Penjara Luka

Penjara Luka
Part Fivty Four


__ADS_3

Semua heran dan saling tatap karena pertanyaan yang dilontarkan si dokter. Pada umumnya, begitu ada pasien datang bersama keluarganya, hal yang sangat masuk akal ditanyakan adalah "siapa yang sakit?". Sungguh aneh jika semua sampai diperiksa.


"Yang sedang tidak enak badan hanya suami saya saja, Dok. Jadi dia saja yang diperiksa. Bukan yang lain." Riena akhirnya berinisiatif menjawab karena yang lain hanya diam. Sementara Raditya malah sibuk memijat pelipisnya sendiri. Sungguh seharusnya dia berdekatan dengan Riena. Karena aroma tubuh istrinya itu sanggup memberikan ketenangan dan meredam gejolak perut.


"Tidak-tidak.Meskipun yang sakit hanya Raditya, kita semua harus diperiksa. Sekarang ini sedang musim sakit lambung akut. Karena gejalanya sering kali tidak terdeteksi, tidak ada salahnya kita semua periksa. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ayo, setelah Radit, mama atau Riena dulu juga gak masalah," sahut Rosyani dengan cepat.


"Setuju," timpal Retno dengan semangat.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo, Rien antar suamimu masuk. Mama sama mertuamu anter ke dalam. Papa-papa di luar saja." Rosyani langsung masuk ke ruangan yang pintunya sudah terbuka lebar. Padahal si dokter masih bergeming menyaksikan perdebatan singkat keluarga dari mantan kekasihnya itu.


Riena menggandeng tangan Raditya. Keduanya mengikuti langkah kaki dokter menuju ruang periksa. Di dalam sana, Raditya langsung berbaring di atas ranjang tinggi berseprei putih. Meski di rumah, peralatan medis dokter tersebut sangatlah lengkap. Peralatan USG empat dimensi juga ada di sana.


Dokter memeriksa kondisi Raditya dengan seksama. Meski dari pembicaraan melalui sambungan telepon sebelumnya, Rosyani sudah menegaskan anaknya itu hanya sedang mengalami couvade syndrome.


"Bagaimana, Dok?" tanya Riena. tanya Dokter sembari ikut fokus menatap layar monitor 32 inch yang menempel di tembok. Layar tersebut sedang menampilkan kondisi dalam perut Raditya.

__ADS_1


"Hmmm... sepertinya harus ada pemeriksaan lebih lanjut lagi. Ada yang cukup serius, tapi harus dipastikan lebih dulu." Si Dokter lalu memerintahkan perawatnya untuk membersihkan sisa gel di atas perut Raditya.


"Apa itu, Dok? Tapi kalau saya lihat sekilas dari tampilan isi perut Radit memang ada yang berbeda. Apa karena itu? Coba dokter periksa Riena dulu. Maksud saya sebagai pembanding, apakah semua organ dalam manusia memang demikian, ataukah hanya Radit yang berbeda." Retno dengan wajah cemas yang sangat natural menambah keyakinan Riena memang ada sesuatu yang serius pada diri Raditya.


Sesaat setelah Raditya turun dari ranjang periksa, berganti Riena yang berbaring di sana dengan ragu-ragu. Raut kecemasan tampak nyata di wajah perempuan tersebut. Telapak tangannya berkeringat dingin. Menyadari hal tersebut, Rosyani pun menghampiri sisi lain dari si dokter yang tengah menuangkan gel dingin di atas perut Riena.


Dalam hati, Rosyani dan Retno kompak berbisik doa. berharap dugaan mereka bukanlah angan semata. Sebentar lagi, satu titik terang akan mereka dapatkan. Di luar kebahagiaan akan mendapatkan cucu, tentu mereka berharap dengan kehamilan ini, Riena bisa mendapatkan semangat kembali. Dan perlahan bisa menata hidupnya senormal mungkin seperti sedia kala.


Sepanjang pemeriksaan, mata Riena memejam. Dia tidak sanggup melihat ke layar monitor. Tidak demikian dengan Raditya, bola mata pria tersebut malah tidak berkedip sama sekali. Pandangannya tertuju penuh pada monitor yang menunjukkan gambar janin yang sudah terbentuk kepala, tangan, badan dan kakinya dengan jelas. Mata Raditya berkaca-kaca, hatinya seperti menemukan kehangatan yang luar biasa.


Tidak jauh berbeda dengan Raditya, Rosyani dan Retno pun merasakan hal yang sama. Bahkan kedua perempuan tersebut tanpa sadar mengucap kata syukur berkali-kali sebelum dokter memberikan penjelasan. Pengalaman membuat keduanya dapat menarik kesimpulan sendiri. Dari gambaran janin---jelas usia kehamilan Riena sudah lebih dari waktu peristiwa malam pemerkosaan terjadi.


Riena merasakan genggaman tangan Rosyani semakin erat. Mengetahui dirinya sudah selesai diperiksa, dia pun memberanikan diri untuk membuka mata. Rosyani langsung memeluk tubuh putri satu-satunya itu.


"Selamat, ya, Rien. Mulai sekarang, kamu harus kuat berpuluh-puluh kali lipat. Ayo bangkit. Allah sayang sekali sama kamu."

__ADS_1


Ucapan Rosyani barusan sungguh semakin membuat Riena bingung. Terlebih lagi saat Retno juga menghampiri dirinya dan berkata, "Firasat mama tidak salah. Kamu memang hamil cucu mama. Sekarang kamu harus paksa dirimu untuk lepas dari trauma. Anak kalian harus merasakan banyak-banyak kebahagiaan dan rasa syukur sejak dalam kandungan."


Riena mengurai pelukan Rosyani. Perlahan dia turun dari ranjang dan melangkahkan kaki mendekati dokter yang tengah duduk di belakang meja menyimak drama keluarga yang cukup mengharukan baginya. Meski tidak berjodoh dengan Rosyani, hubungan keduanya masih terjalin baik. Bahkan sudah seperti saudara.


"Usia kehamilanmu sudah menginjak 13 minggu. kalau pakai hitung-hitungan, jelas itu bukan anak dari laki-laki biadab yang memperkosa, Rien," ucap si dokter dengan suara dan raut wajah yang sama tenangnya.


"Benarkah?" gumam Riena sembari mengusap perutnya secara perlahan.


Raditya yang juga mendengar ucapan dokter dengan jelas segera menghampiri sang istri dan memeluk perempuan yang teramat disayanginya penuh keharuan. Air mata yang sedari tadi ia tahan, seketika tumpah.


Sementara Raditya dan yang lain larut dalam keharuan, berbeda halnya dengan kondisi Reyhan saat ini. Pria tersebut sudah kembali berada di dalam sel rumah tahanan lain. Di sana, dia merasakan kepedihan dan siksaan yang sama sekali tidak terbayangkan. Ternyata cerita di luaran bukan isapan jempol semata. Reyhan benar-benar mendapatkan kekerasan seksual dari rekan satu selnya. Saat dia meronta meminta tolong, semua orang malah hanya menertawakannya saja. Sipir tahanan seolah tutup mata dengan kejadian yang ada.


"Aku ingin mati saja," tekad Reyhan sembari berjalan pelan menuju kamar mandi yang hanya berukuran satu kali satu meter.


Di sisi lain, Reno masih duduk bersimpuh di samping pussra Rino. Matanya memerah dan basah. Sementara Ratih dengan setia berdiri beberapa langkah di belakang suaminya.

__ADS_1


"Tuhan memberikan kebaikan tidak hanya dalam bentuk kebahagiaan, Mas. Kerap kali Tuhan menunjukkan kasihNya lewat kesedihan. Kepergian Rino adalah pengingat, betapa kebencian dan dendam itu hanya akan berujung pada luka yang lebih dalam." Ratih memberanikan diri mengucapkan hal tersebut karena merasakan beberapa tetesan air dari langit.


Reno tidak sedikit pun terusik dengan kata-kata Ratih. Dia bergeming pada posisi sebelumnya. Tidak ada yang bisa merasakan betapa duka yang dirasakan pria tersebut begitu mendalam. Terlahir ke dunia secara bersamaan, lalu satu per satu meninggalkannya dalam keabadian.


__ADS_2