Penjara Luka

Penjara Luka
Part fourty nine


__ADS_3

"Bawa dia ke rumah sakit terdekat! Cepat!" perintah salah seorang aparat kepolisian begitu melihat cucuran darah segar mengalir di sekitar pisau yang menancap di bagian dada Rino.


Sementara seorang aparat kepolisian lain, begitu kuat mencekal tangan pria bermasker yang tampaknya juga sudah kesulitan bernapas. Napasnya tersengal-sengal disertai tatapan mata yang mulai satu hampir memejam. Seorang tahanan berinisiatif membuka masker sosok tersebut dengan kasar.


"Reyhan!" seru seorang tahanan yang beberapa hari ini berada satu sel dengan pria yang disebut namanya itu. Seakan sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Reyhan.


Petugas yang mencekal tangan Reyhan mengambil borgol di saku celananya dan segera memborgol kedua tangan pria tersebut. Petugas itu sama sekali tidak menyangka akan perbuatan nekat Reyhan. Padahal, dari awal kedatangan Reyhan dan Rino di tahanan sementara, keduanya sudah ditempatkan di sel yang sama.


Suasana benar-benar kacau. Evakuasi tahanan masih berlangsung, di tambah lagi di tengah musibah tersebut terjadi kejadian penusukan yang tentunya di luar dugaan semua orang. Kondisi penerangan yang tidak cukup terang, semakin menambah kesan mencekam di tengah teriakan permintaan pertolongan dari dalam gedung yang baru saja diserbu pasukan pemadam kebakaran.


Sementara Rino hanya meringis menahan sakit. Meskipun demikian, pria tersebut tidak mengeluarkan keluh atau rintih kesakitan sedikit pun. Tiga orang mengangkat dan membawa tubuhnya menuju mobil patroli yang ada di halaman terluar area gedung tersebut. Semakin mendekati mobil, Rino semakin merasakan kedinginan. Tubuhnya terus menggigil seakan udara begitu dingin hingga menembus tulang.


***


Selang beberapa menit dari kejadian, berita kebakaran tempat tahanan di markas besar kepolisian wilayah barat sudah menyebar ke media sosial dan juga disiarkan langsung melalui stasiun televisi nasional. Hal itu pun sampai terdengar oleh Raditya. Mengetahui hal tersebut, Pria tersebut pun segera membagi informasi pada sang papa. Selain itu, Raditya juga memerintahkan informan nya untuk mencari berita terkini akan kondisi Reyhan dan Rino.


Rasa mual yang seharian mendera, perlahan memudar seiring hadirnya beban pikiran yang mendesak untuk segera dipikirkan. Ditambah lagi, asisten rumah tangganya mengatakan jika Ratih ingin menemuinya di ruang tamu. Mau tidak mau, Raditya pun berusaha untuk menerima kedatangan Ratih sebagai bentuk sikap menghargai karena bagaimanapun, perempuan tersebut sangat berjasa dalam proses pemulihan mental Riena.

__ADS_1


"Maaf, sedikit membuat kamu menunggu," sapa sekaligus ucapan maaf diucapkan Raditya dengan sopan.


"Tidak mengapa, Pak. Justru saya yang meminta maaf karena bertamu di waktu yang tidak tepat," timpal Ratih. Memberikan kesan ketidaknyamanan yang sangat kentara.


"Ada sesuatu yang penting?" tanya Raditya menyudahi basa-basi tidak penting yang takutnya malah membuang waktu dan berkepanjangan.


"Sebelumnya saya minta maaf jika dianggap terlalu ikut campur urusan rumah tangga Bapak. Tapi saya tidak ingin tinggal diam. Riena tidak hanya sekedar pasien bagi saya, dia adalah sahabat terbaik saya. Sedikit pun saya tidak menaruh pikiran buruk pada Riena. Saya justru sedang sangat mengkhawatirkan keadaannya sekarang. Pak Radit, apakah Anda tau jika malam ini Riena dan suami saya bertemu?"


Pertanyaan Ratih yang diucapkan dengan hati-hati, sontak membuat Raditya terkesiap. Pria tersebut langsung beranjak berdiri dan menatap tajam ke arah Ratih.


"Bertemu dengan Reno? Buat apa? Kenapa bisa? Di mana mereka bertemu? Di rumah mertuaku?" cecar Raditya, jelas menunjukkan kekhawatirannya.


Raditya mengepalkan tangan hingga buku-buku jemarinya memutih. Aliran darah pria tersebut seakan terhenti di kepalanya yang sudah mendidih karena amarah. Pancaran kebencian begitu menyala pada sorot mata Raditya.


"Soal kesetiaan dan rasa cinta Riena terhadap Pak Radit, saya yakin kita tidak perlu meragukannya. Yang saya khawatirkan, kondisi jiwa Riena yang masih labil, dimanfaatkan oleh Reno untuk memasukkan pemahaman yang keliru tentang Anda. Pak Radit, menurut saya, sebaiknya Anda segera menyusul Riena ke Malang. Kondisi di sini jelas sudah ada kepastian. Hanya masalah waktu untuk menentukan seberapa lama hukuman mereka."


Raditya menarik napas begitu dalam dan mengembuskannya perlahan. Mencoba untuk mengatur emosinya sendiri. Dia mulai menyadari saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengumbar kemarahan. Lagipula, Ratih datang dengan tujuan baik. Raditya pun mencoba mengajak otaknya untuk berpikir lebih cepat dan cerdas.

__ADS_1


Di tengah kegaduhan pikiran Raditya, Tiba-tiba ponselnya mengeluarkan nada dering yang menunjukkan adanya sebuah panggilan telepon di sana. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Raditya pun segera menerima panggilan tersebut. Salam sapa langsung terdengar diikuti kemudian sederet kalimat yang berisikan informasi yang sangat penting.


Sama halnya dengan Raditya yang tidak menduga dengan kabar yang baru saja diterimanya. Di tempat lain, Reno pun rupanya mendapatkan kabar yang sama. Pria tersebut segera mencari tiket penerbangan kembali ke Jakarta. Tangan Reno tampak bergetar. Dia sama sekali tidak menduga jika semua akan berakhir seperti sekarang.


Di sisi lain, Riena yang baru saja menjejakkan kaki di rumah, langsung disambut dengan pelukan kelegaan Rosyani. Perempuan lebih separuh baya tersebut memang sangat mengkhawatirkan kepergian Riena kali ini. Di tambah lagi setelah dia melihat berita kebakaran rumah tahanan di televisi, pikiran Rosyani seakan dipenuhi prasangka buruk.


"Syukurlah kamu cepat pulang, Rien. Mama nggak tenang." Rosyani melerai pelukannya sendiri sembari mengusap-usap lengan Riena.


"Mamamu memang berlebihan," sahut Rinto yang sedari awal memang lebih tenang.


"Mbak, barusan saya dapat kabar dari Radit. Rino meninggal," ucap Retno. Tergopoh-gopoh menuruni tangga menghampiri Rosyani, Rinto dan Riena di ruang tengah yang memang terhubung langsung dengan tangga. Diikuti di belakang Retno ada Rama yang berjalan lebih tenang ketimbang istrinya.


"Meninggal?" Rinto bertanya untuk memberikan penegasan pada hal yang telah didengarnya.


"Iya, Mas Rinto. Meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit," jawab Retno dengan cepat setelah kakinya sudah menyentuh lantai dasar dan berada tidak jauh dari tempat Riena, Rinto dan Retno berdiri.


"Beginilah akibatnya jika memupuk dendam. Yang subur bukan ketenangan, melainkan kesengsaraan dan kebencian. Tuntas bagi yang satu, tapi tumbuh dendam baru di hati yang lain," tekan Retno. Tatapannya kosong layaknya orang yang sedang melamun. Namun, tangannya menggenggam jemari Riena dengan erat.

__ADS_1


"Kebakaran ini terjadi pasti bukan karena kebetulan."


Rinto begitu tegas saat mengatakannya. Sesaat kemudian sebuah ide terlintas di benaknya. Kemudian Rinto menjatuhkan pandangan matanya pada sang putri kesayangan. "Rien, untuk sementara, kita harus pergi dari sini."


__ADS_2