena berada dalam pelukan Ratih. Hingga membuat baju bagian atas psikiater itu basah karena air mata Riena. Tangisnya semakin pecah, hingga napasnya pun benar-benar terasa sesak. Sakit sungguh rasa hati Riena. Entah dengan cara apa dia harus menyembuhkan.


"Aku mau pulang," pinta Riena dengan suara yang masih terisak sambil menarik badannya dari pelukan Ratih.


"Kita hubungi suamimu dulu, ya, Rie. Bagaimana pun dia yang membawamu kesini. Pasti kamu tidak mau dia khawatir, kan?" Ratih menanyakannya dengan hati-hati. Dia paham benar dilema yang dirasakan oleh Riena. Disatu sisi, pastinya Riena sangat membutuhkan Raditya. Namun, disisi lain pasti malu dan trauma masih menguasai diri Riena.


Tidak ada pilihan lain. Riena pun menganggukkan kepalanya. Lalu dia meminta Ratih untuk menghadap ke arahnya. Jelas Riena sedang berusaha mengingat-ingat. Sekali pun hati dan pikirannya sedang kacau, dia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya tidak merasa asing dengan sosok di depannya itu.


"Riena," Ratih reflek kembali memeluk perempuan yang disebut namanya itu. Terharu karena tidak butuh waktu lama untuk Riena mengingatnya kembali. "Iya, Rie, ini aku. Ayo, tunjukkan semangat yang dulu kamu tularkan ke aku."


Riena kembali menitikkan air mata. Tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan anak dari perempuan yang sudah mengabdi pada keluarganya sejak Riena masih bayi. Bisa dikatakan, Ratih dan Riena kerap menghabiskan waktu bersama meski mereka sekolah di tempat yang berbeda. Ratih dan adiknya selalu menunggu Ratmi menyelesaikan pekerjaannya di rumah Riena. Mereka bermain dan belajar bersama.


Sejenak melupakan lara pada dirinya. Riena termenung mengingat perempuan yang disebutnya Bi Ratmi tadi juga pernah mengalami hal serupa dengan dirinya. Bahkan, perempuan itu mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Meninggalkan dua orang putri, Ratih dan Rasti kalau dia tidak salah. Saat itulah dia yang membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Berperan sebagai sahabat, mengijinkan kedua adik kakak itu tinggal sekamar dengannya. Hingga Ratih dan Rasti kompak memutuskan bekerja di luar negeri. Hubungan mereka pun terputus tanpa kabar.

__ADS_1


"Aku sudah jadi psikolog, Rie. Sesuai janjiku, aku dedikasikan pekerjaanku ini pada mereka yang mengalami kejadian yang sama seperti ibu. Aku bekerja di rumah sakit ini, Rie. Tuhan baik. Tuhan mempertemukan kita diwaktu yang tepat."


Riena menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak! Ini bukan waktu yang tepat. Aku hancur, Tih. Aku---,"


"Sudah, jangan diteruskan. Kamu baik-baik saja. Kamu tidak sendirian. Ada suamimu dan juga ada aku," sahut Ratih dengan cepat memotong ucapan Riena.


"Suamiku tidak boleh tau yang sebenarnya."


Ratih hanya mengangguk pelan. Dalam hati dia berkata, "Suamimu sudah tau, Rie. Dan kamu beruntung karena dia tetap menerimamu dengan luar biasa. Apa yang ditunjukkan suamimu, lebih dari sekedar cinta."


Riena kembali berbaring miring. Tatapan matanya lagi-lagi seperti orang yang sedang melamun. Dia sedang menimbang rasanya sendiri. Antara memenjarakan luka sendirian, ataukah harus melepaskannya dan membuat orang lain ikut merasakan apa yang dia rasa.


Disela lamunan Riena, diam-diam Ratih mengirim pesan singkat untuk perawat jaga yang ada di sebelah persis ruangan Riena. Menanyakan nomor telepon Raditya yang bisa dihubungi dan meminta perawat itu untuk menggantikannya mengawasi Riena.


"Rie, aku keluar sebentar, ya? Ada suster yang akan menemani kamu," pamit Ratih yang langsung dijawab dengan anggukan kepala pelan oleh Riena.


Keluar dari pintu ruangan, indera penglihatan Ratih dikagetkan oleh bayangan nyata sosok yang sangat dikenalinya. Sosok itu tengah berdiri menatap ke dalam ruangan Riena dengan tatapan begitu dingin.

__ADS_1


"Mas Reno," gumam Ratih sambil berjalan mendekati sosok tersebut.


__ADS_2