Penjara Luka

Penjara Luka
Part fivty nine


__ADS_3

"Kita bicara nanti saja, ya? Kamu pasti capek. Kita cari yang seger-seger dulu," ajak Raditya sembari mengurai pelukannya pada Riena.


Sepasang suami istri yang tengah dilanda ujian kehidupan yang cukup rumit tersebut segera meninggalkan kantor kepolisian. Raditya mengarahkan mobilnya menuju sebuah tempat favorite Riena ketika lelah dan bosan dengan kegiatan sehari-hari.


"Sudah lama sekali aku tidak kesini, Ay. Jujur, aku malah baru ingat kalau ada tempat ini. Astaghfirullah, kemarin pikiranku kemana saja," ucap Riena sembari berdecak kagum melihat hamparan sawah di depannya. Sedikit jauh dari pusat kota, lahan itu sengaja dibeli Raditya dan Riena memang untuk ditanami padi yang dirawat orang lain. Keduanya hanya datang sesekali untuk duduk bersantai di dalam gubuk tengah sawah yang kokoh terbuat dari perpaduan kayu dan bambu dengan beratapkan jerami.


Raditya mengajak Riena menyusuri jalanan sempit menuju gubuk yang dimaksud. Tangan keduanya saling bergandengan erat. Senyum mengembang disertai pancaran mata bahagia menghiasi wajah ayu Riena.


"Bikin rumah di daerah sini, yuk, Bee! Daripada kita berlibur jauh-jauh cari udara segar."


Riena hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Lalu dia melepas alas kaki yang dikenakan agar bisa naik ke atas gubuk.


"Andai aku tidak memiliki tanggung jawab besar pada karyawan dan juga keluarga kita. Ingin rasanya aku berhenti bekerja, Bee. Bukannya aku malas. Aku hanya bosan pada hingar bingar bisnis. Setelah apa yang kita alami, membuat Aku sepenuhnya sadar, bahwa seberapa pun banyaknya uang yang aku punya, tidak bisa meredam penyesalanku. Uangku bisa saja mengantarku ke berbagai tempat terindah di dunia, tetapi itu tidak cukup mengantarku pada kedamaian hati."


"Kita akan tinggal di sini. Menjadi petani padi dan hidup dalam kesederhanaan. Tapi nanti, setelah urusanku dan juga urusanmu selesai. Aku harus menghadiri satu sidang. Sementara kamu--," Riena tidak melanjutkan ucapannya.


"Tentu aku akan mendampingimu, Bee. Sebisa mungkin aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Kecuali jika ada pekerjaan yang mengharuskan kita untuk ke kantor atau pun keluar kota, aku pasti akan tetap berada tidak jauh-jauh darimu."


Riena dan Raditya duduk beralaskan lantai bambu kuning utuh yang disusun begitu rapi. Punggung keduanya saling bersandar satu sama lain karena mereka memilih posisi saling membelakangi. Di setiap obrolan, sesekali saja mereka saling menoleh untuk memastikan bahwa lawan bicaranya masih memperhatikan apa yang sedang dibahas.

__ADS_1


"Ay, seperti janjiku tadi. Aku kembali menerima hubungan kita karena berbagai alasan. Dan satu-satunya alasan yang paling kuat adalah karena aku memang mencintaimu, Ay."


Raditya seketika mengubah posisi badannya. Sehingga membuat Riena hampir saja terjatuh karena punggung yang dijadikan sandaranya tiba-tiba berubah posisi.


"Maaf, aku terlalu bahagia mendengar ucapanmu, Ay. Sumpah apa yang kamu katakan barusan benar-benar membuat aku seneng bangettttttt." Raditya mengusap-usap punggung Riena sebagai bentuk penyesalan dan rasa tidak enak hati karena kecerobohannya.


"Maaf aja terus. Semakin sering kamu mengucapkan maaf, itu artinya terlalu sering juga kamu melakukan kesalahan," dengus Riena sembari menegakkan posisi duduknya. Kini dia memilih beralih posisi dengan menyandarkan diri pada papan kayu mengkilat berwarna coklat natural.


"Oke, tidak ada kata maaf setelah ini. Kalau aku salah, cukup akan kuperbaiki dengan tindakan. Kamu mau memberikan syarat padaku, bukan? Sebutkan saja, Bee. Akan aku usahakan sebisa dan semampuku. Asal jangan minta aku membangunkan seribu candi atau danau tujuh warna di sini."


Riena menggerakkan bola matanya dengan malas. Bibirnya mencebik kesal mendengar penuturan sang suami yang sangat asal dan konyol. Meski tangannya sudah gatal ingin mencubit Raditya, Riena berusaha menahan diri agar suasana seriuslah yang terbangun. Dia tidak mau Raditya menganggap apa yang dikatakan nanti hanya candaan belaka. Hanya Riena yang tahu, di balik sikap cuek dan tegas Raditya, tersimpan sikap humoris di luar nalar dan cenderung absurd bagi orang lain.


"Bee, aku sudah mendatangi Ramona. Aku sudah meminta maaf sama Reno Dan Rino.Apa ada yang kurang?"


"Kenapa tanya ke Aku, Ay. Memangnya aku tau siapa saja perempuan yang kamu tiduri dan permainkan? Kalau aku tau, jelas aku gak bakalan mau sama kamu," jawab Riena. Ketus dan sinis.


Raditya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bukan apa-apa, dari sekian banyak perempuan yang dekat dengannya, tidak semua juga dia tiduri. Kalau dihitung-hitung, tidak sampai lima jari jumlahnya. Hanya saja, cap Don Juan terlanjur sudah melekat. Sehingga siapa pun perempuan yang dekat dengannya, dianggap sudah bertukar peluh dan lenguhh dengannya.


"Banyak banget, ya? Sampai nggak inget harus mulai darimana minta maafnya. Dasar burung, sekali bisa terbang, hinggapnya ke sana kemari seenak sendiri."

__ADS_1


Raditya menelan ludahnya dengan susah payah. Kemarin-kemarin pembahasan tentang masa lalunya memang lebih berat. Tetapi kesan yang dia tangkap adalah kedewasaan. Berbeda dengan sekarang. Dia seperti menangkap kecemburuan dalam diri Riena. Harusnya Raditya bahagia. Karena sepanjang pernikahan, istrinya itu tidak pernah menunjukkan rasa itu. Riena menaruh kepercayaan begitu besar pada Raditya.


"Aku mau kamu benar-benar meminta maaf. Aku akan ikut bersamamu biar tidak ada fitnah baru. Aku tidak mau, kekhawatiran Mama Retno terjadi. Cukup kita saja yang menanggung dosa kebodohan masa lalu. Cukup berikan list nama dan alamat, biar Aku yang memutuskan mau kemana dulu kita akan pergi."


"Bee, ini beneran?" Raditya mencoba meyakinkan diri.


"Tentu saja bener. Syarat yang sangat sederhana, bukan? Tidak perlu sampai memanggil jin untuk membangun 1000 candi atau membuat danau."


"Astaghfirullah, Bee. Seribu bangunan di era sekarang bisa dilakukan dengan membayar ribuan kontraktor. Tapi meminta maaf pada mantan yang sudah lama tidak berhubungan, itu tidak mudah. Aku tidak menyimpan kontak mereka, bagaimana aku mencari tau keberadaan mereka? Aku bahkan tidak banyak mengingat tentang mereka." Otak Raditya mendadak membeku dan tidak bisa berpikir.


"Lupa nama, tapi masih ingat rasanya, kan?" Riena kembali bertanya dengan ketus.


Raditya memijat pelipis kepalanya sendiri dengan tekanan sedikit kuat. Mendadak bumi serasa berputar lebih cepat dari biasanya. Kalau sudah begini, berbagai alasan atau pun perkataan pastilah menjadi sia-sia belaka. Keyakinan seorang perempuan yang dilanda rasa cemburu, sanggup mengalahkan seribu kebenaran---telak---tidak tertandingi.


"Kamu punya waktu semalaman untuk mengingat siapa-siapa saja, list orang yang harus kamu mintai maaf, Ay. Aku tidak Terima alasan. Malam ini kita menginap di rumah Pak Riswan saja. Kalau mau tinggal di sini jangan nanggung-nanggung, kita harus belajar merasakan suasana malam hari di sini sesekali." Riena beranjak turun dari gubuk berniat mendatangi rumah orang yang dia sebut namanya tadi. Orang yang selama ini mengurus sawah milik mereka berdua itu.


Tidak ada pilihan lain bagi Raditya selain menuruti apa kata sang istri. Bukannya dia tidak berdaya untuk melawan, tetapi perubahan drastis sikap Riena ini benar-benar membuatnya harus berpikir panjang. Syarat ini memang terlihat sederhana bagi orang lain. Namun, tidak demikian bagi Raditya.


Setelah kembali memasuki mobil selama sepuluh menit, sampailah Raditya dan Riena di sebuah rumah dengan halaman yang lumayan luas tanpa pagar. Rumah itu terbuat dari kayu sepenuhnya. Sederhana, tetapi memberikan kesan hangat, bersih dan rapi.

__ADS_1


"Bu Riena? Pak Radit? Wah, kenapa datang tidak memberi kabar dulu pada kita. Kami kira Bapak sama Ibu sedang ke luar negeri karena berita pemerkosaan kemarin. Yang sabar, ya, Bu, Pak. Saya denger beritanya saja ngeri. Nggak kebayang jadi Bu Riena." Istri Riswan menyambut dengan kepolosannya yang membuat jantung Raditya semakin deg-deg'an karena khawatir dengan reaksi Riena mendengar pernyataan tersebut.


__ADS_2